Napoli vs Inter: Panasnya Perebutan Scudetto Hingga Akhir

spot_img

Kalian mau setuju atau tidak, tapi mimin agaknya menobatkan persaingan menuju tangga juara Serie A jadi yang paling mendebarkan di tanah Eropa musim ini. Premier League boleh saja menyajikan momen epik Liverpool yang akhirnya samai jumlah 20 trofi Liga Inggris milik Manchester United. Atau, La Liga yang menawarkan sikut-sikutan antara Barcelona dengan misi treble-nya dengan Real Madrid yang alami musim penuh geronjalan. 

Namun, apa yang saat ini tengah terjadi di Liga Italia mengembalikan lagi nostalgia para tifosi dan penikmat sepak bola negeri Pizza yang rindu akan perlombaan scudetto yang panas dan sengit. Sudah cukup lama Serie A tak menampilkan adegan saling jegal antar tim yang punya kans untuk dapatkan juara. Jadi, pantas rasanya jika kilau pamor Serie A sempat memudar dibanding liga-liga top Benua Biru lainnya. 

Kali ini, Serie A mulai kembali membuktikan kepada khalayak sebagai liga yang kompetitif dan lepas dari kesan “liganya bapak-bapak pos ronda” yang monoton. Napoli dan Inter Milan jadi aktor utama di panggung Serie A musim ini yang memperagakan aksi kejar-kejaran yang menegangkan. Salah satu di antaranya akan berjodoh dengan titel liga. 

Lalu, dengan sisa empat pertandingan lagi, bagaimana peluang dari kedua tim keluar sebagai Campione D’Italia? Siapa yang kemungkinan temui batu sandungan? Mari kita bedah bersama. 

Dari Enam Tim, Tercipta Dua Penguasa Singgasana Terlama

Menurut Transfermarkt, tercatat ada enam tim yang pernah merasakan nikmatnya duduk di nomor satu Serie A musim ini. Tapi, hanya Napoli dan Inter yang akhirnya paling lama kuasai singgasana. Napoli kenyang dengan 17 kali mencapai pucuk klasemen, sementara Inter pernah 9 kali menyentuh podium wahid. Empat tim lainnya adalah Juventus, Atalanta, Udinese, dan Torino. 

Praktis, tersisa Napoli dan Inter yang lama-kelamaan dijagokan untuk memenangi pertarungan di arena gladiator dan berhak menyegel juara. Bagi yang musim ini mengikuti perkembangan Serie A dari awal, pasti sudah tak asing dengan drama geser-menggeser peringkat antara Napoli dan Inter. Ada kalanya, Partenopei yang menghuni posisi teratas, tapi juga ada momen Nerazzurri meng-overtake saat lawannya itu lengah.

Kendati saling bergantian memimpin, keduanya tak pernah lepas dari jarak poin yang terlampau jauh. Selalu hanya antara rentang tiga sampai satu poin saja. Bahkan, ada kalanya poin kedua tim sama persis, sehingga yang memisahkan mereka hanya perbedaan jumlah gol saja. 

Pemandangan semacam itu senantiasa menghiasi percaturan Liga Italia sejak giornata 19 hingga giornata 34 akhir pekan lalu. Nah, dalam dua pertandingan ke belakang ini, perebutan tahta kembali melibatkan kedua tim ternama tersebut. 

Kembalinya Si Keledai Kecil Ke Tangga Pertama Klasemen

Inter yang sebelumnya berstatus sebagai capolista, mendadak terpeleset dua kali beruntun.  Kecelakaan fatal itu kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh Napoli yang tampil stabil dengan menggenggam kemenangan atas Monza dan Torino. 

Untuk pertama kalinya sejak giornata 25, pasukan Antonio Conte berjaya menembus puncak dengan keunggulan tiga poin atas armada Simone Inzaghi. Kini Napoli mengumpulkan 74 poin, berbanding 71 poin yang diterima Inter. Momen kembalinya klub berjuluk “Si Keledai Kecil” ke posisi pertama terjadi saat menggebuk Torino 2-0 di kandang sendiri. 

Estadio Diego Armando Maradona dan seisi Kota Naples akhirnya punya idola baru yang namanya diagungkan dalam balutan seragam biru khas Napoli. Sosok yang mimin maksud adalah Scott Mctominay. Baru menjalani musim perdana di kancah sepak bola Italia usai ditendang dari Manchester United, gelandang serang asli Skotlandia ini langsung nyetel dengan skema di tim barunya. 

Entah karena faktor adanya Billy Gilmour sebagai kompatriotnya di Timnas Skotlandia atau hal lainnya, Mctominay sanggup mempersembahkan perubahan yang begitu mencolok di skuad Napoli. Terbaru, pemain yang dulu dicap sebagai supersub di United itu, memborong dua gol kemenangan ke gawang Torino. Kontribusi berharga yang bantu mengantarkan Napoli mengkudeta tim dari kota fashion. 

Sekarang tinggal tersisa empat laga sisa yang akan dilakoni Mctominay untuk mendapat hadiah juara liga pertama dalam kariernya. Sesuatu yang tak pernah ia raih selama bermukim di Manchester. Bersama rekan sejawatnya seperti Romelu Lukaku dan Leandro Spinazzola, Mctominay diunggulkan meraih scudetto setelah Napoli diuntungkan dengan dua hal ini. 

Pertama, keempat lawan yang dihadapi selanjutnya tergolong ringan dan kualitasnya ada di bawah Napoli. Mereka adalah Lecce, Genoa, Parma, dan Cagliari. Secara di atas kertas, Napoli dapat dengan mudah menyapu bersih semuanya, sehingga akan finish di akhir pacuan dengan tambahan 12 poin. Bila skenario itu terwujud, gelar Serie A keempat akan mendarat dengan selamat. 

Keuntungan kedua yang dimiliki Napoli dalam jalur juara kali ini adalah, mereka bisa memanfaatkan kondisi Inter yang fokusnya sedang terbelah antara menjaga kekuasaan di Italia dan mematikan langkah Barcelona di semifinal Liga Champions. Inter diprediksi lebih memprioritaskan Liga Champions, meski tetap berupaya mempertahankan gelar Serie A. Kalau Napoli sampai gagal memanfaatkan kondisi itu, duh alangkah konyolnya mereka. 

Si Ular Yang Bimbang Antara Italia Atau Eropa

Sekarang kita beralih ke kubu Inter Milan yang kalau mimin lihat sih, sepertinya lagi banyak masalah. Selepas mengandaskan Bayern Munchen di pentas Eropa, entah kenapa kondisi Inter seketika hancur berantakan, alih-alih tetap mempertahankan gaya permainan yang konsisten. 

Dari tiga laga yang diikuti Inter pasca berjumpa Harry Kane cs, tidak ada satupun yang berakhir dengan senyum merekah. Deretan kekalahan itu makin terasa menyesakkan karena sedikit demi sedikit menggerogoti peluang Inter untuk mengukir treble

Bertekuk lutut di tangan Bologna dan AS Roma dengan skor identik 1-0, membuat pemilik dua puluh titel Serie A itu terpaksa merelakan singgasana mereka direbut paksa Napoli. Sementara momen ketika tumbang dari rival serumah, AC Milan pada semifinal Coppa Italia meruntuhkan harapan Interisti untuk melihat tim jagoan mengamankan tiga piala sekaligus. 

Tak aneh rasanya kalau Simone Inzaghi sampai berani buka suara ke media, terkait dengan kondisi mental anak asuhnya yang jadi menurun drastis. Menurut laporan Mundo Deportivo, Inzaghi mengatakan bahwa hasil minor yang didapatkan secara beruntun membuat kondisi ruang ganti Inter berubah 90 derajat dengan semangat yang tak lagi tampak di muka para pemain.

Sudah nihil semangat dan alami gangguan mental, eh Inter malah dapat sisa lawan di Serie A yang berpotensi menjegal mereka dari gelar juara. Berbeda dengan Napoli yang bertemu dengan lawan yang relatif gampang, lain cerita dengan Inter yang nelangsa karena harus berjumpa dengan musuh yang relatif lebih berat. Kalau ingin juara, ya mau nggak mau harus bisa mempermalukan semuanya. 

Okelah, mungkin Lautaro Martinez dan kolega bisa curi poin saat bertemu Hellas Verona, Torino, dan Como. Namun, kalau pas lawan Lazio….hmm kayanya mimin ragu deh mereka bisa melewatinya dengan mudah. Jadi, bisa dikatakan kalau elang ibu kota adalah batu sandungan yang membahayakan bagi Inter. 

Selain harus dihadapkan dengan calon lawan yang meresahkan di liga, Inter juga berpotensi alami kelelahan akibat tensi pertandingan yang meninggi saat bersua Blaugrana. Alhasil, tak ada pilihan bagi Inzaghi selain melakukan rotasi pemain, yang tampaknya akan dilakukan di Serie A. Kalau sudah tampil dengan skuad yang bongkar pasang seperti ini, peluang lawan untuk mengeksploitasi Inter jadi terbuka. 

Inter Selalu Tak Beruntung Dengan Gap Yang Tipis

Berbicara soal menipisnya selisih poin antara peringkat satu dan dua di klasemen Serie A, ternyata dalam enam musim terakhir, Inter punya memori kelam karena pernah dua kali gagal juara dengan gap poin yang tak terpaut jauh. Pertama, terjadi pada musim 2019/20 saat Inter melepaskan mahkota juara kepada Juventus. Di akhir musim itu, Bianconeri hanya unggul satu poin saja dari Nerazzurri

Lalu, pada musim 2021/22, giliran Milan yang berpesta atas Inter dengan keunggulan poin akhir hanya dua poin. Zlatan Ibrahimovic memimpin Milan juara dengan jumlah 86 poin, sementara Inter harus puas jadi runner up dengan 84 poin. 

Nah, dengan fakta demikian, kira-kira menurut football lovers, siapakah tim terbaik di Serie A musim ini? 

bola.com, tirto.id, transfermarkt.com, independent.co.uk, mundodeportivo.com, football-italia.net

 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru