Beberapa pemain sepakbola bernasib kurang beruntung. Kualitasnya yang bagus harus turut terpuruk apabila ia gagal membawa timnya lepas dari degradasi. Tak sedikit pesepakbola, khususnya Premier League yang merasakan degradasi.
Persaingan yang begitu ketat, membuat degradasi adalah sebuah keniscayaan. Buruk sedikit, sebuah tim harus siap turun kasta. Para pemainnya pun ada yang tetap bertahan, tapi ada pula pemain yang beruntung bisa diselamatkan kariernya oleh klub lain.
Tak jarang pemain-pemain yang berhasil selamat tersebut justru bangkit. Mereka menemukan kepercayaan diri dan menoreh banyak prestasi. Nah, berikut ini adalah pesepakbola yang bangkit setelah terdegradasi dari Premier League.
Daftar Isi
Andrew Robertson
Andrew Robertson memulai kariernya di Premier League bersama Hull City dengan sangat hebat. Ia bahkan masuk line up di pertandingan pembuka Hull City ketika bermain tandang ke markas Queens Park Rangers pada Premier League musim 2014-15. Sayangnya, Robertson gagal mempertahankan Hull City di Premier League.
Hanya dengan 17 caps di Premier League kala itu, Hull City pun terdegradasi tahun 2015, dan Robertson masih berada di dalamnya. Robertson menjalani masa bermain di Championship musim 2015-16 dengan luar biasa. Sampai ia akhirnya sukses membawa Hull City kembali ke Premier League dengan catatan 33 penampilannya. Ironis, hanya semusim Hull City akhirnya terdegradasi lagi.
Beruntung Robertson telah menciptakan musim yang manis ketika bermain di Premier League bersama Hull City. Hal itu membuatnya dilirik oleh Jurgen Klopp, pelatih Liverpool. Klopp pun membawa Robertson ke Anfield hanya dengan mahar 8 juta poundsterling (sekitar Rp143 miliar).
Robertson pun menjawab kepercayaan Klopp. Meski itu membutuhkan waktu sekitar lima bulan. Ia datang ke Anfield pada Juli 2017, lalu bermain menjadi starter reguler untuk Liverpool pada Desember 2017. Sejak saat itulah kehadiran Robertson disambut hangat oleh publik Anfield.
Apalagi pemain berkebangsaan Skotlandia telah menjelma bek kiri terbaik saat ini. Andrew Robertson pun akhirnya bisa bangkit ketika memperkuat Liverpool. Ia meraih beberapa gelar bergengsi termasuk Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, Liga Inggris, sampai Piala Super Eropa bersama Liverpool.
From relegation in 2015 with Hull City
To Champions League,Super Cup & CWC winner in 2019 and soon to be a Premier League winner in 2020 what a journey Andy Robertson pic.twitter.com/e3yFaojGiV— Jake 🐐 (@RIPJakeFutbol) April 17, 2020
James Milner
James Milner menjalani musim yang baik dan buruk bersama Leeds United. Ia adalah pemain yang luar biasa. Sayangnya kemampuannya yang impresif itu membuatnya dipinjamkan oleh Leeds ke Swindown Town. Namun, ia hanya sebentar di sana.
Milner menjalani musim 2002-03 bersama Leeds dengan catatan 30 penampilan dan tiga golnya. Waktu itu ia menjadi anak muda yang mendapat sorotan karena penampilannya. Namun, pada musim berikutnya kemampuan Milner tak cukup membuat Leeds bertahan di Premier League, dan akhirnya terdegradasi tahun 2004.
Milner pada waktu itu sejatinya enggan berpisah dengan Leeds United. Ia ingin turut berjuang bersama The Whites agar bisa kembali ke Premier League. Namun, tawaran 7 juta euro (sekitar Rp107 miliar) dari Newcastle United memaksanya pindah ke St. James Park. Bersama The Magpies kemampuannya sebagai gelandang sayap mulai terasah.
James Milner total bermain bersama Newcastle di 136 laga. Dari situ ia mengantongi 11 gol dan 19 assist. Catatan yang tidak terlalu buruk bagi seorang pemain tengah sayap. Terbukti hanya berbekal itu, Aston Villa akhirnya membeli Milner dari Newcastle seharga 15 juta euro (sekitar Rp230 miliar).
Bersama Aston Villa penampilannya makin dahsyat. Milner sudah mencatatkan 126 caps salama bermain di Villans. Jumlah assist dan golnya pun meningkat. Di Aston Villa ia mengoleksi 25 assist dan 22 gol. Performanya yang gemilang itu membuatnya dibeli Manchester City dengan banderol lebih mahal, yaitu 22 juta euro (sekitar Rp338 miliar).
Berseragam City ia pernah juara Liga Inggris dua kali, sebelum kontraknya habis dan tidak diperpanjang, Liverpool masuk untuk membeli. Bermain untuk Liverpool membuatnya makin sukses dengan satu gelar Liga Champions yang ia kantongi.
James Milner using Leeds relegation experience to fire Liverpool to Premier League title | @cmckennasporthttps://t.co/c3zZ98d9j1 pic.twitter.com/5nUlsghsHd
— Daily Star Sport (@DailyStar_Sport) March 8, 2020
Giorginio Wijnaldum
Ketika Newcastle United terdegradasi dari Premier League tahun 2016, Giorginio Wijnaldum yang saat itu berseragam The Magpies mencari pelabuhan baru. Ia tahu bahwa untuk meningkatkan level permainannya, ia mesti tetap bermain di kasta tertinggi.
Liverpool yang sudah ditangani Jurgen Klopp melihat Wijnaldum bisa jadi sosok pemain kunci di skuadnya. Keduanya menjalin pembicaraan, dan Wijnaldum tentu senang dengan keinginan mantan manajer Borussia Dortmund untuk merekrutnya.
Klopp berhasil meyakinkan Wijnaldum untuk datang ke Anfield. Wijnaldum sendiri percaya bahwa Klopp adalah pelatih yang tepat jika ingin meningkatkan kemampuannya. Benar saja, Klopp langsung mengubah peran Wijnaldum di skuadnya.
From relegation with Newcastle in 2016, to the Champions League final in 2019. 🇪🇺🏆
What a journey for Moussa Sissoko and Gini Wijnaldum. 🙌 pic.twitter.com/w5vrz2rmjV
— Football Tweet ⚽ (@Football__Tweet) May 9, 2019
Pemain Belanda yang ketika di Newcastle bermain sedikit menyerang itu, di bawah asuhan Klopp, bermain jauh lebih ke dalam. Dengan posisi itu, Wijnaldum bahkan membantu Liverpool memenangi empat dari enam pertandingan mereka di awal musim 2016-17.
Wijnaldum menjalani 36 pertandingan di Liga Inggris musim itu. Ia juga berhasil mengemas 11 assist dan 6 gol untuk Liverpool. Sementara, The Reds bertengger di peringkat empat.
Penampilannya di musim itu, bagi Wijnaldum tidak mengesankan. Sampai akhirnya dua musim berselang, trofi yang ia idam-idamkan datang juga. Wijnaldum membawa Liverpool juara Liga Champions musim 2018-19, dan setahun berselang ia juga turut membawa Liverpool juara Liga Inggris.
Kieran Trippier
Dari pemain-pemain sebelumnya, cuma Kieran Trippier yang meraih trofi hebatnya di luar Inggris. Ia meraih gelar La Liga bersama Atletico Madrid pada musim 2020-21. Namun, siapa menyangka, Trippier pernah terpuruk, tim yang ia bela terdegradasi.
Pada tahun 2012, Tripper bergabung dengan Burnley setelah tiba dari Manchester City sebagai pemain pinjaman. Ia memang produk Manchester City, namun The Citizen tidak pernah memasukkannya ke dalam skuad.
England’s finest right back.. Burnley legend… and now a La Liga champion!
Mr Kieran Trippier 🤴🏻 #twitterclarets pic.twitter.com/C0mqvROxas
— George Poole (@GeorgePuddle) May 22, 2021
Trippier justru dipinjamkan ke Barnsley sebelum akhirnya dijual City ke Burnley. Ia bermain untuk Burnley di Championship dengan torehan 132 pertandingan dengan 28 assist dan 4 gol. Penampilannya itu mengangkat Burnley untuk promosi pada tahun 2014.
Tapi sayang, tahun berikutnya Burnley terdegradasi dan Trippier diselamatkan Tottenham Hotspur yang membelinya dengan banderol Rp85 miliar kala itu. Bersama Tottenham Hotspur, Trippier pernah bermain di final Liga Champions saat The Lilywhites kalah dari Liverpool.
Marcos Alonso
Marcos Alonso, bek sayap andalan Chelsea itu pernah terdegradasi dari Premier League bersama mantan klubnya, Bolton tahun 2012. Namun, perjalanannya tak berhenti sampai di situ. Ia yang akhirnya dijual ke Fiorentina, sedikit demi sedikit mulai bangkit.
Marcos Alonso bermain di 85 laga bersama Fiorentina. Ia juga mencetak 5 gol dan mengantongi 7 assist sebelum di tengah-tengah masa kontraknya dengan Fiorentina, Alonso dipinjamkan ke Sunderland.
Ia tidak terlalu bagus di Sunderland yang kelak juga terdegradasi. Marcos Alonso hanya bermain di 16 pertandingan saja di Premier League saat berseragam Sunderland. Hal itu membuatnya kembali ke Fiorentina. Sampai ia pun akhirnya dibeli Chelsea dari Fiorentina tahun 2016.
Chelsea membeli Marcos Alonso dengan ongkos 23 juta euro (sekitar Rp353 miliar). Kepindahannya ke Chelsea, menjadi titik pijak penampilan Marcos Alonso. Ia tampil bagus menjadi wing back Chelsea era Antonio Conte. Pada musim pertamanya di Chelsea, Alonso sudah mendapatkan trofi Liga Inggris.
Marcos Alonso…
2011: Behind Paul Robinson in Bolton pecking order
2014: Relegation scrap with Sunderland
2017: Bossing it at Chelsea pic.twitter.com/DqBJv4v9Ox— Ladbrokes (@Ladbrokes) August 21, 2017
Xherdan Shaqiri
Pada tahun 2018, Jurgen Klopp, manajer Liverpool membuat kejutan dengan mendatangkan Xherdan Shaqiri dari Stoke City. Apa yang diinginkan Klopp dari pemain depan seperti Shaqiri yang berasal dari klub yang terdegradasi waktu itu?
Mendatangkan Shaqiri saat skuad Liverpool masih penuh dengan amunisi berbakat, seperti sebuah keanehan. Apalagi Shaqiri statusnya adalah pemain The Potters yang terdegradasi. Belum lagi Shaqiri yang berposisi di lini serang, padahal lini serang Liverpool sudah penuh terisi pemain hebat.
“I think the English phrase to explain the decision to sign Xherdan is a ‘no-brainer’”
Jurgen Klopp on Liverpool’s deal to sign Xherdan Shaqiri. pic.twitter.com/kX9UoMX3eY
— Liverpool FC News (@LivEchoLFC) July 13, 2018
Boleh dibilang pembelian Shaqiri oleh Liverpool ini hanya seperti penyelamatan saja. Klopp mungkin hanya ingin menyelamatkan karier Shaqiri. Terbukti selama berseragam Liverpool, Shaqiri hanya bermain sebanyak 63 kali dari musim 2018-19 sampai 2020-21.
Pemain Switzerland itu hanya mencetak 8 gol dan 9 assist. Hal itu membuat Liverpool akhirnya melego Shaqiri ke Lyon, sebelum ia akhirnya terbang ke Chicago. Terlepas dari itu, Shaqiri terbilang beruntung kariernya selamat dari degradasi dan bisa mengangkat trofi Liga Inggris dan Liga Champions.
https://youtu.be/BZRPplkHggA
Sumber referensi: DailyMail, Informationng, BR, UKNewsYahoo, HullDailyMail, Skysports, BR


