Ada dua hal yang membuat Jose Mourinho melambung namanya. Kontroversi dan prestasinya sebagai pelatih. Mourinho yang mengaku dirinya sebagai “The Special One” memang benar-benar spesial. Ia adalah sosok pelatih pilih tanding.
Selain suka mengkritik, terutama pada pemainnya, Mourinho pun tak jarang mengembangkan para pemain bermutu. Memang ada pemain yang hancur di tangan Mourinho.
Tapi harus diakui, tak sedikit pula yang mengalami tumbuh signifikan berkat tangan midas Jose Mourinho. Dan rasa-rasanya, pemain-pemain tersebut wajib sungkem pada Mourinho. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
John Terry
Jose Mourinho menyulam benang emas di salah satu klub London, Chelsea. Bahkan selama melatih klub berjuluk The Pensioners itu, Mourinho tak sedikit menyumbangkan trofi. Ia juga sosok inspiratif di tubuh Chelsea. Mantan kapten The Blues yang dicintai penggemar, John Terry mengakui itu.
Dalam sebuah laporan Daily Mail, Terry mengatakan, Mourinho adalah sosok yang menginspirasinya. Selama lima tahun dilatih Mourinho, John Terry menyukai pribadinya. Menurut John Terry, Mou tahu kapan harus mengkritik dan kapan waktunya memuji pemain.
Bek tengah Chelsea itu menjadi salah satu yang cemerlang di tangan Mou. Mourinho ikut menatar karier John Terry selama di Chelsea. Ketika Terry tengah krisis kepercayaan diri, Mou menuntunnya agar keluar dari situasi itu.
Dalam sebuah wawancara dengan The Guardian, prioritas Mourinho ketika datang ke Chelsea adalah menghilangkan keraguan pada John Terry. Karena manajer lain, seperti Rafael Benitez justru tidak menaruh kepercayaan pada Terry dengan sering mencadangkannya.
Zlatan Ibrahimovic
Ada tiga hal untuk merangkum hubungan Jose Mourinho dan Zlatan Ibrahimovic. Pelatih spesial, pemain spesial, dan hubungan yang spesial. Media Spanyol, Marca bahkan menyebut hubungan antara Ibrahimovic dan Mourinho sebagai kisah cinta tiada akhir.
Zlatan dan Mourinho telah menjalin hubungan ketika keduanya berseragam Inter Milan. Pemain Swedia itu adalah sosok striker jenius. Di balik itu semua terdapat jasa Mourinho. Pelatih asal Portugal itu memiliki sikap yang menurut Zlatan sangat cocok dengannya.
Mou selalu menganggap para pemain adalah temannya. Zlatan merasa nyaman ketika dilatih Mourinho. Sang pelatih bahkan selalu mengiriminya SMS untuk menanyakan keadaannya.
Zlatan pun menjalin hubungan yang erat dengan Mourinho. Kolaborasi keduanya berhasil membuat Inter menguasai Italia. Keduanya menaklukkan Serie A dan Supercoppa Italia.
Didier Drogba
Mourinho memang banyak mengembangkan pemain ketika melatih Chelsea. Nama berikutnya yang muncul adalah Didier Drogba. Pemain Pantai Gading itu sejatinya terlambat berkembang ketika di Prancis. Namun, setelah pindah dari Guingamp ke Olympique Marseille, ia mulai menemukan permainan terbaiknya.
Mourinho yang hendak menyulap Chelsea jadi tim raksasa, setelah diakuisisi Roman Abramovich, mengangkut Drogba dari Marseille. Saat itu Mourinho sampai memaksa manajemen untuk mendatangkan Drogba, karena ia tahu talenta sang pemain.
Chelsea mendatangkan Drogba dengan mahar 24 juta poundsterling (Rp445,7 miliar). Tak butuh waktu lama bagi Drogba berkembang di tangan Mourinho. Ia menjelma tumpuan tim yang tak kenal takut, menindas bek tengah lawan di udara, dan memperdaya mereka ketika menyerang dengan kualitas finishing yang luar biasa.
Bersama Mou, Drogba memenangkan gelar Liga Inggris. Selama dilatih Mourinho, Drogba mencetak 73 gol dari 186 laga. Mou menjelma sosok penting bagi Drogba. Tak ayal ketika Mourinho keluar dari Chelsea menjadi pukulan telak baginya.
Diego Milito
Tatkala Jose Mourinho membawa Inter meraih treble bersejarah, banyak pemain hasil polesannya yang berkembang. Diego Milito adalah salah satu yang perlu kita ingat. Pemain Argentina itu berkembang di tangan Mourinho.
Milito bahkan mengatakan Mourinho adalah salah satu pelatihnya yang terbaik. Sebelum bergabung ke Inter, Milito tak mempunyai kesempatan di tim papan atas meski punya rekor yang bagus. Untung saja, ia dibawa Mourinho ke Inter pada 2009.
Di bawah arahan Mourinho, Milito meledak sebagai striker yang berbahaya. Ia bisa mencetak gol kemenangan Inter atas Roma di final Coppa Italia. Yang paling berkesan tentu saja ketika di final Liga Champions. Milito mencetak dua gol saat menghadapi Bayern Munchen.
Ada peran Mourinho dalam dua gol Milito tersebut. Ia menjadi sosok penenang. Sang pemain bertekad mencetak gol di laga itu. Namun, ia punya keraguan. Mourinho pun datang dan membuatnya tenang. Mourinho selalu memberikan Milito kepercayaan diri yang besar.
“Dia (Mou) menginginkan saya di Inter. Dia bukan hanya komunikator yang hebat, tapi juga sangat mampu memahami momen para pemain dan tim,’ kata Milito dikutip Sempre Inter.
Scott McTominay
Dalam jejak karier kesuksesan Scott McTominay di Manchester United ada peran Jose Mourinho di dalamnya. Apa jadinya McTominay tanpa Mourinho? Bisa apa dia kalau Mou tak memberinya kesempatan bermain? Mourinho melihat McTominay sebagai pemain U-23 yang paling menonjol.
Ia lantas membawanya ke tim utama MU. Faktanya, Mou memang membutuhkan sosok pelapis, terutama untuk Paul Pogba yang tak jarang cedera. McTominay beberapa kali diberi kesempatan bermain, salah satunya ketika menghadapi Sevilla di Liga Champions.
Mou yang awalnya tertarik dengan McTominay karena tinggi badannya itu tidak salah memainkannya. Sang pemain sanggup menyerap instruksi Mou. McTominay disiplin dalam mempertahankan posisinya. Ia juga cepat dalam mengalirkan bola.
Berkat Jose Mourinho, Scott McTominay pun mengalami lonjakan karier, terutama di Liga Inggris. Sampai hari ini bahkan ia masih diandalkan Erik ten Hag di Manchester United. Hal itu membuktikan bahwa Mou tidak salah memilih pemain dan hasil polesannya bisa bertahan lama.
Tammy Abraham
Tammy Abraham salah satu pemain pesakitan di Chelsea, terutama era Thomas Tuchel. Tuchel hanya memainkannya sebanyak 7 laga dan mencetak satu gol saja. Padahal di era Frank Lampard, ia cukup oke dengan 29 gol dari 72 laga.
Meski tampil buruk di masa terakhirnya di Chelsea, Tammy sejatinya ingin bertahan. Tapi keluarganya menyarankan agar ia berkarier di luar negeri. Ada dua tawaran kala itu: dari AS Roma dan Atalanta. Tammy memilih AS Roma dan ia bertemu The Special One.
Ia pun hanya butuh waktu singkat untuk beradaptasi dengan Mourinho. Salah satu pelatih terbaik di dunia itu sukses merajut hubungan baik dengan Tammy. Tidak hanya itu, sinar Tammy kembali terang.
Mourinho membuatnya kian berkembang. Selama ditukangi Jose Mourinho, Tammy bermain dalam 78 laga dan sudah membukukan 33 gol. Jumlah golnya bisa saja bertambah.
Namun, cara Mou mendidik Tammy agak lain. Mou lebih sering mengkritiknya, alih-alih memberinya pujian. Tammy tak masalah. Karena baginya kritik Mourinho adalah dorongan.
“Dia (Mourinho) selalu mendorong saya melakukan yang terbaik. Orang itu sepertinya tahu bahwa saya bisa melakukan yang terbaik,” kata Tammy Abraham.
Itu tadi pemain yang berhasil di tangan Mourinho. Dan mereka barangkali wajib sungkem padanya sebagaimana yang pernah dilakukan Paulo Dybala. Well, selain nama tadi, kira-kira ada lagi nggak nih, Football Lovers?
Sumber: DailyMail, Herald, Marca, TaleTwoHalves, SempreInter, Mirror, TalkSport, TheSun


