Penyebab Ompongnya Serigala Roma Dibawah Mourinho

spot_img

Kedatangan The Special One, Jose Mourinho di Roma awalnya diharapkan menjadi juru selamat bagi AS Roma. Seluruh fans Giallorossi berharap tuah The Special One ketika ia meraih Treble bersama Inter Milan bakal ditularkan.

Namun, sejak mengambil alih Roma hingga Februari 2022 Mourinho belum menunjukan hasil yang menggembirakan. Roma masih tertatih untuk masuk zona Champions League dan secara permainan belum menjanjikan.

Lini Pertahanan Rapuh

Lini belakang menjadi salah satu masalah yang belum bisa dibenahi Mourinho di AS Roma. Bobroknya lini belakang tim arahan Mourinho memang cukup mengejutkan. Pasalnya, Mou terkenal sebagai pelatih yang mengutamakan pertahanan yang kokoh sebagai kunci kesuksesannya.

Sayangnya, itu belum bisa diterapkan Mourinho di Roma. Serigala Ibu Kota masih sangat mudah ditembus oleh para lawan. Secara data, dari awal tahun 2022 AS Roma sudah kebobolan 16 gol di semua kompetisi.dalam 10 pertandingan yang dijalani.

Roma tersingkir dari Coppa Italia oleh Inter, dan kalah dari para rival seperti Juventus, Lazio serta AC Milan. Bahkan pasukan pertahanan Mou di tahun 2022 ini hanya mencipta dua kali clean sheet saat melawan Genoa 0-0 dan menang tipis dari tim papan bawah Spezia 1-0.

Format pertahanan Mourinho terlihat tidak konsisten dalam penerapannya. Ia terkadang dari match ke match sering berganti sistem dengan tiga atau empat bek. Taktik tiga bek Mourinho ditujukan atas respon keterbatasan skuad yang ia miliki, karena beberapa pemain silih berganti absen.

Dalam format 3-5-2 atau 3-4-2-1 yang Mourinho terapkan di AS Roma, ada celah di lini belakang yang acap bermunculan. Alhasil AS Roma cuma sekali mencatatkan clean sheet dengan format itu.

Lubang yang kerap muncul di antara wingback dan tiga bek tengah sering bisa dimanfaatkan oleh lawan. Selain rapuhnya pertahanan, individual error dari bek macam Smalling maupun Mattias Vina juga sering jadi penyebab gawang Roma yang dikawal Rui Patricio gampang kebobolan.

Lini Serang Kurang Produktif

Selain lini pertahanan, Roma juga memiliki masalah pada lini depan. Total gol AS Roma sejak Januari 2022 sampai Februari 2022 pun masih di angka 17 gol dari 10 pertandingan.
Sang striker andalan, Tammy Abraham pun tak punya pelapis yang memadai untuk bisa menyumbangkan gol. Apesnya, Abraham juga tak begitu konsisten dalam membobol gawang lawan.

Sampai giornata ke-27, baru ada 12 gol yang dibuat Abraham. Melihat catatan tersebut plus kualitasnya, eks striker Chelsea itu harusnya bisa membuat banyak gol jika kemampuan finishing-nya baik. Artinya, ada persoalan dalam hal finishing yang perlu diperbaiki.

Nicolo Zaniolo yang biasa menjadi tandem Abraham di lini depan juga kurang berkontribusi banyak. Gol yang Zaniolo buat cuma dua dari beberapa peluang yang didapatkan musim ini.

Sebenarnya, Roma masih memiliki seorang Lorenzo Pellegrini dari lini kedua. Pellegrini menjadi penggawa terproduktif kedua dengan kemasan enam gol. Selain menjadi pendulang gol, gelandang 25 tahun itu juga piawai mengkreasikan peluang.

Beberapa umpan kunci Pellegrini mampu menembus pertahanan lawan, namun tak jarang juga gagal dikonversi menjadi gol. Masalahnya, sering kali Pellegrini berkutat di ruang perawatan. Sudah delapan kali Pellegrini absen di Serie A musim ini karena cedera.

Taktik Mourinho Usang?

Hal lain yang menjadi masalah di tubuh Roma musim ini di bawah Mourinho adalah masalah taktik. Musim ini, mengumpulkan 44 poin dari 27 pertandingan dan berada di posisi 6 klasemen merupakan start yang kurang manis bagi Roma. Hasil kurang memuaskan itu menunjukkan “kekunoan” taktik Jose Mourinho.

Taktik Mourinho yang pragmatis dan reaktif gagal menyesuaikan perkembangan era sepak bola modern seperti sekarang. Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola dalam perkembangan taktik berubah secara cepat.

Para pelatih muda bereksperimen dan mengadopsi gaya bermain modern football dengan dasar basic data dan pengamatan statistik seperti yang dilakukan Klopp, Guardiola maupun Nagelsmann. Para pelatih yang sudah uzur tak jarang ketinggalan dalam perubahan era ini.

Oleh karena itu, preferensi gaya Mourinho kurang populer saat ini daripada daripada masa keemasannya dahulu. Sementara, akhir-akhir ini bisa dikatakan penerapan taktiknya sudah mulai usang. Gaya kepemimpinan pria portugal itu terlihat kuno dan mudah dibaca lawan. Fans Roma pun kerap mengkritik hal tersebut.

Sepakbola pragmatis dan reaktif ala Mou sering bermasalah ketika pemain yang menjalankannya tidak hebat secara kualitas individu. Beda ketika Mou di Inter, Chelsea, MU maupun Real madrid. Di mana dia dicekoki pemain-pemain bintang berkualitas ketika itu.

Hal ini berarti secara pengembangan taktik baik di Spurs maupun Roma sekarang yang berisikan pemain pas-pasan, ia selalu menemui kesulitan. Sistem permainan pragmatis dan reaktif miliknya tidak berjalan secara baik secara tim.

Sering Menyalahkan Wasit Dan Pemain

Salah satu sifat buruk Mourinho yang kerap dicap sebagai pelatih kontroversial adalah kurang baik menguasai manajemen tim dan media. Saat ini di AS Roma, Mourinho sering membuat keluhan tentang para pemainnya. meski apa yang dibutuhkan Mourinho dalam membeli pemain di AS Roma sekarang cenderung terpenuhi.

Hal-hal yang menyangkut faktor di luar lapangan sering kali tidak dikuasai oleh Mourinho. Ia sering membuat perlakuan yang “tidak perlu”. Seperti menyalahkan dan mengkritik wasit ataupun memarahi dan menyalahkan pemainnya sendiri di depan awak media.

Jose Mourinho beberapa kali menyampaikan kritikan kepada para pemain AS Roma. Mourinho bahkan diketahui sempat memarahi seluruh pemain IL Lupi di ruang ganti usai kalah melawan Inter Milan di ajang Coppa Italia. Pelatih asal Portugal itu menyebut para pemain AS Roma bermain menyedihkan dan layak berlaga di kompetisi kasta ketiga Liga Italia.

Mourinho juga memarahi para pemain di ruang ganti ketika mereka takluk atas Juventus 4-3. Ketika itu, para pemain Roma dianggap lemah dan tidak dapat bersaing.

Kemudian, ketika dibantai klub antah berantah, FK Bodø/Glimt di Conference League 6-1, Mou menyebut kalau kualitas pemainnya jelek. Hal ini membuat para pemain tidak termotivasi sekaligus takut dan tertekan. Cara yang dilakukan Mou ini kerap dikritik para seniornya macam Di Canio maupun Fabio Capello.

Mourinho juga tak jarang memaki wasit dan VAR ketika timnya dirugikan. Seperti ketika mereka kalah 2-3 atas rivalnya, Lazio. Dan yang terakhir ketika Mou mengejek wasit di laga kontra Hellas Verona yang membuat dirinya diusir dari lapangan.

Bagaimanapun hingga Februari 2022 ini performa AS Roma cenderung stagnan bahkan kurang berkembang secara permainan. Dari pertahanan dan penyerangan yang masih lemah ditambah penerapan taktik usang Mou, serta sikap “tidak perlu” Mou di luar lapangan menjadi beberapa penyebab masih ompongnya serigala Roma di bawah Mourinho, yang katanya banyak orang berjuluk The Special One itu.

Sumber Referensi : worldsoccertalk, totalfootballanalysis, onefootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru