Siapa yang tidak ingin bermain di turnamen Piala Dunia dan disaksikan oleh ribuan pasang mata di seluruh dunia?
Turnamen akbar yang digelar setiap empat tahun sekali ini memang menjadi ajang tertinggi dari pergelaran olahraga sepak bola. Semua pemain pasti mendambakan bisa tampil di ajang tersebut. Pun dengan para penggemar yang tidak ingin melewatan kesempatan menjadi saksi dari sejarah sepak bola.
Dalam sejarah nya, Brasil masih menjadi tim terkuat dengan perolehan lima gelar Piala Dunia. Sementara Jerman dan Italia mengikuti dibelakangnya dengan raihan empat gelar Piala Dunia. Nama terakhir menjadi salah satu yang paling mendunia. Italia, menjadi tempat dimana pemain-pemain berbakat berada. Disana, kompetisinya selalu mengundang bahagia dan tak jarang kucurkan air mata, bagi sebagian orang yang tak mendapati tim kesayangan keluar sebagai juara.
Sepanjang sejarah, Italia memang terus menjadi salah satu kompetisi terbaik dunia. Pun dengan tim nasional nya, mereka merupakan penghasil bibit-bibit terbaik sepak bola. Mulai dari penyerang, gelandang, kiper, hingga pemain bertahan, semua lapisan tersebut murni dimiliki Italia.
Selama mengikuti turnamen besar, Italia sudah merasakan empat kali juara dunia, yaitu pada 1934, 1938, 1982, dan 2006. Di Eropa sendiri, mereka pernah meraih tahta pada gelaran 1968.
Capaian itu diraih dengan cara yang bukan kebetulan. Mereka punya skuat luar biasa, dan dalam setiap generasinya, hampir selalu ada bintang didalamnya.
Namun semua tawa rakyat Italia terhenti pada gelaran Piala Dunia 2018. Masih terpahat rapih dalam ingatan kala pemain-pemain Negeri Pizza tertunduk lesu seusai pertandingan.
Piala Dunia 2018 yang digelar di Russia tidak terdapat nama Italia. Mereka yang menjadi langganan tampil dalam ajang tersebut pun harus mengubur impian dan menyadari bahwa semua asa harus segera ditunda.
Tepat pada November 2017, Italia dipastikan hanya menjadi penonton di ajang Piala Dunia Russia. Gli Azzurri gagal lolos ke putaran final setelah disingkirkan Swedia di babak play-off.
Italia dipastikan tersisih setelah bermain imbang 0-0 dengan Swedia pada pertandingan leg kedua play-off di San Siro. Hasil tersebut membuat raksasa dunia tumbang dengan agregat 0-1 dari Swedia.
Di pertandingan tersebut, Italia sebenarnya tampil secara membabi buta. Mereka terus menggempur tim lawan dan tak henti-hentinya memberikan ancaman.
Italia meminta penalti pada menit kedelapan setelah Marco Parolo dijatuhkan oleh Ludwig Augustinsson. Namun, wasit tak menganggap kejadian itu sebagai pelanggaran.
Swedia kemudian gantian meminta penalti karena menganggap Matteo Darmian melakukan handball. Namun sama, wasit juga tak mengabulkannya. Melalui sebuah skema serangan yang cukup menjanjikan, Ciro Immobile nyaris gemparkan rakyat Italia. Namun sayang usahanya berakhir sia-sia.
Pada menit ke 28, Antonio Candreva membuang peluang emas yang dia peroleh. Meski Candreva berdiri bebas di kotak penalti Swedia dengan ruang tembak yang ideal, tembakannya masih sedikit melambung. Kemudian lagi, Immobile terus lancarkan serangan. Penyerang Lazio langsung berhadapan dengan kiper Robin Olsen di kotak penalti dan menembak. Bola tembakan Immobile sudah melewati Olsen, tapi tak masuk gawang karena masih ada Andreas Granqvist yang langsung membuangnya.
Setelah babak pertama berakhir imbang, Italia masih terus melancarkan serangan. Italia mendapat peluang melalui kaki Florenzi. Pemain Valencia itu menyambut umpan silang Darmian dengan tembakan akrobatik, tapi arah bola masih sedikit melenceng.
Tak kunjung mendapatkan gol yang mereka butuhkan, Italia menarik keluar Darmian dan Gabbiadini. Sebagai gantinya, Stephan El Shaarawy dan Andrea Belotti dimainkan.
Italia terus menggempur Swedia dan punya kesempatan di menit ke-83. Namun, sundulan Parolo bisa diantisipasi oleh Olsen. Tak berselang lama, tembakan mendatar Belotti tak menemui sasaran.
Dalam pertandingan ini, Olsen tampil sangat gemilang. Ia terus mentahkan serangan meski beberapa dinaungi faktor keberuntungan. Sayang, hingga peluit panjang dibunyikan, Italia gagal tuai kemenangan. Swedia lolos, Italia harus tertunduk lesu dan gagal tampil di Piala Dunia 2018.
Satu hal yang menjadi sorotan dari gagal nya timnas Italia adalah pelatih yang kurang berpengalaman.
Setelah mengakhiri kerja sama Antonio Conte pada musim panas 2016, Federasi Sepakbola Italia, FIGC, menunjuk Gian Piero Ventura sebagai pelatih. Ketika FIGC menunjuk Ventura, banyak pihak yang mengernyitkan dahi. Sebab semenjak menjadi pelatih pada 1976, karier kepelatihan Ventura hanya berkutat di Negeri Pizza.
Bahkan tercatat, hanya satu gelar yang diraih Ventura selama menjadi pelatih. Itupun hanya sebatas membawa Lecce menjadi kampiun Serie C pada 1995/96. Karena itu tidak heran, Italia gagal menyaingi Spanyol di kualifikasi hingga akhirnya disingkirkan Swedia di playoff.
Dalam perjalanannya, Ventura juga nekat merubah skema permainan Italia. Ia mengubah pola 3-5-2 ke 4-2-4. Dirinya menggunakan formasi menyerang itu saat menghadapi Spanyol di Santiago Bernabeu. Alhasil, Italia takluk 0-3 dari Spanyol dan hasil itu bisa dibilang titik awal dari keterpurukan Italia.
Sebetulnya, ia sempat mengembalikan skema 3-5-2 dilaga melawan Swedia. Namun hal tersebut dinilai telah terlambat. Semenjak dibesut pelatih tersebut, mental juara Italia juga cenderung menurun. Banyak yang menyalahkan nya kala Italia gagal melaju ke putaran final Piala Dunia.
Dia terlalu banyak andalkan pemain senior, dan utamanya, tidak memainkan Lorenzo Insigne di laga krusial. Ya, kritik habis-habisan yang ditujukan kepadanya adalah karena ia tidak memainkan Insigne.
Sepanjang 90 menit pertandingan, Insigne harus puas berada di bangku cadangan. Padahal pemain Napoli itu bermain cukup tajam dan menjadi andalan tim yang dibelanya. Dalam pola 3-5-2 racikan Ventura pun, Insigne sejatinya bisa dimainkan sebagai penyerang.
Namun, Ventura enggan memberikan tempat kepada Insigne, dan lebih memilih memainkan Manolo Gabbiadini. Hasilnya? Italia gagal mencetak gol ke gawang Swedia dan tak mampu lolos ke Piala Dunia.
Momen tersebut menjadi salah satu yang menyakitkan bagi kebanyakan penggemar Italia. Pasalnya, Gli Azzuri untuk kali pertama sejak 1958 gagal melaju ke Piala Dunia.
Kegagalan timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2018 juga membuat kiper sekaligus kapten tim, Gianluigi Buffon, gagal menjadi pemain pertama yang tampil di enam putaran final Piala Dunia. Saat itu, setelah 7.320 hari berlalu sejak melakoni debut bersama timnas Italia pada 1997, Buffon telah mengoleksi 175 caps bersama Gli Azzurri.
Kiper legendaris Italia itu pun menjadi satu pemain yang paling sedih dan tidak bisa membendung kekecewaan dalam hati.
Tangisan Buffon banyak sekali dibicarakan. Raut mukanya tidak akan pernah dilupakan. Di depan para penggemar, ia benar-benar tidak bisa sembunyikan kesedihan.
Terlepas dari sang pelatih yang memang pantas disalahkan, Buffon lebih memilih untuk bijaksana.
Ia lebih ingin meminta maaf kepada semua orang yang mengharapkan Italia tampil di Piala Dunia 2018, khususnya publik Italia itu sendiri.
“Aku tidak menyesal untuk diriku, tapi untuk seluruh sepakbola Italia. Kami gagal dengan target kami yang harusnya sangat penting bagi level sosial kami. Itulah yang paling aku sesali saat ini, bahkan meski ini merupakan pertandingan terakhir ku dan diakhiri dengan kegagalan ke Piala Dunia.” kata Buffon (via express.uk)
Buffon menjelaskan jika kegagalan Italia mengalahkan Swedia pada leg kedua adalah mental bermain untuk menang yang kurang dimiliki skuat Italia. Bahkan menurutnya, Swedia memang layak untuk lolos ke Piala Dunia 2018.
“Kami tidak meremehkan tim lawan. Mereka yang bermain di laga tersebut, tahu apa yang diperlukan untuk membawa tim. Kami kehabisan energi dan ketenangan untuk mencetak gol. Swedia bermain seperti leg pertama. Mental kami buruk, sementara Swedia bermain baik.” kata Buffon (via express.uk).
Saat itu, setidaknya Italia tidak sendirian. Mereka menangis bersama dengan Belanda, Kamerun, Chile, dan Amerika, yang juga gagal tampil di gelaran Piala Dunia, meski tergolong sebagai tim nasional langganan ajang tersebut.


