Sepak bola Asia Buruk, Berapa Gaji Pemain di Liga-liga Asia?

  • Whatsapp

Banyak orang menganggap kalau Asia bukanlah rumah sepak bola. Hal itu karena kualitas sepak bola di Benua Asia, tidak lebih bagus ketimbang Afrika, misalnya. Negara-negara di Asia bahkan nyaris tidak pernah masuk ke semifinal Piala Dunia. Hanya pada 2002, perwakilan Asia, Korea Selatan berhasil menembus partai semifinal.

Asia boleh saja menjadi penguasa di olahraga tepok bulu. Tak bisa dipungkiri juga bahwa sanggup menasbihkan diri sebagai benua yang mencetak pebulutangkis andal. Namun soal sepak bola, Asia ibarat benda kecil dari kejauhan yang hanya bisa dilihat menggunakan teropong.

Bacaan Lainnya

Beberapa pemain Asia memang mentereng di berbagai liga top Eropa. Siapa yang tidak mengenal sosok sayap berkecepatan tinggi Son Heung-Min? Dia adalah pemain Timnas Korea Selatan yang kini menjadi batu tumpuan Tottenham Hotspur. Terakhir, Son bahkan berhasil menjebol gawang Manchester City di laga pembuka Premier League musim 2021/22.

Kita juga bisa menyebut nama-nama lain seperti Takefusa Kubo, pemain Mallorca yang dijuluki “Messi Jepang”. Hwang Hee-Chan yang kini memperkuat Red Bull Salzburg. Dan tentu saja Takumi Minamino yang menghiasi skuad Liverpool.

Namun begitu, perkembangan sepak bola di Asia sendiri seperti melambat, terutama liga-liga di Asia. Kendati beberapa klub sudah mampu mendatangkan pemain mahal kelas dunia. Lantas apa sih yang membuat sepak bola di Asia begitu buruk?

Kestabilan Ekonomi

Kestabilan ekonomi adalah faktor yang boleh jadi paling berpengaruh di sepak bola Asia. Kita tentu tahu, sepak bola tak mungkin bisa berjalan dengan baik apabila kondisi ekonomi seperti Indonesia kala pandemi datang: memburuk. Ekonomi di Asia tak stabil dan itu juga berpengaruh pada kualitas sepak bola di Benua Kuning.

Contoh saja Iran. Timnas Iran hampir selalu tampil di Piala Dunia, dan bahkan salah satu legendanya, Ali Daei menjadi pencetak gol terbanyak di level timnas, walau kini sudah dilampaui Cristiano Ronaldo. Namun, kondisi finansial di negara itu tak bagus, begitu pula akhirnya berpengaruh pada federasi sepak bolanya.

Pendapatan per kapita di Iran jelas masih jauh jika dibandingkan dengan negara lain, sebut saja Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan, Qatar, dan bahkan Brunei Darussalam. Qatar negara dengan pendapatan per kapita tertinggi se-Asia dengan nilai 59.924, Jepang 49.000, Arab Saudi 19.390, Korea Selatan 28.361, dan Brunei 32.420. Sementara pendapatan per kapita Iran hanya di angka 5.944.

Hasilnya? Liga Iran justru acak kadut. Dan wajar saja kalau tim-tim dari Iran tak mampu berbicara banyak di kancah Asia.

Tidak Merata

Hanya ada lima liga masyhur di Asia. Saudi Professional League (Liga Arab Saudi), J1 League (Liga Jepang), Chinese Super League (Liga China), K League 1 (Liga Korea Selatan), dan A-League (Liga Australia). Namun kekuatan liga-liga tersebut tidak merata, berbeda dengan Eropa.

Kalau di Liga Champions Eropa, kita akan susah menebak tim dan dari liga mana yang bakal juara. Meskipun sudah tentu bukan Arsenal apalagi Tottenham. Nah, kalau di Liga Champions Asia (AFC Champions League) juaranya sudah bisa ditebak, kalau tidak dari Liga Korea atau Liga Jepang.

Ulsan Hyundai dan Urawa Red Diamonds menjadi dua tim yang paling banyak mengoleksi gelar AFC Champions League. Dua tim tersebut masing-masing meraih gelar Liga Champions Asia dua kali. Sejak digelar pada 2003, hanya Al-Ittihad Jeddah, tim asal Arab Saudi yang sanggup menyamai rekor kedua klub tersebut.

Ketidakmerataan ini juga akibat dari kondisi finansial masing-masing klub di Asia. Misalnya saja Guanzhou Evergrande. Klub terkaya di Asia itu memiliki harta mencapai nilai Rp 9,5 triliun. Selain Guangzhou Evergrande, Liga China juga masih mempunyai Shanghai SIPG yang memiliki skuad termahal di Asia, totalnya 43,7 juta US Dollar atau sekitar Rp 624,87 miliar.

Di Liga Jepang, beberapa tim juga memiliki kekuatan finansial lebih dari sekadar memadai. Vissel Kobe, klub Liga Jepang itu meraih pendapatan sebanyak 9,6 miliar yen atau setara Rp 1,2 triliun pada 2018/19. Pendapatan mereka naik menjadi 11,4 miliar yen atau Rp 1,5 triliun pada 2019/20.

Wajar saja, dengan kekuatan finansial bak klub kaya Paris Saint-Germain, Vissel Kobe mampu mendatangkan gelandang legendaris FC Barcelona, Andres Iniesta. Tak hanya Vissel Kobe, klub lain seperti Shanghai SIPG juga tak mau menyia-nyiakan finansial mereka dengan memboyong mantan pemain Chelsea, Oscar dan bintang Brazil, Hulk dan Paulinho.

Coba bandingkan dengan klub-klub dari negara Asia lain, misalnya Taiwan Football Premier League, yang menjadi liga dengan nilai skuad terendah di AFC. Total nilai semua skuad yang ada di Liga Taiwan tersebut hanya 5 juta dollar atau Rp 72,31 miliar. Bagaimana mungkin klub-klub di Taiwan bisa mendatangkan pemain top, wong memperbaiki stadion saja barangkali nyicil.

Gaji Pemain di Liga Asia

Kendati sepak bola Asia dianggap buruk, dan jarang sekali disorot, tim-tim di Asia masih sanggup untuk menggaji para pemainnya. Bahkan beberapa pemain di liga-liga Asia mendapat gaji yang boleh jadi sanggup untuk membeli satu pulau di Indonesia. Four your information, menurut Transfermarkt, rata-rata harga pasaran pemain-pemain yang tampil di Liga Champions Asia kurang lebih 401,8 ribu dollar atau Rp 5,74 miliar.

Nama-nama pemain top Liga Eropa, seperti Oscar yang pernah tampil bersama Chelsea mendapat gaji tinggi di Shanghai SIPG. Nilai market Oscar mencapai angka Rp 278,11 miliar di klub Tiongkok tersebut.

Sementara itu, eks gelandang Blaugrana, Andres Iniesta pernah menjadi pemain dengan nilai transfer termahal sepanjang sejarah Liga Jepang. Iniesta dikabarkan mendapat gaji 30 juta dollar atau Rp 431,1 miliar per tahun. Walaupun belakangan ini harga Iniesta di pasaran anjlok sampai 2,79 sekian dollar atau Rp 39,9 miliar.

Tim-tim di Liga Super Malaysia pun sanggup membayar gaji pemain dari Asia Tenggara dengan nilai yang bikin mata terbelalak. Para pemain ASEAN paling sedikit mendapat gaji 31 ribu ringgit atau sekitar Rp 105 juta per bulan. Tak ayal, beberapa pemain hebat Indonesia banyak yang merumput di Negeri Jiran. Sebut saja seperti Ryuji Utomo dan Syahrian Abimanyu.

Sementara, di Liga Indonesia sendiri gaji para pemain lumayan beragam. Ada yang berkisar antara 150-250 juta perbulan, dan ada yang sampai 2,1 miliar per tahun. Stefano Lilipaly, pemain Bali United itu menjadi pemain di Liga Indonesia termahal dengan nilai transfer mencapai Rp 6,1 miliar. Diikuti nama-nama seperti Mark Klok dan Febri Hariadi yang masing-masing senilai Rp 6,1 miliar dan Rp 5,9 miliar.

Meskipun tak begitu kompetitif dan buruk, liga-liga di Asia boleh juga untuk menjadi tempat terakhir pesepakbola hebat sebelum akhirnya memutuskan pensiun. Mungkin pemain sekelas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo bakal tampil di Liga Jepang atau bahkan Liga Indonesia. Tentu dengan syarat sudah tidak laku.

Bayangkan kedua pemain itu bermain di Liga Indonesia. Wah sudah pasti banyak yang nonton, keuntungan klub bakal naik signifikan. Walaupun keduanya hanya bermain sepak bola di gim FIFA lantaran kompetisi Liga Indonesia mangkrak.

Sumber referensi: ligalaga.id, hindustantimes.com, indosport.com, transfermarkt.co.id, idntimes.com, labyrinthccg.com, bolalob.com, id.tradingeconomics.com, bolaskor.com.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *