Ketika Prancis Mengusir Pemain Andalannya di Piala Dunia 2010

spot_img

Piala Dunia 2010 adalah kenangan yang pahit untuk Prancis. Mereka gagal meraih satu kemenangan pun di pertandingan fase grup. Padahal Prancis berada di grup yang berisikan tim-tim penggembira seperti Afrika Selatan, Meksiko dan Uruguay. Lebih memalukannya lagi, Thierry Henry CS pulang lebih awal dengan status sebagai juru kunci grup.

Konflik Les Blues

Permasalahan timnas Prancis sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum mereka berangkat ke Afrika Selatan. Les Blues sudah diliputi kontroversi sejak fase kualifikasi. Kontroversi yang terkenal itu adalah Handball Henry ketika menghadapi Irlandia. Terlepas dari itu, performa Les Blues di babak kualifikasi juga mengecewakan. Mereka kalah lawan Austria, hanya mampu bermain imbang lawan Serbia dan Rumania. Juga tertatih-tatih lawan Kepulauan Faroe.

Pelatih Prancis saat itu, Raymond Domenech juga tidak mendapatkan kepercayaan dari publik dan para pemainnya sendiri. Ditandai dengan tidak memanggil talenta berbakat, Karim Benzema dan Samir Nasri ke dalam skuad. Tidak hanya pemain muda, Domenech juga mencoret gelandang berpengalaman, Patrick Vieira dari skuad.

Puncak dari runyamnya permasalahan di tubuh timnas Prancis terjadi tak lama setelah mereka tiba di Afrika Selatan. Adalah ketika Domenech memutuskan untuk mengusir salah satu pemain andalannya, Nicolas Anelka di tengah-tengah berlangsungnya turnamen.

Peristiwa itu membuat para pemain tidak mau lagi mempercayai Domenech sebagai pelatih. Dan diusirnya Anelka dari skuad memantik pemberontakan yang terjadi di antara para pemain Les Blues. Padahal saat itu Anelka adalah penyerang yang sedang menjadi pusat perhatian di Chelsea. Di klub London itu, Anelka menciptakan duet mematikan bersama Drogba.

Nicolas Anelka dan Prancis

Nicolas Anelka memang tidak begitu akrab dengan tim nasional Prancis. Bisa dibilang ia punya hubungan benci tapi cinta dengan tim ayam jantan. Kebencian itu bermula ketika Anelka tidak tergabung dalam skuad utama timnas Prancis saat mereka menjuarai Piala Dunia 1998. Bukan hanya karena dirinya tidak masuk dalam skuad, tapi bagaimana cara pelatih Les Blues saat itu, Aime Jacquet membuang dirinya.

Saat itu Anelka memang baru berusia 19 tahun, tapi kemampuannya tidak bisa diragukan. Ia bersinar bersama Arsenal dengan menjuarai liga Inggris dan Piala FA. Ia pun masuk ke dalam daftar seleksi untuk skuad Piala Dunia 1998. Tapi dirinya kalah saing dengan Thierry Henry saat itu.

Aime Jacquet tidak mengucapkan maaf atau selamat sama sekali ketika mengabarkan bahwa ia tidak lolos ke daftar skuad Piala Dunia 1998. Anelka menilai bahwa perilaku Jacquet saat itu bisa merusak mental seorang pemain, apalagi pemain semuda dirinya. Anelka pun pergi dengan luka yang membekas di hati.

Namun dua tahun setelahnya, atau tepatnya di tahun 2000 Anelka masuk ke dalam skuad Euro. Hal tersebut tidak lepas dari penampilan impresifnya di Arsenal dan kepindahannya ke Real Madrid yang cukup mencuri perhatian saat itu.

Anelka berhasil memenangkan Euro 2000 bersama Prancis. Akan tetapi karirnya bersama Les Bleus kembali mengalami penurunan. Sejak tahun 2001, Anelka jarang memperkuat Prancis di semua ajang. Alasannya Anelka saat itu gemar gonta-ganti klub, sehingga bakatnya sering tidak terlihat.

Menuju Piala Dunia 2010

Anelka mampu menemukan rumahnya ketika bergabung bersama Chelsea. Ia bahkan menjadi penyerang andalan The Blues bersama dengan Drogba. Di Chelsea pula, Anelka kembali mendapatkan kepercayaan untuk masuk ke dalam skuad Piala Dunia bersama Prancis. Apalagi setelah dirinya meraih sepatu emas di musim 2008/09, dan menjuarai Liga Inggris satu musim setelahnya.

Dalam sebuah dokumenter diungkapkan bahwa dua bulan sebelum berangkat ke Afrika Selatan, Pelatih Prancis, Raymond Domenech dan Anelka bertemu secara langsung di London. Dalam pertemuan itu, Domenech berjanji akan menjadikan Anelka pemain utama. Dan juga memainkannya sebagai penyerang tengah.

Tapi, Anelka mengungkapkan bahwa ia punya firasat yang buruk soal itu. Firasat itu semakin kuat ketika Prancis menjalani laga uji coba dan kualifikasi untuk Piala Dunia 2010. Dikutip dari Daily Mail, Anelka berkata “Kami melakukan pertandingan persahabatan, saya sama sekali tidak menyentuh bola. Tidak ada kemistri di antara tim.”

