Piala Dunia di Depan Mata… Tapi Lihat! Rival Indonesia di Grup C Justru Sedang Krisis

spot_img

Kalau kata pepatah jawa, “Urip iku sawang sinawang” Yang mana memiliki arti bahwa hidup itu hanya tentang melihat dan dipandang. Semua soal perspektif masing-masing dalam menyikapi suatu kondisi atau nasib. Pepatah ini mengandung ajaran agar tidak membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. 

 

Namun, di kondisi Indonesia sekarang, rasanya sulit menahan diri untuk tidak membandingkan. Apalagi dengan rival-rival Indonesia di industri sepakbola. Eits, tapi di sini kita tidak akan membicarakan Malaysia apalagi Brunei Darussalam ya. Membandingkan yang dimaksud tuh ya antara Indonesia dengan sirkel barunya, yakni sirkel Kualifikasi Piala Dunia.

Di saat Indonesia mulai menyongsong Piala Dunia 2026, sebagian besar rival di Grup C Ronde ketiga Kualifikasi justru menghadapi paceklik. Bahkan, ada yang diterpa isu pelanggaran peraturan FIFA. Kira-kira, masalah apa saja yang sedang dihadapi mereka? Mari kita kupas bersama.

Australia

Kita mulai dari lawan Indonesia di Bulan Maret lalu, Australia. Pasca menghajar Indonesia dengan skor 5-1, Australia juga mendulang tiga poin di kandang China. Bermain sebagai tim tamu, Australia langsung inisiatif menyerang sejak awal. Gempuran demi gempuran terus dilancarkan skuad The Socceroos.

Hasil ini membuat The Socceroos semakin mantap di posisi dua dengan koleksi 13 poin. Namun, tak lama setelah rombongan tim pulang ke Australia, muncul isu negatif tentang pasukan Tony Popovic. Media China menyebut bahwa Australia menang dengan cara yang tak sportif.

Seperti yang dikutip oleh salah satu media Korea Selatan, Sport Chosun. Sejumlah media China menyebut bahwa Australia menurunkan pemain ilegal. Pemain yang dimaksud adalah Cameron Burgess. Pemain Ipswich Town itu dianggap menyalahi aturan FIFA tentang naturalisasi.

Burgess yang besar di Skotlandia, dianggap melanggar aturan karena pernah membela Skotlandia U-19 di Kualifikasi Piala Eropa U-19 pada tahun 2014. Tak lama kemudian, ia tampil untuk Timnas Australia U-19 di Piala Asia U-19 2014. Media-media China, seperti diberitakan Sport Chosun, juga menilai agar AFC dan FIFA mengusut ulang kasus ini. Jika terbukti bersalah, Australia bisa saja dinyatakan WO saat menghadapi Indonesia dan China.

Tapi persoalannya, menurut laporan Sport Chosun pula, laporan dari media-media China itu hanya berdasarkan klaim dari seorang blogger. Hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukan Australia menyalahi aturan.

Namun, terlepas dari itu, Australia juga menghadapi persoalan lain. Krisis lini belakang yang dialami The Socceroos kabarnya belum bisa rampung dalam waktu dekat. Di jeda internasional Juni mendatang, Australia tetap tidak akan diperkuat oleh beberapa pemain penting, termasuk Harry Souttar. Pemain Leicester City itu diperkirakan baru bisa pulih pada akhir tahun 2025 karena cedera tendon achilles. 

Bahrain

Lalu ada Bahrain yang berhasil kita kalahkan dengan skor 1-0. Dari jauh-jauh hari sebelum menghadapi Indonesia pun, Bahrain sudah menghadapi banyak kritik. Mereka dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Mereka juga seakan memanfaatkan situasi panas dengan Indonesia untuk mengemis bantuan FIFA. Sayangnya, FIFA tidak mengabulkan segala permohonan Bahrain.

Dari mulai menunda pertandingan, bermain tanpa penonton, hingga memainkan pertandingan di tempat netral, semuanya gagal dicapai. Lalu, menurut CNN Indonesia, pelatih Bahrain, Dragan Talajic selalu memberikan komentar negatif dan menyindir skuad Timnas Indonesia.

Yang paling ikonik adalah saat Talajic mengisyaratkan keheranan dengan Timnas Indonesia yang selalu menambah pemain-pemain baru. “Kalian punya jutaan penduduk, tapi kebanyakan yang datang justru dari Belanda. Tapi tidak ada yang salah, kami menghormati Timnas Indonesia dan kita datang untuk menang,” kata Talajic jelang laga vs Indonesia.

Ia bahkan sempat menyebut bahwa menghadapi Indonesia serasa menghadapi Timnas Belanda. Karena, mayoritas line up Skuad Garuda berisikan pemain-pemain berdarah Belanda, bukan pemain lokal. Nah, udah gembar-gembor dan psywar sana-sini, eh pas di Gelora Bung Karno malah kalah.

Makin yapping dong si Dragan Talajic. Pake nyalahin fans Indonesia yang tidak menghargai lagu kebangsaan Bahrain segala lagi. Padahal, dia duluan yang mulai. Lucunya, bukannya dibela, pasukan Dragan Talajic justru disindir sama media Bahrain sendiri. Kekalahan atas Indonesia membuat Bahrain tertahan di urutan kelima klasemen sementara Grup C.

Media Bahrain, GDN Online, pun menyebut hasil buruk itu membuat Timnas Bahrain kehilangan harapan untuk bisa berpartisipasi di kancah Piala Dunia FIFA 2026 mendatang. Bahrain secara matematis tak lagi memiliki peluang untuk bisa lolos secara otomatis ke putaran final Piala Dunia. Sebab, mereka tidak bisa mengejar selisih poin negara di posisi dua teratas Grup C.

China

Dari Bahrain kita bergeser ke Negeri Tirai Bambu, China. Usai gagal mengumpulkan poin di Bulan Maret kemarin, situasi dapur sepakbola China pun mengalami gonjang-ganjing. Selain sibuk mencari kambing hitam di balik kekalahan atas Australia, posisi sang pelatih, yakni Branko Ivankovic juga terancam.

Dikutip dari Bolasport, jelang duel hidup mati lawan timnas Indonesia, China dilaporkan bakal ikut tren PHK pelatih di tengah perjalanan Kualifikasi Piala Dunia 2026. Ivankovic dinilai gagal memenuhi ekspektasi federasi sepakbola China. Sejak menukangi skuad Negeri Tirai Bambu, pelatih 71 tahun itu memiliki rapor sangat buruk.

Dalam 12 pertandingan, ia hanya memberikan 3 kemenangan, 2 seri, dan 7 kalah. Ivankovic merupakan salah satu pelatih terburuk dalam sejarah China jika acuannya rasio kemenangan. Hingga Maret kemarin, pelatih asal Kroasia itu hanya mencatatkan persentase 25% kemenangan. Berkat serangkaian hasil buruk, China jadi juru kunci sementara Grup C ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Tekanan kabarnya tidak hanya datang dari internal saja. Tapi, juga dari para fans dan media-media lokal yang juga sudah kehabisan sabar dengan pelatihnya. Dari sektor fans, mereka cukup kesal dengan materi pemain yang dipilih Ivankovic. Menurut mereka, terkadang Ivankovic mengambil keputusan yang buruk dalam menyusun line up.

Sementara itu, media China, Sohu menilai Branko Ivankovic telah keliru untuk menaturalisasi Sergio Soler dan Serginho. Sohu menggambarkan dua pemain ini sebagai upaya yang sia-sia. Maka dari itu, lanjutan putaran ketiga kualifikasi pada Juni mendatang adalah momen yang menentukan bagi negeri Tirai Bambu.

Arab Saudi

Meski Arab Saudi berada di atas kita, bukan berarti sepakbola mereka aman-aman saja. Jika aman, mungkin Roberto Mancini tidak akan dipecat di Bulan Oktober lalu. Setelah itu, Arab kembali ditukangi oleh mantan pelatihnya, Herve Renard. Bersama pelatih asal Prancis itu, performa Arab Saudi telat panas.

Dalam dua pertandingan awal pada November 2024, Arab Saudi hanya meraih satu poin saja. Itu didapat usai menahan imbang Australia dengan skor 0-0. Yang bikin malu, Arab Saudi justru kalah 2-0 dari Indonesia. Bintang Oxford United, Marselino Ferdinan jadi mimpi buruk The Green Falcon kala itu. 

Arab Saudi baru meraih kemenangan pada Maret kemarin. Itu pun cuma 1-0 dari China. Hasil itu membuat anak asuh Herve Renard menempati posisi ketiga klasemen sementara Grup C. Namun, posisinya belum aman. Karena Arab baru mengumpulkan 10 poin. Selisih tiga poin dengan Australia di urutan kedua dan hanya terpaut satu poin dari Indonesia di posisi keempat.

Padahal, target federasi sepakbola Arab Saudi adalah untuk bisa lolos langsung ke Piala Dunia 206. Itu artinya, Arab Saudi harus finis di urutan kedua di akhir babak penyisihan grup nanti. Kemungkinannya cukup kecil karena mereka masih akan menghadapi Australia di Bulan Juni nanti.

Situasi semakin sulit pula karena banyaknya pemain yang mengalami cedera. Setidaknya, ada tujuh pemain pilar yang diragukan bisa fit Juni nanti. Salah satu pemain yang cukup mengkhawatirkan kondisinya adalah bek AS Roma, Saud Abdulhamid. Dirinya mengalami cedera hamstring yang tidak diketahui kapan pulihnya. 

Situasi yang dialami oleh para kontestan lain di Grup C ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Di saat mereka masih sibuk dengan permasalahan ini itu, optimisme Indonesia untuk berlaga di Piala Dunia justru semakin membumbung tinggi. Dengan tren yang sedang positif, publik Indonesia percaya bahwa Piala Dunia adalah sebuah keniscayaan. 

Sumber: Bolasport, Kompas, Superball, CNN Indonesia 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru