Setelah berminggu-minggu spekulasi siapa yang bakal mewakili Timnas Inggris di Piala Dunia mencuat akhirnya si pelatih, Gareth Southgate mengumumkan 26 nama yang akan dibawa ke Qatar. Yang menarik dari 26 nama itu, beberapa pemain mentereng tidak masuk.
Dasar Timnas Inggris, setelah muncul nama-nama yang akan berangkat ke Qatar pun, kritik masih berkecambah. Di media sosial banyak yang mempertanyakan mengapa Southgate memanggil nama-nama yang dianggap tidak dalam performa terbaiknya. Dengan kata lain, Southgate berjudi, nasib Inggris di Piala Dunia 2022 pun dipertaruhkan.
Daftar Isi
Komposisi Skuad
Dari segi komposisi skuad, Southgate sebetulnya tidak banyak membawa muka baru di Piala Dunia nanti. Southgate lebih mempercayakan pemain yang sudah pernah membawa Inggris jadi juara kedua di ajang EURO tempo hari. Di posisi penjaga gawang, Southgate membawa tiga nama: Aaron Ramsdale, Jordan Pickford, dan Nick Pope.
Jordan Pickford kemungkinan besar akan menjadi kiper utama Timnas Inggris. Meski beberapa kali dibekap cedera, Pickford akan selalu menjadi andalan di Tim Tiga Singa. Soal cadangannya, Southgate cerdas dengan memilih Ramsdale dan Pope. Dua kiper yang kini tengah naik daun di klubnya masing-masing.
Ramsdale yang kokoh di bawah mistar gawang Arsenal, membuat tim itu kini benar-benar kedinginan di puncak klasemen dengan berjarak lima poin dari Manchester City. Sementara, berkat polesan Eddie Howe, Nick Pope kian berkembang. Penampilan impresifnya bisa saja menjadi pilihan kedua Southgate.
Southgate membawa sembilan pemain belakang. Trent Alexander-Arnold, Conor Coady, Eric Dier, John Stones, Luke Shaw, Kyle Walker, Ben White, Kieran Trippier, dan tentu saja baginda Harry Maguire. Pemanggilan Maguire menimbulkan pertanyaan. Bagaimana mungkin pemain seperti dia kembali masuk ke Timnas Inggris?
World Cup, Qatar 2022
Kikosi cha England kwa ajili ya Kombe la Dunia, Qatar 2022. pic.twitter.com/tBGszKqQ8l
— fadheel29 (@fadheel29) November 10, 2022
Sementara itu, untuk posisi gelandang, Southgate memanggil enam nama: Declan Rice, Conor Gallagher, Jordan Henderson, Jude Bellingham, Mason Mount, dan Kalvin Phillips. Pemilihan Gallagher menjadi salah satu yang mengejutkan. Penampilannya di Chelsea kurang mentereng dibandingkan ketika masih berseragam Crystal Palace.
Sementara Phillips memang selalu jadi andalan Southgate, tapi kapsnya yang sedikit di Manchester City dan baru pulih dari cedera, memanggilnya untuk Piala Dunia adalah pertaruhan. Kemudian di lini serang Callum Wilson dari Newcastle mengalahkan Ivan Toney dan Tammy Abraham.
Keberadaan James Maddison juga menunjukkan Southgate adalah pelatih yang inovatif. Selain itu, di lini serang Southgate juga membawa Jack Grealish, Phil Foden, Bukayo Saka, Harry Kane, Raheem Sterling, dan Marcus Rashford.
Tepatkah Memanggil Nama-Nama Tadi?
Gareth Southgate sepertinya tidak akan mengambil resiko terlalu banyak di Piala Dunia nanti. Itulah sebabnya, dari 26 pemain yang dipanggil 19 di antaranya adalah mereka yang pernah mengantarkan Inggris ke final EURO kemarin. Meskipun sebetulnya ada perbedaan kualitas.
