Seorang pesepakbola sudah pasti seorang publik figur. Mengapa demikian? Sebab pesepakbola sudah pasti tidak akan luput dari sorotan media. Entah itu media massa maupun media sosial. Terutama media sosial, karena sekarang ini informasi lebih cepat berkembang di media sosial.
Namun, tentu selain bergelimang harta yang boleh jadi diinginkan banyak orang, sebagai seorang pesepakbola mendapat hal-hal yang tidak mereka inginkan sudah menjadi lumrah. Arus informasi yang begitu deras di media sosial, membuat seorang pesepakbola rawan mendapat perundungan di media sosial. Selain yang mungkin mereka alami di dalam maupun di luar stadion.
Media sosial memang menjadi racun bagi pesepakbola. Beberapa di antara mereka yang tidak kuat bahkan boleh jadi memilih untuk mengundurkan diri atau menepi dari hiruk pikuk dunia showbiz. Namun, bagi mereka yang ingin terus berkarier di dunia sepakbola, bertahan dan melancarkan kritik ke pemangku kebijakan agar mengusut tuntas kasus perundungan online adalah jalan pintas yang mesti ditempuh.
Daftar Isi
Pesepakbola yang Kerap Mendapat Perundungan di Media Sosial
Pemain andalan Manchester City, Raheem Sterling termasuk pemain yang sangat vokal menentang perundungan di media sosial. Ia yang juga tak jarang mendapat perlakuan rasisme, turut menyatakan sikap agar perusahaan media sosial bisa segera mengambil tindakan yang tepat pada kasus perundungan di media sosial.
Sterling sendiri menyayangkan bahwa sebenarnya teknologi untuk melakukan itu sudah tersedia. Hanya saja ini perkara pihak yang berwenang mau atau tidak. “Saya tidak tahu sudah ngomong ini berapa kali. Tetapi sepakbola dan platform media sosial perlu meningkatkan perannya dalam mengambil tindakan yang tepat dalam penyalahgunaan online,” katanya, seperti dikutip The Guardian.
Tentu yang dibilang Sterling benar adanya. Perundungan di media sosial para pesepakbola memang sudah sangat gawat. Selain Raheem Sterling, penyerang Manchester United, Marcus Rashford beberapa kali mendapat perlakuan tidak menyenangkan di media sosial. Apalagi ketika Manchester United mengalami kekalahan atas Atletico Madrid beberapa waktu lalu.
Bahkan Rashford sampai curhat di Twitter pribadinya. Ia bilang begini: “Sebuah video dapat melukiskan seribu kata dan dalam hal ini menyebabkan informasi yang tidak akurat dibagikan di media sosial. Teman-teman selama berminggu-minggu saya dicemooh, diancam, ditanyai dan tadi malam emosi saya membaik.”
There are 2 sides to every story. pic.twitter.com/Xl2PRyaX2c
— Marcus Rashford MBE (@MarcusRashford) March 16, 2022
Apa yang Bisa Dilakukan?
Jadi, apa yang bisa dilakukan otoritas terkait? Sebetulnya kasus perundungan di media sosial, termasuk di dalamnya komentar negatif adalah menjadi tanggung jawab klub sampai pengelola liga.
Namun, kepala olahraga di agen komunikasi Cicero, yang menangani sejumlah klub, pemain, Liga Inggris, dan Liga Spanyol, Ben Wright mengatakan bahwa tidak semua otoritas mampu melakukan hal serupa. “Beberapa hebat, beberapa tidak,” kata dia dikutip BBC.
Pernyataan Ben Wright itu mungkin benar belaka. Menurut laporan Sportstar, di Inggris untuk mencegah kasus rasisme online, Premier League justru hanya melakukan pemadaman media sosial. Disamping mereka juga mendesak agar media sosial yang bermanuver mencegah rasisme online. Namun, itu sama sekali belum menyelesaikan masalah.
Cara Liga Australia
Lain di Eropa, lain pula di Australia. Di negara yang kini masuk konfederasi AFC, ternyata liganya sudah mulai memikirkan bagaimana caranya melindungi para pemainnya dari komentar negatif, terutama di media sosial. Bahkan langkah yang dilakukan A-League, liga di Australia sudah sangat konkret.
A-League dan Professional Footballers Australia (PFA) tidak menyerahkan urusan itu kepada pihak perusahaan media sosial. A-League dan PFA memilih mengikat kerja sama dengan GoBubble Community. Tujuannya, untuk membuat teknologi canggih untuk mencegah kejahatan di ranah online yang menimpa para pemain.
There is no room for 𝐬𝐨𝐜𝐢𝐚𝐥 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐡𝐚𝐭𝐞.
We are proud to be part of an initiative with @thepfa & @GoBubbleTeam to 𝐜𝐨𝐦𝐛𝐚𝐭 it.
“We want the A-Leagues to be the most welcoming & safe place at every level – in our online communities and in real life,” – @drt15.
— Isuzu UTE A-League (@aleaguemen) April 4, 2022
Ini adalah langkah baru, yang diumumkan pada awal April 2022. Langkah ini menjadi yang pertama kalinya di dunia. Di mana A-League akan menerapkan perangkat lunak menggunakan kecerdasan buatan yang bisa mendeteksi, menyimpan, dan mengingat frasa, simbol, gambar, dan bahkan emoji yang menyinggung dan memblokirnya sebelum sampai ke pemain. Canggih bukan?
CEO A-League, Danny Townsend, seperti dikutip Media Week mengatakan, bahwa A-League memang punya misi menjadi tempat yang paling ramah dan aman di setiap level. Entah itu di dunia nyata maupun di dunia maya. Maka dari itu, menurutnya, langkah untuk menjalin kemitraan dengan GoBubble Community adalah langkah yang tepat.
“Teknologi GoBubble Community melindungi siapa saja yang mengikuti akun pemain, klub, dan liga dari penyalahgunaan media sosial yang berbahaya, dan menjaga komunitas tetap aman,” kata Danny Townsend.
Teknologi ini sama sekali tidak akan membatasi setiap orang untuk berkomentar, yang itu artinya mengusik kebebasan berpendapat. Hanya saja, dengan teknologi ini, setiap orang atau ketika di dunia maya disebut netizen, tetap bisa berkomentar apa pun. Cuma jika komentar itu cenderung negatif dan berbahaya, tidak akan terlihat oleh pemain.
Latar Belakang
Mengapa Liga Australia melakukan itu? Jelas untuk melindungi para pesepakbola. Jangan dikira A-League yang tidak populer di dunia itu bisa lepas dari segala hal yang menyangkut perundungan di media sosial. Tidak sama sekali.
Beberapa pemain yang bermain di A-League pernah merasakannya. Sebutlah misalnya yang baru-baru ini dialami oleh pemain Adelaide United, Kusini Yengi. Mengutip Daily Mail, Kusini Yengi mendapat rentetan ejekan di Instagram saat membawa timnya menang atas Victory 3-1.
Rekan setim Yengi, Josh Cavallo sampai mengatakan bahwa Yengi tidak bisa berkata-kata menanggapi ejekan tersebut. Kusini Yengi sulit menggambarkan kekecewaannya terhadap orang Melbourne yang mengejeknya di media sosial dengan mengungkapkan bahwa ia adalah seorang guy.
— Josh Cavallo (@JoshuaCavallo) October 27, 2021
Nah, langkah A-League dengan menggandeng perusahaan teknologi macam GoBubble Community adalah langkah yang tepat dan efisien, daripada harus memadamkan media sosial dan meminta perusahaan media sosial berbenah. Liga-liga di dunia, termasuk terntu saja Eropa mestinya meniru langkah ini.
Apalagi, jika merujuk pada pernyataan komisaris eSafety, Julie Inman Grant, bahwa setiap orang bisa dengan mudah berkomentar dari rumah. Dan itulah justru yang membawa petaka bagi para pesepakbola. Sebab dengan berkomentar dari rumah itulah seseorang bisa menghina pesepakbola tanpa harus bertatap muka.
https://youtu.be/PoLO8wVD82s


