Seorang pemain dengan nomor punggung 21 tak jarang menjadi sorotan publik sepak bola dunia. Gerakan nya yang gemulai kala membawa bola membuatnya semakin terlihat elegan diatas lapangan.
David Silva, yang pada saat itu terus berlari dengan tatanan rambut yang belum rapi, beberapa kali membuat lawan bergidik. Langkahnya yang pasti selalu berhasil menembus lini pertahanan yang telah disiapkan untuk menghalangi.
Sekali lagi, sosok flamboyan itu bernama David Silva.
Siapa yang tak kenal dengan David Silva? Ya, meski pertanyaan semacam itu terdengar membosankan untuk sebagian pecinta bola, namun memang benar, siapa yang tak kenal David Silva?
Sebagai pemain, David Silva dibekali skill mumpuni. Meski kemampuannya sama seperti rata-rata pemain Spanyol, namun entah mengapa, menyaksikan David Silva bermain selalu memberi satu suntikan energi tersendiri. Pemain yang memiliki julukan sang penyihir ini selalu bisa melintasi berbagai situasi megah yang harus ditaklukkan dalam setiap permainan.
Selain memang punya bakat dan skill tak tidak biasa, ada hal lain yang mampu membuat Silva begitu anggun kala membawa bola, yaitu sebuah ketanangan. Meski ia tumbuh dan hidup di wilayah yang begitu ramai akan seruan penggemar, belum lagi ditambah dengan semangat pemain lawan yang begitu membara, tak ada alasan bagi Silva untuk bermain tergesa-gesa. Ia punya cara untuk ciptakan cerita. Hentakan kakinya selalu terselip kedalam celah yang ada dalam setiap halangan.
Ia sukses menjadi seorang seniman lapangan yang berbicara dengan kakinya. Suara indahnya tak jarang menjadi perhatian, dan satu lagi, karya indah yang diciptakannya selalu membekas di hati para penikmat sepak bola sejati.
David Josua Jimenez Silva lahir pada 8 Januari 1986 di Arguineguin, Spanyol. Silva tumbuh di wilayah yang begitu akrab dengan kata sederhana. Arguineguin merupakan sebuah desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Wilayah tersebut terletak di daerah pesisir Gran Canaria, Spanyol. Canaria sendiri terkenal dengan keindahan alamnya. Gunung yang memukau, tanaman yang eksotis, serta beberapa hewan yang menarik, hingga kawasan pantai yang sangat lah indah menjadikan wilayah ini sebagai tujuan para wisatawan.
Disana terkenal dengan berbagai keindahan alam yang beragam, dan untuk sepak bola sendiri, jarang sekali ada pemain hebat yang berasal dari sana. Tidak seperti wilayah Katalan atau Basque, Canaria tidak identik dengan deretan para pesepakbola hebat. Namun demikian, David Silva yang memang menyukai sepak bola tak pernah kehabisan akal untuk melatih kaki-kakinya agar lincah kala berlari di rumput lapangan.
Sejak kecil, kecintaan Silva dengan sepak bola memang sudah sangat terlihat. Dirinya kerap menggunakan kentang hingga jeruk sebagai bola untuk dimainkan. Hal tersebut diungkap oleh sang nenek. Bahkan, ketika ada hal buruk yang menimpa hingga mengharuskannya mendapat perawatan, kecintaan Silva kepada sepak bola tidak pernah pudar.
Kala itu, itu disebut tetap bermain bola meski dengan memakai gips.
Bakat Silva sebenarnya sudah bisa diprediksi. Pasalnya, sang ayah merupakan mantan pesepakbola profesional yang bermain untuk klub lokal Santa Agueda. Ayahnya sendiri merupakan mantan polisi kota sebelum akhirnya bertugas sebagai penjaga keamanan stadion klub Valencia. Saat bekerja di klub Valencia, David Silva meminta sang ayah berhenti agar bisa memiliki banyak waktu bersamanya. Setelah memutuskan untuk berhenti, ayahnya itu kemudian menjadi seorang tokoh di kampung halamannya, dan memiliki fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola hingga kolam renang.
Menyadari kegemaran sang anak, kedua orang tua Silva kemudian membelikan bola dan sepasang sepatu. Bahkan, setelah itu, Silva dimasukkan kedalam akademi UD San Fernando yang terletak di Maspalomas, Spanyol, di usianya yang baru menginjak delapan tahun.
Saat masuk ke akademi pertamanya itu, David Silva sempat berposisi sebagai penjaga gawang sebelum akhirnya pindah ke posisi sayap. Setelah menghabiskan waktu selama lima tahun bersama UD San Fernando, Silva kemudian pindah ke akademi Valencia.
Disinilah karirnya meningkat pesat. Ia jadi memiliki karakter kuat dan menjadi andalan bagi tim kelelawar.
Perlu diketahui, saat itu kedua orang tuanya sempat mendaftarkan sang anak ke akademi sepak bola Madrid, La Fabrica. Namun, postur tubuh yang kecil membuat Silva tidak diterima di sana.
Kendati demikian, penolakan yang didapatkannya di Madrid malah menjadi berkah baginya. Pasalnya, bersama Valencia, Silva menunjukkan kegemilangannya pada Eropa dan dunia. Di Mestalla, ia terus dipuji, ditambah dengan catatan 31 gol dan 33 assist yang ia bukukan di sana dari 166 laga.
Silva dikenal sebagai seorang pelari yang gesit. Ia disebut sebagai pemain yang punya “first touch” amat mengagumkan. Seni yang ditampilkan begitu nyata. Keterampilan menggiring bola, akurasi tendangan, hingga gerakan tipuan yang amat cerdas membuat namanya benar-benar tenar di kompetisi dunia.
Silva memiliki keahlian dalam menciptakan ruang. Visi bermain, membaca permainan, dan selalu tenang dalam membawa bola juga menjadi alasan, mengapa Silva layak disebut sebagai seorang penyihir lapangan hijau.
Meski peran utamanya adalah sebagai seorang playmaker, Silva juga tak ketinggalan kala harus mencetak gol ke gawang lawan. Ia bahkan bisa di tempatkan di beberapa peran ofensif. Disana, ia akan menciptakan ruang dan menjelajah lapangan. Kadang kala, kejeniusannya juga dimanfaatkan pelatih untuk digunakan sebagai pemain yang beroperasi di sisi sayap hingga memainkan perang “false nine”. Lebih dari itu, mengambil peran yang lebih kedalam juga bisa diterapkannya dengan sangat baik.
Di Valencia, David Silva begitu melegenda dengan nama seperti Juan Mata dan juga David Villa.
Tampil gemilang di Mestalla, dengan raihan satu trofi Copa del Rey pada musim 2007/08 membuat nama David Silva begitu diinginkan dunia. Kala itu ada banyak sekali klub yang meminati jasanya. Pada akhirnya, di musim 2010/2011, Silva memutuskan untuk merantau dari Spanyol. Adalah Manchester City, klub dengan gelontoran dana beraroma minyak sukses memboyong sang penyihir asal Spanyol dengan mahar senilai 26 juta pounds.
Debut Liga Primer David Silva bersama City terjadi pada 14 Agustus 2010. Kala itu, City berhadapan dengan Tottenham Hotspurs di White Hart Lane. Hingga tepat pada 16 September di tahun yang sama, Silva mencetak gol pertamanya untuk Manchester City. Sementara gol pertamanya di Liga Primer ia ciptakan pada 17 Oktober melawan Blackpool.
Bersama dengan nama-nama baru disana, Silva berhasil menyumbangkan trofi Liga Primer Inggris pertamanya pada 2011/12. Karena dianggap sebagai pemain yang sangat penting, Silva mendapat perpanjangan kontrak pada 2012. Ketika itu, ia sepakat untuk tinggal di Etihad Stadium hingga lima tahun kedepan. Dan lagi, setelah terus bermain konsisten, Silva kembali menambah masa baktinya hingga tahun 2020.
Perjalanan nya di Manchester City terasa begitu indah. Silva menjadi maskot sekaligus idola klub. Kharismanya berhasil menyingkirkan nama-nama besar lainnya. Ia yang memang punya jiwa kepemimpinan tinggi juga dipercaya sebagai pembawa bendera utama.
Bahkan, tak hanya bersama klub yang dibelanya, di timnas Spanyol pun sama. Bermain bersama dengan generasi sukses Barcelona di Timnas, Silva dengan senang hati mampu mengikuti gaya main mereka. Hasilnya, sejak tampil pertama kali di tim senior pada 2006, Silva telah menyumbangkan sejumlah gelar.
Piala Eropa sebanyak dua kali beruntun, dan tentunya Piala Dunia, menjadi penghargaan tertinggi yang pernah diraihnya.
Di panggung juara, nama David Silva yang usianya nyaris menyentuh angka 35, sangat layak disebut sebagai legenda sepak bola dunia.


