Munculnya nama Raffi Ahmad, Atta Halilintar, dan bahkan Gading Marten yang mengakuisisi klub lokal membuat dunia sepak bola tanah air jadi lebih berwarna. Artis-artis yang kelewat selo itu memperlihatkan betapa industri sepak bola begitu menggiurkan. Ini fenomena yang menarik dan jarang terjadi.
Apalagi selama ini kita kan tahu, sepak bola dalam negeri acap kali diurus oleh pengurus yang tak pernah serius. Kebanyakan hanya seorang politikus yang ngerti bola saja harus buka kamus. Nah, para artis itu memandang sepak bola sebagai pasar yang potensial.
Sebab itu, Raffi Ahmad dan rekannya, Rudy Salim tidak segan menggelontorkan uang Rp 300 miliar hanya untuk mengakuisisi sebagian besar saham Cilegon United. Sementara pengusaha lain cum anak presiden, Kaesang Pengarep membeli 40 persen saham Persis Solo. Kalau Atta Halilintar, ia tak menyebutkan berapa nilai investasinya di klub PSG Pati.
Soal artis yang membeli klub sepak bola ini mungkin baru pertama kali terjadi. Namun, klub sepak bola sendiri acap kali menjadi lahan basah untuk berbisnis. Di luar Indonesia, bisnis klub sepak bola sudah sangat menggeliat. Lalu, sebenarnya seberapa menjanjikan bisnis klub sepak bola? Sampai-sampai ia dibidik oleh para pengusaha.
Daftar Isi
Tidak Begitu Menguntungkan
Mari kita mulai yang paling buruk dulu. Karena sebetulnya bisnis klub sepak bola itu nggak menguntungkan-menguntungkan amat. Misalnya saja di Premier League atau Liga Inggris.
Laporan Deloitte Annual Review of Football Finance, dikutip pula BBC, menyebutkan pada musim 2012/13 saja keuntungan tim-tim di Liga Inggris nilainya tak lebih dari 4 persen dari total pendapatan kotor yang diterima. Itu di Premier League, kalau di divisi di bawahnya tentu pendapatannya bisa jauh lebih sedikit.
Itulah mengapa ketika Mike Ashley, pemilik Sport Direct menginvestasikan uangnya sebesar 200 juta pounds atau Rp 3,8 triliun ke Newcastle United, ia mesti siap uangnya hangus. Sebab seorang pemilik klub bahkan justru akan kehilangan sebagian besar hartanya ketika memutuskan untuk investasi ke sebuah klub.
Mike Ashley watching Newcastle scrape another draw pic.twitter.com/EXEVBVaoVg
— ODDSbible (@ODDSbible) September 30, 2020
Contoh saja seorang Simon Jordan, yang di dalam otobiografinya mengakui kalau membeli klub sepak bola adalah keputusan keliru. Ia yang mengumpulkan uang 75 juta pounds atau Rp 1,4 triliun memilih mengambilalih klub Crystal Palace dengan mengeluarkan 10 juta poundsterling atau Rp 191 miliar. Alih-alih untung, Simon justru merugi lantaran klub yang ia beli tak kunjung berkembang.
Oleh sebab itu, lahir sindiran bagi orang-orang di Britania Raya yang memilih membeli klub. Bahwa jika kamu ingin mendapat 1 juta pounds dari klub sepak bola, kamu harus menanamkan uang dua kali lipatnya, 2 juta pounds atau setara Rp 38,3 miliar. Kendati sekadar perumpamaan, pernyataan itu bisa membuat kicep calon investor klub sepak bola di Britania Raya.
Tak ayal, di luar negeri, banyak orang yang ingin berbisnis di industri sepak bola tentu memilih klub yang sudah punya nama dan konsisten pendapatannya, bila perlu finansialnya melebihi kata cukup. Misalnya, Manchester United yang sudah menjadi klub dengan pendapatan tertinggi. Laporan Deloitte Football Money League 2016/17, pendapatan MU mencapai 676,3 juta euro atau Rp 11,28 triliun.
Angka itu disusul Real Madrid yang jumlah pendapatannya mencapai 674,6 juta euro atau Rp 11,25 triliun. Dan FC Barcelona yang mencapai 648,3 juta euro atau Rp 10,8 triliun. Tentu kalau investasi ke klub-klub tersebut enggak rugi, dari keuntungan MU misalnya, diambil 4 persen saja sudah sekitar 27 juta euro atau Rp 450 an miliar.
Menyebarkan Brand
Sekalipun tidak terlalu menguntungkan secara finansial, klub sepak bola akan menguntungkan para investor. Wabil khusus investor yang telah memiliki brand atau merek tersendiri. Sebut saja para pengusaha dari Qatar dan Abu Dhabi.
Dimulai dari Sheikh Mansour dari Abu Dhabi yang menanamkan tak kurang dari 1 miliar pounds atau Rp 19,1 triliun kurs sekarang hanya untuk mengakuisisi Manchester City. Kita pun bisa melihat di bagian depan jersey City brand sebuah maskapai penerbangan dari Abu Dhabi, Etihad Airways.
Lewat situ Etihad jadi mendunia. Bukan hanya Etihad, kita semua tahu bahwa Fly Emirates, salah satu perusahan penerbangan asal Dubai dan Qatar Airways juga menjadi sponsor utama klub besar. Sebutlah seperti Arsenal, AC Milan, Real Madrid, Boca Junior, dan FC Barcelona sebelum Rakuten, menjadi duta besar Qatar dan UEA.
