Pahit Manis Perjalanan Roberto Mancini Melatih Timnas Italia

spot_img

Arrivederci Roberto Mancini. Federasi sepakbola Italia, FIGC telah resmi mengumumkan bahwa Roberto Mancini telah mengundurkan diri sebagai Allenatore Gli Azzurri. Kepergiannya membuat publik berspekulasi karena gelaran Piala Eropa 2024 makin dekat.

Terlepas dari itu semua, kisah perjalanan Mancini menukangi Gli Azzurri sejak 2018 patut untuk diapresiasi. Banyak kisah manis yang ditorehkan Mancini. Tapi tak hanya melulu soal kisah manis saja, ternyata kisah pahit juga sempat membuat cela perjalanan Mancini di Timnas Italia.

Kedatangan Roberto Mancini

Sepakbola dunia sempat diguncang peristiwa menghebohkan ketika Timnas Italia kala dilatih Gian Piero Ventura gagal lolos ke Piala Dunia 2018 Rusia. Catatan hitam tersebut menjadi aib bagi publik negeri Pizza. Pasalnya mereka selalu jadi langganan ajang bergengsi dunia tersebut dan bahkan selalu jadi unggulan.

Tanpa menunggu lama, FIGC tanpa ampun memberhentikan Ventura dan menggantinya dengan Roberto Mancini pada Mei 2018. Mantan pelatih yang pernah sukses bersama Manchester City dan Inter itu ditunjuk untuk membawa Gli Azzurri lolos ke Piala Eropa 2020.

Rencana kerja pun disiapkan Mancini. Ia membentuk tim bersama para rekannya seperti manajer Andrea Oriali, Fausto Salsano, Alberigo Evani, Attilio Lombardi, dan Gianluca Vialli. Tim itulah yang mulai bekerja membentuk era baru Italia di bawah Mancini.

Perubahan Timnas Italia

Tak disangka era perubahan Italia makin terlihat. Termasuk dalam hal pemanggilan pemain. Tak lagi hanya fokus berpusat pada pemain bintang yang berada di klub besar saja, akan tetapi pemain di tim medioker yang bersinar macam Sassuolo pun tak luput dari pemanggilan.

Selain itu, meski Mancini pernah menyebut bahwa Oriundi atau pemain keturunan tak pantas membela timnas Italia, nyatanya ia tetap menggunakan jasa Emerson Palmieri, Rafael Toloi, maupun Jorginho.

Dari segi permainan, Italia pun makin agresif dalam menyerang. Pola 4-3-3-nya mampu berjalan dengan baik sesuai pemain yang ada. Italia dibuat tak lagi bermindset ortodoks. Pasalnya Italia ini dari dulu terkenal dengan pola catenaccio, seni bertahan dalam sepakbola. Bahkan di era modern kala dipegang Antonio Conte pun, masih sesekali mengadopsi filosofi tersebut.

Di era Mancini, kombinasi pemain muda dan tua juga menjadi ciri khas. Italia bagaimanapun tetap butuh pemain senior guna membimbing para pemain muda. Misal pemanggilan bek veteran Chiellini maupun Bonucci.

Juara Piala Eropa

Nah berkat beberapa sentuhan baru tersebut, Italia berhasil lolos ke Piala Eropa 2020 dengan hasil meyakinkan. Mereka lolos sebelum tiga laga tersisa. Italia menjadi juara grup selalu menang dalam 10 laga. Sebuah rekor bagi pelatih baru seperti Mancini.

Tren positif itu masih berlanjut di Piala Eropa 2020. Komposisi era baru Mancini mengejutkan banyak pihak. Termasuk trio baru gelandang Jorginho, Barella, dan Locatelli. Juga trio penyerang Insigne, Immobile, dan Berardi.

Perjalanan Gli Azzurri di turnamen ini terbilang mulus. Sebuah sejarah pun akhirnya bisa tercatat di Wembley bulan Juni 2021. Mancini sukses mengantarkan Italia sebagai juara Piala Eropa setelah mengalahkan Inggris lewat adu tendangan penalti.

Sebuah pencapaian tersendiri bagi timnas Italia. Pasalnya, gelar itu telah lenyap dari pangkuan sejak 1968 silam. 53 tahun sudah penantian itu berakhir. Mancini sukses berikan kenangan indah bagi rakyat Italia.

Gagal Lolos ke Piala Dunia

Namun pasca tampil sebagai juara Eropa, Italia di bawah Mancini menurun. Padahal hajatan terbesar berikutnya menuntut tuah Mancini, yakni membawa Italia lolos Piala Dunia 2022. Ajang yang sempat membuat pilu rakyat Italia karena tak bisa berpartisipasi di 2018. Tak mau dong Mancini mencoreng namanya sendiri karena gagal membawa negaranya itu lolos ke Qatar?

Namun apa yang terjadi? Italia kembali mengulangi nasib buruknya di 2018. Masih bermaterikan sebagian besar pilar Piala Eropa, Mancini gagal membuat skuad Gli Azzurri bermental Piala Dunia.

Memang sih di babak grup kualifikasi Italia tak terkalahkan. Hanya jadi runner-up grup dan harus memainkan babak playoff, malah jadi petaka bagi mereka. Duel playoff yang seharusnya menjadi mudah bagi Italia malah justru sebaliknya. Melawan negara semenjana Makedonia Utara, pasukan Mancini malah keok 1-0.

Mimpi Piala Dunia itu pun sirna. Mancini punya tanggung jawab moral yang besar pada rakyat Italia. Mancini telah mengecewakan rakyat Italia. Karena untuk kedua kalinya secara beruntun rakyat Italia dibiarkan dalam kesedihan dan kekecewaan absen di Piala Dunia.

Penurunan dan Tanggung Jawab Mancini

Turun, turun, dan turun, itulah performa timnas Italia pasca Mancini gagal membawanya lolos ke Piala Dunia. Anehnya, Mancini tetap dipercaya menjadi pelatih Italia. Mancini merasa berhutang pada rakyat Italia. Ia meminta federasi untuk diberi kesempatan menebus dosanya setelah gagal mengantarkan negara tercintanya itu lolos ke Piala Dunia.

Mancini kembali melakukan perubahan. Dilansir Football Italia, ia menegaskan bahwa inilah era baru Italia dengan pemain yang sebagian besar baru. Proyek baru Mancini dengan memanggil pemain muda yang fresh dikatakan sebagai era baru regenerasi Italia.

Tapi apa yang terjadi? Justru pengalaman para pemain muda Italia macam Gnonto, Scalvini, Tonali, Fratessi, Retegui, belum sematang yang dibayangkan. Mereka masih butuh sosok senior sebagai pembimbing.

Kalah dari Argentina di Finalissima, lalu hanya jadi juara tiga UEFA Nations League 2023, serta sementara masih berada di peringkat tiga kualifikasi Piala Eropa 2024 Grup C, menjadi catatan buruk Mancini berikutnya.

Kenapa Pamit?

Tak terbayang dalam benak Mancini jika laga melawan Belanda pada perebutan gelar juara ketiga UEFA Nations League 18 Juni 2023 lalu, menjadi akhir laganya mengabdi sebagai pelatih Gli Azzurri.

Mancini memilih pamit sebelum targetnya membawa Italia mempertahankan gelar juara Piala Eropa tercapai. Lalu kenapa Mancini memilih pamit?

Ada beberapa spekulasi. Diantaranya bahwa Mancini telah tergiur dari tawaran besar melatih timnas Arab Saudi. Ada juga muncul alasan bahwa Mancini memilih rehat dari kepelatihan karena telah trauma ditinggal para sahabatnya yang banyak membantunya seperti Mihajlovic maupun Vialli yang telah wafat.

Tapi kalau menurut jurnalis Susy Campanale seperti dilansir Football Italia ada alasan lain yang terungkap, yakni ada masalah dengan staf dan federasi. Mancini diketahui beda pendapat dengan asistennya Alberico Evani soal Bonucci yang masih dipanggil.

Mancini juga risih dan tak nyaman dengan peran federasi yang semena-mena menunjuk staf baginya seperti Buffon maupun Barzagli. Pasalnya, Mancini sudah punya pilihan staf-nya sendiri.

Italia Pasca Mancini

Italia kini pasca Mancini akan dibawa kemana? Yang pasti cepat atau lambat federasi akan mencari gantinya. Jalan menuju Jerman 2024 masih terjal dan belum tercapai. Masih banyak yang perlu dibenahi dari tinggalan Mancini. Inilah yang jadi tugas berat pelatih Italia berikutnya.

Bagaimanapun kisah manis dan pahit Gli Azzurri bersama Roberto Mancini telah dicatat sebagai sejarah bagi persepakbolaan Italia. Ya, kini lembaran baru telah dibuka Gli Azzurri. Publik Italia berharap tuah pelatih baru bisa seperti Mancini yang bisa membawa Italia menjuarai Eropa. Tak peduli siapapun itu.

Sumber Referensi : theguardian, thesun, football italia, dailymail, foxsports, express

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru