Brasil lagi-lagi menjadi sebuah tempat yang sukses telurkan bakat sepak bola dunia. Kali ini, dari salah satu sudut kota di Italia, muncul nama remaja tampan bernama Alexandre Pato.
Pato yang begitu sukses meniti karir junior di tanah kelahiran langsung membuat klub mana pun terkesima. Saat itu, AC Milan menjadi klub yang sangat beruntung karena berhasil mendapatkan pemain berjuluk Si Bebek.
Pato memiliki kemampuan mumpuni untuk menjadi seorang penyerang sejati. Kecepatan alami dan skill yang amat berarti, membuatnya begitu dicintai kala tengah berlari. Pato tak hanya sekadar talenta biasa. Perangai nya kala membawa bola terus mengingatkan kita bahwa Brasil layak disebut raja dalam hal menghasilkan pemain-pemain dengan kualitas ternama.
Pato tak ubahnya menjadi mutiara baru dalam skuat Samba. Bersama dengan nama-nama senior seperti Romario, Rivaldo, Ronaldo hingga Ronaldinho, ia layak disebut sebagai penerusnya.
Alexandre Rodrigues da Silva atau yang lebih akrab dipanggil Alexandre Pato, lahir pada 2 September 1989 di Brasil. Julukan Alexandre Pato atau “Alex Si Bebek” berasal dari nama kota kelahirannya, Pato Branco, yaitu sebuah kota di Brasil yang jika diterjemahkan berarti “Bebek Putih”.
Pato yang awalnya meniti karir sebagai pemain futsal lambat laun bermigrasi ke lapangan hijau. Disaat sedang mencoba bangkit dari situasi mengenaskan keluarganya, Pato sempat mendapati dirinya diserang oleh penyakit tumor ganas. Namun saat itu, seorang dokter rela memberinya pengobatan gratis. Hal itu benar-benar berarti bagi seorang Pato. Pasalnya berkat sang dokter, ia bisa meneruskan perjalanan menuju klub Internacional.
Ya, pada usia 16 tahun, bakat Pato berhasil tercium oleh klub tersebut.
Meski usianya tergolong muda, Pato yang memang punya kemampuan terbaik langsung dimasukkan kedalam skuat yang berlaga di ajang Piala Dunia Antar Klub. Di kompetisi itu, Pato memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang mencetak gol dalam ajang yang diselenggarakan oleh FIFA.
Pato memecahkan rekor Pele sebagai pemain termuda yang tampil di kompetisi yang diselenggarakan FIFA. Saat itu, Si Bebek masih berusia 17 tahun 102 hari di laga melawan Al Ahly. Sementara Pele berusia 17 dan 239 hari ketika dia mencetak gol melawan Wales di ajang Piala Dunia FIFA 1958.
Tampil di turnamen itulah yang membuat Pato menarik minat klub-klub besar Eropa. Milan, Arsenal, Chelsea, Barcelona dan Real Madrid pernah mengajukan tawaran atasnya. Sang mutiara muda asal Brasil menjadi sorotan di mata dunia. Namun, hanya AC Milan yang dianggapnya sebagai klub paling serius meminatinya.
Tak butuh waktu lama, pada musim panas 2007, Pato resmi digaet oleh klub yang bermarkas di San Siro.
AC Milan memboyongnya ke Italia pada 2 Agustus 2007 dengan biaya sebesar 22 juta euro atau setara 340 milliar rupiah. Namun sayang ia baru dapat diturunkan di partai resmi pada 3 januari 2008, saat bursa transfer kembali dibuka, Hal itu dilakukan sesuai dengan peraturan sepakbola Italia tentang pemain muda non-Uni Eropa.
Bermain di Milan menjadi awal yang begitu baik bagi Pato. Wajah imut dan sikap yang masih sedikit lugu ditunjukkan Pato kala tampil pertama kali bersama Milan. Seolah menjadi bocah di pinggir lapangan yang diajak bermain oleh tetangga nya yang lebih dewasa, Pato begitu bahagia kala pertama kali menapakkan kaki di rumput lapangan Italia. Wajah sumringah nya kala itu tergambar jelas dalam pertandingan melawan Napoli.
Seolah tak punya beban apapun, Pato langsung membayar kepercayaan Milan yang sudah rela membawanya menuju Italia. Di laga melawan klub yang bermarkas di San Paolo, Pato langsung mencetak gol di laga debut Serie A dalam laga melawan Napoli yang berakhir dengan skor 5-2 bagi Milan.
Gol yang dicetaknya itu tentu masih diingat betul oleh para tifosi Milan. Mereka seakan baru saja memperkenalkan seorang remaja ajaib yang nantinya akan guncangkan panggung Eropa.
Kaki lincah, kemampuan tendangan yang baik, serta kepercayaan diri tinggi membuat Pato langsung mendapat tempat di tim utama Rossoneri.
Di musim kedua bersama Milan, atau pada 2008/09, permainan Pato semakin kesankan siapapun yang melihatnya. Dalam raut wajahnya terdapat masa depan Milan yang cerah. Di setiap gerak-geriknya terdapat harapan para penggemar yang begitu membahana, dan dalam setiap gol yang dicetaknya, Pato seolah mengatakan bahwa ia adalah sang raja baru di tanah Italia.
Pato mengakhiri musim 2008/09 sebagai top skor Milan dengan 18 gol yang ia cetak. Catatan tersebut jelas bukan sembarang raihan. Pato sukses membuktikan bahwa kualitasnya sama sekali tidak bisa diremehkan. Disaat ada beberapa pemain muda yang gagal beradaptasi di Italia, Pato malah dengan gagah melangkah mulus tiap temui hadangan.
Tak berhenti di situ, di musim 2009/10, Pato kembali bersinar. Ia berhasil mencetak dua gol di salah satu kandang terangker di Eropa, Santiago Bernabeu, dan membawa Milan menang tandang atas Real Madrid di Liga Champions. Pato akhirnya ia diganjar gelar Pemain Muda Terbaik Serie A di awal tahun 2010.
Namun setelah membangun pondasi yang begitu kuat, langkahnya tiba-tiba terhenti oleh masalah cedera. Ia tersandung akar dari segala kegagalannya, yaitu mendapat masalah cedera yang membuat performanya menukik cukup tajam.
Kendati begitu pada musim 2010/11 Pato sempat menjadi bagian dari tim terbaik AC Milan yang memenangkan gelar scudetto Serie A. Bersama dengan Robinho, Cassano, hingga Zlatan Ibrahimovic, Pato turut serta membawa Milan menjadi jawara di Italia untuk kali ke delapan belas.
Pasca mengangkat Piala yang diidamkannya, Pato kembali temui masalah cedera. Kali ini, ia seperti tak punya tenaga untuk kembali melangkah. Ia sering berada di ruang perawatan hingga membuat namanya mulai akrab dengan bangku cadangan.
Meski selalu bisa melakukan comeback, Pato pada akhirnya seperti menyerah juga dengan keadaan dan fakta bahwa ia rentan cedera pada 2013. Saat itu Pato memilih meninggalkan AC Milan untuk pulang kampung ke Brasil dengan membela Corinthians.
Pulang ke Brasil membuat namanya mulai menurun. Talentanya mulai disingkirkan dan performa Si Bebek asal negeri Samba perlahan tak mendapat sorotan. Pato tak pernah menyentuh level terbaiknya pasca dihajar cedera secara gila-gilaan.
Nafas panjangnya mulai tersendat. Ia tak pernah bisa kesankan penggemar. Hal tersebut jelas berimbas pada perjalanannya, dimana tim yang dibelanya tak pernah percaya untuk berikan durasi kontrak panjang.
Gagal bersinar di Corinthians membuat Pato beberapa kali dipinjamkan, termasuk ke Sao Paolo hingga Chelsea. Meski pernah menjadi remaja ajaib asal Brasil, namanya tak benar-benar mendunia. Pada musim 2016/17, Pato akhirnya terdampar ke Spanyol bersama Villareal.
Hanya semusim disana, bakatnya kemudian cuma laku di kompetisi China. Pato masih dipandang bintang disana. Meski tak pernah berikan gelar, Pato mampu bertahan selama dua musim lamanya.
Lalu setelah tak mendapat apa-apa, Pato kembali langkahkan kaki ke Brasil. Ia pulang dan bergabung dengan Sao Paulo. Pato sebenarnya sempat mendapat tawaran kembali ke AC Milan. Namun tampaknya ia merasa tak akan mampu berikan apa-apa. Oleh sebab itu, ia lebih memilih untuk pulang kampung dan menikmati karir di tanah kelahiran.