Sheikh Mansour and the Abu Dhabi United Group completed the takeover of Manchester City Football Club, #OnThisDay in 2008. 👏💙 pic.twitter.com/8JGbt89d8E
— City Xtra (@City_Xtra) September 23, 2021
Karena itu pula, negara-negara teluk kecil dan tidak memiliki fasilitas sepak bola memadai, seperti UEA dan Qatar bisa mengembangkan investasinya ke klub-klub Eropa. Khusus Qatar, investasinya bahkan didukung oleh finansial negara. Maka bukan sebuah kejutan jika Qatar akhirnya memenangkan perebutan tuan rumah Piala Dunia 2022.
Sebab itu pula, pemilik Newcastle United, Mike Ashley tidak pernah merasa rugi. Meski finansial tak stabil dan The Magpies tak kunjung berkembang, Mike tetap diuntungkan. Ia bisa leluasa memasang merek perusahaannya, Sport Direct di seluruh ruang iklan Newcastle United, seperti di stadion dan tayangan televisi.
Harga Pemain Makin Mahal
Keuntungan klub, khususnya Liga Inggris memang tidak seberapa. Klub akan mendapat uang dari penjualan tiket, hak siar, penjualan pemain, penjualan jersey dan merchandise, dan lain sebagainya. Namun, hal itu berpeluang besar tak sepadan dengan uang yang dikeluarkan untuk membayar gaji pemain.
Apalagi, harga dan gaji pemain makin meningkat. Misalnya, klub-klub di Liga Inggris dirata-rata bakal menghabiskan 80 persen pendapatan klub hanya untuk menggaji pemain. Jumlah tersebut bisa jadi makin meningkat seiring buka-tutupnya jendela transfer.
Itu di Inggris, sedangkan di Serie A Italia, rata-rata tagihan upah para pemainnya tak kurang dari 40 juta euro atau Rp 667,4 miliar per tahun. Sementara di Bundesliga Jerman, rata-rata tagihan upah pemainnya mencapai 45,8 juta euro atau Rp 764,3 miliar. Dengan nilai sebanyak itu, pengeluaran klub boleh dibilang paling besar untuk gaji para pemain.
Bagaimana di Indonesia?
Para pebisnis klub sepak bola di liga-liga top Eropa paling banter bakal mendapatkan keuntungan sekitar 7 persen dari pendapatan klub. Itu seperti hanya secuil saja. Pasalnya, pendapatan klub Eropa terbilang lumayan bikin mata melek sampai pagi.
Semisal FC Barcelona, klub yang konon dilanda krisis finansial itu saja pada kenyataannya telah mengantongi 715 juta euro atau Rp 11,9 triliun. Sementara rivalnya, Real Madrid di angka 714,9 juta euro atau Rp 11 triliun. Jika diambil 7 persennya, itu berarti pendapatan investor hanya berkisar 50 juta euro atau Rp 834,2 miliar. Angkanya tak lebih dari 50 persen nilai transfer Jack Grealish.
Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Riset Mohamad D. Revindo di The Conversation menyebut bahwa setiap klub Indonesia menciptakan kegiatan ekonomi senilai Rp 3 triliun saban tahun. Itu berasal dari hak siar, penjualan merchandise, pernak-pernik, dan tentu saja tiket.
Namun, pendapatan bisa saja hanya separuhnya, yaitu Rp 1,5 triliun. Itu sudah termasuk sponsor klub dan hak siar selama semusim. Tapi itu untuk tim di Liga 1, sedangkan di bawahnya jelas berbeda. Untuk penjualan jersey misalnya.
Jika klub di kasta kedua mampu menjual 100 ribu jersey seharga 100 ribu per jersey, pendapatan dari situ hanya berkisar Rp 10 miliar. Sementara hak siarnya, kalau mengikuti format Liga 2, tiap klub minimal bermain 10 kali dan setiap pertandingan hak siar yang didapat klub bernilai Rp 42 juta, maka klub mendapat Rp 420 juta.
Soal tiket masuk, di Liga 2 lebih mengenaskan lagi. Kapasitas penonton yang sedikit bikin pendapatan juga sedikit. Misal pertandingan berhasil menyedot 3 ribu penonton dan harga tiket Rp 50 ribu. Pendapatan klub dari situ hanya Rp 150 juta.
Raffi Ahmad X Rudy Salim
✅Akuisisi Cilegon United
✅Gelontorkan Rp 300 M untuk Akademi Sepakbola
✅Buat akademi bola di 10 kota
✅Akan buat Klub E-Sports
✅RANS Cilegon FC akan di-exposure oleh RANS Ent yg memiliki 90 juta pengikut
✅Sudah ada 40 calon sponsor yang ngantri— Extra Time Indonesia (@idextratime) March 31, 2021
Total, pendapatan bisa mencapai Rp 10,57 miliar. Sponsor sengaja tak dimasukkan karena sponsor Liga Indonesia kerap ngutang. Jika kita ambil contoh RANS Cilegon FC, pendapatan segitu tidaklah mencukupi untuk membayar pemain yang rata-rata nilai transfernya mencapai Rp 17 miliar. Maka, wajar kalau Raffi Ahmad sempat dibikin pusing buat membayar gaji pemain. Mau tak mau, ia harus tombok.
Nah, bagaimana? Apakah kamu tertarik berbisnis klub sepak bola, football lovers?
Sumber referensi: atthematch.com, footballbenchmark.com, bbc.com, johancruyffinstitute.com, theconversation.com


