Pelatih Ini Ambil Keputusan Fatal dengan Melatih Chelsea

spot_img

Keputusan hari ini akan menentukan masa depan. Pernah mendengar kalimat itu? Hal yang demikian juga acap kali terjadi di dunia sepak bola. Setiap keputusan yang diambil akan berpengaruh ke karier, tidak hanya bagi para pesepakbola, tapi juga pelatih.

Nah, para pelatih berikut ini harus kehilangan kejayaannya setelah mengambil keputusan fatal dengan melatih Chelsea. Hm, siapa saja para pelatih tersebut?

Guus Hiddink

Bagi penggemar Chelsea, Guus Hiddink bukan nama yang asing. Pelatih yang bersahabat dengan Roman Abramovich itu pernah ditunjuk dua kali menjadi manajer sementara Chelsea. Salah satunya tatkala gantikan Luiz Felipe Scolari.

Pada tahun 2009, Hiddink ditunjuk menjadi manajer sementara. Sebelum mengambil kursi kepelatihan Chelsea, Hiddink meraih banyak sekali trofi. Apalagi ketika melatih PSV Eindhoven.

PSV Eindhoven adalah salah satu tim yang pernah meraih treble winner. Die Boeren meraihnya di musim 1987/88. Aktornya tiada lain Guus Hiddink. Selama ditukanginya, PSV merengkuh enam kali juara Liga Belanda. Tiga di antaranya bahkan diraih secara beruntun tahun 1987 hingga 1989.

Prestasi pelatih kelahiran Varsseveld ini tidak berhenti di level klub. Hiddink pernah menggemparkan dunia dengan membawa Korea Selatan. Ya, Korea Selatan! Ke semifinal Piala Dunia 2002. Itu bahkan satu-satunya prestasi terbaik tim Asia di Piala Dunia.

Hiddink menyelesaikan musim itu dengan membawa Chelsea juara Piala FA. Namun tersingkir di semifinal Liga Champions. Hiddink tak dipermanenkan. Akan tetapi, keputusannya untuk melatih Chelsea ternyata membuka pintu kesengsaraan. Sebab setelah pergi dari Chelsea, Hiddink seolah hilang kehebatannya.

Hiddink tak cuma melatih tim kelas medioker Anzhi Makhachkala, yang sekarang timnya bubar. Pelatih yang satu ini juga gagal melatih timnasnya sendiri ketika ditunjuk akhir 2014. 

Ketika dilatihnya, De Oranje hampir selalu kalah. Padahal sebelumnya Belanda bisa menjadi juara tiga di Piala Dunia 2014 kala dilatih Louis Van Gaal. Itu hanya salah satu kegagalannya. Setelah itu, Hiddink bahkan tak mendapat satu trofi pun.

Rafael Benitez

Kurang dari delapan menit, Liverpool mengejar ketinggalan tiga gol di final Istanbul 2005. Pemain Rossoneri pun jatuh mentalnya. Kemenangan Istanbul menjadi milik Liverpool.

Segmen epik itu diciptakan oleh Rafael Benitez. Kemenangan di Istanbul membuat nama Benitez melejit dalam semalam. Apalagi setelah ditelusuri, ia juga otak di balik salah satu episode terbaik Valencia.

Selama ada di bawah kendalinya, Los Che meraih tiga trofi bergengsi. Salah satunya Liga Eropa kala membuat sang juara Liga Champions, Marseille seperti ayam betina yang tak bisa bertelur. Kejayaan di Istanbul tak pelak melengkapi trofi Eropa-nya.

Di awal musim melatih The Reds, Benitez sudah mengantongi gelar Piala Super Eropa. Prestasinya makin lengkap usai setahun berikutnya, menumpas perlawanan West Ham-nya Alan Pardew di puncak Piala FA. Tahun 2010, Benitez ditunjuk jadi pelatih sementara Inter.

Bersama La Beneamata ia sanggup memberi satu gelar, yakni Piala Dunia Antarklub setelah meminta Etoโ€™o dan kolega mengajari main bola tim dari Kongo, TP Mazembe di partai final. Nah, tahun 2012, Benitez ditunjuk menangani Chelsea sementara.

Chelsea baru saja mendepak Roberto Di Matteo, si plontos yang memberi trofi UCL pertama. Benitez yang sedang sibuk memberi seminar kepelatihan di Abu Dhabi pun akhirnya memesan tiket penerbangan ke London.

Tapi sekali lagi, ia hanya manajer sementara. The Blues masih mengincar Pep Guardiola. Benitez dipilih karena Chelsea enggan menunjuk kembali Avram Grant yang kontroversial. The Blues memang terbuang dari UCL musim 2012/13. Akan tetapi, setelah longsor ke Liga Eropa, Benitez ternyata menyeriusi kompetisi itu.

Chelsea dibawanya ke final. Bahkan juara. Di akhir musim, Chelsea memilih Jose Mourinho daripada memberi kesempatan padanya. Setelah ini karier Benitez mulai menurun. Usai dilepeh The Blues, Napoli menampungnya.

Di Napoli. walau tanpa scudetto, tapi ia sukses mempersembahkan gelar Coppa Italia dan Piala Super Italia. Ironisnya, dua trofi itu adalah trofi prestisius terakhir Benitez. Sebab setelah itu kariernya makin gelap. Bahkan saat melatih Real Madrid.

Alih-alih menggondol trofi, ia malah menggondol masalah. Suasana ruang ganti Los Galacticos malah kacau karena hubungan buruknya dengan Cristiano Ronaldo.

Maurizio Sarri

Barangkali jika tak melatih Chelsea, Maurizio Sarri bisa menjaga konsistensinya. Sebelum ditunjuk The Blues tahun 2018, Sarri menjadi sukses membangun reputasinya di Italia. Bahkan ketika ditunjuk untuk melatih Napoli, almarhum Diego Maradona pernah memujinya sebagai pelatih yang tepat untuk Partenopei.

Padahal sebelum melatih, Sarri hanyalah seorang pegawai bank. Namun, karena berambisi menjadi pelatih sukses, Sarri meninggalkan pekerjaan yang kalau kata mertua, lebih terjamin itu. Sarri akhirnya fokus melatih. Diawali dengan tim-tim kecil.

Namanya mulai kelihatan ketika membawa Empoli promosi ke Serie A. Sarri masyhur dengan sepak bolanya yang disebut โ€œSarriballโ€. Sepak bolanya berkebalikan dengan mazhab sepak bola Italia. Dengan 4-3-3 andalannya, Sarri membuat tim yang dilatihnya lancar dan terorganisir dalam distribusi bola, mempesona tapi disiplin. 

Kemampuan itulah yang jadi modal saat melatih Chelsea. Dengan โ€œSarriballโ€ ia membawa The Blues juara Liga Eropa musim 2018/19. Namun, nama Sarri seakan tenggelam setelah itu. Betul bahwa ia mengantarkan Juventus scudetto. Tapi lihatlah sekarang, ia masih kesulitan menangani Lazio.

Frank Lampard

Tatkala menekuni dunia kepelatihan, Frank Lampard punya potensi. Walau tidak yang bagus-bagus amat. Lampard mengawalinya dengan melatih tim muda Chelsea. Lalu naik menjadi manajer utama Derby County tahun 2018.

Lampard mewarisi para pemain tua yang berpengalaman gagal promosi. Ada banyak yang perlu diubah. Lampard pun melakukan banyak perubahan di sana-sini. Lampard terbilang cerdik di pasar transfer kala melatih Derby. Gaya mainnya yang menyerang cepat juga menjadikan Derby pesaing papan atas di Championship.

Lampard membina banyak pemain. Harry Wilson salah satunya. Selain itu, Lampard juga orang di balik mentasnya bakat seperti Mason Mount dan Fikayo Tomori. Itu semua ia lakukan saat melatih The Rams. Sayangnya, Lampard terlalu cepat memutuskan untuk melatih tim besar.

Sebetulnya melatih Chelsea bukan barang baru baginya karena ia pernah melatih tim muda. Tapi melatih tim utama dan tim muda jelas berbeda. Walau awalnya menjanjikan, tapi ia gagal menukangi The Blues. Setelah tak lagi di Chelsea, hanya Everton yang sudi menampung Lampard. Itu pun ia nyaris membuat Everton degradasi.

Thomas Tuchel

Thomas Tuchel adalah orang yang terobsesi pada kemenangan. Sebuah laporan The Guardian menulis demikian. Sejak terjun di dunia kepelatihan, Tuchel selalu muak dengan kekalahan. Untuk itu ia terus belajar melatih.

Ia pun berkeliling Jerman untuk menimba ilmu dari para pesohor. Dari Erich Rutemoller, Ralf Rangnick, hingga Jurgen Klopp didatanginya. Dampaknya Tuchel bisa menciptakan gaya bermainnya sendiri.

Ia menjadikan tim-tim seperti Mainz, Dortmund, dan PSG laboratoriumnya. Tim yang dilatih Tuchel fleksibel secara taktik, terorganisir, dan cepat. Tak ayal jika ia bergelimang trofi. Di PSG, trofi-trofi domestik ia raih. Lalu di Dortmund Tuchel juga mengangkat trofi DFB Pokal.

Perjalanan paling sensionalnya adalah ketika melatih Chelsea. Tuchel ditunjuk untuk menangani The Blues setelah pihak klub tak percaya pada Lampard. Tak dinyana, Tuchel lah yang membawakan trofi UCL kedua buat Chelsea.

Akan tetapi, pilihan untuk melatih Chelsea adalah pintu gerbang menuju kenestapaan. Setelah didepak Chelsea, Tuchel seolah kehilangan kharismanya. Ia mengalami kesulitan menukangi Bayern Munchen, tim yang notabene kuat dan terbiasa juara. Die Roten bahkan tak sudi melanjutkan kerjasamanya dengan Tuchel.

Graham Potter

Salah besar kalau menyebut hebatnya Brighton and Hove Albion dimulai dari Roberto De Zerbi. Karena justru sosok Graham Potter lah yang memulai semua itu. Di tangan Potter, Brighton mendadak jadi tim yang sulit ditaklukan. Tim-tim Big Six bahkan pernah jadi korban.

Manchester United kalah dua kali lho di tangan Brighton-nya Potter. Pelatih berpaspor Inggris ini bahkan sudah mengalahkan hampir seluruh pelatih top yang pernah berkarier di Inggris. Arsene Wenger, Mikel Arteta, Marcelo Bielsa, Ralf Rangnick, Brendan Rodgers, Jurgen Klopp, Jose Mourinho, bahkan Josep Guardiola.

Kesuksesan Potter sebetulnya dimulai saat melatih tim Swedia, Ostersund. Ia membawa tim itu promosi tiga kali beruntun dalam tingkatan yang berbeda. Tak hanya itu, Potter juga mengantarkan Ostersund juara Piala Swedia tahun 2017. Sayangnya, portofolio hebat itu dirusak sendiri dengan melatih Chelsea.

Sulit mengatakan ini, tapi setelah ditunjuk tahun 2022, Chelsea di tangan Potter justru tak ubahnya seperti Rochdale FC. Bahkan setelah melatih Chelsea, Potter perlu merobek CV-nya. Itu agar orang lain tidak tahu kalau ia adalah manajer terburuk Chelsea sejak era Premier League.

Mengingat Chelsea saat dilatih Potter saja sudah membuat kita bergelak tawa. Tapi ada lho yang lebih lucu dari itu. Ya, Manchester United yang ingin menggantikan Erik Ten Hag dengan Graham Potter. Apa nggak tambah terkencing-kencing kita menonton MU kalau yang melatih adalah Potter?

Sumber: FootballCoin, Mirror, SkySports, TheseFootballTimes, FootballLondon, BBC, FootballLondon, TheGuardian

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru