Setiap empat tahun sekali, kita selalu setia menantikan gelaran paling akbar di seluruh dunia. Seluruh pemain sepak bola terbaik berkumpul dari satu naungan. Satu cerita yang menarik untuk kembali diingat adalah gelaran Piala Dunia 1986. Perhelatan yang digelar di Meksiko banyak tuai cerita, bahkan sebelum turnamen dimulai.
Awalnya, FIFA lebih dulu menunjuk Kolombia sebagai tuan rumah. Namun negara yang beribukota di Bogota itu mundur setelah terjadi konflik di dalam negeri yang berimbas pada sektor ekonomi. Melihat kekosongan tersebut, Brasil dan Amerika sempat mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah. Akan tetapi, badan tertinggi sepak bola Dunia memilih Meksiko sebagai tuan rumah.
Dengan dipilihnya Meksiko sebagai tuan rumah, praktis Negeri yang kaya akan topi lebar berbentuk lingkaran itu menjadi negara pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia sebanyak dua kali. Seperti diketahui, Meksiko sebelumnya pernah menggelar hajatan akbar tersebut di tahun 1970.
Sebelum Piala Dunia 1986 dimulai, Meksiko sempat ingin membatalkannya. Pasalnya, saat itu terjadi gempa bumi delapan bulan sebelum penyelenggaraan. Akibat gempa tersebut hampir semua infrastruktur luluh lantak dan tercatat hampir 30 ribu warga Meksiko dan sekitarnya dikabarkan meninggal dunia. Namun sungguh beruntung pesta olahraga itu tetap dilaksanakan karena sebagian besar stadion masih berdiri gagah.
Turnamen ini sendiri kembali memakai format 24 tim pada babak penyisihan grup. Namun menjadi yang kali pertama diberlakukannya format sistem gugur pada putaran kedua.
Pada saat gelaran itu resmi dimulai. Banyak sekali hal-hal yang mengejutkan. Seperti Bulgaria dan Uruguay yang menjadi dua negara pertama yang lolos ke babak sistem gugur, tanpa memenangkan sebuah pertandingan di putaran pertama. Jose Batista yang tercatat sebagai pemain paling cepat dalam sejarah Piala Dunia yang menerima kartu merah, yaitu dengan hanya 56 detik bermain.
Serta, Maroko yang berhasil mengukir sejarah sebagai tim dari Afrika pertama yang bisa menggapai putaran kedua. Kala itu, di babak penyisihan Grup F, Maroko tampil sebagai juara grup setelah bermain seri dua kali, masing-masing melawan Polandia dan Inggris, serta mengalahkan Portugal 3-1 di laga pamungkas.
Keberhasilan Maroko dalam menembus 16 besar tidak lepas dari kejeniusan pelatihnya, Jose Faria. Ia memasukkan gaya Brasil ke dalam permainan anak asuhnya sehingga Singa Atlas tampil begitu menghibur dan luar biasa.
Saat itu, benar-benar banyak sekali kejutan dan kenangan yang tercipta dalam turnamen tersebut. Satu lagi yang mungkin tak akan pernah dilupakan adalah penampilan Michel Plattini di gelaran tersebut.
D babak perempat-final, Platini genap berusia 31 tahun. Ia menyumbangkan sebuah gol yang kemudian memaksa Brasil untuk menjalani drama adu penalti, setelah dalam waktu normal berakhir dengan skor 1-1. Namun nahas saat adu penalti Platini gagal menjadi eksekutor. Gol ke-41 itu pun menjadi yang terakhir dicetaknya di pentas internasional, sebelum akhirnya ia resmi mengumumkan gantung sepatu setahun kemudian.
Kendati momen-momen tersebut menjadi yang paling tidak bisa dilupakan dalam sejarah, tetap saja, satu kisah timnas Argentina dalam turnamen tersebut menjadi yang paling banyak selipkan sejarah didalamnya.
Argentina tergabung dalam grup A, bersama dengan Italia, Bulgaria, dan Korea Selatan. Mereka berhasil memainkan semua pertandingan tanpa tersentuh satu pun kekalahan. Hanya sekali imbang, itupun kala bermain dengan klub kuat, Italia.
Menuju babak 16 besar, Argentina dengan percaya diri libas hadangan langganan Piala Dunia, Uruguay. Bermain di Estadio Cuauhtemoc, Puebla, Argentina menang dengan skor tipis 1-0 lewat aksi gemilang Pasculli.
Berlanjut ke fase quarter-final, Argentina semakin tancapkan taring sebagai negara tak terkalahkan. Melawan Inggris yang berhasil menggilas perlawanan Paraguay dengan skor telak, Argentina tak kehabisan akal untuk lanjutkan langkah.
Saat itu, pertandingan antara Argentina melawan Inggris benar-benar menjadi sejarah. Diego Maradona yang menjadi aktor, kapten, sekaligus inspirator sukses menunjukkan kualitas sebagai pemain jempolan. Ia menari diatas lapangan hingga dijuluki malaikat oleh para penggemar.
Terpilih sebagai kapten Argentina pada usia 25 tahun saat itu, Maradona menunjukkan performa gemilang. Utamanya, tentu di laga melawan Inggris di babak quarter-final.
Tampil di Estadio Azteca dan disaksikan oleh lebih dari 114 ribu pasang mata, label Maradona sebagai pahlawan sekaligus penjahat melekat dalam kurun waktu lima menit saja. Pada laga itu, kedua negara bertanding membawa sisa-sisa perseteruan mereka, ketika perang memperebutkan kepulauan Falklands atau yang akrab disebut Malvinas.
Malvinas sendiri merupakan konflik yang terjadi pada tahun 1982 antara Inggris dengan Argentina dalam memperebutkan kepulauan Falkland. Kala itu, banyak sekali korban berjatuhan, khususnya dari kubu Argentina. Sekitar 600 tentara Argentina meninggal, dan 11 ribu orang lainnya ditawan. Meski sudah menurunkan prajurit terbaik serta senjata-senjata mematikan, Argentina tetap takluk dengan negara yang notabene memang dikenal sebagai salah satu negara terkuat dalam hal peperangan.
Masih membekas dalam hati Maradona, ia pun berniat untuk membalaskan dendam. Meski bukan melalui senjata ataupun armada dengan kekuatan besar, Maradona, melalui gocekan bola siap menghancurkan negara yang telah membantai warga tanah kelahirannya.
Pada 22 Juni 1986, tensi pertandingan antar keduanya memanas. Maradona memulai pertandingan dengan kepala tegak. Dinahkodai oleh Carlos Bilardo, Maradona dan kolega tak mau tunduk dihadapan nama-nama seperti Peter Shilton, Kenny Sansom, Glenn Hoddle, hingga Gary Lineker bersutan Bobby Robson.
Babak pertama, kedua negara tidak mampu menciptakan gol. Meski ada peluang yang sempat terjadi, baik Argentina dan Inggris masih setia dengan skor kacamata. Hingga pada akhirnya, babak kedua seolah menjadi sebuah pertunjukkan ternama kala itu. Maradona dengan segudang bakat akan selalu menjadi pemain paling dibenci oleh rakyat Inggris.
Maradona mencetak gol dengan menggunakan tangan di menit ke 51. Sial untuk Inggris, dari kejauhan, wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser menganggap Maradona mencetak gol dengan kepala. Praktis, pemain Inggris mengajukan protes. Tapi sang pengadil tidak bergeming, gol Maradona tetap saja sah.
Gol itu sendiri tercipta dari sebuah skema umpan pendek dari tengah lapangan. Maradona yang sedikit kebingungan dalam mencapai celah lalu mengoper bola ke Jorge Valdano. Namun karena mendapat penjagaan ketat, Valdano gagal menjangkau bola. Beruntung, salah satu pemain Inggris yang melakukan sapuan malah membuat bola mengarah ke Maradona. Melihat peluang tersebut, ia pun tak mau menyia-nyiakannya, meski pada akhirnya, tangan lah yang digunakan untuk memasukkan bola.
Tak berselang lama, atau pada menit ke 55, Maradona kembali membuat Inggis kelimpungan. Melalui aksi soloran megelenda, Maradona melewati lima pemain Inggris, seperti Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Butcher, Terry Fenwick, termasuk kiper Peter Shilton. Berhasil membawa bola hingga ke kotak pinalti lawan, Maradona akhirnya sukses melesatkan bola ke dalam gawang.
Unggul dua gol membuat Argentina semakin berada diatas angin. Inggris tak mampu berbuat apa-apa, kecuali dengan mencetak satu gol karya Gary Lineker, yang pada akhirnya membuat sang pemain meraih gelar top skor dengan torehan 6 angka.
Maradona berdansa, Inggris merana, dan Argentina, jelas berpesta!
Dendam menyakitkan mereka terbalaskan melalui aksi gila pemain yang pada akhirnya dianggap Tuhan dalam sepak bola. Argentina melaju ke babak semi-final, dan menghajar Belgia dengan skor 2-0, dimana Maradona mencetak semua golnya.
Di partai pamungkas, kedigdayaan Argentina makin tak terbendung. Mereka yang berhadapan dengan tim favorit juara, Jerman Barat, berhasil memanfaatkan peluang dengan menang 3-2. Tiga gol Argentina masing-masing dicetak Jose Luis Brown, Jorge Valdano dan Jorge Burruchaga.
Itu merupakan trofi kedua Argentina setelah sebelumnya mereka berhasil menjadi raja di tahun 1978. Pencapaian manis dari sebuah dendam yang masih segar dalam ingatan. Maradona, bersama dengan kawan-kawan Argentina sukses mengangakat setinggi-tingginya trofi Piala Dunia seraya memberi tahu dunia, bahwa mereka adalah raja yang sesungguhnya.