Ambil contoh Harry Maguire. Sang kapten kesayangan kita ini sudah ditepikan Erik ten Hag di Manchester United. Tercatat Maguire baru bermain empat kali di Liga Inggris. Ten Hag lebih menyukai duet Lisandro Martinez dan Raphael Varane dan memilih Bruno Fernandes sebagai kapten Manchester United.
Selain itu, Maguire juga baru sembuh dari cedera hamstring. Legenda Timnas Inggris, Alan Shearer pun meragukan kapasitas Maguire. Baginya, jika Southgate membawa Maguire ke Qatar itu adalah sebuah pertaruhan. Bahkan pertaruhan besar.
“Ini (kehadiran Maguire) menimbulkan ketidakamanan di lini pertahanan Timnas Inggris,” kata Alan Shearer.
Di sisi lain, Southgate tahu bahwa keputusannya memanggil Maguire bakal melahirkan gelombang kritik. Dalam sebuah konferensi pers, Southgate mengatakan bahwa Maguire adalah salah satu bek tengah terbaik yang Timnas Inggris miliki.
Gareth Southgate juu ya kumuita Harry Maguire na kumuacha Fikayo Tomori katika kikosi cha England 🏴 kitakachoshiriki Kombe la Dunia.
“Hatufikirii kama vijana wamefanya vya kutosha kuwasukuma wazee nje”.
“Ndiyo, nina uhakika Maguire ni mmoja wa mabeki wetu bora wa kati” pic.twitter.com/nxTKkYPP6V
— SOKAONLINE ® (@Sokaonline_) November 10, 2022
“Kami memilih bek terbaik dan berpengalaman. Bek muda memang cukup bagus, tapi mereka tidak cukup pengalaman, apalagi untuk level pertandingan yang kami ikuti,” kata Southgate.
Selain Maguire, pemanggilan Gallagher juga mengejutkan sekaligus menambah arus kritik ke skuad Southgate. Namun sang pelatih sudah memagari dirinya. Southgate menjelaskan mengapa ia memilih Gallagher. Pemain Chelsea itu dipilih karena sikap dan energinya.
“Dia (Gallagher) fantastis dalam menekan bola,” kata Southgate. Ia mengatakan, Gallagher memang tidak sebagus gelandang lainnya. Namun Gallagher punya atribut spesial yang bisa membantu Inggris dalam situasi tertentu.
Conor Gallagher has made England’s World Cup squad 😯 pic.twitter.com/f6WPmIYnUD
— ESPN UK (@ESPNUK) November 10, 2022
Sedangkan pemanggilan Maddison tidak banyak dikritik. Berkat Maddison, Southgate dianggap bukan pelatih konservatif. Pemain Leicester City itu akhirnya bisa masuk lagi ke Timnas Inggris. Maddison sudah tiga tahun tidak berseragam Timnas Inggris sejak 2019. Ia dikucilkan karena sebuah foto dirinya di sebuah kasino.
Kemungkinan Taktik Southgate
Pemanggilan nama-nama tadi disesuaikan dengan kebutuhan Gareth Southgate. Sang pelatih beberapa kali memakai skema 4-3-3. Meski formasi itu pun sudah mulai ditinggalkannya. Sebab formasi tersebut tidak banyak mendatangkan keberhasilan. Misalnya, di Liga Bangsa-Bangsa Eropa, di mana dalam enam pertandingan, Inggris tidak pernah menang.
Gerbang selatan pun kemudian bermanuver dengan skema 3-4-3 atau 3-4-1-2. Posisi bek sayap bisa menjadi kunci permainan Southgate dalam skema itu. Trent Alexander-Arnold bisa ditaruh di posisi bek sayap sebelah kanan. Meskipun itu penuh resiko, karena soal bertahan TAA kacau musim ini.
Namun, Southgate masih bisa mengandalkan Kieran Trippier yang lagi moncer di Newcastle. Ia juga bisa jadi opsi ketika situasi deadlock. Sebab Trippier bisa mengeksekusi bola mati seperti tendangan bebas. Meski tidak sebagus TAA. Sedangkan di kirinya, Luke Shaw jelas jadi pilihan.
Tapi siapa yang akan jadi pelapisnya? Tidak ada Ben Chilwell, Southgate pun bisa jadi akan memaksa beberapa nama untuk di posisi itu. Dengan skema tiga bek, Southgate akan memasang Maguire, Stones, dan Walker di sana. Namun pertahanan Inggris sejauh ini memprihatinkan.
Yang bikin Itali kehabisan akal.. 3cb dibuat pasif.. yang aktif gerak nutup ruang/press ya 2dm.. disiplin ga bawa baitdari 3 penyerang Italia..
Southgate miskin taktik(?) 🤔🤔.. pic.twitter.com/aHSQpgHCW3— Franzefa A Firdaus (@zefafez) July 11, 2021
Pada UEFA Nations League kemarin, anak asuh Southgate mudah sekali kebobolan, yaitu 10 gol. Kekalahan 4-0 atas Hungaria jadi pertanda bahwa lini pertahanan Inggris pesakitan. Btw, Fikayo Tomori yang tidak dipanggil sebenarnya bisa jadi alternatif lain.
Di lini tengah, Declan Rice dan Jude Bellingham adalah perpaduan yang pas. Rice bisa bergerak lebih ke dalam membantu pertahanan dan sesekali membantu penyerangan. Sedangkan Bellingham adalah pemain dengan pergerakan yang dinamis. Ia dengan kreativitas umpannya bisa jadi sosok penyuplai bola.
Sementara, Jack Grealish dan Mason Mount bisa dipakai andai Southgate menghendaki gelandang serang. Jordan Henderson bisa turun di 30 menit akhir untuk kontrol permainan. Sementara Phillips, Gallagher, dan Maddison adalah alternatif.
Di lini depan, Kane akan dibantu Sterling dan Foden. Keduanya memang sudah sering bekerjasama dengan pemain Tottenham. Sementara itu, Marcus Rashford bisa jadi opsi tambahan. Ia bisa jadi penyerang sayap atau menggantikan Harry Kane.
Gaya Bermain
Selain pemilihan pemain, Southgate juga dikritik gaya bermainnya. Di bawah Southgate, The Three Lions bermain defensif. Pola permainan pragmatis yang diusung Southgate menjadi penyebabnya. Southgate lebih suka bertahan dan melakukan serangan ketika ada momentum.
Meski begitu, prinsip permainan Southgate sebetulnya mengontrol bola selama mungkin. Dengan penguasaan bola, Inggris pun bisa mengontrol permainan. Southgate juga cenderung adaptif soal taktik. Itulah yang dilakukannya di EURO kemarin dan sukses. Hal yang sama bisa jadi akan diulangi di Piala Dunia.
Southgate knows the importance of the English defensive unit ❌🦁
Even after calls for Henderson, Phillips simply 𝐜𝐚𝐧𝐧𝐨𝐭 come out of that XI…
.
.
.#LUFC pic.twitter.com/vmHLpMtVS8— Leeds United Live (@liveleedsunited) July 5, 2021
Inggris tergabung di Grup B bersama AS, Iran, dan Wales. Pasukan Southgate harus bisa mencuri poin dari Iran. Karena setelah itu, Inggris harus menghadapi AS. Amerika Serikat adalah tim yang rumit. Meski skuadnya tidak berpengalaman di Piala Dunia, tapi bisa jadi ancaman. Belum lagi Wales yang sulit diprediksi.
Lawan yang dihadapi Inggris memang tidak terlalu merepotkan. Hasil imbang kontra Wales dan AS, serta satu kemenangan atas Iran sudah cukup membuat Inggris ke 16 besar Piala Dunia. Itu jika dan hanya jika, pasukan gerbang selatan mampu melumat Iran.
Sumber: EuroSport, Telegraph, Sabguru, SkySports, INews, Sporstar, TheGuardian, ChaseyYourSport, ChelseaFC, StrettyNews


