Pemain keturunan Indonesia, Sandy Walsh tinggal selangkah lagi bisa membela Timnas Indonesia. Keinginan Sandy untuk memperkuat pasukan merah putih di panggung sepakbola mulai menemui titik terang.
Kabarnya Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Zainudin Amali belum lama ini telah memberikan lampu hijau dan bakal membantu proses naturalisasi Sandy Walsh, serta satu pemain lainnya yakni Jordi Amat.
Kabar ini diungkapkan langsung oleh Zainudin Amali di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (10/2) lalu. Zainudin Amali mengumumkan sendiri hasil rapat dengan PSSI dan pelatih Shin Tae-yong.
Menpora Zainudin Amali merestui rencana PSSI untuk menaturalisasi Sandy Walsh dan Jordi Amat. Ia pun meminta federasi untuk menyiapkan administrasinya. https://t.co/ItcLyRcO1c
— detiksport (@detiksport) February 10, 2022
Setelah ini, Zainudin Amali bakal membantu proses administrasi Sandy dan Jordi agar bisa segera diproses ke DPR dan Kemenkumham pada tahap selanjutnya. Nah pada kesempatan ini kita akan membahas siapa itu Sandy Walsh.
Daftar Isi
Siapa itu Sandy Walsh?
Sandy Walsh lahir di Brussel, Belgia pada 14 Maret 1995. Ia berposisi sebagai pemain bertahan. Pemain berusia 26 tahun itu sendiri memiliki darah Indonesia dari sang ibu, Brigitta Portier.
Brigitta yang lahir di Swiss dan besar di Belanda diketahui memiliki darah Jawa dari kakek-neneknya. Sang kakek Sandy pernah mengungkapkan, berasal dari Surabaya, sedangkan sang ibu dari Purworejo.
Sang kakek dan nenek menikah dan kemudian pindah ke Belanda. Sedangkan sang ayah merupakan orang Inggris-Irlandia yang punya garis keturunan dari Somalia. Alhasil, garis keturunan itu bisa membuat Sandy memilih berbagai macam kewarganegaraan, yaitu Belgia, Inggris, Irlandia, Indonesia, Belanda, Somalia, dan Swiss. Namun, Sandy selama ini besar di Belgia dan saat ini dia memperkuat klub Liga Belgia, K.V Mechelen.
Proses Naturalisasi Sandy Walsh
Sandy, dengan garis keturunannya, sebenarnya punya peluang membela negara-negara dengan kultur sepakbola yang kuat seperti Inggris, Belanda dan Belgia, alih-alih Indonesia. Namun, dia lebih tertarik untuk dapat memperkuat Tim Merah Putih di pertandingan internasional.
Kabar keinginan Sandy untuk dapat mengenakan seragam merah putih dan mencium logo garuda di dada sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum Timnas Indonesia dilatih Shin Tae-yong.
Sejak tahun 2017, Sandy kerap kali memberikan kode lewat media sosial Instagram pribadinya bahwa ia sangat ingin membela Timnas Indonesia suatu saat nanti. Bahkan, pesepakbola berusia 26 tahun itu juga mengucapkan selamat saat ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus tahun 2017 silam.
Unggahan-unggahan Sandy di Instagram yang berkaitan dengan Indonesia praktis membuat kolom komentar Sandy dibanjiri ucapan, termasuk rayuan dari netizen Indonesia. Dukungan dari masyarakat Indonesia ini yang membuat Sandy semakin bersemangat untuk menjadi bagian dari Timnas Indonesia.
Keinginan Sandy untuk membela Timnas Indonesia pun sampai ke telinga PSSI, dan kebetulan Sandy Walsh merupakan pemain yang direkomendasikan Shin Tae-yong bersama tiga pemain lainnya yakni Jordi Amat, Kevin Diks, dan Mees Hilgers, meski kemudian dua nama terakhir gagal dinaturalisasi karena tak mendapat restu dari orang tuanya.
Proses naturalisasi Sandy Walsh sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, namun terbengkalai dan kabar proses naturalisasi itu kemudian muncul lagi pada November 2021. Ketika itu, Sandy mengaku dirinya sudah dihubungi untuk memberikan dokumen-dokumen untuk mengurus naturalisasinya. Termasuk dia mengurus permohonan paspor. Tak hanya hanya itu, Sandy juga mengaku rutin berkomunikasi dengan asisten Shin Tae-yong.
Terkini, Sandy Walsh dan juga Jordi Amat disebut-sebut proses naturalisasinya sudah mencapai 90 persen lebih. Kalau tidak ada halangan, keduanya sudah bisa memperkuat Timnas Indonesia tahun ini.
Karier Bermain Sandy Walsh
Sandy Walsh sebelum nantinya membela Timnas Indonesia, sebenarnya sudah pernah mencicipi pengalaman bersama Tim Nasional. Namun, timnas yang pernah dibela Sandy hanyalah Timnas Junior Belanda. Dia mendapat kepercayaan memperkuat Timnas Junior Belanda lantaran performa gemilangnya di level klub.
Sandy yang pernah menimba ilmu di akademi Anderlecht dari tahun 2003-2011, sempat memperkuat Belanda U-15 sampai U-20. Penampilan terbanyak yang dibuat Sandy Walsh bagi Timnas Belanda terjadi di jenjang U-17, ketika ia membuat 10 penampilan bagi De Oranje.
Tak hanya itu, dia juga pernah mempersembahkan gelar kejuaraan Piala Eropa U-17 pada tahun 2012, tapi di turnamen tersebut dia hanya memanaskan bangku cadangan.
Di level klub, setelah dari Anderlecht, Sandy melanjutkan petualangan ke klub raksasa Belgia lainnya, Genk. Dia sempat bermain di tim U-23 sebelum ditarik menjadi anggota tim senior Genk. Penampilan moncernya di sisi bek kanan membuat ia terus dipercaya tampil sebagai starter.
Bersama klub tersebut, Sandy Walsh pernah menikmati manisnya merengkuh gelar Piala Belgia tahun 2013. Sandy kemudian pernah merasakan atmosfer kompetisi Liga Europa. Dia pertama kali tampil pada musim 2013/14 bersama KRC Genk. Sandy bertahan di klub tersebut selama lima musim dengan mencatatkan 75 penampilan dan mencetak 2 gol.
Setelah puas menikmati kariernya bersama Genk, Sandy memutuskan untuk mencari petualangan dan pengalaman baru. Pada 2017, ia pindah ke Zulte Waregem, klub yang juga anggota Liga Belgia. Dia bertahan di klub tersebut sampai tahun 2020, sebelum memutuskan hijrah ke K.V Mechelen pada 2020.
Di klub terakhirnya itu, Sandy telah bermain sebanyak 56 kali dan mengoleksi 5 gol. Catatan yang tidak terlalu buruk bagi pemain yang berposisi sebagai bek.
Dampak Bagi Timnas Indonesia
Sandy Walsh merasa keputusan membela Timnas Indonesia di level senior pada ajang internasional merupakan keputusan terbaik, setelah harapan membela Timnas Belanda kian tertutup karena ketatnya persaingan.
Bergabungnya Sandy Walsh ke Timnas Indonesia tentu merupakan kabar baik. Akan tetapi, kehadiran Sandy Walsh juga berikan dampak buat pemain Timnas Indonesia lain. Potensi menjanjikannya berpotensi menyingkirkan pemain lain di posisi yang serupa.
Pemain kelahiran Brussel itu bisa memanaskan persaingan di pos bek kanan Timnas Indonesia yang selama ini menjadi milik Asnawi Mangkualam Bahar. Coach Shin bakalan bingung memilih antara menurunkan Sandy Walsh atau Asnawi di posisi tersebut. Karena kedua pemain tersebut sama-sama bisa bermain bagus saat bermain sebagai bek kanan. Jika Pun harus menggusur Asnawi, pemain asal Makassar itu masih bisa ditempatkan sebagai gelandang bertahan.
Namun, Indonesia sepertinya tak perlu dilema, karena meskipun Sandy Walsh ini pemain yang spesialisasinya sebagai bek kanan, tapi dia juga bisa bermain sebagai bek tengah, gelandang bertahan, atau bahkan sayap kanan. Jelas, ini merupakan sebuah keuntungan bagi Timnas Indonesia.
Coach Shin punya banyak pilihan memainkan posisi Sandy Walsh. Misal ada gelandang bertahan, sebut saja Rachmat Irianto yang berhalangan tampil, Sandy bisa ditempatkan di area situ. Atau pemain bek tengah yang cedera, nah Sandy bisa dicoba di tempatkan di bek tengah.
Meski belum resmi jadi WNI, Sandy tetap istiqomah menyiapkan diri untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik. Dia dikabarkan dalam enam bulan terakhir intens belajar bahasa Indonesia. Sebuah usaha yang tentunya patut kita acungi jempol buat Sandy Walsh. Menarik untuk kita ditunggu kiprah Sandy Walsh bersama Timnas Indonesia.


