Karim Benzema menunjukan penampilan tanpa ampun di laga leg kedua semifinal Copa del Rey lawan Barcelona di Camp Nou. Ia mencetak hattrick dalam pembantaian 4-0 itu. Dengan ini Real Madrid membalikan keadaan agregat menjadi 4-1. Juga melangkah ke final Copa del Rey untuk pertama kalinya sejak tahun 2014.
Real Madrid sebenarnya punya rekor yang tidak membanggakan melawan anak asuh Xavi. Di tiga laga el clasico sebelumnya Ancelotti selalu kalah melawan Barca. Juga tertinggal 12 poin di belakang rivalnya itu di liga. Tapi di laga ini los blancos punya Benzema yang sedang sangar di mode Ramadhan.
Daftar Isi
Real Madrid Bantai Barcelona
Barca sebenarnya diprediksi akan tampil mendominasi di pertandingan ini. Benar saja, anak asuh Xavi Hernandez bisa menguasai jalannya pertandingan di babak pertama. Mereka bahkan sempat mendapatkan peluang. Tapi peluang itu berhasil diselamatkan oleh Thibaut Courtois.
Serangan balik cepat pun dilancarkan oleh pasukan los blancos. Tepatnya di injury time babak pertama, Vinicius Jr berhasil mencetak gol cantik ke gawang Ter Stegen yang sebelumnya tak tertembus. Real Madrid pun mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 1-0.
Memasuki babak kedua, Madrid langsung dapat momentum. Baru lima menit babak kedua dimulai, Karim Benzema bisa memanfaatkan umpan dari Luca Modric untuk menggandakan keunggulan los merengues. Skor 2-0 ini sebenarnya sudah cukup untuk Madrid mengungguli agregat. Tapi laga belum selesai.
Benzema kembali mencetak gol dari titik putih di menit ke-58. Itu membuat permainan Barcelona jadi tambah goyah. Xavi kini masuk ke mode panik. Di waktu yang hampir habis, Benzema mencetak gol ketiganya di laga itu.
Ini adalah prestasi yang membanggakan untuk Benzema. Ia jadi pemain Real Madrid pertama yang mencetak hattrick ke gawang Barca di Camp Nou sejak Ferenc Puskas pada tahun 1963. Juga hanya hanya Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, dan Alfredo di Stefano yang punya catatan gol el clasico lebih banyak daripada Benzema.
Benzema Mode Ramadhan
Madrid tentu harus bersyukur Benzema hadir di saat klub sangat membutuhkannya. Meskipun ini adalah musim yang agak sulit untuk Benzema. Ia terlalu sering terhambat oleh cedera dan penampilan buruk. Membuatnya sulit untuk menyamai performanya di musim lalu dimana ia mencetak 44 gol dalam 46 pertandingan. Penampilan yang membuatnya merengkuh Ballon d’Or musim itu.
Ini bukanlah hattrick pertama Benzema musim ini. Baru kemarin, tepatnya di hari Minggu Benzema menunjukan kebuasannya dengan mencetak tiga gol ke gawang Real Valladolid hanya dalam waktu tujuh menit.
Banyak kritik yang berdalih kalau saat itu lawan Benzema terlalu lemah. Sehingga terlalu mudah bagi seorang pemain dari Real Madrid bisa mencetak hattrick. Valladolid memang saat itu sedang berada di peringkat ke-16. Jadi jelas kalau Valladolid lebih lemah. Namun di laga ini ia membuktikannya, dengan tetap bisa mencetak hattrick melawan Barcelona yang memuncaki La Liga sementara.
Tapi fakta yang terlupa adalah Benzema melakukannya saat sedang berpuasa. Sudah bukan rahasia kalau Benzema adalah seorang muslim yang taat. Dan sebagai muslim yang taat, Benzema tetap menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan.
Ada rumor mengatakan kalau Benzema buka lebih cepat ketika mencetak hattrick di laga lawan Valladolid kemarin. Ia terlihat meminum air di bangku cadangan padahal masuk waktu berbuka. Tapi itu langsung dibantah. Benzema hanya berkumur untuk membasahi mulutnya yang kering.
Ia pernah berkata di tahun 2019, kalau puasa tidak menghambatnya sama sekali. Bahkan berpuasa membuatnya lebih kuat dan fokus di pertandingan. Juga memberikan manfaat baginya dan orang-orang di sekitarnya.
“Keyakinan saya membuat saya terus fokus. Itu memberikan manfaat dan kekuatan untuk saya, keluarga, dan pekerjaan saya.”
Perkataan Benzema itu sudah terbukti berkali-kali. Puasa tidak membuatnya lemah apalagi menurunkan performanya. Malahan, Benzema di mode Ramadhan adalah senjata bagi Madrid untuk meledakkan siapapun lawannya.
Menang Besar, Ancelotti Aman?
Kemenangan besar ini juga seolah jadi semacam pengumuman dari Carlo Ancelotti kalau ia masih bisa diandalkan Real Madrid. Sebelumnya, ia selalu kalah di tiga pertemuan terakhir dengan anak asuh Xavi Hernandez.
Berawal sejak bulan Januari lalu. Ancelotti harus merelakan gelar Supercopa Espana ke tangan Barcelona. Kemudian kalah di leg pertama semifinal Copa del Rey di markas sendiri. Lalu kalah lagi lawan Barcelona di La Liga yang membuat perebutan gelar Liga los blancos jadi makin terasa mustahil.
Akhir-akhir ini banyak rumor beredar kalau Ancelotti akan digantikan. Bahwa Real Madrid sudah ancang-ancang mencari pengganti pelatih asal Italia itu. Jadi pertanyaannya adalah, apakah dengan kemenangan besar ini nasib Ancelotti di Bernabeu akan aman?
Sulit untuk menerka jawabannya. Yang pasti adalah Ancelotti tidak akan memuaskan Real Madrid hanya dengan menjuarai Copa del Rey. Meskipun itu akan jadi gelar pertama mereka sejak tahun 2014. Dan yang kedua kalinya sejak tahun 1993.
Semua orang tahu kalau target Madrid tiap tahun adalah Liga Champions. Jika Ancelotti ingin berumur panjang di Madrid, tidak ada pilihan lain selain memenangkan gelar Champions Madrid yang ke-15 musim ini.
Chelsea Patut Waspada
Beruntungnya bagi Ancelotti, lawan Madrid di Champions adalah tim papan tengah Inggris Chelsea yang saat ini duduk di peringkat ke-11 Premier League. Madrid boleh lemah di Liga, tapi di kompetisi sistem gugur merekalah rajanya.
Tidak ada klub yang sehebat Real Madrid di pertandingan sistem gugur. Pembantaian 4-0 lawan Barcelona hanyalah salah satu contohnya saja. Contoh lainnya adalah perjalanan mereka di Liga Champions musim lalu,
Semua orang mengira Madrid akan tersingkir di babak 16 besar ketika PSG sempat unggul agregat 2-0. Tapi di babak kedua leg kedua, pasukan Ancelotti berhasil membalikan agregat jadi 3-2.
Hal serupa terjadi di babak semifinal melawan Manchester City. Anak asuh Pep Guardiola saat itu sudah unggul agregat 5-3 sampai menit ke-89 leg kedua. Tapi dua gol dari Rodrygo dan satu eksekusi penalti Benzema mampu membawa Madrid ke final.
Di laga final Madrid juga melakukan hal yang sama. Liverpool sebenarnya sudah mendominasi sebagian besar jalannya pertandingan. Tapi hanya butuh satu gol dari Vinicius untuk mengangkat trofi si kuping besar.
Real Madrid punya kemampuan itu di turnamen sistem gugur. Mereka tidak perlu mendominasi pertandingan untuk bisa menang. Yang mereka butuhkan hanyalah para pemainnya bertemu dengan momen spesial di pertandingan. Maka itu bisa diubahnya menjadi kemenangan.
Itulah mengapa Chelsea harus hati-hati. Apalagi Real Madrid masih punya Benzema yang sedang dalam mode Ramadhan.


