Bagi kompetisi lain, Premier League tak ubahnya sebuah diklat. Mengapa demikian? Karena pemain-pemain jebolan Liga Inggris seperti mempunyai garansi bakal tampil apik. Mereka seperti digodok, ditempa dan siap bekerja maksimal jika dibeli oleh tim-tim dari liga lain, tak terkecuali Liga Spanyol. Namun, teori ini tak berlaku jika sang pemain bergabung Barcelona.
Dan inilah yang menghantui Marcus Rashford. Tak bisa dipungkiri, Barcelona juga punya riwayat bagus saat mendatangkan pemain dari Premier League. Seperti saat mendatangkan Luis Suarez dari Liverpool atau Gerard Pique dari Manchester United. Tapi, semakin ke sini kekuatan pemain-pemain jebolan Premier League seperti di-nerf ketika berseragam Barcelona.
Nggak percaya? Berikut adalah daftar pemain jebolan Liga Inggris yang akan menghantui Rashford dengan sepak terjangnya yang buruk. Entah itu dari performa, atau kesialan-kesialan lain.
Daftar Isi
Sergio Aguero
Dikenal sebagai predator ulung saat berseragam Atletico Madrid, Sergio Aguero justru bernasib tak mujur saat kembali ke Spanyol dalam balutan warna Catalan. Resmi bergabung dengan Barcelona pada Mei 2021 secara gratis, Aguero menemui akhir yang tragis.
Kala itu, Aguero datang membawa misi ganda. Selain untuk memperkuat lini depan, Aguero datang demi bisa bermain dengan sahabatnya di Argentina, Lionel Messi. Namun harapan itu kandas ketika Messi justru hengkang ke PSG beberapa minggu setelah Aguero tiba di Camp Nou.
Terlihat semakin buruk setelah karir Aguero jadi serba salah. Sejak awal pramusim, ia menderita cedera betis dan baru bisa melakoni debut pada Oktober 2021. Hanya beberapa minggu setelah debut, Aguero justru mengalami masalah serius. Pada Oktober 2021, saat laga melawan Alavés, ia merasakan sesak di dada dan sulit bernapas.
Pemeriksaan medis mengungkapkan bahwa ia mengalami gangguan jantung berupa aritmia. Di pertengahan Desember pun Aguero mengadakan konferensi pers yang emosional. Ia mengumumkan pensiun dari sepak bola profesional demi keselamatan jangka panjangnya. Aguero hanya mencatatkan lima pertandingan untuk La Blaugrana.
Pierre-Emerick Aubameyang
Jika Sergio Aguero berasal dari Manchester City, maka yang satu ini dari Arsenal. Mungkin kalian ada yang sudah lupa kalau Pierre-Emerick Aubameyang pernah berseragam Barcelona. Penyerang Gabon itu resmi bergabung dengan Barcelona pada Februari 2022 sebagai pemain bebas transfer. Ia dan Arsenal sepakat untuk mengakhiri kontraknya lebih cepat.
Kedatangannya ke Camp Nou terjadi di tengah kondisi keuangan klub yang sulit. Dan Aubameyang dipandang sebagai solusi murah namun potensial untuk mengisi lini serang Barca yang sedang krisis. Selepas kepergian Lionel Messi, Aubameyang bak seorang mini Messiah. Sebab, meski gabung di pertengahan musim, dampaknya langsung terasa.
Ia mencetak 13 gol dalam 24 penampilan di semua kompetisi. Sebelas di antaranya dicetak di La Liga. Aubameyang merasa nyaman. Ia menganggap masa-masa di Barca adalah masa terbaik dalam karirnya. Namun di balik semua itu, ia juga mengalami masa sulit. Rumahnya di Castelldefels disatroni perampok bersenjata, dan ia mengalami cedera rahang akibat serangan tersebut.
Sudah begitu, Auba tidak dipertahankan Barca. Setelah enam bulan, ia dilepas ke Chelsea karena Barca butuh duit. Penampilan apiknya tidak dihargai sama sekali. Kepindahannya ke Chelsea pun terlihat seperti sesuatu yang dipaksakan.
Ferran Torres
Ferran Torres barangkali jadi satu-satunya pemain yang masih berseragam Barcelona hingga sekarang. Betah bukan berarti Torres menikmati. Torres menjalani masa yang penuh tantangan sejak bergabung dari Manchester City pada Desember 2021. Saat pertama kali datang, harapan terhadap dirinya cukup tinggi.
Namun, seiring berjalannya waktu, Ferran justru kesulitan menunjukkan performa yang konsisten dan sulit menembus skuad utama La Blaugrana. Ferran bukan tanpa kesempatan. Barca, siapapun pelatihnya selalu memberinya menit bermain. Tapi performa yang sering naik turun membuatnya jarang mengangkat pantatnya dari bangku cadangan.
Situasi semakin berat bagi Ferran ketika Barcelona aktif mendatangkan dan melahirkan pemain-pemain baru untuk memperkuat lini serang. Seperti kedatangan Raphinha. Atau kelahiran Lamine Yamal ke skuad utama. Ferran pun kerap menjadi bahan kritik media dan fans karena tidak bisa memenuhi ekspektasi besar yang melekat. Kini ia masih berseragam biru merah. Tapi masa depannya terus dipertanyakan.
Philippe Coutinho
Tapi tenang, Ferran Torres belum apa-apa, ada yang lebih parah. Philippe Coutinho namanya. Didatangkan tahun 2018 dari Liverpool dengan mahar sekitar 135 juta euro, Coutinho boleh dikata cuma jadi investasi bodong Barcelona. Bahkan, banyak yang berkesimpulan, kepindahannya lah yang membawa Barca menuju krisis finansial seperti sekarang.
Didatangkan dengan harga selangit, harapan jelas setinggi langit pula. Ia bahkan diharapkan sebagai pengganti Neymar yang kala itu dipinang PSG. Namun, Coutinho justru mematahkan hati seluruh Cules. Pemain asal Brazil itu kesulitan menemukan bentuk permainan terbaiknya. Ia tidak pernah benar-benar cocok dengan sistem taktik Barcelona.
Puncak kesialan Coutinho terjadi ketika ia dipinjamkan ke Bayern Munchen pada musim 2019/20. Ironisnya, ia tampil lebih baik di sana dan bahkan mencetak dua gol ke gawang Barcelona dalam kekalahan memalukan 2-8 di perempat final Liga Champions. Laga itu jadi bukti bagaimana Barca gagal mengelolanya. Terus, apakah dengan performa itu Coutinho diminta fans untuk kembali? Tidak. Coutinho justru dicap pengkhianat.
Joao Cancelo
Mundur ke sektor belakang, ada Joao Cancelo. Meski hanya bergabung sebagai pemain pinjaman yang lagi-lagi dari Manchester City, nasibnya cukup nelangsa di Barcelona. Meski awal kedatangannya disambut antusias karena ia dikenal sebagai bek sayap modern yang ofensif dan fleksibel, perjalanan Cancelo di Camp Nou berakhir dengan kekecewaan.
Cancelo sudah tampil sangat baik di masa singkat itu. Ia bahkan membangun relasi dan koneksi yang baik dengan rekan satu tim dan manajemen. Sempat dijanjikan kontrak permanen, Cancelo justru dikhianati. Kontrak yang dijanjikan tak kunjung datang. Alasannya pun klise, masalah finansial.
Kondisi kantong Barca yang kian cekak membuat negosiasi dengan City tertatih-tatih. Kondisi ini membuat Cancelo tak pernah benar-benar merasa “di rumah” selama di Camp Nou. Meski Cancelo memiliki performa apik, masa-masanya di Barcelona justru lebih banyak diisi dengan kekecewaan. Barca tak bisa mempermanenkannya sehingga sang pemain dibuang ke Arab Saudi.
Hector Bellerin
Sebelum Cancelo, Hector Bellerin lebih dulu merasakan kepahitan di Barcelona. Sama-sama berposisi bek kanan, Bellerin barangkali jadi transfer random Barcelona pada 2022. Setelah masa peminjaman di Real Betis yang dinilai sukses, Barca yang memantau diam-diam pun mendatangkannya secara gratis dari Arsenal.
Ironisnya, Bellerin memang alumni La Masia, namun bukan pemain yang dibutuhkan Barca saat itu. Tapi kok didatangkan? Ya karena cuma Bellerin yang tersedia secara gratis. El Barca saat itu minim modal, minim opsi, jadinya ambil seadanya. Dan Bellerin didatangkan dengan harapan DNA La Masia masih tersisa di dirinya.
Namun entah mengapa Bellerin tak pernah punya tempat di skuad utama Barcelona yang kala itu dilatih oleh Xavi Hernandez. Bellerin tak cedera. Dirinya fit 100% dan siap dimainkan. Tapi, selalu terabaikan. Hingga pada akhirnya, Bellerin hanya jadi pajangan saja. Ia mencatatkan 7 penampilan tok, selama membela Barca.
Thomas Vermaelen
Masih dari Arsenal mart, Barcelona juga pernah mendatangkan Thomas Vermaelen. Dengan mahar sekitar 19 juta euro, Vermaelen didatangkan Barcelona tahun 2014. Keberadaannya diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan kedewasaan lini belakang Barca kala itu.
Namun, nasibnya sangat sial di Spanyol. Di musim debutnya, ia hanya bermain sekali saja di La Liga. Itu pun hanya 63 menit. Vermaelen diganggu cedera hamstring sepanjang musim. Saat Barcelona menikmati puncak kejayaan dengan meraih treble winners di musim 2014/15, Vermaelen hanya menjadi penonton dari pinggir lapangan.
Vermaelen bertahan di Camp Nou selama lima musim. Namun, tak pernah terlibat dalam momen-momen penting. Ia lebih sibuk mencari cara untuk menyembuhkan cederanya ketimbang cara menghentikan lawan. Selama lima tahun, jumlah penampilannya pun tak sampai 55 laga.
Begitulah nasib sial yang dapat jadi pembelajaran bagi Marcus Rashford. Jika Premier League disamakan dengan kawah candradimuka yang menggodok para pemain menjadi baja, maka Barcelona dengan segala tekanan, ekspektasi, dan dinamika internalnya justru jadi ujian terakhir. Yang menentukan apakah baja itu akan menjadi pedang tajam atau justru retak dan patah.


