Nasib Generasi Emas Timnas Inggris Ketika Menjadi Pelatih

spot_img

Timnas Inggris era 2000-an pernah punya generasi emas yang disebut paling mengerikan di dunia. Bintang top Liga Inggris waktu itu pada ngumpul seperti Frank Lampard, Steven Gerrard, hingga Gary Neville.

Tapi gelar apa yang sudah didapat mereka di timnas? Hampir tak ada. Ya, kurang suksesnya mereka di level timnas ternyata menular ketika menjadi pelatih. Memang bagaimana sih nasib mereka ketika menjadi pelatih?

Gary Neville

Siapa yang tak tahu Gary Neville, orang yang kini hanya jago bacot saja di media sebagai pundit. Neville sempat bercerita bahwa ia a tak ingin terjun di dunia kepelatihan setelah pensiun. Ia lebih suka di dalam dunia siaran maupun bisnis.

Namun, tawaran dari Fergie untuk jadi pelatih teknik MU sejak 2011, serta jadi staf pelatih di Timnas Inggris era Roy Hodgson tak dapat ia tolak. yang paling disorot dari karier kepelatihannya tentu ketika ia di 2015 ditawari rekan bisnisnya untuk menukangi Valencia. Targetnya berat yakni membangkitkan kelelawar Mestalla yang sedang terpuruk di La Liga.

Menjadi pelatih kepala Valencia ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Ia dipecat hanya tiga bulan sejak ditunjuk. Ia hanya menjalani 28 laga, dengan 10 kali menang 7 kali seri, dan 11 kali kalah.

Neville mengaku kapok jadi pelatih dan menganggap melatih Valencia sebuah kebodohan. Ketidakcakapannya berkomunikasi dengan pemain dan gagal memilih staff yang berkualitas diakuinya sebagai hal yang bodoh dari dirinya.

Sol Campbell

Ada lagi Sol Campbell, mantan bek Arsenal yang pernah dijuluki “Judas” oleh fans Spurs. FYI aja, ia awalnya mencoba peruntungan di dunia kepelatihan ketika menjadi asisten pelatih Dennis Lawrence di Timnas Trinidad dan Tobago pada tahun 2017. Namun belum genap setahun, ia sudah diangkat jadi pelatih utama di klub Macclesfield Town.

Di sana ia belum meraih prestasi apa-apa, tapi tahun 2019 sudah memilih untuk pergi. Dilansir Sky Sports, krisis keuangan dan utang klub yang menggunung salah satu sebab ia pergi.

Tak lama berselang, ia malah ditampung klub lain, yakni Southend. Namun belum lama juga melatih, pandemi Covid 19 melanda dan membuat klub itu vakum. Otomatis Campbell pun menganggur. Sejak saat itulah ia kapok jadi pelatih lagi.

Dilansir Sky Sports, ia mengatakan bahwa menjadi pelatih hanya memberi peluang untuk gagal. Campbell pun sampai berkata tak sudi melamar maupun menerima pekerjaan apa pun yang berhubungan dengan dunia kepelatihan hingga sekarang.

Steven Gerrard

Steven Gerrard setelah pensiun jadi pemain digadang-gadang akan jadi pelatih hebat. Ia disorot karena prosesnya yang mau meniti karir sejak nol dengan menjadi pelatih Liverpool level junior hingga level U-18.

Pengalaman pertamanya melatih Rangers tahun 2018 menjadi tantangan. Namun kematangan Gerrard awalnya dipertanyakan karena dua musim pertamanya tanpa trofi. Untung saja di saat fase tersebut Gerrard selamat dari pemecatan karena pandemi melanda. Ya, mau tidak mau ia dipertahankan sampai musim kembali bergulir.

Namun apa yang terjadi setelah musim 2020/21 berlanjut? Di luar dugaan Gerrard membawa Rangers juara Liga Skotlandia tanpa mengalami satu kekalahan. Itulah mengapa banyak yang menganggap bahwa “Hokage” Liverpool itu sudah matang sebagai pelatih.

Namun, setelah gabung Aston Villa, ternyata ia belum sematang yang dianggap banyak orang. Legenda Liverpool itu tak bisa membawa The Villans naik kelas. Alhasil pada Oktober 2022 ia dipecat setelah kalah 19 kali dan hanya menang 13 kali dari 40 laga.

Sampai akhirnya ia memutuskan pergi dari Eropa dan meraup uang di Arab Saudi dengan melatih Al-Ittifaq tahun 2023. Di Al-Ittifaq pun sentuhan Gerrard tak begitu mentereng. Klub itu kini masih tercecer di papan tengah Saudi Pro League. Apalagi sebelum pergantian tahun 2024, dalam 10 laganya mereka hanya menang sekali.

Michael Carrick

Berikutnya ada Michael Carrick. Carrick pernah jadi asisten pelatih Jose Mourinho dan Ole Gunnar Solskjaer di MU. Sebelum akhirnya ia diangkat menjadi pelatih interim MU pada November 2021 setelah Ole dipecat.

Namun, ia hanya bertahan di tiga laga saja. Tapi jangan salah, hasil imbang melawan Chelsea dan kemenangan atas Arsenal di Liga Inggris, jadi salah satu prestasi terbaiknya ketika menukangi Red Devils.

Carrick memilih cabut dari MU dan berkarier mandiri sambil mengembangkan kualitasnya. Carrick ditunjuk klub Championship, Middlesbrough. Di Riverside Stadium, Carrick jadi sorotan ketika klubnya hampir saja promosi ke Liga Inggris musim 2022/23. Sayang, mereka kalah atas Coventry.

Frank Lampard

Karier Frank Lampard di kepelatihan juga naik turun. Derby County awalnya hampir dibawanya promosi ke Liga Inggris. Sayang mereka dikalahkan Aston Villa di babak playoff promosi 2018/19.

Lampard lalu memilih jalan pulang kampung ke Chelsea ketika sudah dianggap matang memegang The Rams. Benar saja, meski dilarang transfer pemain karena embargo, namun ia tetap bisa membawa The Blues finish di peringkat empat Liga Inggris musim 2019/20.

Anehnya, ketika dipertahankan di musim berikutnya dan dibelikan banyak pemain bintang, ia malah gagal total. Lampard harus rela dipecat di Januari 2021 karena performa The Blues inkonsisten dan tak kunjung membaik di awal tahun 2021.

Super Lamps ternyata masih laku. Everton menunjuknya jadi pelatih tahun 2022. Meski sudah menyelamatkan Everton dari degradasi musim 2021/22, namun ia tetap saja dipecat di musim berikutnya karena performanya menurun. Lampard dipecat The Toffees setelah hanya bisa menang sekali dari 12 laga awal musim 2022/23.

Anehnya kegagalan demi kegagalannya itu masih dianggap Chelsea sebagai dewa penyelamat. Super Lamps ditunjuk lagi sebagai pelatih interim The Blues menggantikan Graham Potter musim lalu. Ya tahu sendiri hasilnya. Chelsea finish di posisi 12 klasemen. Kini ia masih nganggur, entah siapa yang akan mengangkutnya lagi. Timnas Indonesia mungkin?

Wayne Rooney

Kemudian ada Wayne Rooney. Ia awalnya jadi pelatih Derby County ketika menggantikan Phillip Cocu di tahun 2020. Untung saja ia tak dipecat sejak musim pertamanya. Pasalnya Derby hanya dibawanya satu strip di atas zona degradasi pada musim debutnya.

Di musim berikutnya, Rooney mulai belajar. Ia bahkan sempat disebut salah satu pelatih yang menerapkan sepakbola menyerang dan atraktif dengan materi sebagian besar pemain muda. Namun karena klubnya disanksi EFL dengan dikurangi 12 poin, ia tak bisa berbuat banyak. Apa boleh buat, Rooney pun tak sanggup membawa Derby lolos dari jeratan degradasi musim 2021/22.

Setelah bawa Derby degradasi, ia kemudian ditunjuk sebagai pelatih klub MLS, DC United di tahun 2022. Sama saja hasilnya, Wazza hanya bertahan 15 bulan di sana. Ia pergi setelah DC united gagal masuk playoff MLS untuk tahun keempat berturut. Rooney lalu pamit atas kesepakatan bersama, kalau kata Jason Levine CEO DC United.

Oktober 2023 ia kembali lagi di dunia kepelatihan dengan mengarsiteki Birmingham City yang sedang berada di papan 6 Championship. Target Birmingham menunjuk Rooney salah satunya agar bisa promosi ke Liga Inggris.

Namun apa yang terjadi setelah Rooney memegang tim ini? Rungkad. Hanya meraih 2 kemenangan dari 15 laga. Akibatnya Birmingham di awal tahun 2024 tercecer di peringkat ke 20 Championship. Tak pikir panjang, manajemen langsung mendepaknya di Januari 2024.

Sumber Referensi : skysports, planetfootball. thefootballfaithfull, manutd.com, en.as, trasnfermarkt

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru