Sial! Tim Ini Terpeleset Saat Ketatnya Perburuan Gelar Liga Inggris

spot_img

Premier League adalah kompetisi sepakbola yang sangat ketat. Semua tim berlomba untuk menjadi juara. Mereka bertarung sejak awal hingga akhir. Jadi, sangat biasa melihat gelar juara ditentukan di pekan-pekan terakhir. Musim ini, Manchester City dan Liverpool bersaing ketat untuk menjadi penguasa kompetisi elite Inggris. Meski The Citizens ada di puncak, potensi The Reds menyodok sangat besar.

Selain itu, ada banyak kasus ketika sebuah tim yang sudah memimpin klasemen Premier League harus tergelincir karena kesalahan sendiri maupun usaha lawan yang pantang menyerah. Nah, berikut ini beberapa momen sial ketika tim calon kuat juara Premier League tergelincir dalam perebutan gelar juara

Bolton vs Arsenal (2002/2003)

Setelah memenangkan Premier League musim 2001/02, Arsenal berada di jalur yang tepat sebagai juara untuk menjalani empat pertandingan terakhir mereka musim 2002/03 dengan sempurna. Di bawah asuhan Arsene Wenger, The Gunners mampu menahan pesaing gelar, Manchester United, 2-2 pada pertengahan April 2003. Hasil itu membuat mereka berpeluang besar bisa mengamankan gelar.

Tapi, United justru melaju dengan kemenangan di pertandingan lain. Itu membuat Arsenal harus memenangkan setiap pertandingannya jika ingin mengamankan gelar. The Gunners memulainya dengan berjuang melawan Bolton Wanderers. Sayang, mereka hanya mampu bermain imbang.

Segalanya memang dimulai dengan cukup nyaman, tembakan striker asal Prancis, Sylvain Wiltord dan Robert Pires tepat setelah turun minum memberi The Gunners keunggulan dua gol. Tapi, Bolton segera memperkecil skor melalui pemain Prancis lainnya, Youri Djorkaeff. Dan, saat enam menit waktu pertandingan tersisa, bek Arsenal Martin Keown secara mengejutkan mencetak gol bunuh diri.

Skor imbang 2-2 atas Bolton tersebut menjadi awal bencana bagi Arsenal. Sebab, pada pekan selanjutnya, Leeds United juga mengejutkan pasukan Wenger di Highbury dengan kemenangan 3-2. Alhasil dengan laju kemenangan United yang tak terbendung serta keoknya Arsenal atas tim-tim medioker di saat genting, membuat gelar akhirnya lari dari pangkuan Arsenal dan jatuh ke tangan setan merah.

Chelsea vs Bolton Wanderers (2006/2007)

Arsenal bukan satu-satunya tim yang terpeleset dalam perburuan gelar juara ketika melawan Bolton Wanderers asuhan Sam Allardyce. Perjuangan Chelsea pada musim 2006/07 juga dipengaruhi oleh Bolton. Terpelesetnya The Blues atas Bolton membuat mereka gagal memanfaatkan momentum ketika pesaing terdekatnya, Manchester United kehilangan poin melawan Middlesbrough.

Pada pekan terakhir pada bulan April 2007, tim asuhan Jose Mourinho bermain pada waktu yang sama dengan sang rival Manchester United. Mereka menjalani pertandingan kandang melawan Bolton sedangkan United away bertemu Everton di Goodison Park.

Pada awal babak kedua, tembakan Salomon Kalou dan gol bunuh diri kiper Bolton, Jussi Jaaskelainen membantu mereka membalikkan keadaan setelah gol pembuka mengejutkan dari Bolton datang dari Lubomir Michalik. Di tempat lain, tembakan Manuel Fernandes di Goodison Park kandang Everton membuat United sementara tertinggal 2 gol sesaat setelah babak kedua dimulai.

Tampaknya, jika kondisi tetap seperti ini,, mungkin perebutan gelar akan ditentukan oleh selisih gol saja, maupun dengan duel penentu hidup dan mati ketika kedua belah pihak masih akan bertemu di Stamford Bridge. Tapi segalanya menjadi lain, Chelsea kehilangan inisiatif dan striker Bolton, Kevin Davies menyamakan kedudukan untuk Bolton menjadi 2-2, sementara di tempat lain United membalikkan keadaan dari 2-0 menjadi menang 4-2.

Akhirnya United ada di puncak dan sudah tidak mungkin terkejar lagi akibat Chelsea terjungkal oleh Bolton. Partai penting di Stamford Bridge tidak lagi menjadi penting. United yang pergi ke Stamford Bridge memainkan para pemain cadangannya, pemain Asia seperti Dong Fangzhuo dan Keiran Lee ketika itu akhirnya diberikan guard of honour oleh juara bertahan Chelsea.

Birmingham vs Arsenal (2007/2008)

Kemudian di musim 2007/08, sebuah peristiwa yang paling diingat yakni pertandingan antara Birmingham City vs Arsenal. Selain peristiwa Martin Taylor yang mematahkan kaki striker Arsenal, Eduardo da Silva di awal babak pertama, pertandingan itu juga berpengaruh terhadap nasib Arsenal dalam perburuan gelar juara Premier League ketika itu.

Memasuki pertemuan di Emirates Stadium, Arsenal masih mengejar perburuan gelar Premier League dengan tujuan menyapu bersih pertandingan tersisa yang membuat nantinya mereka akan unggul lima poin dari rival terdekat di puncak klasemen. Tapi, semuanya berubah saat melawan Birmingham. Mereka menghadapi menit 87 dengan 10 pemain di St Andrew’s Stadium ketika itu.

Gelandang Birmingham asal Skotlandia, James McFadden memberi mereka malapetaka dengan golnya, dan mereka mempertahankan keunggulan melalui periode perpanjangan waktu babak pertama yang panjang. Tapi, dua gol cepat Theo Walcott setelah turun minum sudah cukup untuk memulihkan keadaan bagi Arsenal.

Arsenal memiliki peluang untuk menambah keunggulan. Tapi, skor 2-1 masih terjaga hingga menit terakhir perpanjangan waktu. malapetaka kembali terjadi di injury time, ketika pemain Birmingham, Stuart Parnaby jatuh di dalam kotak penalti dan wasit seketika menunjuk titik putih.

Lagi-lagi, James McFadden sukses mengeksekusi penalti tersebut dan hasil akhir seri 2-2 membuat peluang Arsenal menipis. Akhirnya, di pertandingan tersisa hingga akhir musim, Arsenal hanya mengambil tiga poin dari empat pertandingan.

Faktanya, Arsenal benar-benar tergelincir secara dramatis sehingga mampu dikudeta Chelsea yang konsisten meraup penuh poin di pertandingan tersisa, padahal ketika sebelum pertandingan arsenal melawan birmingham, selisih pemuncak Arsenal dan Chelsea terpaut 8 poin.

Manchester United vs Everton (2011/2012)

Musim 2011/12, Manchester United dihadapkan pada kenyataan dengan enam pertandingan tersisa, jarak delapan poin seharusnya tidak dapat dikejar oleh pesaingnya yakni Manchester City, meski masih ada Derby Manchester di kandang.Tapi, masih ada alasan untuk mengatakan bahwa City yang sedang berjuang mungkin mendoakan agar United dapat sewaktu-waktu tergelincir.

Awalnya, semua tampak mulus ketika MU bangkit dengan kemenangan 4-0 melawan Aston Villa. Lalu, mencetak empat gol lagi melawan Everton. Tapi, pertandingan sepakbola itu 90 menit. Tampaknya, MU sudah menganggap skor sementara 4-0 atas Everton sebagai hasil akhir.

Mereka lengah dan sepertinya sudah mempersiapkan mental untuk Derby Manchester berikutnya. Akibatnya sangat fatal. Striker Everton asal Kroasia, Nikica Jelavic dan Gelandang asal Afrika Selatan, Steven Pienaar mengambil keuntungan dengan membuat skor akhir berubah menjadi sama kuat 4-4.

Dan, saat pertandingan melawan Man City, MU benar-benar habis. Rival terdekat Setan Merah itu mengambil keuntungan penuh. Mereka memenangkan derby dengan meyakinkan di Old Trafford dengan skor telak 6-1, sekaligus membuat United gigit jari dan mentalnya semakin ciut.

Pada akhirnya, tetangga berisik Manchester City memanfaatkan momen penurunan mental skuad United yang gagal mengambil poin dari sisa pertandingan yang ada. Alhasil penentuan gelar pun terjadi hingga akhir.

United yang bertemu Sunderland sudah memastikan unggul di partai akhir dan memastikan diri di puncak setelah Manchester City di Etihad masih menuai hasil imbang. Akan tetapi keajaiban datang di Etihad dengan gol fantastis Aguero. United akhirnya benar-benar gigit jari dan merelakan gelar Premier League jatuh ke tetangga sebelah.

Crystal Palace vs Liverpool (2013/2014)

Terpelesetnya Steven Gerrard secara harfiah dan kiasan adalah momen yang menentukan dalam upaya Liverpool untuk meraih gelar pada 2013/14. Tapi, pertandingan berikutnya melawan Crystal Palace membawa kehancuran yang lebih pasti.

Momen itu terjadi setelah rasa sakit dari kekalahan melawan Chelsea. Keunggulan 3-0 setelah satu jam membuat fans The Reds mulai berpikir timnya kembali ke jalur perebutan gelar juara yang sudah lama diidam-idamkan. The Reds berharap bisa membuat tiga atau empat gol saat melawan Crystal Palace, sebelum menambah gol lagi melawan tim papan tengah Newcastle United.

Sayang, perhitungan mereka salah besar. Keunggulan 3-0 ternyata tidak bisa bertambah. Justru, mereka bermain imbang 3-3 melawan Crystal Palace. Gol dicetak Damien Delaney ditambah dua gol dari striker mereka Dwight Gayle. Sampai-sampai laga tersebut memunculkan istilah olok-olokan baru yang terkenal ketika itu bagi Liverpool yakni “Crystanbul“. Itu kata gabungan dari “Cry” (menangis), dan Istanbul (tempat final bersejarah Liga Champions yang dimenangkan Liverpool).

Hasil imbang tersebut membuat Liverpool berdoa untuk mengharap rival terdekatnya, Manchester City kalah di salah satu pertandingan kandang tersisa yakni melawan Aston Villa dan West Ham United. Tapi, sayang doa itu kurang manjur, nyatanya tim asuhan Manuel Pellegrini tersebut justru tak terkalahkan dan sukses menggagalkan gelar Liverpool.

https://youtu.be/FvpWobBym0c

Sumber Referensi : libero, dreamteam, footbalfaithfull

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru