Sejak 2010, ketika Qatar dipilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, 12 tahun lamanya masyarakat Qatar menantikan tim nasionalnya berlaga di pentas Piala Dunia. Belum seminggu, semuanya berakhir. Qatar resmi tidak lolos di ke fase 16 setelah kalah di dua pertandingan berturut-turut.
Qatar kalah di laga pembuka melawan Ekuador dengan skor 2-0. Lalu di pertandingan kedua, meskipun ada peningkatan dari segi permainan Qatar tetap saja kalah dengan skor 3-1. Di pertandingan grup A lainnya Ekuador berhasil menahan imbang Belanda dengan skor 1-1. Dengan hasil itu, Qatar sudah dipastikan tidak akan bisa lolos fase grup. Saat ini mereka tenggelam di dasar klasemen. Investasi 200 miliar dolar Qatar sia-sia. yang tersisa kini hanya kemewahan stadionnya sebagai tuan rumah.
3 points for Senegal 🙌🇸🇳
Senegal earns its first win at the 2022 FIFA World Cup with a 3-1 victory vs Qatar pic.twitter.com/MzF3672VoH
— FOX Soccer (@FOXSoccer) November 25, 2022
Bermain di Stadion Thumama di hadapan ribuan pendukungnya sendiri, Qatar tertinggal lebih dulu di menit ke-41 lewat gol dari Boulaye Dia. Di babak kedua, Senegal berhasil menggandakan keunggulan di menit ke-48 lewat gol dari Famara Diedhiou. Di menit ke-78, Mohammed Muntari mampu memperkecil ketertinggalan tuan rumah. Sekaligus mencetak gol pertama Qatar di turnamen ini. Namun Senegal bisa kembali melebarkan jarak lewat gol dari Bamba Dieng di menit ke-84.
Daftar Isi
Fakta Pertandingan Qatar vs Senegal
Peluit panjang akhir pertandingan pun dibunyikan. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan Senegal. Dengan hasil ini Qatar menjadi negara tuan rumah pertama yang kalah di dua laga pembuka dalam sejarah Piala Dunia. Sebelumnya Qatar sudah dikalahkan Ekuador dengan skor 2-0.
Selain itu, fakta lainnya adalah Qatar menjadi tim tuan rumah pertama ketiga yang kebobolan tiga gol dalam pertandingan fase grup. Yang pertama adalah Afrika Selatan di tahun 2010, dan yang kedua adalah Rusia di tahun 2018. Uniknya baik Afrika Selatan dan Rusia sama sama kalah 3-0 dari Uruguay.
Senegal juga jadi tim dari Afrika pertama yang mampu mengalahkan tim tuan rumah dalam sejarah gelaran Piala Dunia. Sebelumnya, negara afrika selalu keok ketika berhadapan dengan tuan rumah. Jadi meskipun saat ini berada di posisi ketiga, Senegal masih bisa sedikit berbangga hati.
Qatar Jadi Tuan Rumah Terburuk
Fakta lainnya yang tidak bisa dihindarkan adalah negara terburuk dalam sejarah Piala Dunia. Dalam hal performa, tentunya. Qatar menjadi negara tuan rumah kedua yang gagal lolos ke fase grup. Ini tentu catatan memalukan untuk Qatar.
Host nation Qatar is the first country to be eliminated from the World Cup. They are just the second host nation to be eliminated during the Group Stage (South Africa, 2010). 🇶🇦 pic.twitter.com/0oJaqOYX2p
— TSN (@TSN_Sports) November 25, 2022
Negara tuan rumah pertama yang tidak bisa lolos fase grup adalah Afrika Selatan di tahun 2010. Tapi, itu bisa dimengerti karena bafana bafana saat itu terlempar di grup maut berisikan negara-negara kuat. Afrika Selatan saat itu digabungkan dengan grup yang berisikan Uruguay, Meksiko, dan Prancis.
Namun, Afrika Selatan setidaknya bisa dibilang tampil tidak terlalu mengecewakan. Mereka mampu bermain imbang 1-1 lawan Meksiko, sempat terbantai 3-0 lawan Uruguay, dan secara mengejutkan mengalahkan Prancis yang berada di tengah konflik internal dengan skor 2-1. Mereka finis di peringkat ketiga hanya karena kalah selisih gol.
Tak Mau Dicap Gagal
Meskipun begitu pelatih Qatar, Felix Sanchez tidak ingin timnya dicap sebagai tim gagall yang mengecewakan. Meskipun faktanya Qatar adalah tim gagal yang mengecewakan di Piala Dunia ini. Tapi ia berkata setidaknya timnya masih bisa bermain bagus. Ia juga berkata kalau ini semua tentang ekspektasi.
Manager of Qatar, Felix Sanchez, after the 2-0 defeat to Ecuador: “Tactically, it worked the way we wanted it to.” #FIFAWorldCup pic.twitter.com/bSYgBiTHpS
— Eddie Langbrücke 🇩🇪 (@Longbridge_DE) November 20, 2022
“Saya pikir kami memainkan permainan yang bagus. Ketika anda bertanding di Piala Dunia, anda harus tahu dari mana anda berasal. Ini bukan kegagalan dan kekecewaan, itu tergantung pada ekspektasi.”
Sanchez juga mengatakan bahwa target Qatar di Piala Dunia ini bukanlah untuk menjadi juara, melainkan untuk bisa tampil kompetitif di Piala Dunia. Ia juga berdalih kalau timnas Qatar di bawah asuhannya ini tidak sedang berada di performa terbaik mereka.
“Tujuan kami adalah untuk menjadi kompetitif. Kami telah bekerja selama berbulan bulan untuk dapat memberikan performa yang terbaik. Namun terkadang pertandingan tidak berjalan seperti yang anda harapkan. Itu juga pada performa lawan. kami tidak bermain d performa teratas kami. Kami kompetitif tapi tidak berkembang”
Persiapan 10 Tahun yang Sia-sia
Persiapan Qatar untuk Piala Dunia sebenarnya sudah cukup lama. Sejak 2010 ketika negara mereka mendapatkan voting terbanyak untuk menjadi penyelenggara Piala Dunia. Dimulai dari sarana dan prasarana sampai ke pengembangan sepak bola mereka. Pada tahun 2013, Qatar mulai mempekerjakan Felix Sanchez. Ia datang dengan pengalaman 10 tahun melatih tim muda Barcelona.
Awalnya ia didapuk sebagai pelatih tim nasional U-19. Mereka pun berhasil menjuarai AFC U-19 di tahun 2014. Lalu dipromosikan ke tim utama sekaligus sebagai pelatih tim U-23. Sanchez juga masih meraih kesuksesan dengan menjuarai AFC U-23 di tahun 2018. Kiprah Qatar di bawah rezim pelatih Catalunya itu semakin mentereng setelah tim senior Qatar mampu menjuarai Piala Asia 2019. Itu merupakan gelar pertama negara Qatar di kompetisi bergengsi.
Qatar’s Football Team makes history. The AFC Asian Cup 2019 has come home. You have made us proud! 🇶🇦 🏆#qatar #winners #afcasiancup2019 #FirstTrophy #TheBestTeam #TheCupIsOurs #WellPlayed #KeepingitHigh #NextUpFifa2022 pic.twitter.com/LzzwMMESUI
— Mannai InfoTech (@InfotechMannai) February 1, 2019
Namun sihir Sanchez berakhir di Piala Dunia. Kompetisi tertinggi ini ternyata terlalu angker untuk mereka. Malahan, Qatar jadi satu-satunya wakil Asia yang terpontang-panting, meskipun punya keunggulan sebagai tuan rumah. Wakil Asia lainnya, seperti Arab Saudi, Iran, Jepang, dan Korea Selatan masih bisa menunjukan perlawanan di turnamen ini.
Nyatanya persiapan satu dekade lebih pemerintah Qatar untuk Piala Dunia tidak cukup. Mereka patut diapresiasi karena bisa dibilang menyelenggarakan Piala Dunia dengan stadion-stadion yang megah, meskipun banyak kontroversi di dalamnya. Tapi persiapan dari segi tim sepak bola masih sangat kurang. Contoh paling sederhana adalah tidak ada pemain Qatar yang bermain untuk klub eropa atau bersaing di liga yang kompetitif. Tidak seperti Wakil asia lain, sebagai contoh Jepang yang gencar mengekspor pemainnya ke liga Jerman.
Selanjutnya Untuk Qatar
Kualitas para pemain yang jomplang ini menjadi salah satu faktor utama kegagalan Qatar di Piala Dunia 2022. Mereka yang mengadakan pesta tapi mereka jadi yang pertama meninggalkan pestanya sendiri. Dua kekalahan di fase grup ini cukup memastikan Qatar tidak akan lolos ke fase grup. Mereka berada di dasar grup A dengan 0 poin.
Selanjutnya, Qatar akan menghadapi Belanda pada tanggal 29 nanti. Belanda tentu saja lebih diunggulkan. Akan tetapi besar kemungkinan Belanda akan mengistirahatkan beberapa pemain kuncinya. Tapi meskipun Qatar bisa mengalahkan Belanda di sisa pertandingan fase grup terakhir mereka, Qatar tidak akan bisa menyalip ke peringkat dua besar.


