Piala Asia 2007: Irak Juara, Irak Bersatu!

spot_img

Irak, Irak, Irak!

Sorakan dukungan yang ditujukan untuk tim nasional Irak itu begitu menggema di Stadion Gelora Bung Karno, Minggu 29 Juli 2007. Secara teori, situasi tersebut harusnya sulit tercipta. Sebab, jumlah pendukung Irak jauh lebih sedikit ketimbang pendukung Arab Saudi yang menjadi lawan mereka pada laga final Piala Asia 2007.

Akan tetapi, Younis Mahmoud dan kawan-kawan mendapat tambahan dukungan gratis dari suporter tuan rumah, Indonesia. Alasannya sederhana. Arab Saudi adalah tim yang menghentikan langkah Merah Putih lolos dari fase grup.

Sorakan dukungan dari fans Indonesia yang datang ke GBK malam itu menjadi tambahan suntikan moral bagi Singa-singa Mesopotamia yang tak hanya bertarung untuk diri mereka sendiri, tetapi juga sedang bertarung untuk rakyat Irak.

Negaranya Hancur Karena Perang! Timnas Irak Carut Marut

Lolosnya Irak hingga partai final Piala Asia 2007 memang sebuah kejutan. Namun, bukan karena skuad mereka. Sebagai tim non-unggulan dan peringkat 83 dunia, mayoritas skuad Irak di Piala Asia 2007 berisikan alumni skuad runner-up Asian Games 2006 dan peringkat 4 Olimpiade 2004.

Secara skuad, Irak jelas bisa bersaing. Namun, menilik kondisi negara, persiapan pra-turnamen, hingga kondisi mental para pemainnya, Irak telah menciptakan salah satu dongeng sekaligus kisah underdog terbaik dalam sejarah sepak bola.

Tahun 2007 adalah masa-masa yang sangat sulit untuk Irak. Empat tahun setelah invasi Amerika Serikat dimulai dan penggulingan Saddam Husein, Irak jatuh tenggelam dalam kekacauan, perpecahan sektarian, hingga perang saudara.

Mengutip dari The National News, saat itu, lebih dari 100 orang terbunuh setiap hari di ibu kota Baghdad. Lebih memilukan lagi, kelompok milisi hingga geng kriminal konon sangat membenci melihat timnas Irak berisikan orang-orang Syiah, Sunni, dan Kurdi yang saling bekerja sama.

Imbas dari situasi tersebut membuat anggota keluarga, kerabat, hingga teman dari sebagian besar pemain timnas Irak terbunuh dalam perang. Dan tragedi tersebut mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri. Tak hanya pemain. Sebelum berangkat ke Piala Asia, fisioterapis timnas Irak juga terbunuh dalam sebuah bom bunuh diri.

Singkatnya, the Lions of Mesopotamia datang ke Piala Asia 2007 di tengah negaranya yang sedang dilanda konflik. Kondisi sangat tidak ideal ini ikut berimbas pada kacaunya situasi timnas Irak saat itu.

Dua bulan sebelum Piala Asia 2007 bergulir, Irak belum memiliki pelatih. FA Irak baru menunjuk pelatih asal Brasil, Jorvan Vieira pada 25 Mei 2007. Dengan waktu persiapan tim yang sangat mepet, FA Irak harus berjuang mati-matian hanya untuk menyediakan logistik yang cukup bagi tim. Selain itu, timnas Irak juga tak dapat memainkan pertandingannya di rumah sendiri karena alasan keamanan.

Carut marutnya timnas Irak juga begitu terlihat mulai dari kamp latihan di Yordania hingga sebelum kickoff laga pertama Grup A melawan tuan rumah Thailand di Bangkok. Setelah kalah dari Uzbekistan di laga terakhir uji coba, 5 Juli 2007, banyak dari pemain Irak yang mengatakan kepada asisten pelatih bahwa mereka siap membayar sisa kontrak Jorvan Vieira agar segera pergi. Jauh sebelumnya, Vieira lebih dulu menyerahkan daftar pemain yang ingin ia pulangkan kepada wakil Presiden FA Irak.

Buruknya hubungan antara pelatih dan pemain, khususnya pemain senior, adalah cerminan dari konflik yang tengah terjadi di Irak. Akibat dari kurang harmonisnya skuad pada saat itu membuat FA Irak ingin mengganti skuad untuk Piala Asia 2007 dengan tim Olimpiade U-23. Posisi Jorvan Vieira juga ingin mereka ganti. Namun, Irak kadung menyerahkan daftar skuad kepada AFC dan batas waktu untuk pergantian personil Piala Asia 2007 sudah berakhir.

Perjalanan Heroik Irak Menuju Final Piala Asia 2007

Maka yang terjadi kemudian, sebelum kickoff pertandingan pertama kontra Thailand, hubungan antara pelatih dan pemain senior Irak masih berada di titik terendah. Imbasnya, Irak hanya mampu bermain 1-1 melawan Thailand.

Hasil tersebut sangat merugikan Irak. Pasalnya, di laga berikutnya, mereka harus menantang Australia yang berisikan bintang-bintang Eropa semacam Mark Viduka, Harry Kewell, Tim Cahill, Lucas Neill, hingga Mark Schwarzer.

Jika kalah, peluang mereka untuk lolos dari fase grup akan semakin menipis. Sementara itu, bagi Jorvan Vieira, kekalahan hampir pasti akan membuatnya dipecat.

Namun, di tengah situasi hati yang bergejolak, Singa-singa Mesopotamia melawan segala prediksi dan berhasil mengejutkan Asia dengan keberhasilan mereka menumbangkan Australia 3-1. Kemenangan tersebut tak hanya membuat posisi Jorvan Vieira aman, tetapi menciptakan sebuah harapan langka bagi timnas Irak.

Singkat cerita, Irak berhasil menahan imbang Oman 0-0 di laga terakhir fase grup. Hasil tersebut sudah cukup untuk meloloskan Irak dari fase grup. Bahkan, di luar dugaan, mereka berhasil melaju ke fase gugur dengan status pemuncak Grup A, melangkahi Australia yang di laga terakhir menang 4-0 atas Thailand.

Di babak perempat final, Irak ditantang runner-up Grup B, Vietnam. Kapten Younis Mahmoud menjadi bintang di laga ini. Ia berhasil mencetak gol tercepat di Piala Asia 2007 saat berhasil menjebol gawang Vietnam ketika laga baru berjalan 79 detik. Younis Mahmoud kemudian mencetak brace di menit ke-65 untuk mengirim Irak ke semifinal.

Babak semifinal menjadi ujian sesungguhnya bagi Irak, sebab mereka harus berhadapan dengan tim kuat, Korea Selatan. 26 hari sebelumnya, Korsel dengan mudah menumbangkan Irak 3-0 di laga ujicoba di Pulau Jeju. Jika berkaca dari hasil tersebut, Taegeuk Warriors rasanya akan dengan mudah kembali menggulung Lions of Mesopotamia untuk mengunci tempat di partai final.

Agar tak mengulang hasil yang sama, sang maestro lini tengah Irak, Nashat Akram menggelar rapat darurat sebelum pertandingan dan mengultimatukan rekan setimnya: bangkit dan berjuang atau angkat kaki!

Dengan satu tempat di babak final yang diperjuangkan, Irak sekali lagi memberi harapan kepada para pendukungnya. Melawan salah satu favorit juara, Singa-singa Mesopotamia memberi perlawanan sengit. Kegigihan Irak menahan gempuran Korsel membuat laga yang digelar di Bukit Jalil tersebut harus dilanjutkan ke babak adu penalti setelah takada satu pun gol tercipta hingga babak extra time.

Babak adu tos-tosan berlangsung dramatis. Setelah skor sama kuat 3-3, kiper Noor Sabri melakukan tugasnya dengan sempurna ketika sukses membaca dan menepis eksekusi penendang keempat Korsel, Yeom Ki-hun. Skor pun berubah menjadi 4-3 setelah penendang keempat Irak, Ahmed Mnajed berhasil menaklukkan Lee Woon-jae.

Irak pun berada di atas angin, sementara Korsel berada di ujung tanduk. Ketika Korsel wajib mencetak gol untuk mempertahankan nyawa, sepakan penalti Kim Jung-woo sebagai penendang kelima justru membentur tiang.

Para pemain Irak menyambut kegagalan tersebut dengan suka cita. Sebagian dari mereka bersujud syukur, sebagian lainnya berlari menuju sang pahlawan Noor Sabri yang beberapa minggu sebelumnya kehilangan kakak iparnya yang dibunuh di jalanan Baghdad. Sementara di pinggir lapangan, para staff pelatih Irak menangis haru merayakan kemenangan tersebut.

Bom Bunuh Diri Nyaris Membuat Final Piala Asia 2007 Batal Digelar

Keberhasilan timnas Irak melaju ke partai final Piala Asia 2007 memicu sebuah perayaan meriah di berbagai kota di Irak. Puluhan penggemar memenuhi jalanan, mengibarkan bendera Irak, dan merayakan kemenangan tersebut dengan suka cita. Sebuah pemandangan langka yang baru terjadi lagi setelah beberapa tahun terakhir di negara yang sedang kacau balau.

Namun sayangnya, perayaan meriah tersebut berubah menjadi tragedi. Diberitakan ada dua serangan bom bunuh diri terpisah di kota Baghdad yang menewaskan sebanyak 50 warga sipil dan melukai 135 lainnya. Pihak berwenang di Baghdad menyatakan bahwa bom bunuh diri tersebut ditujukan kepada para pendukung yang sedang merayakan kemenangan timnas Irak.

Mengetahui kebenaran dari tragedi tersebut, para pemain timnas Irak terpukul berat. Laga final Piala Asia 2007 antara Irak dan Arab Saudi pun terancam batal setelah beberapa pemain Irak menyatakan tidak ingin bermain di laga pamungkas. Alasan tersebut tentu dapat dipahami, apalagi ada risiko pertumpahan darah lanjutan jika mereka masih ngotot bermain.

Lalu, situasi berubah setelah sehari kemudian para pemain timnas Irak menyaksikan seorang wanita menangis dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV pemerintah. Ia adalah ibu dari seorang anak laki-laki remaja yang menjadi korban tragedi bom bunuh diri tersebut. Ibu tersebut memohon kepada timnas Irak dan bersumpah tidak akan menguburkan putranya sampai timnas Irak pulang membawa trofi Piala Asia.

Melihat dan mendengar permintaan tersebut, pendirian para pemain timnas Irak berubah. Dan final Piala Asia 2007 pun tetap digelar sesuai jadwal.

Irak Juara, Irak Bersatu!

Pada sebuah sesi latihan malam hari menjelang laga pamungkas, Jorvan Vieira menyuruh pemainnya duduk di lapangan GBK. Ia lalu berkata, “Lihatlah ke sekeliling. Di sini, besok, adalah pertandingan kita. Saya rasa kita tidak akan sampai ke titik ini lagi.”

Pesan Jorvan Vieira tersebut sangatlah jelas. Kemenangan adalah harga mati!

Laga final pun tiba. Tekad yang kuat untuk membawa pulang Piala Asia ke Irak membuat Singa-singa Mesopotamia bermain lepas. Menghadapi Arab Saudi yang jelas lebih diunggulkan, Irak terlihat lebih mendominasi.

Laga tersebut tak terlihat seperti pertandingan antara tim non-unggulan dengan juara 3 kali Piala Asia. Dengan tambahan suntikan moral dari pendukung Merah Putih yang hadir di GBK malam itu, timnas Irak tanpa lelah menggempur pertahanan Arab Saudi.

Hingga akhirnya, gol yang ditunggu itu datang juga. Berawal dari sepak pojok Hawar Mulla Mohammed di menit ke-72, striker sekaligus kapten dan leader timnas Irak, Younis Mahmoud, sukses menyundul bola dan menggetarkan jala gawang Arab Saudi.

Skor pun berubah menjadi 1-0. Dan setelah gol tersebut, Irak bermain disiplin. Kedisiplinan mereka berbuah manis. Tak ada gol lagi yang tercipta dan ketika wasit meniup peluit panjangnya, 60 ribu pasang matang yang hadir di GBK malam itu jadi saksi Irak yang resmi menyandang status juara Asia.

Pesta perayaan kemenangan timnas Irak pun pecah. Tak hanya di Jakarta, di berbagai kota di seluruh dunia warga Irak berkumpul dan merayakan kemenangan tersebut dengan pesta yang meriah.

Sementara itu, di Irak sendiri, para penggemar kembali turun ke jalanan. Ribuan orang tumpah ruah, menari bersama, dan mengibarkan bendera Irak. Ketika timnas Irak kembali ke tanah air pada 3 Agustus 2007, mereka pun sudah disambut dengan penuh suka cita di Bandara Internasional Baghdad dan langsung diarak untuk merayakan trofi yang bersejarah bagi Irak tersebut.

Tak bisa dipungkiri kalau kemenangan Irak di Piala Asia 2007 menjadi salah satu kisah underdog sekaligus dongeng terbaik dalam sejarah sepak bola. Sebulan sebelumnya, tak ada pihak yang memperhitungkan tim dari negara yang sedang dilanda perang tersebut. Namun, dalam perjalanannya menuju puncak, Irak tak sekalipun tersentuh kekalahan dan hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen.

Irak juga mendominasi penghargaan individu. Noor Sabri dinobatkan sebagai Best Goalkeeper. Bassim Abbas menjadi Best Defender. Nashat Akram juga masuk dalam Team of the tournament. Sementara sang kapten Younis Mahmoud menjadi topskor sekaligus MVP. Singkatnya, Irak memang pantas menang.

Namun, yang menjadikan kemenangan Irak spesial bukanlah rekor, catatan statistik, ataupun penghargaan individu, melainkan fakta kalau kemenangan tersebut mengubah situasi rakyat Irak.

Seperti kata komentator Simon Hill pada laga final Piala Asia 2007, “The team without hope has brought joy to its fractured nation. Football succeeds where politics has failed.”

Kekacauan, konflik, hingga perang saudara memang tak langsung berhenti ketika timnas Irak membawa pulang trofi Piala Asia 2007. Namun, untuk sejenak, rakyat Irak berhasil disatukan oleh sepak bola. Bagi publik Irak, trofi Piala Asia 2007 bukanlah sekadar trofi, melainkan simbol harapan dan persatuan yang sudah lama mereka damba-dambakan.


Referensi: The Guardian, FIFA, The National News, Transfermarkt.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru