Carlo Ancelotti menikmati masa hebatnya bersama Real Madrid. Tak peduli musim ini bakal kembali menggamit Si Kuping Besar, atau kelak Los Galacticos justru memberhentikannya.
Apa pun itu, Don Carlo memang sangat melekat pada kesuksesan. Di Los Merengues ia memberi trofi yang diidam-idamkan publik Santiago Bernabeu. Benar, La Decima. Sepanjang perjalanannya melatih, Carletto bahkan sudah menaklukkan lima liga top Eropa. Tidak ada yang menyamai rekor itu.
Namun, walau bagaimana pahit manis selalu mengiringi perjalanan Carletto. Ia pernah dipecat, disingkirkan, dan dipaksa menyingkir. Salah satu yang boleh jadi menyakitkan adalah ketika Don Carlo dikhianati oleh Paris Saint-Germain, raksasa Prancis yang tak kunjung meraih trofi Liga Champions.
Daftar Isi
Kedatangan Carlo Ancelotti ke PSG
Paris Saint-Germain yang hari ini menguasai Liga Prancis itu adalah tim bau kencur. Tim yang bahkan terakhir kali juara liga pada tahun 1994. Sejak saat itu sampai kedatangan Carlo Ancelotti, PSG tak pernah sekali saja juara Liga Prancis.
Selama bertahun-tahun PSG seperti tidak dimudahkan jalannya untuk meraih titel Liga Prancis. Padahal PSG sudah mulai bertabur bintang, bahkan sebelum kedatangan Qatar Sports Investments.
Mikel Arteta and Ronaldinho at PSG 🇫🇷 pic.twitter.com/675nTOPONy
— Classic Football Shirts (@classicshirts) July 6, 2022
Mikel Arteta, Nicolas Anelka, Jay-Jay Okocha, Mauricio Pochettino, Gabriel Heinze, sampai Ronaldinho pernah memperkuat PSG pada awal tahun 2000-an. Tapi gelar Ligue 1 masih saja melayang. Hingga Nasser Al-Khelaifi dengan Qatar Sports Investments-nya menyiram duit ke klub itu tahun 2011.
Carlo Ancelotti akhirnya ditunjuk untuk menggantikan Antoine Kombouare di pertengahan musim 2011/12. Tapi sayang, upaya itu masih menemui kegagalan. Alih-alih PSG yang kampiun, justru tak terduga Montpellier yang merebut trofi itu.
🗣️ Carlo Ancelotti on the reasons for his departure from PSG: “They told me that if I didn’t beat Porto, they would sack me. I told them, how can you say that to me, it breaks our trust.” @GFFN pic.twitter.com/CdLYNrtcg1
— Infinite Madrid (@InfiniteMadrid) April 26, 2022
Membawa PSG Buka Puasa Gelar
Sejak ditunjuk pada Januari 2012, Ancelotti sejatinya mulai bergerak di bursa transfer. Maxwell dan Thiago Motta adalah salah dua yang didatangkan Don Carlo.
Proyeknya itu kemudian mulai terlihat. Ketika musim pertamanya melatih, walau tak menjuarai Ligue 1, tapi PSG sukses kembali ke Liga Champions sejak terakhir kali melakukannya pada musim 2004/05.
Carletto pun makin serius membenahi Les Parisiens. Dukungan penuh Nasser Al-Khelaifi dan direktur olahraga, Leonardo menjadi bahan bakar Ancelotti untuk mewujudkan gelar juara Ligue 1 yang dirindukan PSG. Carletto kembali mendatangkan pemain.
Lucas Moura, Ezequiel Lavezzi, Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, sampai tentu saja David Beckham merapat. Dengan sepak bola yang jauh dari kata atraktif, Ancelotti sukses mengantarkan trofi Ligue 1 ke Parc des Princes pada ujung musim 2012/13. Itu adalah trofi Liga Prancis pertama setelah 19 tahun.
Real Madrid are officially Champions of Spain!🏆
— Odibets Kenya (@odibets) April 30, 2022
Carlo Ancelotti becomes the first manager in history to win all 5 major European leagues 👏
🏆 Serie A 🇮🇹
🏆 Premier League 🏴
🏆 Ligue 1 🇫🇷
🏆 Bundesliga 🇩🇪
🏆 LaLiga 🇪🇸
Legendary!✨ pic.twitter.com/zCAA6BdEXL
Ancelotti tidak hanya menaklukkan Liga Prancis, tapi sekaligus menyelamatkan muka PSG di Prancis. Apa jadinya kalau PSG kala itu tak berhasil menggamit trofi liga? Namun, ada sebuah kejanggalan di sana. Ancelotti mengubah total gaya permainan PSG.
Sebelumnya, PSG memainkan sepak bola indah dan menarik dengan permata Argentina, Javier Pastore menjadi poros permainan. Nah, Ancelotti menerapkan gaya serangan balik. Permainan yang sangat membosankan karena cenderung menunggu.
Di sisi lain, walau juara, PSG acap kali kerepotan ketika harus menghadapi tim papan bawah dengan strategi itu. Selain itu, nah ini yang janggal, Direktur Olahraga PSG, Leonardo menyebut timnya dibangun untuk level Eropa, bukan Prancis doang. Ekspektasi itu gagal diwujudkan Don Carlo.
Hubungan Carletto dan PSG Memburuk
Perjalanan PSG di Liga Champions musim 2012/13 harus terhenti di babak perempat final. Meski sebetulnya PSG punya kesempatan untuk memulangkan Barcelona karena menahan imbang 2-2 di Paris. Namun, hasil imbang itu malah petaka. Sebab di leg kedua, PSG juga ditahan imbang 1-1.
Blaugrana bisa lolos karena unggul gol tandang. Akan tetapi, prahara sudah terjadi di badan PSG sebelum laga tersebut. Ancelotti terlibat hubungan tak sehat dengan manajemen PSG, termasuk Leonardo. Ini terbilang aneh. Tadinya, alasan Carlo Ancelotti mau melatih PSG adalah keberadaan Leonardo di sana.
Dilansir media Spanyol, Universo Valdano sebagaimana dikutip The Sun, Ancelotti mengatakan, ia bergabung ke PSG karena Leonardo juga mantan anak asuhnya di AC Milan. Carletto juga sangat tertarik dengan proyek yang dicanangkan Qatar untuk PSG.
Leonardo mengizinkan Ancelotti mengubah struktur sesi latihan, seperti soal makanan dan waktu latihan. Don Carlo mengubah waktu latihan, di mana pemain PSG harus datang setengah jam sebelum dimulai dan harus pulang setengah jam setelah sesi latihan selesai.
Akan tetapi, PSG malah mengubah paradigma proyeknya di tengah jalan. Ia menilai Les Parisiens hanya mau instan saja. Keinginan serba instan ini tak disukai Ancelotti.
Ancelotti Diancam
Awal musim 2012/13, Ancelotti memberi kesan yang buruk. Waktu itu, dalam tiga pertandingan awal Ligue 1, PSG gagal memenangkannya. Padahal lawan yang dihadapi ‘hanya’ Lorient, Ajaccio, dan Bordeaux. Sepanjang musim itu, Ancelotti cukup kesulitan saat menghadapi tim papan bawah.
Lalu di Liga Champions, PSG tersentak dengan kekalahan atas Porto di laga kedua fase grup. Kekalahan yang kendati cuma 1-0, tapi begitu menyakitkan. Rasa sakit itu bahkan membekas pada manajemen PSG, termasuk Leonardo. Kekalahan itu membuat para petinggi PSG mengultimatum Ancelotti.
PSG akan menghadapi Porto di laga terakhir fase grup Liga Champions pada 4 Desember 2012. Kalah pun sebenarnya PSG masih bisa lolos ke fase gugur. Tapi para petinggi mengancam Ancelotti untuk memenangkan laga itu.
“Menang atau Anda (Ancelotti) dipecat!” Demikian bunyi ancamannya. Kekalahan atas Nice pada tiga hari sebelum laga itu disinyalir juga menjadi penyebab lahirnya ancaman tersebut.
‘Beat Porto or you’re fired’ – #Ancelotti claims #PSG exit was due to broken trust https://t.co/LTTgopdbyU pic.twitter.com/DDWyqKmP84
— Chris Burton (@Burtytweets) April 26, 2022
Makin Retak dan Ada Tawaran Melatih Real Madrid
Hubungan PSG dan Ancelotti makin retak. Don Carlo yang tak suka diancam merasa tersinggung dengan ancaman itu. Maka, meskipun akhirnya mengalahkan Porto dan membawa PSG ke perempat final Liga Champions, tapi Ancelotti tetap ingin hengkang.
Di tengah prahara itu, Real Madrid sedang membutuhkan pelatih baru. Mendengar kabar tersebut, Ancelotti membulatkan tekadnya agar PSG membebaskan kontraknya untuk ke Bernabeu. Tapi keinginan itu ditentang oleh Nasser Al-Khelaifi.
Nasser tak mengizinkan Ancelotti pindah karena masih terikat kontrak setahun lagi dengan PSG. Sementara itu, dilansir The Guardian sebagaimana laporan L’Equipe, Leonardo juga tak mencari penggantinya. Prioritas bos PSG adalah mempertahankan Ancelotti. Titik!
Tapi mantan jugador AC Milan itu bertahan pada pendiriannya. Setelah melewati diskusi yang panjang dengan para petinggi Les Parisiens, pengunduran diri Ancelotti pun dikabulkan. Ia merapat ke Real Madrid yang kelak dibawanya meraih La Decima.
Throwback to La Decima, Carlo Ancelotti’s greatest triumph at Real Madrid 🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆🏆 pic.twitter.com/8KdgSNLEHu
— B/R Football (@brfootball) June 1, 2021
Penyesalan Ancelotti
Seiring berjalannya waktu, Don Carlo melalui media Le Figaro seperti dikutip ESPN mengungkapkan penyesalannya bagaimana ia berakhir di PSG. Ancelotti mengatakan memang ada permasalahan di PSG. Namun, katanya itu hanyalah permasalahan kecil.
Carletto juga mengakui hubungannya dengan Nasser Al-Khelaifi sudah membaik. Ia juga sempat menampik bahwa hubungannya dengan Leonardo pecah. Ancelotti bahkan sempat bersimpati kala Leonardo mundur dari direktur olahraga PSG. Apa pun itu, masalah antara PSG dan Ancelotti sudah berlalu.
Sumber: TheSun, GFNF, GOAL, TheGuardian, Reuters, EuroSport, ESPN


