Ketika Manchester United menunjuk Ruben Amorim sebagai pelatih baru mereka, banyak yang menyambut keputusan ini dengan harapan besar. Juru taktik yang disebut Sang Penyair oleh Cristiano Ronaldo ini datang dengan reputasi menjanjikan dari Portugal. Di Sporting Lisbon, ia dianggap arsitek revolusi, pelatih muda dengan filosofi modern, membawa klub tersebut juara Liga Portugal setelah penantian panjang selama 19 tahun.
Namun, realita di Old Trafford tak semanis dongeng di Lisbon. Harapan akan kebangkitan instan Manchester United di bawah Amorim ternyata jauh panggang dari api. Musim perdana pria 39 tahun ini berubah menjadi lembaran suram dalam sejarah klub berjuluk The Red Devils ini.
Andai saja Amorim bertahan lebih lama di Sporting Lisbon dan mengacuhkan tawaran dari Manchester Merah, kisah bagi kedua belah pihak pasti tak begini rupa. Lantas, apa yang bakal terjadi kalau Amorim tetap melatih The Leoes dan bangku kepelatihan di Old Trafford diisi oleh figur lain?
Dan inilah cerita tentang itu semua…
Tergoda Tawaran Manchester United
Dalam dunia sepak bola, ada satu keputusan yang bisa menentukan segalanya: pindah atau bertahan? Dan bagi Ruben Amorim persoalan jadi tak mudah ketika yang datang menggoda adalah Manchester United. Karena ketika klub sebesar dan bersejarah Setan Merah yang datang meminang, kita semua tahu: ini bukan cuma tawaran pekerjaan biasa. Bisa jadi kesempatan sekali seumur hidup. Tawaran ini pun selayaknya ujian iman.
Amorim pun disebut takluk lantaran gaji fantastis yang diberikan oleh Manchester United. Sebagai gambaran, jika tetap berada di Lisbon, Amorim cuma mengantongi 2,15 juta pounds per tahun. Sementara itu Manchester United sanggup mentransfer 3 kali lipat lebih banyak.
Namun Sang Penyair yang memang dikenal pandai bersilat lidah membantah faktor materi tersebut. Amorim bilang kalau dirinya butuh sesuatu yang lebih dari apa yang sudah diraih bersama Sporting Lisbon.
“Saya kira di dalam hidup setiap orang, ada waktu-waktu ketika kita sedang sangat sukses di dalam hidup tapi kita merasa kehilangan sesuatu atau kita menginginkan sesuatu atau untuk membuktikan sesuatu,” kata Amorim.
Kiprah Bapuk Ruben Amorim di Manchester United
Omongan super percaya diri Amorim ini justru jadi bumerang. Memang segala sesuatunya butuh proses, tapi di rimba Premier League yang kejam, fan nggak mau tahu dengan segala tetek bengek bernama proses. Yang ada harus menang, menang, dan menang. Sebab hanya dengan cara itu marwah klub yang berlogo setan memegang trisula ini dapat terangkat kembali. Tapi kenyataannya, musim ini posisi Manchester United nggak kunjung melenting ke papan atas. Lalu apa bedanya dengan Manchester United di era si botak Erik Ten Hag?
Sampai-sampai para legenda hidup seperti Wayne Rooney, Paul Scholes, Gary Neville, hingga Roy Keane, tak bosan dan bergantian mengkritik Amorim. Mulai dari metode latihan, taktik di lapangan, hingga mental tempe para pemain.
Amorim dinilai hanya menghadirkan mimpi buruk baru. Skema permainan yang dulu memikat di Liga Portugal kini tampak nggak efektif di Premier League. Amorim juga diyakini kesulitan mengontrol ruang ganti, gagal menyesuaikan taktik dengan karakter pemain, dan terlihat gamang dalam menghadapi tekanan media Inggris yang brutal.
Dalam waktu singkat, publik Old Trafford mulai mempertanyakan apakah mereka telah menaruh harapan pada orang yang salah?
Namun sebelum Amorim, perlu diingat kalau harapan fans Setan Merah pun sudah dibuat patah berulang kali. David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Erik Ten Hag, semua dianggap nggak cukup bagus untuk standar super tinggi yang dipasang Manchester United.
Pasca era gemilang Sir Alex Ferguson, Setan Merah seolah menjelma jadi klub yang potensial. Namun potensial yang dimaksud adalah potensial dalam merusak bakat dan karier mentereng seorang pelatih. Mereka datang sebagai pelatih terhormat tapi pergi dengan meme yang bertebaran di mana-mana.
Bahkan bisa jadi Amorim bakal angkat koper dari Old Trafford dengan jiwa yang terkoyak. Pasalnya, sudah mulai berhembus rumor kalau para petinggi Manchester United berencana mendepak sang pelatih anyar. Terutama setelah kekalahan ngenes di laga kontra Newcastle United.
Andai Ruben Amorim Tetap di Sporting Lisbon
Di sisi yang lain, rasa kecewa dan kesedihan menyelimuti Sporting Lisbon. Kepergian Ruben Amorim bukan sekadar kehilangan seorang pelatih, tapi juga kehilangan identitas baru yang sedang dibangun. Fans Sporting masih ingat bagaimana Amorim menyulap pemain-pemain muda menjadi kekuatan utama, bagaimana ia menanamkan mental juara dalam tim yang dulu selalu dianggap sebagai pelengkap dalam perburuan gelar.
Bagi para pemain, Amorim bukan hanya pelatih, tapi mentor dan figur inspiratif. Maka wajar jika kabar kepergiannya ke Inggris disambut dengan perasaan dikhianati. Banyak yang merasa bahwa ia menyerah pada rayuan kekayaan dan ketenaran Premier League, meninggalkan proyek yang belum selesai, demi nama klub besar yang sudah lama kehilangan kejayaan
Bagaimana jika Amorim tetap bertahan di Sporting Lisbon? Mungkin, saat ini Sporting Lisbon sudah jauh meninggalkan para pesaingnya. Sayangnya Benfica kini menempel klub asal kota Lisboa itu dalam perburuan gelar Liga Portugal.
Padahal saat masih di bawah komando Amorim, di 16 laga awal Sporting Lisbon nggak terkalahkan. Namun sejak beralih ke tangan Joao Pereira, Sporting hanya merasakan tiga kemenangan dari delapan laga. Hingga akhirnya manajemen klub memecat pelatih yang merupakan mantan pemain Timnas Portugal itu dan menunjuk Rui Borges.
Seperti lazimnya pergantian, memang selalu ada pengganti, tapi sayang hasilnya tak sesuai dengan keinginan hati. Andai Amorim tetap melatih Sporting Lisbon, maka klub yang pernah melahirkan superstar seperti CR7, Luis Nani, dan lainnya ini bakal menjadi kekuatan yang dominan, bukan hanya di Portugal, tapi juga di Eropa. Dengan kontinuitas proyek dan filosofi yang terjaga, Sporting bisa saja melaju lebih jauh di Liga Champions.
Pemain-pemain muda seperti Gonçalo Inácio atau Dario Essugo, Geovany Quenda, dan lainnya bisa berkembang menjadi bintang kelas dunia di bawah bimbingan Amorim.
Mungkin, Sporting adalah klub yang sedang menulis sejarah baru, dipimpin pelatih yang setia pada visinya. Sporting bisa menjadi contoh ideal manajemen jangka panjang. Bahkan Sporting bisa jadi wajah untuk Timnas Portugal yang mencetak generasi emas baru karena filosofi pembinaan tak terputus.
Dan yang paling menyakitkan, mungkin Ruben Amorim bisa saja menjadi pelatih legendaris, bukan karena ia mencoba menyelamatkan Manchester United, tapi karena ia memilih bertahan dan menyelesaikan cerita hebat yang sudah ia mulai di Lisbon.
Penutup
Amorim harus belajar bahwa kadang yang terbaik bukan soal pergi ke tempat yang lebih besar. Tapi bertahan dan membuat yang kecil jadi besar. Di era modern di mana uang, eksposur, dan ego sering menang, keputusan untuk bertahan jadi bentuk perlawanan.
Ruben Amorim, andai tetap bersama Sporting Lisbon, bukan sekadar pelatih. Dia jadi simbol, bahwa kesetiaan, visi jangka panjang, dan logika sehat masih ada tempatnya dalam sepak bola.
Dan Manchester United? Mungkin suatu hari mereka akan berubah. Mungkin juga tidak. Tapi satu hal pasti: Jika Amorim memilih bertahan, dia menyelamatkan kariernya dari klub yang telah lama lupa caranya membangun dan hanya pandai merusak.
Tapi sayangnya waktu tak bisa kembali dan sejarah tak mengenal kata “jika”. Dan sekarang, Amorim hanya bisa berharap bahwa waktunya di Old Trafford bukan sekadar catatan kegagalan baru dalam daftar panjang penderitaan Manchester United.


