Lazio menjadi tim yang terus tajamkan taring di Serie A. Elang buas asal ibukota tak segan untuk menangkap dan mencabik mangsanya di ketinggian. Mereka yang miliki sayap kuat punya pawang berbakat dalam diri Simone Inzaghi.
Sementara itu, di seberang sana, tim yang saat ini masih terus berjuang untuk kembali ke Serie A, Benevento, kokoh di tangga teratas Serie B berkat tangan dingin Filippo Inzaghi.
Simone dan Filippo, menjadi dua kakak beradik paling tenar dalam pesepakbolaan dunia. Simone yang saat ini tukangi Lazio terus tuai pujian. Sementara itu, Filippo yang dengan susah payah tapaki karier manajerialnya masih bertahan di Serie B bersama dengan Benevento.
Jika melihat fenomena mantan dua pemain tersebut, maka dunia terasa berbalik. Saat masih menjadi pemain Simone tak setenar Filippo. Dirinya yang populer bersama Lazio tak mampu kumpulkan banyak gelar bergengsi seperti Filippo.
Sementara Filippo yang sukses bersama AC Milan, banyak sekali mengumpulkan gelar bergengsi. Terlebih, dia sempat menjadi pahlawan I Rossoneri dalam pertandingan balas dendam melawan Liverpool di kompetisi Liga Champions Eropa.
Filippo dan Simone lahir di desa kecil, San Nicolo, di wilayah Piacenza. Pippo, sebutan akrab Filippo, lahir tiga tahun lebih dulu dari saudara laki-lakinya, Simone. Namun perlu diketahui bahwa saat keduanya bermain untuk tim di desanya, Simone menjadi kapten dari kakaknya sendiri.
Simone dianggap lebih detail dari Pippo. Ia dianggap sudah miliki jiwa kepemimpinan tinggi dan pandai mengatur segala hal dengan sangat rapih. Mungkin kebiasaan tersebut menjadi salah satu faktor penting baginya dalam menjadi pelatih ternama.
Sebaliknya, Pippo, lebih suka bertingkah semaunya. Ia tak selalu ingin mengikuti aturan, bahkan di dalam lapangan sekalipun. Oleh sebab itu, ia sering mencetak gol dengan caranya sendiri.
Sama-sama besar di Piacenza, Simone dan Pippo memulai karier di klub tersebut. Akan tetapi, Pippo “lulus” lebih dulu sari Simone. Pada tahun 1995, setelah sempat dipinjamkan ke sejumlah klub seperti AlbinoLeffe dan Hellas Verona, Pippo akhirnya resmi berlabuh di Parma. Disana, ia temukan cara, bagaimana berkembang menjadi seorang penyerang handal.
Bermukim hanya sebentar di Parma membuat karier Pippo semakin tajam. Setelah mulai besar bersama Parma, Pippo lanjutkan perjalanan ke Atalanta. Meski cuma semusim, klub asal Bergamo itu cukup berkesan karena di sanalah Pippo sukses meraih capocannoniere semata wayangnya lewat torehan 24 gol.
Pencapaian ini semakin meroketkan namanya di jajaran attacante ternama Italia bersama Christian Vieri, Del Piero, dan tentu saja penyerang yang tengah naik daun ketika itu, Roberto Baggio.
Dengan kualitas yang dimiliki, Pippo lalu putuskan hengkang ke Juventus pada tahun 1997. Saat dirinya sudah bergabung dengan tim sekelas Juve, adiknya, Simone, masih bergelut di kompetisi level bawah. Bersama Piacenza, ia menjalani sejumlah masa peminjaman di klub Carpi, Novara, hingga Lumezzane dan Brescello.
Pippo, bersama Juventus selama kurang lebih empat tahun resmi menjadi salah satu striker terbaik Italia. Bersama Si Nyonya Tua, tiga piala berhasil disumbangkannya, yakni trofi Serie A, Supercoppa Italia dan Piala Intertoto.
Pengabdian Pippo untuk Juventus dirasa sudah cukup. Setelah itu, ia resmi bergabung dengan AC Milan pada tahun 2001. Disana, yang nantinya akan menjadi pelabuhan terakhirnya, Pippo sukses menjadi legenda. Karier Pippo mencapai puncaknya. Gemilang trofi bersama I Rossoneri semakin mengukuhkan namanya dalam daftar penyerang ternama dunia.
Tak terhitung seberapa kali ia terperangkap offside, yang pasti, gol-gol “aneh” yang banyak diciptakannya telah menghibur seluruh penggemar sepak bola dunia, khususnya tifosi AC Milan.
Usia yang terus bertambah dan munculnya bibit baru di tubuh Milan membuat Inzaghi memutuskan pensiun pada 2012 lalu. Dua gelar Scudetto, satu gelar Coppa Italia, dua gelar Super Coppa Italia, dua gelar Liga Champions, dan satu gelar Piala Dunia Antar Klub menjadi catatan indahnya selama membela AC Milan.
Untuk Simone, sang adik yang sebenarnya juga miliki naluri mencetak gol tajam, menjadi pemain sepertinya bukan jalan terbaiknya. Setelah ditempa selama empat tahun, Inzaghi baru mendapatkan kepercayaan untuk tampil bersama Piacenza. Hasilnya tak mengecewakan, 15 gol dari 30 laga di Serie musim 1998/99 berhasil dibukukan bersama klub berlambang serigala itu.
Dalam perjalanannya yang membela sejumlah tim dengan status pinjaman, Simone baru benar-benar lega setelah diboyong Lazio pada tahun 1999. Ya, di elang ibukota, ia mendapat apa yang diinginkan.
Perlu diketahui juga bahwa saat itu Lazio adalah kesebelasan yang diperhitungkan. Supercoppa Italia dan Piala Winners berhasil mereka rengkuh di musim 1998/99. Berada satu tim bersama dengan pemain ternama, nyali Simone tak lantas ciut hanya karena nama besar mereka.
Saat itu, di lini serang Lazio terdapat nama Marcelo Salas. Namun Simone justru berhasil menjadi pencetak gol terbanyak Biancoceleste di semua ajang dengan torehan 19 gol.
Penampilan gemilangnya itu pun terbayar dengan gelar scudetto dan coppa italia.
Saat itu banyak yang memeprediksi kalau kariernya mampu saingi sang kakak. Namun, nama Simone tak benar-benar besar. Ia gagal beri gelar di kancah Internasional. Bahkan, di tim nasional pun, namanya hanya masuk dalam tiga pertandingan. Jelas berbeda dengan Pippo yang saat itu mampu raih trofi Piala Dunia tahun 2006.
Setelah profesi sebagai pemain mulai ditinggalkan keduanya, Simone seolah memulai babak baru. Segala perbandingan yang lebih sering melibatkan nama kakaknya perlahan lenyap.
Simone, seperti yang sudah diceritakan punya jiwa kepemimpinan tinggi sejak kecil, mampu mengasuh anak didiknya dengan baik. Disisi lain, Pippo yang juga terjun ke dunia kepelatihan tak benar-benar mampu tunjukkan kharismanya.
Sekali lagi, perbedaan nasib antara keduanya begitu nampak. Karier mulus Pippo sebagai pemain perlahan lenyap dengan kegagalannya dalam menjadi pelatih. Sementara Simone, namanya kian melambung sebagai pelatih, meski dulu hanya menjadi pemain biasa-biasa saja.
Dulu, Pippo yang memikul beban teramat berat sebagai pengganti Clarence Seedorf sebagai pelatih AC Milan jelas tak bisa berbuat banyak ketika tim yang ia pimpin tidak menjadi lebih baik. Sementara Simone, yang baru dipromosikan menjadi pelatih utama Lazio, perlahan tapi pasti, mampu mengangkat performa rival AS Roma ini, dan hingga membuat tim tersebut bertahan di papan atas sampai sekarang.
Saat itu, dengan dibekali nama-nama seperti Keita Balde hingga Felipe Anderson, Simone mengecap karier kepelatihan yang sedikit lebih manis dari sang kakak. Di akhir musim 2016/17, Simone berhasil membawa Lazio bercokol di peringkat 5 klasemen akhir.
Sebelum dipromosikan menjadi pelatih tim utama, Simone punya prestasi mentereng selama menukangi Lazio U19. Dalam enam musim, ia berhasil membawa Lazio juara Coppa Italia Primavera dua kali secara beruntun, dan satu kali meraih trofi paling bergengsi di antara klub primavera, yakni Campianato Nazionale Primavera.
Untuk Pippo, sama seperti karier sang adik saat masih menjadi pemain, ia beberapa kali berpindah klub, setelah dipecat AC Milan. Mulai dari Venezia pada 2016 hingga berujung pada nama-nama seperti Bologna dan Benevento.
Pippo memang pernah meraih piala bersama tim yang diasuhnya. Namun itu hanya sebatas nama Venezia di kompetisi Lega Pro 2016/17 dan Coppa Italia Lega Pro 2016/17.
Raihan itu tentu berbeda jauh dengan trofi yang diraih Simone sebagai pelatih. Ia tercatat sudah berikan trofi Copa Italia 2018/19 dan Piala Super Italia 2017 dan 2019.
Malah, Simone juga beberapa kali menjadikan Lazio sebagai ancaman serius di kompetisi Eropa.
Kini, menarik untuk menantikan duel Inzaghi bersaudara di kancah Serie A. Pippo bersama Benevento tampak serius dalam menyongsong kompetisi tertinggi Italia. Ia agaknya akan berusaha semaksimal mungkin agar anggapan pelatih biasa-biasa saja bisa berubah menjadi sanjungan pelatih luar biasa.


