Sepakbola Italia Yang Perlahan Kembali Ke Era Kejayaan

  • Whatsapp
Sepakbola Italia Yang Perlahan Kembali Ke Era Kejayaan
Sepakbola Italia Yang Perlahan Kembali Ke Era Kejayaan

Ketika menengok sepakbola Italia di era 90 an hingga 2000 an, tentu kita akan merasa bahwa itu adalah kompetisi terbaik di dunia. Bahkan sejak era 80 an, Italia sudah menjadi tempatnya para bintang. AC Milan dengan trio Belanda, Inter Milan dengan trio Jerman, Juventus dengan banyak bintang asal Italia, dan Napoli yang begitu berjaya dengan sang dewa sepakbola asal Argentina.

Masa Kejayaan

Bahkan, tidak hanya empat tim itu saja yang dipandang hebat. Namun ada nama lain seperti AS Roma, Fiorentina, Lazio, sampai Parma. Memang, meski ada banyak tim-tim hebat Italia yang diakui dunia, tetap saja tiga nama utama seperti AC Milan, Inter Milan, dan Juventus, dilihat sebagai yang paling sering menjadi bahasan.

Bacaan Lainnya

Ketiga nama itu, ketika sudah dikumpulkan, maka akan memberi tontonan dahsyat yang sulit untuk terlupa. Baik di kompetisi domestik maupun Eropa, banyak lawan yang lebih dulu bergidik ngeri ketika bertemu dengan salah satu dari mereka.

AC Milan pernah menjadi juara Eropa secara beruntun, dimana kemudian sampai saat ini mereka sudah kumpulkan sebanyak 7 gelar. Sementara Juventus, mereka tercatat dua kali merajai Eropa dan sudah kumpulkan sebanyak 36 gelar domestik. Untuk Inter Milan, klub yang baru saja meraih gelar scudetto ke 19 itu masih menjadi satu-satunya tim asal Italia yang berhasil meraih treble winner.

Dalam beberapa dekade, sepakbola Italia dipandang sebagai surga oleh kebanyakan pecinta sepakbola. Tak hanya kompetisinya saja, mereka juga dikenal punya skuad juara ketika tampil di level Internasional.

Sudah menjadi raksasa sejak dibentuknya ajang Piala Dunia pada 1930 an, Italia kemudian melanjutkan titel sebagai raja pada tahun 1982 ketika Paolo Rossi disebut sebagai pahlawan. Ketika itu, Italia dengan perkasa mengalahkan Jerman yang dikenal punya kekuatan terbesar. Tak hanya di dunia, Italia juga begitu terpandang ketika tampil di kompetisi benua sepakbola. Pada tahun 1968, mereka sempat menjadi raja dan nyaris kembali melakukannya pada tahun 2000, jika saja mampu meredam perlawanan juara bertahan dunia, Prancis.

Di era 2000 an sendiri, Italia memang masih menjadi salah satu tim yang sangat layak diwaspadai. Namun pada era itu juga, sepakbola Italia mulai menunjukkan tanda-tanda tak diinginkan.

Mulai Terlihat Tanda-Tanda Kemunduran

Pada gelaran Piala Dunia 2002, Italia secara memalukan ‘dikerjai’ oleh tim tuan rumah Korea Selatan. Kemudian pada ajang Piala Eropa 2004, Italia cuma mampu bercokol di tempat ketiga grup C dimana saat itu mereka kalah bersaing dengan Swedia dan Denmark. Beruntung, pada tahun 2006, Italia berhasil menjadi juara dunia dengan nama Fabio Cannavaro sebagai pemain terbaiknya.

Masih dihuni Gianluigi Buffon sebagai kiper andalan. Alessandro Nesta yang temani sang kapten di lini belakang serta Andrea Pirlo yang masih ditunjuk sebagai kreator permainan, lini depan Italia tampak gahar dengan nama Francesco Totti dan Luca Toni.

Mereka sukses tuntaskan perlawanan Prancis yang sebetulnya juga punya kekuatan besar.

Namun di tengah euforia gelar juara dunia keempat yang didapat, sepakbola Italia masih menyimpan luka. Adalah ketika kompetisi Serie A digegerkan oleh skandal calciopoli yang melibatkan beberapa tim besar, dengan nama Juventus jadi yang paling berat mendapat hukuman.

Mencoba bertahan dengan tim-tim kuat lainnya, Italia mampu bersinar dengan nama AC Milan yang keluar sebagai juara Liga Champions Eropa tahun 2007. Lalu, mereka juga mengeluarkan Inter Milan sebagai juara sempurna di tahun 2010, ketika Jose Mourinho membawa klub tersebut menikmati masa-masa terbaiknya sepanjang sejarah.

Era Kemunduran

Sayang, kedigdayaan tim-tim di Italia benar-benar mandek, tepat setelah Inter Milan meraih gelar juara. Meski beberapa tim besar masih tampil di kompetisi Eropa, belum ada lagi yang mampu membawa harum nama Italia. Juventus yang pada akhirnya kembali bangkit dari masa kelam pun belum lagi berhasil meraih gelar juara di kancah Eropa.

Dua kali masuk final, Juventus masih harus merasakan luka. Boleh dibilang, tepat setelah Inter rajai Eropa, Juve menjadi tim asal Italia yang berjuang sendirian di Eropa. Inter dan AC Milan masih terpuruk. Mereka beberapa kali mendapat masalah hingga terus temui kesulitan untuk masuk ke kompetisi Eropa.

Tim-tim seperti Napoli hingga AS Roma yang masuk ke kompetisi Eropa juga tidak benar-benar bisa diandalkan.

Ketika tim–tim legendaris di Italia tengah mencari cara untuk keluar dari jurang kehancuran, timnas Negeri Pizza malah menambah cerita kelam dengan mengalami masa terburuk sepanjang sejarah. Mereka seolah menabur garam di tengah luka yang masih belum tahu kapan sembuhnya.

Masih segar dalam ingatan ketika Gianluigi Buffon tak kuasa menahan air mata setelah tahu bahwa negara tercintanya gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Ini menjadi pencapaian terburuk Italia sejak 60 tahun lamanya.

Tangis Italia tergambar jelas dalam air mata penjaga gawang yang kini berusia 43 tahun tersebut. Di sisi lain, kebahagiaan jelas terpancar dari wajah setiap pemain Swedia. Negara yang beribukota di Stockholm itu berhasil menumbangkan Italia untuk bisa tampil di Rusia.

Kekecewaan benar-benar dirasakan oleh seluruh staf, pemain, hingga penggemar sepakbola Italia yang tersebar di dunia.

Surat kabar olahraga terkemuka Italia, La Gazzetta dello Sport, lalu menyebut era Italia ketika itu sebagai “akhir”. Kemudian, headline Corriere dello Sport juga menyamakannya dengan nada “kiamat”.

Kembali Ke Era Kejayaan

Namun begitu, Italia tidak ingin terus terpuruk dalam lembah penyesalan. Tepat enam bulan setelah kepergian Gian Piero Ventura, Gli Azzurri resmi menunjuk Roberto Mancini sebagai pengganti.

Penunjukkan Roberto Mancini yang punya kiprah luar biasa sebagai pelatih kemudian banyak dianggap sebagai gelombang optimisme sepakbola Italia. Pelatih berusia 56 tahun itu resmi duduk di kursi tertinggi Italia untuk pertama kali, setelah sebelumnya mengakhiri perjalanannya bersama Zenit Saint Petersburg. Berbagai respon positif pun menghampiri penunjukkan Roberto Mancini sebagai pelatih Azuri, yang salah satunya datang dari mantan gelandang Italia dan Chelsea, Roberto di Matteo

“Ketika dia ditunjuk sebagai pelatih nasional Italia, ada banyak euforia di negara yang dia ambil alih karena dia sangat dihormati dalam permainan,”

“Dia adalah seorang legenda di Italia. Aku tidak berpikir ada keraguan tentang kualitasnya sebagai manajer atau seputar kepelatihannya.” (via bbc)

Benar saja, ketika Mancini resmi menjabat sebagai pelatih, Italia langsung kembali ke performa terbaiknya. Dia mampu memberi kemenangan perdana 2-1 di laga melawan Saudi Arabia. Setelah dalam beberapa waktu, Italia kemudian menjadi tim tak terkalahkan, dimana Mancini catatkan rasio kemenangan sebanyak 74% dan menjadi yang tertinggi dari semua pelatih Italia.

Salah satu penulis sepak bola Italia, Danielle Verri, ikut menyampaikan kebahagiaannya atas kinerja Mancini sejauh ini. Menurutnya, sudah ada perasaan positif ketika Mancini mulai menjabat sebagai pelatih.

Dalam membawa Italia kembali berjaya, Mancini mulai menyingkirkan gaya serangan balik konservatif yang telah membantu Italia mengangkat empat trofi Piala Dunia.

“Itu bertentangan dengan tradisi. Tapi setelah tahu Italia tidak lolos Piala Dunia, dia mungkin mencoba untuk melakukan segalanya,” kata Di Matteo.

Beruntung, para pemain Italia tampak menerima taktik Mancini. Para pemain tampak lebih berani dengan tampil progresif. Hasil dari perubahan yang diberikan Mancini, Italia berhasil menciptakan 53 gol dalam 17 pertandingan. Bahkan mereka hanya kebobolan sebanyak tiga gol saja.

Selain pola permainan yang dirubah, Mancini juga dengan berani menempatkan banyak pemain muda. Setidaknya ada enam pemain yang sebelumnya tampil di laga semifinal Piala Eropa U21 pada 2017 silam yang ikut ke dalam skuad Mancini. Salah satu yang menjadi sorotan disini adalah ketika Mancini memasukkan nama Nicolo Barella dalam skuad, bahkan sebelum sang pemain melakukan kepindahan dari Cagliari menuju Inter Milan. Baru-baru ini, eks pelatih Manchester City itu juga secara mengejutkan memasukkan nama Giacomo Raspadori ke dalam skuad yang tampil di ajang Piala Eropa 2020.

Berkat kejelian Roberto Mancini, era kejayaan Italia yang dulu sempat hilang kini perlahan telah kembali. Berhasil masuk ke ajang Piala Eropa dengan perjalanan yang sangat menakjubkan saja sudah luar biasa. Apalagi bila melihat kiprah mereka pada gelaran tahun ini. Seperti diketahui, Italia menjadi tim pertama yang berhasil lolos ke fase gugur Piala Eropa 2020 setelah membukukan dua kemenangan dalam dua pertandingan di fase grup.

Hal itu jelas menjadi bukti dari keseriusan Mancini untuk membawa Italia kembali terbang tinggi. Selain itu, bukan hal mengejutkan bila lantas Italia disebut sebagai salah satu kandidat terkuat peraih gelar Piala Eropa 2020.

Kebahagiaan para penggemar sepakbola Italia tak bermuara sampai disitu saja. Sebelumnya, kompetisi Serie A juga sudah menunjukkan tanda-tanda luar biasa, ketika pada akhirnya mereka menemukan juara baru dalam diri Inter Milan. Malah, dalam perburuan gelar juara, sempat terjadi berbagai drama hingga pada akhirnya skuad asuhan Antonio Conte lah yang mampu berdiri dengan tenang di panggung juara.

Terlebih lagi, tiga tim paling bersejarah di sana yaitu Inter Milan, Juventus, dan AC Milan kembali hadir di kompetisi Liga Champions Eropa musim depan secara bersama-sama. Ditemani oleh tim yang tengah naik daun, Atalanta, tiga raksasa itu tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali kuasai persepakbolaan Eropa.

Sumber referensi: bbc, the flanker, kompasiana

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *