Sebuah persaingan merupakan hal yang lumrah terjadi dalam sepak bola. Di kompetisi sepak bola inggris, kita mengenal perseteruan antara Manchester City dan Manchester United, hingga Everton dan Liverpool. Satu yang tak boleh disingkirkan tentu nama Tottenham Hotspurs dan Arsenal.
Dua nama London tersebut memang menjadi salah satu bahasan yang paling banyak timbulkan cerita. Arsenal dan Spurs, akan selalu menjadi serial terbaik, yang tak kalah menarik dari Tom and Jerry.
Dua kubu tersebut dikenal garang. Mereka tak ingin menyapa meski dipertemukan dalam sebuah jalan. Jangankan menyapa, untuk menoleh saja mungkin menjadi hal yang tak akan pernah dilakukan.
Satu cerita yang sempat menjadi bumbu pedas dari perseteruan abadi Spurs dan Arsenal adalah Sol Campbell. Pemain berkulit hitam asal Inggris itu disebut-sebut sebagai pengkhianat oleh publik White Hart Lane. Namun disisi lain, Campbell disebut sebagai pahlawan oleh publik Highbury.
Sol Campbell merupakan pemain keturunan Jamaika yang bermigrasi ke Inggris. Kehidupannya sulit. Ia tidak bisa dengan mudah bertukar cerita dengan warga sekitar. Selalu ada sekat dalam setiap bait kisah. Campbell merasa menderita, karena ia sempat dilarang untuk keluar rumah oleh kedua orang tuanya.
Hal tersebut cukup beralasan, karena memang saat itu warga Inggris belum benar-benar menerima keberadaan ras kulit hitam di tanahnya. Beruntung, sepak bola dijadikan sebagai pelariannya. Campbell bisa menghirup udara bebas melalui rumput lapangan. Tubuhnya yang basah karena keringat akan selalu menjadi pengingat, bahwa olahraga itu telah memberinya kesan hangat.
Sol Campbell memulai karir sepakbolanya di West Ham, sebuah akademi terbaik yang berada di tanah Inggris. Akan tetapi, ia segera pindah karena perlakuan buruk dari pelatihnya saat itu. Menimba ilmu di klub berjuluk The Hammers membuat Campbell disingkirkan akibat warna kulit yang tak serupa.
Pada akhirnya, pilihannya jatuh kepada Spurs. Ia resmi hijrah ke klub tersebut di tahun 1989. Tak dinyana, performa Campbell di tim Lili Putih terus berkembang. Ia menjadi salah satu penggawa terbaik, yang berhasil sumbangkan trofi.
Setelah selama kurang lebih tiga tahun menimba ilmu di tim muda, Campbell langsung dipercaya untuk tampil di tim utama. Perjuangannya tak sia-sia. Campbell memulai sebuah perjalanan sempurna meski sempat temui hadangan yang tak disangka.
Campbell memulai debut untuk Spurs di laga melawan Chelsea. Ia berhasil mencetak gol setelah menjadi pengganti Nick Barmby, meski pada akhirnya Spurs kalah dengan skor 2-1.
Namun begitu, di awal karirnya, atau pada musim 1992/93, Campbell belum menjadi pilihan utama manajer Terry Venables. Pasca klub kedatangan manajer baru, Osvaldo Ardiles, barulah Campbell bisa mendapat kesempatan. Meski sempat ditaruh di posisi bek kiri hingga kanan, Campbell mampu tunjukkan performa terbaik dan mendapat kontrak hingga empat tahun lamanya.
Pada musim 1998/99, Campbell menjadi kapten kulit hitam pertama yang menggendong trofi bergengsi di Wembley saat itu. Ia mengangkat trofi setelah berhasil membantu Spurs kalahkan Leicester City di tangga juara Piala Liga.
Dengan keberadaan Campbell, suporter Spurs merasa begitu bangga. Mereka senang karena sang pemain mampu menjadi simbol bagi klub dan kapten yang begitu luar biasa. Para penggemar semakin bahagia karena Campbell merupakan produk asli akademi, dimana hal tersebut sulit ditemui dalam sejarah klub.
Campbell memanglah luar biasa. Ia mampu bertahan meski iklim klub tergolong tidak stabil. Pergantian pelatih hingga harus berjuang di zona degradasi, pernah dirasakan oleh pria yang kini berusia 45 tahun itu. Campbell berjaya dan resmi menjadi pemain di jantung pertahanan tim.
Mengetahui posisi sang pemain yang tidak pernah tergeser, para penggemar yakin bahwa Campbell akan menjadi legenda. Namun sayang, semua harapan tersebut tiba-tiba diselimuti awan kelam, setelah pada 12 bulan terakhir masa kontraknya, Campbell menolak untuk bertahan lebih lama.
Berita itu membuat para penggemar kaget. Mereka tak percaya apa yang baru saja diberitakan. Mereka sempat tidak khawatir karena sudah menganggap Campbell sebagai bagian terbaik dari tim. Hal tersebut semakin diperkuat dengan fakta bahwa Campbell pernah berucap kalau ia tak akan meninggalkan klub, apalagi kalau sampai menyeberang ke klub rival.
Campbell saat itu tidak mau menerima tawaran kontrak yang diajukan klub, jika nilai gaji yang diminta tidak dipenuhi. Manajemen saat itu kelabakan, mereka kaget karena permintaan yang diajukan terbilang tak masuk akal.
Mengetahui situasi tersebut, tim seperti FC Barcelona, Real Madrid, Liverpool, hingga Chelsea, langsung kencangkan ikat pinggang. Mereka semua sodorkan tawaran besar untuk bisa datangkan pemain belakang paling bertalenta.
Akan tetapi, seperti menabur garam pada luka, Campbell malah putuskan untuk bergabung dengan Arsenal, yang diketahui sebagai rival abadi Spurs.
Sontak, berita tersebut membuat penggemar geram. Mereka marah dan menganggap Campbell sebagai pengkhianat terbesar dalam sejarah. Campbell beralasan bahwa ia ingin bermain di Liga Champions Eropa dan mendapatkan banyak trofi. Selain itu, hal lain yang membuat Campbell mau bergabung dengan tim meriam London adalah tawaran gaji yang diajukan lebih besar.
Sakit hati Spurs kian tak terelakkan. Ada sejumlah penggemar diluar stadion yang ditangkap polisi karena terus lemparkan ejekan Homophobic kepada sang pemain. Media disana juga menyebut Campbell serakah akibat masalah bayaran yang sempat tersiar.
3 Juli tahun 2001, bagaimanapun, akan selalu menjadi hari terkelam bagi penggemar Spurs. Penandatanganan pemain terbaik mereka di kubu rival, menjadi bahasan utama, yang sampai sekarang, masih terasa sakitnya.
Tampil untuk Arsenal, Sol Campbell memulainya dengan sangat gemilang. Di musim debutnya, ia langsung mampu sumbangkan piala. Tampil bersama Tony Adams, Campbell menjadi tembok tak tersentuh di barisan belakang tim meriam.
Di akhir musim 2001/02, Campbell yang tampil sempurna sukses menggondol trofi Liga Primer Inggris, setelah berhasil menang dalam partai pamungkas melawan Manchester United di Old Trafford. Campbell yang seolah tak ambil pusing oleh cacian yang terus terlempar, melanjutkan perjalanan dengan begitu elegan. Rentetan piala berhasil mampir ke tangan, dengan yang paling indah adalah menjadi jawara tak terkalahkan di tahun 2004.
Skuad Arsenal yang begitu digdaya mendapat julukan sebagai The Invincibles. Sol Campbell menjadi salah satu tokoh utamanya, kala sukses membentuk duet terbaik dengan Kolo Toure. Kedua pemain tersebut tak hanya dikenal sebagai yang tertangguh di Inggris, namun juga dunia.
Pada musim 2005/06, Campbell kembali beraksi. Ia turut menjadi bagian tim Arsenal yang nyaris memenangkan trofi Liga Champions Eropa pertama. Saat itu, ia yang tampil di laga final berhasil mencetak gol ke gawang FC Barcelona. Namun sayang, laga harus berakhir dengan kekecewaan, setelah tim lawan mampu mencetak dua gol, yang pada akhirnya menjadi penentu gelar juara.
Setelah kegagalannya di panggung Eropa, Campbell memilih pergi. Ia sempat bermain bersama Portsmouth dan Notts County, sebelum secara mengejutkan kembali ke Arsenal, di tahun 2010.
Karirnya cenderung menurun. Hingga tepat pada tahun 2011, Campbell putuskan pensiun dengan seragam kebesaran Newcastle United. Tim berjuluk The Magpies menjadi akhir dari kisah spektakulernya.
Sebuah kisah yang tidak semua orang bisa menerima, memunculkan nama Sol Campbell, sebagai pemain yang bermula di Tottenham Hotspurs, namun bermuara di Tim Gudang Peluru.


