Usai takluk 3-1 atas Nottingham Forest, Brighton and Hove Albion sama sekali tidak mengendur. Menghadapi lawan yang sejatinya lumayan sulit, Brighton justru berhasil menang besar. Pasukan Roberto De Zerbi menghancurkan Wolverhampton Wanderers enam gol tanpa balas.
Berkat kemenangan itu, asa Brighton untuk lolos ke kompetisi Eropa masih terbuka. Kalau sungguh terjadi, ini akan menjadi sangat spesial. Bukan hanya bagi Brighton, melainkan juga Roberto De Zerbi. Ia akan disebut sosok pelatih yang bahkan melebihi Graham Potter, pendahulunya di Stadion Falmer.
Daftar Isi
Menggantikan Graham Potter
Brighton and Hove Albion sangat identik dengan Graham Potter. Potter adalah sosok yang membuat Brighton tidak hanya tim yang bertahan di kompetisi selevel Premier League, tapi juga mampu bersaing dan menjadi salah satu penjegal tim-tim raksasa.
Kiprah menakjubkan Brighton di tangan Potter itu membikin namanya melambung. Alhasil Potter dilirik oleh tim besar di Liga Inggris, Chelsea. The Blues bahkan rela membayar kompensasi sebesar 22 juta poundsterling (Rp404 miliar) untuk membajak Potter.
Chelsea set to appoint Graham Potter as new Manager pic.twitter.com/v5xA5H5j9N
— Naija (@Naija_PR) September 8, 2022
Mendapat guyuran duit mendadak, manajemen Brighton justru teliti dalam mencari pengganti Potter. Mereka barangkali tak mau The Seagulls yang sudah terbangun, hancur dalam sekejap gara-gara pelatihnya hengkang.
Penunjukkan De Zerbi menjadi tindakan yang sangat-sangat cerdas dari manajemen. Sebagai tim papan tengah, wajar kalau tak berekspektasi tinggi. Tapi kehadiran De Zerbi malah bikin publik berekspektasi tinggi.
De Zerbi datang dari Shakhtar Donetsk. Kontraknya habis pada Juli 2022 akibat invasi Rusia ke Ukraina. Kalau di total, ia hanya berada di Donetsk selama 14 bulan. Pelatih 43 tahun itu sepakat untuk melatih Brighton setelah berbicara dengan pemilik klub Tony Bloom dan jajarannya.
Ini merupakan langkah yang sangat brilian. Mereka mendapat kompensasi dari Graham Potter, tapi menggantinya dengan pelatih baru yang sudah tidak terikat kontrak. Lucunya lagi saat Potter hanya sebentar di Chelsea dan dipecat, De Zerbi bersama Brighton-nya terus melesat. Hidup memang susah ditebak.
Really smart decision from Brighton to appoint Roberto De Zerbi as their manager.
— Wajid (@CFCWajid) September 18, 2022
He’s a perfect man to carry on the work that Graham Potter has left behind. A young tactical manager with a lot of ideas up his sleeve.
That’s the sign of a well run club! 👏#Cfc #DeZerbi pic.twitter.com/aAFpwN2F55
Transisi Cepat
Kebanyakan tim membutuhkan waktu untuk transisi dari pelatih lama ke pelatih baru. Apalagi Brighton sudah sangat lama dilatih Potter. Biasanya butuh waktu untuk adaptasi. Namun dasar Brighton. Klub ini sepertinya sudah memiliki filosofi permainan yang kuat.
Berganti pelatih ke De Zerbi tak bikin tim ini kesulitan dalam hal transisi. Malah justru makin yoi saja permainannya. Coba bayangkan, sampai Februari 2023, Brighton bisa menarik perhatian. Mereka melambung tinggi di Premier League dan sempat menduduki peringkat keenam.
Selain itu, Brighton mengalahkan sang juara Liga Champions, Liverpool di Piala FA. Tentu masih kalian masih ingat bagaimana Brighton pada akhirnya bisa melaju ke semifinal Piala FA. The Seagulls bisa menyulitkan Manchester United di semifinal, meski ujungnya harus kalah lewat adu penalti.
Brighton dump FA Cup holders Liverpool out thanks to a late Mitoma beauty 🕊️🏆 pic.twitter.com/dhBJRqoJUb
— 433 (@433) January 29, 2023
Permainan Atraktif
Sejak ditukangi Roberto De Zerbi, Brighton berubah menjadi tim yang sangat atraktif dari segi permainan. Strategi yang dipakai pelatih kelahiran Brescia itu terserap dengan baik oleh para pemain Brighton. Dengan formasi 4-2-3-1 andalannya, Brighton menjelma tim yang tak tergoyahkan.
Brighton sempat digadang-gadang sebagai klub Liga Inggris terbaik musim ini selain Manchester City. Jelas itu tak berlebihan. Brighton di tangan De Zerbi sampai awal Mei 2023 setidaknya memenangkan 15 dari 31 laga dan hanya kalah dalam sembilan laga di Liga Inggris.
Jumlah kekalahan itu bahkan lebih sedikit dari dua tim di atasnya, Tottenham Hotspur dan Aston Villa. Kedua tim itu masing-masing menelan kekalahan 12 kali dari 34 laga.
🔎 Brighton, do técnico Roberto De Zerbi, entre os times da Premier League 22/23 (sem as equipes do Big Six):
— Sofascore Brazil (@SofascoreBR) March 4, 2023
1º em posse de bola (59%)
1º em chutes realizados (248)
1º em chutes certos (136)
1º em grandes chances (68)
1º em gols marcados (43)
1º em passes certos (10.860)
🇮🇹👏 pic.twitter.com/bxrxNlONcc
De Zerbi melakukan tugasnya dengan baik. Ia mengubah Brighton dari tim yang selama di tangan Potter cenderung pragmatis, kini indah untuk ditonton. Mereka bermain penguasaan bola. Wajar kalau penguasaan bola Brighton di era De Zerbi lebih baik daripada saat dilatih Potter.
Rata-rata penguasaan bola mereka di tangan orang Brescia menyentuh 60% dengan rata-rata melakukan 150 percobaan umpan. Itu lebih baik dari saat ditukangi Potter, yaitu dengan rata-rata 50% kepemilikan. Di tangan De Zerbi, Brighton berani mengambil resiko.
Ketika menjumpai tim yang levelnya lebih baik, Brighton mencoba membiarkan lawan melakukan high pressing. Kuncinya, para pemain Brighton tetap tenang ketika menguasai bola meskipun dalam tekanan.
Saat rencana itu berhasil, Brighton akan memukul balik lawan dengan serangan sistemik. Dengan itu mereka sukses memberikan kekalahan kedua untuk Chelsea, kali ini dengan skor 2-1.
Hilang Bintang, Tak Berpengaruh
Musim ini Brighton sebenarnya kehilangan beberapa pilar pentingnya. Neal Maupay, Marc Cucurella, dan Yves Bissouma dilepas di awal musim. Pada pertengahan musim, Leandro Trossard juga dibiarkan pergi ke Arsenal.
Kehilangan para pemain pilar nyatanya tidak masalah bagi Brighton. Bagi De Zerbi masih banyak pemain Brighton yang bisa diandalkan. Maka jangan begitu kaget ketika para pemain Brighton banyak yang mengalami lonjakan karier di tangannya. Alexis Mac Allister salah satunya.
Personally I’d opt for Mac Allister ahead of Mount due to his tactical flexibility that was brought out to shine under De Zerbi, allows swift changes of formation too as he can play within a pivot as well. pic.twitter.com/gzSJYJ3Xrl
— – (@pr1vsxm) April 16, 2023
Pemain Argentina itu hampir selalu terlibat dalam penguasaan bola. Dilansir The Analyst, rata-rata keterlibatannya dalam menyerang adalah enam per 90 menit. Itu meningkat dari 3,7 di awal musimnya bersama Brighton. Performa meningkat juga ditunjukkan pemain muda, Julio Encisio dan Evan Ferguson.
Danny Welbeck juga kini banyak memberi kontribusi buat Brighton. Dalam kemenangan 6-0 atas Wolves, ia mencetak dwi gol. Jangan lupakan pula Kaoru Mitoma, pemain Jepang yang penampilannya memikat banyak orang.
Dipuji Pelatih Top
Permainan yang ditunjukkan Brighton di tangan De Zerbi mendapat pujian oleh para pelatih top di Liga Inggris. Pep Guardiola sudah lebih dulu melontarkan pujian. Menurut Guardiola, Brighton di tangan De Zerbi adalah tim dengan build-up terbaik di Liga Inggris.
🗣️🎙️ Brighton boss Roberto De Zerbi reveals chat with Man City’s Pep Guardiola before appointment:
— Olt Sports (@oltsport_) April 29, 2023
“I spoke to Pep on Sunday evening, yes. He’s very happy that I’m on board here. He told me very good things about Brighton, and if I need he will be very happy to help me”… pic.twitter.com/TDDTUSPg0L
Seperti diwartakan Manchester Evening News, Guardiola terkesan dengan cara De Zerbi melatih Brighton. Selain Guardiola, Jurgen Klopp juga memuji penampilan Brighton setelah menghancurkan Wolves. Dilansir The Argus, Klopp mengatakan permainan Brighton sangat luar biasa.
Manajer Liverpool itu terus terang khawatir jika Brighton menjadi pesaing terberat dalam berebut zona Eropa. Liverpool memang masih unggul di peringkat lima dengan 56 poin. Akan tetapi, dengan hanya berselisih empat poin dari Brighton di posisi delapan, segala sesuatu bisa terjadi.
Ambisi ke Eropa
De Zerbi menjawab kepercayaan manajemen Brighton. Sejak musim 2017/18, sampai setelah laga kontra Wolves, De Zerbi mengantarkan Brighton ke peringkat delapan Liga Inggris. Ini adalah peringkat terbaik Brighton sejak musim 2017/18.
De Zerbi juga ternyata memiliki ambisi untuk membawa The Seagulls ke pentas Eropa. Dilansir Independent, De Zerbi mengatakan para pemainnya percaya bahwa tim akan berlaga di kompetisi Eropa. Kalaupun tidak ke Liga Champions, minimal Liga Eropa atau Liga Konferensi.
Brighton & Hove Albion continued their march towards European qualification with a 2-0 win at Bournemouth- moving them within 4 points of the top 4. Evan Ferguson sent Roberto De Zerbi’s side on their way to maximum points before substitute Julio Enciso wrapped up the points. pic.twitter.com/DFGh8nQ1Ie
— Lolwe Tv Kenya (@LolweTv) April 5, 2023
Di lain sisi, De Zerbi juga mawas diri. Mentas di Eropa juga misi yang tidak mudah buat Brighton. Apalagi mereka masih harus menghadapi pasukan Pep Guardiola.
“Kami main bagus, tapi selama masih ada Guardiola, itu akan sulit,” kata De Zerbi dilansir Goal.
Brighton masih menyimpan tujuh laga. Tapi lima diantaranya akan melawan tim seperti MU, Newcastle, Arsenal, Manchester City, dan Aston Villa. The Seagulls mesti mendapat poin penuh kala menghadapi Southampton dan Everton.
Jika itu terjadi sampai akhir musim, Brighton akan mengumpulkan 58 poin. Musim lalu West Ham yang finis dengan 56 poin saja bisa tampil di Liga Konferensi Eropa. Jadi, mampukah De Zerbi dan Brighton mewujudkan impian itu? Wallahu A’lam.
Sumber: TFA, Talksport, Independent, Vavel, BBC, SportingLife, TheAnalyst, TheArgus, Goal


