Lev Yashin: Tirai Besi Dibawah Mistar Uni Soviet

spot_img

Sejauh ini sudah banyak sekali kiper berbakat yang lahir ke dunia. Mulai dari yang bertipe tenang, penuh dengan semangat, hingga nyentrik. Sejumlah tipe penjaga gawang tersebut pun sukses memberi warna dalam sejarah permainan sepakbola.

Dahulu, jauh sebelum ada kiper hebat seperti Iker Casillas, Guanluigi Buffon, Oliver Kahn, hingga Claudio Taffarel, dunia lebih dulu mengenal kiper berbakat bernama Lev Yashin.

Lev Yashin, “pria berjubah hitam” dibawah mistar gawang Uni Soviet telah tunjukkan kepada dunia bahwa dalam diri kiper hebat, tersimpan seni benilai tinggi yang amat sulit dicari.

Lev Yashin tak ubahnya menjadi figur ketenaran kiper di dunia. Dalam catatan statistik, Lev Yashin telah memainkan sebanyak 812 kali pertandingan, dan selamatkan 150 tendangan penalti, serta punya catatan cleansheet sebanyak 270 kali.

Catatan yang sangat luar biasa bagi seorang kiper. Maka wajar bila dirinya, hingga saat ini, masih menjadi satu-satunya kiper yang memenangkan penghargaan Ballon D’or. Karena bakatnya telah diakui sepanjang sejarah pula, FIFA resmi memperkenalkan Lev Yashin Award. Penghargaan ini diberikan kepada penjaga gawang terbaik yang tampil di Piala Dunia.

Selain itu, IFFHS (International Federation of Football History and Statistic) juga menobatkannya sebagai penjaga gawang terbaik dunia abad 20.

Lev Yashin lahir pada 22 Oktober 1929 di Moskow. Dirinya baru berusia 12 tahun ketika Uni Soviet masih terlibat dalam perang kala itu. Pada saat itu, laki-laki dewasa Soviet dituntut untuk bisa berperang, sementara laki-laki yang masih tergolong kecil diminta untuk membantu upaya perang dengan bekerja di sebuah pabrik senjata.

Disanalah, Lev Yashin memulai karier di bidang olahraga. Saat itu, Yashin dikenal sebagai bocah yang pandai menggeluti berbagai bidang seperti basket, hoki es, dan tentu saja sepak bola.

Yashin pernah bergabung dengan Dynamo Moscow, sebuah tim hoki es di lingkungan tentara. Ia sempat berfikir untuk terus menggeluti hoki es, karena pada saat itu ada seorang penjaga gawang yang lebih hebat darinya, yakni Alexei Khomich. Dirinya tercatat sebagai andalan Dynamo Moscow dan timnas Uni Soviet.

Namun beruntung bagi Yashin, Khomich sempat mengalami cedera parah hingga posisi dibawah mistar mulai ditapaki oleh kakinya.

Namanya melambung tinggi saat bermain untuk timnas Uni Soviet. Tangan-tangan panjang yang selalu siap menghalau bola berhasil mengalihkan pandangan para penonton di lapangan untuk selalu tertuju kepadanya.

Yashin dianggap sebagai legenda di Uni Soviet karena ia berhasil meraih medali emas di Olimpiade 1956, menjuarai Piala Eropa 1960, hingga masuk semi-final Piala Dunia 1966.

Hanya kebobolan tujuh kali dari 11 pertandingan di tiga turnamen berbeda membuat ia dikenal sebagai ‘The Black Spider’. Menggunakan kostum hitam-hitam dan topi di bawah mistar gawang Uni Soviet, bola lengket di tangannya bagaikan laba-laba.
Yashin berhasil merubah anggapan bahwa kiper hebat hanya dituntut untuk bergerak seperlunya dan menangkis tendangan keras. Baginya, seorang kiper juga bisa memilih jalan penyelamatannya sendiri.

Bak laba-laba yang terus membangun sarang, Yashin berhasil membuat jaring diseluruh kotak penaltinya untuk menghentikan serangan lawan.

Lebih dari itu, Yashin juga tak sungkan untuk keluar dari sarangnya. Ia berlari untuk kemudian memainkan tangan-tangan panjangnya demi bisa menghalau bola.

Selain laba-laba hitam, Yashin juga memiliki julukan Black Panther. Pergerakan nya yang lincah dan atraktif tak jarang memberi hiburan tersendiri bagi para penggemar.

Penampilan luar biasa Yashin kerap mendapat hadiah berupa sorakan dari para supporter. Ia sangat memanjakan para penikmat sepak bola dengan pertunjukkan tangan-tangan panjang dibawah mistar. Kekokohannya di lini pertahanan juga bak tirai besi, yang sulit untuk ditembus, sekalipun dengan peluru canggih.

Meski sekumpulan tank canggih dalam wujud bek tangguh mulai runtuh, Yashin, akan selalu punya cara untuk merekatkan bata pada tembok yang telah dibangunnya.

Selain dikenal atraktif, Yashin juga dikenal sebagai pemain one-man-club. Dia bermain 22 musim hanya untuk membela Dinamo Moskwa, satu-satunya klub yang pernah ia wakili. Disana, ia berhasil sumbangkan lima kejuaraan liga dan tiga kejuaraan piala domestik.

Sekali lagi, cara Yashin dalam mempertahankan gawang sungguh variatif. Ia tak segan untuk menyeruduk bola dari kaki lawan, menangkap tendangan super keras, hingga memutus umpan matang dari sisi lapangan. Tak hanya itu, pukulan terhadap bola juga sering ia lakukan di sejumlah laga. Yashin kerap mematahkan tendangan-tendangan lawan dengan sebuah pukulan yang nantinya akan dibayar dengan tepukan para penggemar.

Jika Roberto Carlos sudah lahir di jaman itu, mungkin ia akan dibuat kesal oleh kegemilangan Yashin. Jika Lionel Messi sudah populer di masa Yashin sedang tangguh-tangguhnya, mungkin pria Argentina akan kesulitan ciptakan momen magis kala berhadapan dengannya.

Satu lagi, jika Zlatan sudah menganggap dirinya sebagai dewa di era kejayaan Uni Soviet, maka ia akan dengan hormat menganggap Yashin sebagai dewa yang sesungguhnya.

Cerita tentang kegemilangan Yashin memang tak lekang oleh waktu. Namanya abadi, kisahnya menarik, perjalanannya eksotis, dan untuk semua yang diraihnya sungguh lah fantastis.

Berbagai penampilannya yang layak diabadikan adalah saat melawan Brasil di Piala Dunia 1958. Saat itu Soviet memang kalah dengan skor 2-0, tapi Yashin tampil istimewa dengan melakukan rentetan penyelamatan mustahil. Kelenturan tubuhnya dibawah mistar benar-benar mengundang decak kagum.

Lalu, dua tahun berselang, Yashin tampil gemilang saat membawa Soviet meraih gelar juara Eropa, dengan mengalahkan Yugoslavia.

Meski sempat diremehkan di Piala Dunia 1962, Yashin membuktikan bahwa ia adalah pejuang sejati. Gagal di turnamen tersebut tak melenturkan niatnya untuk menyerah. Prediksi dari berbagai media yang menyebutnya telah habis malah membuat Yashin menjadi pemain terbaik dunia tahun 1963.

Hingga pada akhirnya, tangan istimewanya tak lagi mampu bertahan. Yashin putuskan pensiun dari dunia sepak bola. Sebuah pertandingan testimonial digelar dalam rangka perpisahannya pada 27 Mei 1971 antara Moscow XI melawan World XI di kota Moskow. Nama-nama besar seperti Bobby Charlton, Pele, Eusebio turut memberikan penghormatan dengan tampil di laga itu.

Kurang lebih 100 ribu pasang mata menjadi saksi dari ditutupnya karier seorang penjaga gawang sejati. Seusai karirnya sebagai pemain sepak bola, Yashin bekerja untuk Kementerian olahraga Rusia dan bagian administrasi di klub Dynamo Moskow.

Seluruh kisah perjalanannya terbalut rapih dalam berbagai trofi dan penghargaan pribadi.

Yashin, yang dikenal sebagai penjaga gawang terhebat, akhirnya harus tumbang. Layaknya manusia biasa, tubuhnya tak lagi mampu menopang segala beban. Pada tahun 1986, gumpalan darah di kakinya mengharuskan salah satu bagian tubuh terpenting itu diamputasi.

Empat tahun kemudian, atau tepat pada 20 Maret 1990, Yashin menghembuskan nafas terakhir. Ia meninggal karena kanker perut di usia 60 tahun. Sang legenda resmi tutup usia disamping orang-orang tercintanya.

Sang istri, Valentina, dan kedua putri manisnya, Irina dan Elena, harus memberi tahu dunia, bahwa seorang kiper yang mereka banggakan telah gantung sarung tangan untuk selama-lamanya.

Meski raganya telah tiada, dunia tetap mengingatnya sebagai nama yang luar biasa. Selain memperkenalkan Lev Yashin Award, sebuah patung dirinya sedang menghalau bola juga dibangun di Dynamo Park untuk mengenang jasanya bagi sepak bola Moskwa.

Terbaru, sebuah poster Piala Dunia 2018 telah mengingatkan semua akan kehebatan sang legenda. Seperti diketahui, FIFA resmi merilis poster resmi Piala Dunia 2018 beberapa hari jelang pengundian grup dilakukan. Sosok kiper berkostum hitam tengah menangkap bola menghias poster tersebut.

Igor Gurovic, yang menjadi pihak dibalik terbentuknya poster paling ikonik itu menyusun rapih tiap kepingan dalam diri Yashin. Mulai dari seragam berwarna serba hitam, pelindung lutut, hingga topinya yang sangat khas.

Sebuah bola yang berada disatu tangannya juga semakin mengukuhkan, bahwa pria berjuluk laba-laba memanglah sosok legenda di kancah sepak bola dunia.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru