Di era kepemimpinannya di Jawa Barat, Ridwan Kamil mempopulerkan slogan “Jabar Juara”. Slogan ini bertujuan untuk mewujudkan Jawa Barat yang juara lahir dan batin melalui inovasi dan kolaborasi. Slogan ini diimplementasikan melalui berbagai program dan kegiatan, tak terkecuali sepakbola.
Dan Persib Bandung, yang menjadi wajah sepakbola Jawa Barat pun tampaknya telah mewujudkan slogan itu dengan sangat baik. Musim ini, Maung Bandung berada di ambang juara Liga Indonesia. Itu artinya, jika benar-benar juara, maka ini jadi gelar juara back to back kedua setelah terakhir kali dilakukan pada tahun 1994 dan 1995.
Lantas, bagaimana Persib melakukannya? Apa rahasia Maung Bandung untuk mengulang sejarah di masa lalu ini? Selengkapnya akan kita bahas.
Daftar Isi
Diambang Juara
Persib Bandung baru saja memetik poin penuh di pertandingan yang berjalan sengit melawan Bali United. Maung Bandung keluar sebagai pemenang usai mengakhiri laga dengan skor 2-1 akhir pekan lalu. Hasil ini membuat Persib kokoh di puncak klasemen dengan mengumpulkan 61 poin.
Dengan begitu, Maung Bandung tinggal menyisakan lima pertandingan lagi musim ini. Diantaranya akan melawan PSS Sleman, Barito Putera dan Persis Solo di kandang sendiri. Lalu, akan berkunjung ke markas Malut United serta Persita Tangerang.
Menurut Tempo.co, Persib Bandung kabarnya hanya membutuhkan delapan poin lagi untuk mengunci gelar juara Liga 1 Indonesia musim 2024/25. Target itu sangat mungkin untuk tercapai dalam lima pertandingan tersisa musim ini. Tambahan delapan poin akan membuat torehan 69 poin Persib tidak mungkin dikejar Dewa United yang bertengger di posisi kedua.
Beberapa pemain menaruh target bahwa Persib akan mengunci gelar di tanggal 9 Mei mendatang. Atau setelah menghadapi Barito Putera. Laga itu dimainkan di kandang. Artinya, para pemain ingin menyapu bersih tiga laga ke depan agar bisa dirayakan di hadapan puluhan ribu penonton yang memadati Gelora Bandung Lautan Api.
Transfer Efektif
Yang jadi pertanyaan, bagaimana Persib mewujudkan prestasi ini? Ada beberapa strategi dan kiat-kiat yang dilakukan oleh Persib untuk mewujudkan ini. Salah satunya geliat transfer yang jor-joran, tapi tetap efektif untuk tim.
Musim ini, Persib Bandung mendatangkan setidaknya empat pemain asing baru. Mereka adalah bek Gustavo Franca, pemain sayap Mailson Lima dan Gervane Kastaneer, serta Mateo Kocijan seorang gelandang bertahan. Di luar nama itu, Persib juga memanggil pulang Tyronne Del Pino yang dipinjamkan ke klub Thailand, Ratchaburi FC.
Tak cuma berfokus pada pemain asing, Persib juga meningkatkan kualitas tim dengan mendatangkan beberapa pemain lokal. Contohnya, seperti Adam Alis yang sebelumnya bermain untuk Borneo FC. Lalu ada striker langganan tim nasional, Dimas Drajad yang dipungut dari Persikabo 1973 yang mengalami degradasi ke Liga 2.
Dari pemain-pemain tersebut, barangkali yang paling berdampak adalah Tyronne. Keputusan Persib untuk memulangkannya ketimbang menjualnya dirasa sangat tepat. Kehadirannya membuat lini tengah Persib semakin dinamis. Apalagi, naluri menyerangnya yang sangat tinggi bisa membantu tim untuk mendobrak pertahanan tim lawan.
Peningkatan performa Tyronne selama menjalani masa peminjaman disinyalir jadi penyebabnya. Sebelumnya, di musim 2023/24, Tyronne gagal total di Persib. Dirinya kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan intensitas sepakbola Indonesia. Dirinya bahkan hanya mencatatkan satu penampilan di musim itu.
Namun, di Ratchaburi, Tyronne jadi bagian penting. Bermain di kompetisi yang sudah pernah ia rasakan, membuatnya kembali menemukan sentuhan terbaik. Ia berkontribusi enam gol dan dua assist selama masa peminjaman. Performa apik itu dibawanya ke Persib. Sejauh ini, Tyronne sudah mengemas 17 gol dan 8 assist di semua kompetisi untuk Maung Bandung.
Mempertahankan Pemain Kunci
Persib membangun suasana dan lingkungan yang mendukung agar pemain-pemain baru bisa segera nyetel dengan pemain lama. Cara ini terbukti ampuh membuat pemain-pemain asing yang baru didatangkan itu bermain dengan baik saat berpadu dengan pemain-pemain kunci Bojan Hodak.
Ya, Bojan Hodak tetap mempertahankan pilar-pilar utamanya yang membantu tim menjuarai Liga Indonesia pada musim 2023/24. Lihat saja, nama-nama seperti David Da Silva, Ciro Alves, Nick Kuipers, Marc Klok, hingga sang penjaga gawang, Kevin Ray Mendoza masih menghiasi skuad asuhan Bojan Hodak.
Musim lalu, pemain-pemain tersebutlah yang mengerek performa Persib. Duo Brazil, David Da Silva dan Ciro Alves misalnya. Berkat performa mereka yang menawan di lini depan, Persib jadi tim yang konsisten berada di empat besar musim lalu, sebelum akhirnya keluar sebagai kampiun. Jika ditotal, dua pemain itu saja sudah mengemas 47 gol di sepanjang musim 2023/24.
Nah, pemain-pemain itulah yang menjadi pilot dari permainan Bojan Hodak musim ini. Pemain-pemain lain yang baru datang akan menyesuaikan dan mengikuti ritme permainan yang sudah terbentuk sebelumnya.
Pertahanan dan Produktivitas
Dengan terbentuknya komposisi skuad yang mewah namun tetap efisien terhadap sebuah rotasi dan penyegaran, membuat tim bisa tampil konsisten di setiap pekan. Hal ini berimbas pada performa setiap lini di lapangan. Secara produktivitas gol dan kekokohan pertahanan di musim lalu bisa terjaga hingga sekarang.
Musim lalu, Persib jadi tim paling produktif dengan 65 gol meski finis di urutan kedua di musim reguler series. Prestasi yang sama juga dipertahankan musim ini. Dengan torehan 51 gol sejauh ini, pasukan Bojan Hodak jadi tim paling produktif kedua di bawah Dewa United yang mengemas 55 gol hingga pekan ke-29.
Meski mengalami sedikit penurunan, Persib masih jadi salah satu yang terbaik jika dibandingkan klub-klub lain. Bahkan, selisihnya cukup signifikan jika dibandingkan dengan peringkat ketiga, yakni Persebaya Surabaya yang hanya mampu menyarangkan bola sebanyak 34 kali musim ini.
Yang grafiknya jelas meningkat adalah kualitas lini bertahan. Kedatangan Gustavo Franca seperti memudahkan kinerja Nick Kuipers di area pertahanan. Musim lalu, Persib yang menjadi juara telah kebobolan 38 gol dari 34 pertandingan. Sedangkan musim ini, Maung Bandung jadi yang terbaik urusan pertahanan. Mereka baru kebobolan 27 gol dari 29 pertandingan. Itu berarti, Persib hanya kebobolan 0,9 gol di setiap 90 menit.
Sepakbola Adaptif
Bukan cuma jadi tim yang paling jarang kebobolan, Persib juga jadi tim yang paling jarang kalah. Sejauh ini, mereka baru merasakan dua kali kekalahan. Itu didapat saat menghadapi Dewa United dan Persebaya Surabaya. Salah satu strategi jitu untuk meminimalisir kekalahan adalah sepakbola adaptif yang diusung Bojan Hodak.
Pelatih asal Kroasia itu memang memegang peran penting dalam keberhasilan Persib musim ini. Dirinya bukan pelatih yang selalu memaksakan filosofi sepak bolanya. Sebagai tim unggulan, Bojan tak segan untuk bermain lebih bertahan jika diperlukan. Secara form, tetap sama, Bojan menggunakan 4-3-3. Namun, mental bermainnya yang diubah.
Contoh, saat bersua tim kuat macam Dewa United atau bertandang ke markas Persija Jakarta, Maung Bandung menggunakan skema 4-3-3 bertahan. Sedangkan menghadapi tim dengan kualitas yang jauh di bawah Persib, maka tim akan disulap menjadi 4-3-3 menyerang.
Lantas, apa bedanya? Kan sama-sama 4-3-3. Nah, jika dalam situasi bertahan, Bojan Hodak akan memainkan dua pivot di lini tengah. Contohnya saat menahan imbang Persija dengan skor 2-2, Bojan memasang Klok dan Alis di belakang Tyronne. Sedangkan melawan tim lemah macam Semen Padang atau Persis Solo, Bojan akan memainkan Kocijan sebagai single pivot. Lalu, di depan Tyronne akan mendapat partner gelandang yang juga berjiwa menyerang. Bisa Alis atau Darwis.
Sialnya, jika benar-benar juara, Persib tak akan punya waktu lama untuk berpesta. Masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah regenerasi. Mau sampai kapan mengandalkan pemain-pemain tua ini? DDS bahkan akan berusia 36 tahun November nanti. Jika tak terselesaikan, Persib bisa saja kembali ke setelan pabrik. Jadi tim yang berkutat di empat besar, tapi selalu gagal mengakhiri musim dengan gelar.
Sumber: Tempo, Poskota, Detik, CNN Indonesia


