Musim lalu, Carlo Ancelotti boleh menepuk dada dan membusung bangga lantaran sukses besar membawa Real Madrid meraih treble winner. Tapi roda berputar begitu cepat, dan musim 2024/25 ini Don Carlo nggak bisa lagi jemawa. Pasalnya musim ini jadi hari-hari yang penuh gejolak bagi Real Madrid, karena di tengah ekspektasi tinggi, performa Los Blancos justru jauh dari yang diharapkan.
Alhasil, posisi Carlo Ancelotti sebagai pelatih utama pun berada dalam sorotan tajam. Desas-desus pun cepat beredar, ada yang menyebut ruang ganti Real Madrid tengah mendidih lantaran payahnya pendekatan Don Carlo. Para pemain disebut sudah jengah dengan cara melatih arsitek taktik asal Italia tersebut. Begitu juga dengan para petinggi Real Madrid, terutama Florentino Perez yang diam-diam menyiapkan wajah baru.
Lantas apa yang akan terjadi? Mungkinkah Real Madrid sungguh akan mengusir Ancelotti? Di video kali ini kami bakal menyajikan ulasannya. Namun sebelum itu, jangan lupa untuk menekan tombol subscribe dan menyalakan lonceng notifikasi agar kamu nggak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven Story.
Rentetan Hasil Buruk dan Kehilangan Kepercayaan
Kekalahan telak dari Arsenal dengan agregat 5-1 di perempat final Liga Champions menjadi titik nadir bagi Los Blancos. Meskipun di La Liga, Don Carlo masih bisa membawa El Real bersaing di papan atas, namun performa inkonsisten dan kekalahan demi dalam pertandingan penting justru membuat publik Santiago Bernabeu gregetan.
Menurut laporan dari Diario AS, allenatore asal Italia itu tengah mengalami musim terburuknya dengan catatan 12 kali gagal menang sepanjang musim ini. Angka ini pun kemungkinan bakal terus membengkak hingga musim benar-benar berakhir.
Situasi kritis ini pun otomatis menambah tekanan terhadap Carlo Ancelotti. Media-media luar negeri macam Daily Mail pun sudah mengendus ketidakbecusan Don Carlo ini yang efeknya nggak main-main. Pasalnya, marwah juru taktik 65 tahun dilaporkan sudah mulai memudar di hadapan para pemain sendiri.
Sejumlah punggawa Real Madrid sudah muak dengan sikap Don Carlo. Antara lain pendekatan Ancelotti yang dinilai pilih kasih. Pelatih kelahiran Reggiolo ini disebut cepat menegur sebagian pemain namun justru mengabaikan kesalahan pemain lain. Sikap berat sebelah ini pun memicu ketegangan di ruang ganti. Sekilas, kalau kita nggak jeli maka kita bakal menganggap ruang ganti Real Madrid baik-baik saja. Dan memang tampak tenang di permukaan, tapi situasi dalamnya tidak selalu damai. Melainkan kerap diamuk badai.
Dalam dunia sepak bola, tidak ada yang lebih sepi dari pelatih yang kehilangan ruang gantinya. Itulah yang menimpa Don Carlo yang kerap dicibir karena sering melakukan pergantian telat di menit-menit akhir. Pemain yang masuk seharusnya jadi supersub malah minim kontribusi dan hampir sia-sia lantaran waktu main yang sempit. Minimnya rotasi pemain ini bisa dipandang dengan dua sisi. Pertama, membuat beberapa punggawa merasa kelelahan dan kedua pemain yang lain justru merasa kurang dihargai.
Memudarnya marwah Don Carlo juga akibat taktik yang menjemukan. Terbukti omongan Don Carlo pun sepertinya sudah bukan lagi mantra yang ditaati melainkan dipertanyakan dan dibantah oleh pemain sendiri. Misalnya, saat memberi instruksi ke Jude Bellingham dan Eduardo Camavinga di laga kontra Arsenal lalu, tampak para pemain justru mendebat isi kepala sang pelatih. Secara nggak langsung mereka seolah sudah muak dilatih oleh pria yang gemar menghisap cerutu ini.
Selain itu Vinícius Jr disebut beberapa kali terlihat frustrasi ketika tidak mendapatkan dukungan taktik yang memaksimalkan potensinya. Ada momen-momen di mana ia berjalan lesu keluar lapangan, menghindari tatapan sang pelatih. Selain itu, sang pelatih dinilai gagal meramu Kylian Mbappe.
Pemain yang wajahnya mirip karakter Kura-kura Ninja ini seharusnya menjadi katalisator untuk kesuksesan tim. Namun, Ancelotti gagal memaksimalkan potensi bintang asal Prancis itu, yang tampil angin-anginan dan bahkan dinilai belum mampu menyatu dengan gaya bermain tim. Bahkan kedatangan Mbappe justru membuat struktur tim menjadi kurang solid, dengan lini tengah yang kehilangan kreativitas.
Mbappe pun sempat dirumorkan cekcok dengan Jude Bellingham. Semua kepingan fakta ini menghasilkan benar merah yang cukup terang: Bahwa metode Ancelotti dianggap tak lagi cocok dengan generasi saat ini. Pendekatannya terlalu lembut, taktiknya mulai stagnan. Bahwa keberadaan Ancelotti bukan lagi Big Bos di mata para anak buahnya.
Proyek Baru Tanpa Don Carlo
Di saat Ancelotti mulai kehilangan wibawanya, Presiden Real Madrid, Florentino Perez, dikabarkan tengah merancang proyek baru untuk klub yang tidak lagi melibatkan Ancelotti. Nama Xabi Alonso, sang legenda hidup yang kini sukses melatih Bayer Leverkusen, muncul sebagai kandidat utama pengganti Ancelotti.
Kabar ini sebetulnya bukan angin kemarin sore. Namun akhir-akhir ini angin pemecatan Don Carlo kembali berhembus kencang dan sekaligus membelai Alonso yang jauh berada di Jerman sana.
Alonso dinilai sebagai sosok yang sempurna untuk meneruskan proyek baru Los Blancos. Lantaran entrenador muda ini berhasil membawa Leverkusen meraih gelar Bundesliga dan mencapai final Liga Europa musim 2023/24. Mengubah tim medioker menjadi monster. Meskipun belum ada negosiasi resmi, kedekatan emosional Alonso dengan Real Madrid dan keberhasilannya sebagai pelatih membuatnya menjadi pilihan menarik bagi Florentino Perez.
Ancelotti Sudah Tak Bergairah, Akhir Sebuah Era
Di lain sisi, Ancelotti yang telah dua kali melatih Real Madrid, memang tampak mulai kehilangan semangat. Kehadirannya di pinggir lapangan tidak lagi memancarkan energi seperti sebelumnya. Tampaknya pelatih berusia 65 tahun itu mulai kehabisan ide, gairah, dan motivasi untuk memimpin tim kembali ke level tertinggi.
Meskipun kontraknya masih berlaku hingga 2026, Ancelotti sendiri tampak sudah pasrah dengan masa depannya di Santiago Bernabeu. Saat sesi konferensi pers Don Carlo tampak lesu menerka-nerka nasibnya.
“Bisa saja klub memutuskan untuk melakukan perubahan. Bisa tahun ini, atau tahun depan ketika kontrak saya selesai. Tidak ada masalah kok,” katanya.
Omongan Don Carlo ini pun disusul oleh pemberitaan dari Sky Sports. Media Inggris ini nggak ragu menyebut kalau laga El Clasico 27 April mendatang, bakal jadi kesempatan terakhir bagi Ancelotti. Dengan kata lain, laga bertajuk final Copa del Rey ini bukan sekadar final, melainkan pengadilan terakhir bagi Don Carlo. Jika Real Madrid kembali kalah dari Barcelona, maka hampir bisa dipastikan tamatlah sudah kisahnya di Santiago Bernabeu.
Jika sejarah suka mengulang dirinya sendiri, maka Ancelotti pasti mengingat musim 2014/15. Saat itu, meski membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions semusim sebelumnya, ia tetap dipecat. Tentu ini akan jadi akhir yang pahit dan mungkin tidak adil untuk seorang pelatih yang pernah dipuja dan dijunjung habis-habisan dengan segala kejayaan yang pernah diberikannya.
Tapi begitulah Real Madrid. Di kota ini, sejarahmu kemarin, tak akan menyelamatkanmu hari ini. Dan begitulah juga kekejaman sepak bola yang menganut paham “Kemenangan dan trofi adalah satu-satunya agama.”