Sebelum berangkat ke Afrika Selatan, ia sudah tidak percaya Prancis akan melaju jauh. Ia tahu ada sesuatu yang tidak benar di tim. Tidak ada kecocokan antar pemain dan strategi yang digunakan saat itu. “Sangat jelek. Saya tahu ketika kami akan berangkat ke Piala Dunia di Afrika, dengan tidak membangun kepercayaan atau mencetak gol. Rasanya salah”

Dibuang Saat Piala Dunia

Pertandingan pertama, Prancis menghadapi tim kuda hitam Uruguay. Di pertandingan tersebut, Anelka menjadi starter. Bertugas sebagai penyerang, Anelka malah tidak bisa menciptakan peluang. Begitu juga rekan-rekan setimnya, mereka tidak bisa mengancam barisan pertahanan Uruguay. Hasilnya, pertandingan itu terasa sangat membosankan dengan skor kacamata.

Di pertandingan kedua, Prancis menghadapi tim dari benua Amerika, Meksiko. Hasilnya masih sama. Anelka yang memimpin lini serang Prancis tidak mampu menciptakan peluang sampai babak pertama berakhir.

Di babak kedua Anelka digantikan oleh Andre-Pierre Gignac untuk menambah daya gedor. Tapi malah Meksiko yang mampu memecah kebuntuan lewat gol dari Chicharito. Beberapa saat kemudian Blanco menggandakan keunggulan Meksiko.

Hasil 2-0 bertahan sampai pertandingan berakhir. Upaya mengganti Anelka di babak kedua itu ternyata tidak membuahkan hasil. Ternyata, Anelka memang ditarik keluar bukan karena tidak bisa menciptakan peluang. Melainkan karena komentarnya di ruang ganti waktu turun minum.

Anelka, yang musim itu gacor bersama Chelsea, frustasi karena tidak mampu menciptakan tendangan ke gawang sama sekali. Ia menyalahkan strategi yang dipilih oleh Domenech. Rumornya, Anelka saat itu mengumpat di depan Domenech secara langsung menggunakan kata-kata kotor yang tidak pantas. Seraya mengkritik taktik yang digunakan selama babak pertama kontra Meksiko.

Permasalahan ini ternyata berlanjut lebih jauh dan dalam lagi. Domenech tidak terima dengan perkataan pemainnya itu. Anelka sebenarnya sudah minta maaf secara pribadi namun itu tidak cukup untuk Domenech. Ia menginginkan sang pemain untuk meminta maaf di hadapan publik lewat media.

Anelka menolak, ia menganggap kalau itu tidak perlu. Akhirnya Domenech mengadu ke federasi sepak bola Prancis atau FFF. Tak lama setelah itu, muncul surat resmi dari FFF yang berbunyi:

“Tindakan Anelka tidak bisa diterima. Ditambah sang pemain tidak mau mengucapkan permintaan maaf secara terbuka, kami mengambil keputusan dan kesepakatan total dengan para pelatih dan para anggota delegasi untuk mengeluarkan Nicolas Anelka dari skuad Prancis”

Pemboikotan Pemain

Dengan dikeluarkan surat tersebut dari FFF, Anelka pun resmi dipulangkan dari skuad Prancis di tengah-tengah kompetisi. Para pemain lainnya ternyata tidak menyambut baik keputusan federasi. Mereka menganggap itu keputusan semena-mena.

Patrice Evra yang menjabat sebagai kapten pada saat itu menjadi orang yang paling menentang pemulangan Anelka. Ia bahkan tertangkap kamera terlibat cekcok dengan Domenech dan para asistennya saat latihan.

Keadaan semakin kacau bagi timnas Prancis setelah para pemain, mengungkapkan kekecewaan mereka dengan memutuskan untuk mogok latihan. Para pemain juga menuliskan surat untuk Domenech, yang tak disangka, malah dibacakan sendiri oleh Domenech di hadapan media.

Surat tersebut berbunyi: ”Kami menyesali insiden pada babak pertama pertandingan Prancis vs Meksiko, tapi kami lebih menyayangkan membocorkan urusan internal skuad yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tim papan atas. FFF sama sekali tidak berusaha untuk melindungi skuad. FFF membuat keputusan hanya berdasarkan fakta dari pers, tanpa berkonsultasi dengan para pemain”

Kegelapan Sepak Bola Prancis

Mengetahui isi surat itu, media Prancis menggila. Mereka menuangkan semua cemoohan ke punggawa Les Blues. Para media Prancis mengungkapkan pemboikotan itu adalah tindakan yang memalukan dan merupakan perilaku yang tidak dapat diterima.

Skandal ini jadi masa kegelapan bagi sepakbola Prancis. Tidak hanya mereka tidak mampu lolos fase grup Piala Dunia 2010, tapi akibat yang ditimbulkan di luar lapangan lebih parah dari perkiraan. Direktur pelaksana FFF pada saat itu, Jean-Louis Valentin mengundurkan diri akibat malu dengan skandal yang terjadi.

Dua bulan kemudian, FFF menjatuhkan sanksi untuk Anelka. Ia dilarang bermain di 18 pertandingan internasional bersama Prancis. Tapi kenyataannya, Piala Dunia 2010 jadi Piala Dunia pertama sekaligus terakhir bagi Anelka. Ia juga tidak pernah dipanggil lagi di skuad Prancis.

 

Sumber referensi: Mirror, Footballtimes, Balls, Daily

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru