Pakai Nomor 9, Olivier Giroud Menantang Maut di AC Milan

  • Whatsapp
Pakai Nomor 9, Olivier Giroud Menantang Maut di AC Milan
Pakai Nomor 9, Olivier Giroud Menantang Maut di AC Milan

Setelah menghabiskan 9 musim di Inggris, Olivier Giroud bakal memulai petualangan baru musim depan. Tak lama setelah tampil bagi timnas Prancis di Euro 2020, ia menyelesaikan kepindahannya ke AC Milan yang telah dirumorkan sejak lama.

Kabaranya, Milan hanya perlu menebus Giroud dari Chelsea dengan mahar 1 juta euro dan dapat bertambah 1 juta euro lagi tergantung kontribusinya untuk rossoneri. Sebuah harga yang terbilang murah untuk seorang juara dunia. Kepada Milan TV, Giroud yang dikontrak untuk 2 musim ke depan mengaku mencari tantangan baru.

Bacaan Lainnya

“Tim ini membuat saya bermimpi. Begitu banyak pemain hebat telah bermain di klub besar di Eropa ini. Milan memiliki sejarah besar di Eropa dan itulah mengapa saya ingin bergabung dengan klub.” kata Giroud dikutip dari BeinSports.

Profil dan Sejarah Karier Olivier Giroud

Olivier Jonathan Giroud lahir pada 30 September 1986. Striker bertinggi badan 193 cm itu memulai kariernya di akademi Grenoble. Setelah membela beberapa klub kasta bawah Prancis, Giroud kemudian meraih sukses pertamanya saat membela Montpellier.

Di musim 2011/2012, ia membawa klubnya juara Ligue 1 dengan melangkahi PSG. Di musim tersebut ia juga terpilih dalam tim terbaik liga usai jadi top skor berkat torehan 21 gol dan 9 asis. Giroud kemudian pindah ke Arsenal di musim panas 2012 dengan banderol 12 juta euro. Ia bertahan selama 6 musim di Emirates Stadium, memenangi 3 Piala FA dan 3 Piala Community Shields.

Selama periode itu, Giroud mengumpulkan 235 caps dan mencetak 105 gol. Salah satu gol terbaik yang ia cetak adalah gol “scorpion kick” yang ia buat ke gawang Crystal Palace pada tahun baru 2017. Gol yang mendapat penghargaan Puskas Award itu jadi trademark-nya hingga sekarang.

Giroud kemudian pindah ke Chelsea di musim dingin 2018 dengan banderol 18 juta euro. Selama 4 musim berseragam The Blues, ia sekali memenangi Piala FA, Liga Europa, dan Liga Champions. Selama periode itu, ia berhasil mencetak 39 gol dan 14 asis dari 119 penampilan.

Di Chelsea inilah Giroud bertransformasi. Pasalnya, ia didatangkan hanya untuk jadi striker pelapis. Namun bukan Giroud bila tak membuktikan kualitasnya. Meski menit bermainnya sudah berkurang jauh, ia tetap tajam.

Giroud jadi top skor Liga Europa musim 2018/2019 berkat torehan 11 golnya. Ia kemudian mengulang prestasi serupa dengan menjadi top skor Chelsea di Liga Champions musim lalu (6 gol).

Menurut catatan Opta, rasio golnya di Liga Champions musim lalu jadi yang terbaik. Ia rata-rata mencetak 1 gol setiap 43 menit penampilannya. Gol terakhir Giroud untuk Chelsea juga sangat spesial. Gol terakhirnya merupakan gol “Bicycle kick” yang ia buat ke gawang Atletico Madrid di babak 16 besar Liga Champions.

Kualitas itulah yang membuat AC Milan ngotot mendatangkan Giroud yang akan berusia 35 tahun di bulan September nanti. Musim lalu saja, ia bisa mencetak 11 gol dalam 31 penampilan di semua ajang.

Mentalitas dan pengalamannya akan sangat penting bagi Milan yang akan kembali berlaga di Liga Champions musim depan. Apalagi, ia merupakan juara dunia bersama timnas Prancis di Piala Dunia 2018 lalu. Ia juga pencetak gol terbanyak kedua timnas Prancis dengan koleksi 46 gol dari 110 caps.

Olivier Giroud Akan Pakai Nomor Terkutuk di AC Milan

Akan tetapi, kepindahan Olivier Giroud ke Milan mengundang perhatian khusus. Pasalnya, Giroud tak sembarangan memilih nomor punggung. Ia diperkenalkan sebagai pemilik baru nomor punggung 9 AC Milan.

Nomor punggung 9 di Milan merupakan nomor keramat dan sejak dulu dipakai oleh para striker legendaris. Nomor tersebut pernah dipakai para peraih Ballon d’Or seperti, Jean-Pierre Papin, Marco van Basten, dan George Weah. Hingga akhirnya nomor keramat itu dipakai Filippo Inzaghi sebagai pengguna tersukses terakhir.

Namun, sejak Filippo Inzaghi pensiun pada 2012 silam, pengguna nomor 9 berikutnya selalu gagal. Tercatat sudah 10 pemain yang menggunakan nomor peninggalan Inzaghi itu, tetapi takada satupun yang bisa dibilang berhasil.

Mulai dari Alexandre Pato, Alessandro Matri, Fernando Torres, Mattia Destro, Luiz Adriano, Gianluca Lapadula, Andre Silva, Gonzalo Higuain, Krzysztof Piatek, dan Mario Mandzukic semua jadi korban nomor terkutuk itu. Mereka adalah bomber yang cukup tajam di eranya, tetapi begitu memakai nomor tersebut, mereka seketika langsung mandul.

Takada satupun dari pemain tadi yang bisa mencetak minimal 10 gol dalam semusim di Serie A. Hanya Lapadula yang paling mending dengan 8 golnya. Sekelas Higuain yang pernah menyabet gelar top skor Serie A saja hanya mampu mencetak 6 gol.

Begitu pula Andre Silva yang kala itu ditebus dengan harga 38 juta euro. Ia hanya mampu mencetak 2 gol meski di Liga Europa bisa mencetak 8 gol. Sementara Fernando Torres dan Alessandro Matri hanya bisa membuat 1 gol. Catatan itu bahkan lebih buruk dari Mattia Destro dan Luiz Adriano yang bisa mencetak masing-masing 3 gol dan 4 gol. Rekor paling buruk ditorehkan Pato yang gagal mencetak satupun gol.

Bukti betapa keramatnya nomor ini telah diperlihatkan oleh Krzysztof Piatek. Striker Polandia itu awalnya memakai nomor 19 di paruh kedua musim 2018/2019. Dengan nomor punggung itu, ia bisa membuat 9 gol dalam 18 penampilan. Namun begitu ia memakai nomor 9 di musim berikutnya, ketajaman Piatek langsung luntur. Hanya 4 gol yang bisa ia cetak dalam 18 penampilan.

Pemain-pemain tadi jadi bukti betapa keramatnya nomor punggung 9 AC Milan yang musim depan bakal dipakai Olivier Giroud. Memilih nomor tersebut dapat diartikan menantang maut.

Giroud bakal jadi pengguna kesebelas dari nomor punggung 9 Milan. Musim lalu, nomor tersebut dipakai Mario Mandzukic. Sama seperti Pato, ia gagal mencetak 1 pun gol. Namun, Mandzukic tak berkenan digaji selama ia absen membela Milan. Sebuah gesture yang membuatnya seketika dicintai milanisti meski pergi tanpa sumbangan gol.

Target dan Ambisi Giroud di AC Milan

Akan tetapi, sekadar dicintai tanpa mencetak gol jelas bukan target bijak dan Giroud paham akan hal itu. Usai diperkenalkan sebagai pemain baru rossoneri, Giroud langsung mematok target tinggi, yakni membantu Milan bersaing untuk scudetto.

“Saya pikir Milan pantas bersaing di level tertinggi, untuk memperjuangkan Scudetto dan membuat Liga Champions yang hebat dan memainkan Coppa Italia yang sangat disukai penggemar.” kata Giroud kepada Milan TV.

Namun, keputusan Milan merekrut Giroud yang akan segera berumur 35 tahun dinilai cukup berisiko oleh beberapa pihak. Akan tetapi, ini bukan kali pertama Milan berurusan dengan striker gaek. Selama nyaris 2 musim terakhir, rossoneri sangat mengandalkan Zlatan Ibrahimovic yang sudah berusia 40 tahun.

Keduanya juga punya kemiripan soal fisik. Bukan soal tinggi badan dan kemampuan keduanya yang mahir membawa bola serta unggul duel-duel udara, tetapi stamina dan fisik keduanya yang masih prima di usia senja.

Giroud diketahui punya program diet yang ketat. Ia menghindari makanan olahan, gula dan makanan berminyak serta memiliki pola makan yang sebagian besar terdiri dari buah, sayuran, ayam, dan ikan. Jadwal latihan fisiknya juga padat dan ketat.

Diungkap oleh The Sun, di luar jadwal latihan klub, Giroud akan berlatih sendiri di rumah bahkan hanya libur tiap hari rabu saja. Alhasil, kondisi tubuh dan kekuatan Giroud tetap prima hingga sekarang. Pelatih Chelsea, Thomas Tuchel sangat memuji gaya hidup Giroud dan tidak terkejut dengan level kebugaran yang Giroud miliki.

“Dia berlatih seperti pemain berusia 20 tahun, seperti berusia 24 tahun. Dia adalah pria yang memiliki campuran yang baik antara serius dan gembira dalam pelatihan. Dia selalu positif dan itu merupakan faktor besar bagi grup,” kata Tuchel dikutip dari The Sun.

Kini, tugas Giroud di Milan bukan sekadar membuktikan kualitas fisiknya saja, tetapi juga kualitasnya sebagai striker kelas dunia. Apalagi ia memilih memakai nomor keramat Milan yang sudah menelan banyak korban.

Bila menilik dari capaian Filippo Inzaghi, Giroud butuh mencetak minimal 10 gol semusim di Serie A untuk layak disebut berhasil. Inzaghi berseragam Milan selama 11 musim. Selama periode itu, Super Pippo mencetak 126 gol dari 300 penampilan atau 11 gol permusim.

Sudah 9 tahun lebih nomor keramat warisan Pippo itu menelan korban. Giroud adalah pengguna kesebelas di tahun ke-10. Melihat dari angkanya, apakah kutukan tersebut akan habis di tahun ini? Hanya Giroud yang bisa membuktikannya.

Namun yang pasti, Olivier Giroud memilih nomor tersebut dengan senang hati dan ia mengaku tak sabar untuk bisa bermain bersama Zlatan Ibrahimovic.

“Saya tidak sabar bermain di samping dia. Saya kira, kami bisa bersenang-senang di depan gawang lawan. Kami akan berusaha untuk memenangkan sesuatu. Bersama Zlatan, semua akan berjalan lebih baik,” kata Giroud dikutip dari Goal.

***
Sumber Referensi: Milan.com, SempreMilan, Goal, The Sun, SkySports

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *