Rahasia Atletico Madrid Tak Pernah Kehabisan Stok Kiper Hebat

spot_img

Lini depan yang produktif tidak ada artinya apabila lini pertahanan sebuah tim rapuh. Selain menjadi gudang striker-striker papan atas, Atletico Madrid juga dikenal pandai dalam mencari penjaga gawang potensial. 

Pos penjaga gawang Atletico Madrid juga kerap diisi oleh nama-nama berkualitas dan kelas wahid, seperti Leo Franco yang didatangkan dari Mallorca secara cuma-cuma. Setelah Leo Franco, Atletico tak pernah kehabisan kiper hebat. Lantas apa yang membuat Atletico Madrid tidak pernah kehabisan stok kiper hebat?

Kepergian De Gea Jadi Sebuah Anomali

Setelah kepergian Franco ke Galatasaray, praktis Atletico mulai mencari kiper-kiper lain untuk menggantikannya. Lalu muncul nama Sergio Asenjo dan David De Gea. Masih muda, De Gea malah menampilkan performa yang lebih baik daripada Asenjo. 

De Gea tampil 84 kali dengan mencatatkan 23 clean sheet bersama Atleti. Sedangkan caps dari Asenjo hanya separuh dari De Gea. Pengabdian De Gea di Atletico bukan tanpa gelar, ia berhasil menyumbangkan gelar Europa League musim 2009/10 dan Piala Super Eropa pada tahun 2010.

De Gea ini agak berbeda dengan kiper-kiper top lain yang pernah memperkuat Atletico Madrid, yang mana kebanyakan mereka diambil dari klub-klub lain. Nah, De Gea ini merupakan jebolan asli akademi Los Rojiblancos

De Gea berada di generasi yang sama dengan Fernando Torres, Koke, dan Saul Niguez. Ya bisa dibilang De Gea ini jadi awal di mana Atletico menunjukan kepiawaiannya untuk menemukan bakat-bakat kiper yang tersebar di belahan dunia lain.

Jika De Gea tak hengkang ke Manchester united dan memilih untuk tetap bermain di Atletico Madrid, mungkin kisah revolusi dari kiper-kiper top milik Atletico Madrid tak akan pernah ada.

Sinergitas Manajemen Klub

Dengan perginya De Gea, pihak manajemen klub langsung memutar otak untuk mengantisipasi apabila hal-hal semacam ini terjadi kembali di masa yang akan datang. Lalu, muncul gagasan visioner dari sosok Jose Luis Caminero yang kini sudah menjadi CEO klub Spanyol lainnya, Malaga.

Sewaktu masih di Atletico Madrid, Luis Caminero ini berposisi sebagai direktur olahraga. Ia memiliki peran cukup penting dalam fenomena revolusi kiper-kiper hebat Atletico yang terjadi secara terus menerus hingga sekarang.

Contohnya, ketika De Gea Pergi, ia dengan cepat mengalihkan pandangan kepada kiper-kiper potensial lain untuk menggantikan De Gea. Caminero memang dikenal selalu memiliki rencana jangka panjang. 

Akhirnya Caminero bekerja sama dengan tim scouting yang tersebar di berbagai negara untuk mencari bakat-bakat terbaik sepakbola, khususnya penjaga gawang karena posisi tersebut sedang dibutuhkan.

Akhirnya muncul nama kiper muda milik Chelsea, Thibaut Courtois. Kiper Belgia ini sulit mendapat tempat di skuad utama The Blues karena masih ada Petr Cech. Dan lagi-lagi, Atletico mendatangkan Courtois tanpa mengeluarkan sepeser pun biaya peminjaman.

Courtois dipinjam selama tiga musim, dan membantu Atletico Madrid meraih banyak gelar seperti Europa League 2011/12, Piala Super Eropa tahun 2012, Copa del Rey musim 2012/13, dan trofi Liga Spanyol musim 2013/14.

Sebenarnya Courtois nyaris mempersembahkan trofi Liga Champions untuk Atletico Madrid jika ia tak kebobolan oleh gol sundulan Sergio Ramos di final Liga Champions musim 2013/14. Selama berseragam Atletico, Courtois berhasil mencatatkan 76 clean sheet dari 154 pertandingan. Terlebih dari 154 pertandingan itu, Courtois hanya kebobolan, 125 gol saja.

Pablo Vercellone

Saat kontrak pinjaman Courtois habis, Atletico Madrid mendatangkan dua kiper sekaligus. Salah satunya adalah veteran Getafe, Miguel Angel Moya dengan biaya hanya 3 juta euro atau sekitar Rp46 miliar pada awal musim 2014/15. 

Nama lain adalah Jan Oblak. Atletico memutuskan untuk membeli Jan Oblak dari Benfica dengan biaya sekitar 16 juta euro atau sekitar Rp248 miliar. Kenapa dua? Ya inilah metode rahasia yang dipakai oleh Pablo Vercellone selaku pelatih kiper Atletico madrid.

Jika Caminero dan tim scouting bertugas untuk mencari bakat-bakat kiper baru, Vercellone berperan penting dalam pengembangan kemampuan sang kiper secara teknik di setiap sesi latihan klub.

Pablo Vercellone ini dibawa langsung oleh Diego Simeone ketika ia ditunjuk untuk menukangi Los Rojiblancos pada tahun 2011 silam. Vercellone dan Simeone sudah bekerjasama sejak mereka masih menangani klub Argentina, Estudiantes de La Plata.

Tangan dingin Vercellone telah menghasilkan kiper-kiper luar biasa bahkan sejak ia masih di Argentina. Kiper timnas Argentina seperti, Mariano Andujar dan Pablo Carrizo adalah bukti nyata metode kepelatihan Vercellone.

Metode Rahasia Vercellone

Lantas, metode latihan jenis apa yang dipakai Pablo Vercellone sehingga ia bisa menghasilkan kiper-kiper hebat untuk Atletico Madrid?

Vercellone menggunakan metode sederhana yaitu dengan memiliki dua penjaga gawang dengan kualitas tak jauh berbeda. Bahkan bisa dibilang, Atletico Madrid adalah pionir dari adanya dua penjaga gawang kelas dunia dalam satu tim.

Metode ini sudah dipakai Atletico Madrid sejak akhir 2011, setidaknya punya 2 kiper dengan kualitas yang nyaris setara. Bahkan di awal kedatangan Simeone dan Vercellone, Atleti punya empat kiper dengan kualitas serupa yaitu Joel Robles, Sergio Asenjo, De Gea dan Roberto.

Jadi, ketika De Gea pergi ke Old Trafford, Atleti mendatangkan Thibaut Courtois untuk menjadi pesaing bagi Sergio Asenjo. Banyak yang berfikir bahwa Vercellone ini gila, karena jika menghadirkan dua kiper sekaligus, persaingan ini akan merugikan salah satu dari mereka.

Nah di sinilah Vercellone menunjukan perannya. Ia menjaga iklim persaingan pos penjaga gawang agar tetap positif. Ia memberi masing-masing kiper Atletico porsi dan kesempatan bertanding yang berbeda. 

Misalnya Courtois bermain untuk Atletico di La Liga dan Liga Champions, sedangkan Sergio Asenjo akan tampil di Copa Del Rey dan beberapa match La Liga. Cara ini akan menjaga iklim persaingan kiper tetap positif, sekaligus menjaga performa keduanya.

Metode ini terus dipakai hingga era Moya dan Oblak. Mereka secara rutin bergantian mengisi pos kiper Atletico Madrid. Karena Moya lebih senior, tentu ia diberikan jatah bermain lebih banyak dari Oblak. Hal ini juga dapat memberikan waktu lebih kepada Oblak untuk mempersiapkan diri.

Dan benar saja, musim-musim berikutnya Jan Oblak langsung menjadi kiper utama Atletico Madrid. Bahkan untuk musim ini saja, posisi Oblak di bawah mistar hampir tak tergantikan. 

https://youtu.be/iy_zVpOghEA

Sumber: Box2Box, Transfermarkt, Kumparan, Liga Laga

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru