Berbicara tentang dunia manajerial dalam sepak bola, sejatinya hanya perputaran waktu. Dari yang awalnya saling adu musuh, tiba-tiba secara tidak mengejutkan bisa menjadi rekan kerja, dan manager dalam sepak bola pun begitu, hanya tinggal menunggu waktu untuk saling merasakan bagaimana atmosfer melatih suatu klub secara bergiliran.
Seperti kebanyakan pelatih hebat lainnya, seorang Mourinho pun lahir dari pemain lapangan terlebih dahulu. Namun berbeda dengan nama mentereng Pep Guardiola, Zinedine Zidane, ataupun Didier Deschamps yang pada eranya mantan pemain hebat, Mou hanyalah butiran debu alias pemain amatiran. Atau bahasa kasarnya kalau jaman sekarang ya ngampas gitulah. Dia hanya menempuh 7 tahun menjadi pemain sepak bola profesional dan langsung memutuskan pensiun di usianya yang masih terbilang muda, yaitu 24 tahun. Eh itu si Lingard nggak mau pensiun aja apayah? Barangkali bakatnya memang menjadi pelatih. Eits, jangan salah kau, Lingard udah gacor lagi bareng Moyes.
Keputusan yang tepat memang, karena Mourinho menyadari sejak awal bahwa dirinya tidak berbakat menjadi pemain bintang, terbukti dengan dirinya yang hanya mampu memperkuat klub kecil kampung halamannya seperti Comercio e Industria, Sesimbra, Belenenses, dan Rio Ave. Nah yakin deh saya kalian aja nggak pernah denger itu nama-nama klub, mentok klub Portugal yang kalian kenal ya paling Sporting Lisbon, Benfica, sama FC Porto noh yang kemaren baru lolos ke babak perempat final setelah ngalahin Ronaldo CS.
Jose Mourinho bersama klub lamanya Belenenses. Cc : @SimplyMourinho @josecfcmourinho pic.twitter.com/IJcohPbdjY
— CHAMPIONS !!! (@48chelseafc) March 4, 2014
José Mário dos Santos Mourinho Félix menapaki awal karirnya di dunia kepelatihan bermula justru saat dirinya menjadi translator alias penerjemah bagi Sir Bobby Robson di Sporting Lisbon. Ya maklum kan ye, Bobby Robson ini kan orang dari negeri berbahasa Inggris, dan kebetulan emang kaga bisa Bahasa Portugal, sampai datanglah Mourinho membantu dia dengan menjadi translatornya. Karena bagaimanapun faktor bahasa adalah komponen terpenting dalam dunia sepak bola, ya klean bayangin aja pas pelatih ngejelasin taktik pake bahasa yang kaga kita ngarti, pusing lah pasti dan ujungnya bilang, “nggak bisa basa enggres.”
Oke lanjut, saat Bobby Robson hengkang ke FC Porto pun Mourinho juga ikut serta diajak kesana. Nah dari situ Mourinho tidak hanya berperan menjadi translator saja, tapi udah naik kasta cuy jadi asisten pelatih. Nah dari situlah akhirnya Mourinho mulai lebih mendalami dunia kepelatihan cemana.
Lepas dari kampung halaman, Mourinho ikut juga sama Bobby Robson ke Barcelona, dia disana cukup lama bahkan sampai di era Louis Van Gaal. LVG yang pada saat itu merekrut Mourinho menjadi bagian tim suksesnya tidak akan pernah tahu, kalau sosok Mou lah yang nantinya akan menjadi penyebab terpecatnya karir kepelatihan dia di Old Trafford.
Kala nonton film bola dgn background manager, kebanyakan soal masa jayanya. Tp di dokumenter Bobby Robson ini cukup kuat sedihnya. Ga perlu adegan dramatisir tp memang drama karir Sir Bobby. Pelatih di balik sukses Mourinho & Ronaldo. Bisa ditonton di Netflix pic.twitter.com/fE5uo2E3FH
— SBR (@ruangtaktik) February 8, 2020
Usai menimba ilmu dari ahlinya di Spanyol, Mourinho pulang kampung ke Portugal dan melatih Benfica. Bukan lagi sebagai asisten pelatih, namun menjadi pelatih sesungguhnya. Sayangnya karena konflik dengan petinggi klub, Mou akhirnya hijrah kembali ke FC Porto. Disanalah kegemilangan Mourinho sebagai pelatih mulai diakui dunia, yaitu dengan membawa Porto juara Liga Champions. Gimana nggak gila coba, Porto yang notabene klub underdog di Eropa bisa menjuarai kasta tertinggi itu, asli deh Arsenal mah lewat jauh banget.
Usai mengukirkan kisah indah bersama Porto, Mourinho mulai menjajal ke kompetisi yang cukup kompetitif di dunia dengan menjadi pelatih Chelsea, dimana saat itu The Blues masih anget angetnya karena dapet duit dari sultan Russia dan jadi KKB alias Klub Kaya Baru. Tidak sulit bagi Mourinho, dana transfer yang dituruti pihak manajemen menjadikan dirinya pesaing baru yang merusak kejayaan Manchester United dan Arsenal saat itu.
Bukan Mourinho namanya jika tidak berselisih dengan petinggi klub, usai ribut dengan Roman Abramovich, Mou memilih pindah ke Italia dengan melatih Inter Milan. Ya namanya berlian mau ditempatkan dimana saja tetap akan berkilau, bersama Inter dirinya meraih treble winner yang menjadikan Inter adalah satu-satunya klub Italia yang berhasil treble, juga sejauh ini menjadi klub Italia terakhir yang menjuarai Liga Champions.
Triplete RT @SerieA_Lawas: 5 tahun yg lalu @Inter meraih treble winners dibawah asuhan pelatih Jose Mourinho pic.twitter.com/EViCknTwRg
— Febrianto Boby (@axl_queen) May 22, 2015
Tak berselang lama setelah mengantar Inter juara, Mourinho menandatangani kontrak baru dengan Real Madrid. Balik ke Spanyol dan melatih rival abadi Barcelona yang dulu sempat menjadi rumahnya. Ya bukan Mourinho kalau tidak suka membuat kejutan, alasan dia ke Madrid pun karena sebelumnya ada perselisihan dengan petinggi Inter. Meskipun tidak juara Liga Champions, tapi cukup lumayan juga karena mengantarkan Los Blancos juara La Liga, dimana itu menjadi juara terakhir dan cukup lama bagi Madrid untuk mendapatkannya kembali.
Usai dari Madrid Mourinho balik lagi ke Chelsea. Ya namanya mantan, pas udah balikan paling indah di awal doang kan ya, kedepannya ya jadi nggak seindah dulu. Mourinho akhirnya dipecat, untuk selanjutnya menandatangani kontrak dengan Manchester United, menggusur posisi Louis Van Gaal sang mentor dari kursi manajerial Setan Merah.
Perbedaan filosofi klub, kemauan transfer yang tid ak dituruti, konflik dengan pemain, dan perbedaan pandangan dengan petinggi klub kembali mewarnai perjalanan karir Mourinho di kota Manchester. Meskipun akhir-akhir ini dirinya sempat mengungkapkan bahwa hubungan dia dengan Manchester United sebenarnya baik-baik saja sampai sekarang. Hampir tiga tahun menukangi MU, Mou harus mengakhiri perjalanannya di Old Trafford karena dipecat.
Tottenham Hotspur menjadi klub Inggris ketiga yang merasakan tangan dingin Mourinho. Akhir tahun 2019 lalu Mou resmi melatih Tottenham menggantikan posisi Mauricio Pochettino. Pelatih yang dulu sempat dirumorkan akan menggantikan posisi Mourinho di MU malah sebaliknya, Mou yang menggantikan posisi Poche di Spurs. Lagi-lagi, dunia manajerial di sepak bola itu hanya perputaran waktu.
Perjuangan Mourinho bersama The Lilywhite nyatanya tak semudah bayangan. Sempat superior hingga menduduki posisi puncak klasemen pada awal musim ini, sekarang Tottenham justru terlempar cukup jauh dari zona Liga Champions. Meskipun peluang mendapatkan trofi masih ada juga di Carabao Cup dan Europa League. Hanya tinggal menunggu apakah Mourinho masih bisa mempertahankan eksistensinya sebagai pelatih spesialis trofi, atau mungkin masanya melatih sudah habis dan kutukan tahun ketiga akan kembali terulang?
Memang tekanan di Tottenham Hotspur tentu tak sebesar kala dirinya melatih United yang merupakan klub besar yang sering disorot media, bukan pula seperti Chelsea yang memiliki petinggi super nggak sabaran pake banget, ataupun Real Madrid yang banyak fans-nya cuma mau timnya berjaya. Tapi fakta bahwa Tottenham sudah 13 tahun tidak merasakan gelar juara apapun akan menjadi tantangan dan pressure tersendiri bagi siapapun yang melatihnya.
Hanya tinggal bagaimana baiknya saja buat Mourinho, memilih kompetisi mana yang akan menjadi prioritas. Karena rasanya agak mustahil sekarang jika mau menyapu bersih semua kompetisi. Seperti yang kita lihat, Tottenham baru saja kalah dari Arsenal dan selisih poin dengan zona Liga Champions mencapai enam poin, belum ditambah klub lain yang berpotensi menjadi perusuh, terlampau sulit mengejar empat besar mengingat liga sebentar lagi juga akan usai. Mungkin menjuarai Europa League akan menjadi opsi yang bagus, karena dengan cara itu Tottenham akan merasakan trofi yang lumayan bergengsi bagi mereka sekaligus lolos UCL jalur beasiswa.


