Rahasia PSIS Semarang Bermain Konsisten Musim Ini

spot_img

PSIS Semarang memang kalah dari Persib Bandung 0-1 di lanjutan BRI Liga 1, Selasa (26/10) lalu. Febri Hariyadi yang mencetak gol dari sepakan jarak jauh membuat tren tidak pernah kalah PSIS akhirnya terhenti. Namun, kekalahan itu bukanlah kekalahan yang sengaja dibikin. PSIS telah sekuat tenaga melawan dan melakukan serangan.

Kalah tidak lantas menandakan kalau PSIS sudah sampai pada waktunya. Tidak, belum sama sekali. Apalagi kekalahan kontra Persib bukanlah kekalahan besar. Bahkan, di laga tersebut PSIS juga tampil impresif.

Beberapa kali serangan PSIS merepotkan pertahanan Persib. Begitu pula lini belakang PSIS yang kokoh luar biasa. Ditambah penampilan kiper PSIS, Joko Ribowo yang menawan. Terlepas dari kekalahan atas Persib Bandung, PSIS sangat konsisten di BRI Liga 1.

Penampilan anak asuh Ian Gillan itu bahkan tak pernah mengecewakan. Laskar Mahesa Jenar tajam dalam menyerang, dan disiplin dalam bertahan. Performa apik ini sudah ditunjukkan PSIS sebelum liga bergulir. PSIS Semarang tampil mengesankan di turnamen pra musim.

Tepatnya di Piala Menpora 2021, Laskar Mahesa Jenar secara mengejutkan sukses melangkah ke perempat final. Pada turnamen tersebut, PSIS bahkan menjadi tim tersubur. Walaupun pada akhirnya, PSIS mesti kalah dari PSM Makassar di perempat final lewat drama adu penalti.

Saat Liga Indonesia bergulir, PSIS Semarang memperlihatkan performa yang makin garang. Laskar Mahesa Jenar melibas Persela Lamongan, menghancurkan Persik, dan mempermalukan Persebaya. PSIS juga menahan imbang klub kuat Persija Jakarta dan Arema FC.

Pembinaan Usia Muda

Konsistensi permainan PSIS Semarang ini tak bisa lepas dari peran para pemain muda. Tak banyak klub-klub di tanah air yang mau memakai jasa pemain muda. Karena tentu, ini berkaitan dengan hasrat orang Indonesia yang sukanya instan.

PSIS, dipungkiri atau tidak, telah melahirkan talenta-talenta muda berbakat tanah air. Hal itu dimulai sejak PSIS Development, sebuah wadah pengembangan bibit muda dari PSIS berdiri. Dari situ, PSIS menjaring para pemain muda untuk ditempa supaya bisa memperkuat tim utama.

Hasilnya, nama-nama pemain beken pun lahir. Sebut saja Alfeandra Dewangga, Farrel Arya, Eka Febri Yogi, dan Pratama Arhan. Beberapa di antara pemain muda PSIS, bahkan kini menjadi batu tumpuan Timnas Indonesia asuhan Shin Tae Yong.

Hal itu menjadi pertanda bahwa pembinaan pemain muda di tubuh PSIS berjalan sangat baik. Di saat klub-klub lokal gencar memakai jasa pemain tua dengan modal nama plus popularitas, atau malah pemain asing, PSIS justru memberi kesempatan bermain bagi pemain muda. Alhasil, para pemain muda tidak hanya menjadi pelengkap, tapi sebagai kunci permainan PSIS Semarang.

Misalnya, dua bek muda PSIS, Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga. Kedua pemain ini sangat bagus bermain di lini belakang PSIS. Pratama Arhan mencatatkan rata-rata intersep 4,73 dan tackle 1,55 per pertandingan, ia juga mencetak dua gol dan satu asis untuk PSIS. Sedangkan Alfeandra mencatatkan rata-rata intersep per pertandingan 3,92 dan tackle 1,15.

Kolektivitas

Selain pemain muda, PSIS juga dihuni pemain senior dan, tentu saja, pemain asing. Dari lini belakang, lini tengah, sampai tumpuan di depan, PSIS memiliki materi pemain yang lengkap. PSIS punya bek sekelas Fredyan Wahyu, Yoga Aditama, dan para pemain muda seperti Alfeandra dan Arhan.

Jangan lupakan juga pemain senior di bawah mistar gawang Laskar Mahesa Jenar, ada Jandia Eka Putra yang bisa bergantian dengan Joko Ribowo. Jandia sudah mengemas 28 save, sedangkan Joko melakukan 10 kali penyelamatan. Artinya, kedua kiper PSIS sangat produktif melakukan penyelamatan.

Kokohnya lini belakang PSIS juga dilapisi dengan sektor tengah yang mumpuni. Sektor tengah PSIS dihuni nama-nama kaliber Septian David Maulana si pencetak asis terbanyak di klub; Finky Pasamba; Fandi Eko Utomo; Damas Damar; sampai Farrel Arya. Begitu pula lini depan PSIS.

Lini serang Laskar Mahesa Jenar terbilang tajam berkat kehadiran Hari Nur dan dua pemain asing, Bruno Silva dan Jonathan Cantillana. Susunan pemain yang tak banyak mengalami perubahan membuat chemistry antar pemain terjaga. Setidaknya, itu yang ditulis penulis situs TheFlanker, Zain.

Seperti ditulis Zain, kolektivitas adalah kunci konsistensi PSIS Semarang di Liga Indonesia musim ini. Pemain asal Palestina, Jonathan Cantillana tampaknya diplot sebagai kreator serangan dengan diduetkan dengan Hari Nur. Hari Nur sendiri adalah pemain yang tak hanya tajam, tapi piawai mencari ruang.

Hari Nur sudah mencetak 5 gol untuk PSIS Semarang, di mana jumlahnya kemungkinan besar akan bertambah. Lalu ada juga Septian David dan Bruno Silva yang bisa menambah daya gedor. Kedua pemain ini bisa sangat fleksibel dalam bergerak. Tak hanya itu, PSIS pun mempunyai dua bek tepi yang bisa membantu serangan.

Pratama Arhan dan Fredyan acap kali melakukan overlap untuk membantu serangan. Meskipun begitu, ketika terjadi counter-attack, PSIS Semarang masih bisa menahannya. Mengingat lini tengah Laskar Mahesa Jenar bekerja sangat solid. Khususnya Finky Pasamba yang rajin melakukan intersep. Total, rata-rata intersep yang dilakukan Finky adalah 2,79.

Tiga Kali Ganti Pelatih

PSIS sangat berbeda dengan Manchester United. Di saat Setan Merah masih percaya kalau Ole bakal menciptakan legasi meski sering bikin emosi, PSIS di tahun ini saja justru sudah dilatih tiga pelatih berbeda. Laskar Mahesa Jenar dilatih Dragan Duganovic saat Piala Menpora 2021.

Namun, jelang sepak mula BRI Liga 1 2021, Duganovic pergi ke Yunani. Ia melatih klub kasta kedua Liga Super Yunani, AE Karaiskakis. Imran Nahumarury yang semula asisten pelatih, ditunjuk menjadi pelatih interim PSIS.

Berkat tangan dingin Imran Nahumarury, PSIS tak terkalahkan di seri pertama BRI Liga 1. Sayangnya, Nahumarury memutuskan mundur dari kursi pelatih. Eks gelandang andalan Persija Jakarta, Ian Andrew Gillan pun pada akhirnya ditunjuk menjadi pelatih.

Ironisnya, kekalahan pertama PSIS terjadi saat dilatih Ian Gillan. Ini menandakan bahwa pergantian dari Imran Nahumarury ke Ian Gillan memiliki pengaruh buat PSIS Semarang. Namun, Panser Biru tak usah khawatir pada pelatih berpaspor Australia tersebut.

Gillan punya portofolio yang sangat sesuai dengan keadaan PSIS sekarang. Pelatih kelahiran Aberdeen, Skotlandia itu memiliki pengalaman Direktur Youth Development atau pengembangan usia muda di klub asal Malaysia, Kedah FA. Rekam jejak Gillan sangat cocok dengan PSIS yang dihuni pemain muda di bawah 25 tahun.

Ini menjadi tantangan buat Ian Gillan untuk tetap mempertahankan PSIS di jalan yang lurus. Laskar Mahesa Jenar akan diuji konsistensinya karena ke depan mereka akan menghadapi tim-tim yang tak kalah kuat di Liga Indonesia, Bali United dan Borneo FC. Dan PSIS juga belum bertemu tim super instan, Bhayangkara FC yang hingga pekan kesembilan untuk sementara memuncaki klasemen.

Laskar Mahesa Jenar sendiri menempati posisi tiga, dan hanya terpaut empat poin dari pemuncak klasemen. Jika PSIS konsisten, bukan tidak mungkin bakal mengkudeta Bhayangkara FC di puncak klasemen. Dan kalau nasibnya mujur, bukan mustahil sejarah 23 tahun lalu akan terulang. Akan tetapi, gelaran liga masih panjang.

Sumber referensi: theflanker.id, fandom.id, transfermarkt.co.id, lapangbola.com, suara.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru