Multi-Club Ownership: Masa Depan Industri Sepak Bola, Demi Prestasi atau Demi Cuan?

spot_img

Sepak bola telah bertransformasi menjadi industri yang menggiurkan. Kondisi tersebut lantas membuat banyak pebisnis kaya menaruh berbagai jenis investasi di klub sepak bola. Salah satu yang kini tengah menjadi tren dan digadang-gadang bakal jadi masa depan industri sepak bola adalah Multi-Club Ownership.

Multi-Club Ownership atau yang lazim disingkat MCO bukanlah hal baru dalam industri olahraga. Sesuai namanya, Multi-Club Ownership adalah model bisnis yang memungkinkan seorang individu atau entitas seperti perusahaan memiliki beberapa klub di bawah kepemilikannya.

Awal Kemunculan Multi-Club Ownership

Ditilik dari sejarahnya, fenomena MCO pertama kali muncul di akhir 90an ketika banyak pebisnis mulai menjadikan sepak bola sebagai investasi. Adalah perusahaan investasi asal Inggris, ENIC Group yang jadi pionirnya. Perusahaan yang dimiliki oleh Joe Lewis itu mengakuisisi 6 saham klub Eropa, yakni Rangers FC, Slavia Praha, AEK Athens, Vicenza Calcio, FC Basel, dan Tottenham Hotspur.

Masalah muncul ketika AEK dan Slavia lolos ke Piala UEFA 1998. Itu adalah kedua kalinya ENIC membuat masalah setelah di musim sebelumnya, AEK, Slavia, dan Vicenza lolos ke perempat final Piala Winners.

Komite Eksekutif UEFA kemudian melakukan intervensi pada Mei 1998 dengan meluncurkan peraturan tentang “Integrity of the UEFA Club competitions: Independence of clubs”. Aturan ini melarang dua klub atau lebih yang secara langsung atau tidak langsung dikendalikan atau dikelola oleh entitas yang sama untuk berpartisipasi dalam kompetisi UEFA.

ENIC kemudian menggugat peraturan tersebut di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dan Komisi Uni Eropa. Singkat cerita, klub milik ENIC diizinkan berkompetisi di Eropa, sementara UEFA mengevaluasi peraturan tersebut dan membuatnya lebih ketat.

Lebih dari satu dekade kemudian, UEFA kembali diuji ketika dua klub milik Red Bull, yakni RB Salzburg dan RB Leipzig lolos ke Liga Champions 2017/2018. Kala itu, Leipzig baru diizinkan masuk ke UCL setelah dievaluasi oleh UEFA Club Financial Control Body.

Dua kasus tersebut membuat UEFA dan berbagai asosiasi sepak bola nasional di seluruh dunia menjadi aware tentang praktik Multi-Club Ownership yang berpotensi memunculkan konflik kepentingan. Berbagai peraturan pun diperketat.

Seperti Inggris yang melarang seseorang, perusahaan, atau badan hukum untuk memegang kekuasaan dan kepentingan di lebih dari 1 klub yang berkompetisi di Premier League. Seseorang dianggap memperoleh kekuasaan yang signifikan jika memiliki 10% atau lebih hak suara pemegang saham. Sementara di Spanyol, individu atau badan hukum tidak boleh memegang 5% atau lebih hak suara pemegang saham di lebih dari satu klub yang berpartisipasi dalam kompetisi profesional di tingkat negara bagian.

Di Italia, dua klub yang dimiliki oleh 1 entitas yang sama dilarang berkompetisi dalam satu divisi yang setara. Tentu masih segar diingatan kita soal Salernitana yang baru diizinkan naik kasta ke Serie A di musim 2021/2022 usai sang pemilik Claudio Lotito, yang juga merupakan pemilik Lazio, menjual terlebih dahulu sahamnya di Salernitana.

City Football Group hingga Grupo Pachuca, Contoh Multi-Club Ownership

Beberapa contoh masalah hukum tadi tidak menyurutkan para pebisnis kaya di seluruh dunia untuk melakukan praktik Multi-Club Ownership. Yang terjadi justru sebaliknya.

Berdasarkan penelitian Deloitte, dalam lima tahun terakhir jumlah MCO mengalami peningkatan yang signifikan. Per bulan Oktober 2022, diperkirakan terdapat lebih dari 70 MCO yang tersebar di seluruh dunia. Jumlah tersebut sudah lebih dari dua kali lipat dibanding 5 tahun lalu yang cuma terdapat sekitar 28 MCO saja.

Maraknya praktik tersebut tak lepas dari kehadiran investor asal Amerika Serikat yang mulai tertarik dengan industri sepak bola. Di Amerika sendiri, praktik serupa sudah sering dijumpai di beberapa klub olahraga, baik NBA, NFL, hingga MLB.

Ada banyak contoh praktek MCO yang bertebaran di seantero dunia. Dua contoh tersuksesnya tentu saja City Football Group dan Red Bull Group.

City Football Group terbentuk pada 2013, 5 tahun setelah Sheikh Mansour mengakusisi kepemilikan Manchester City. Per 3 Desember 2022, CFG memiliki saham di 12 klub di 5 benua yang berbeda. Setelah Man. City, mereka membeli kepemilikan New York City FC, Melbourne City FC, Yokohama F. Marinos, Montevideo City Torque, Girona, Sichuan Jiuniu, Mumbai City FC, Lommel SK, ES Troyes, Palermo, dan Bahia.

Sementara itu, perusahaan minuman berenergi, Red Bull melebarkan sayapnya di dunia sepak bola sejak mengakuisisi SV Austria Salzburg di tahun 2005 dan me-rebrandingnya dengan nama RB Salzburg. Kini Red Bull memiliki 6 klub sepak bola, yakni RB Salzburg, New York Red Bulls, RB Leipzig, FC Liefering, Red Bull Bragantino, dan Red Bull Brasil.

Contoh lain yang tak kalah terkenal adalah Keluarga Pozzo yang merupakan pemilik dari Udinese dan Watford. Ada pula Bolt Football Holding, pimpinan David Blitzer. Setelah memiliki sebagian saham di Crystal Palace, Blitzer membeli 45% saham Augsburg, dan membeli kepemilikan ADO Den Haag, Waasland-Beveren, AD Alcorcon, dan Real Salt Lake.

Terbaru, ada nama John Textor yang tengah naik daun setelah mengambil alih kepemilikan Lyon usai mengakuisisi 77,49% saham di klub tersebut melalui perusahaan investasinya, Eagle Football Holdings. Sebelumnya, Textor sudah memiliki 40% saham Crystal Palace, 90% saham Botafogo, dan 80% saham klub divisi 2 Belgia, RWD Molenbeek.

Sementara itu, di luar Eropa, ada Orlegi Sports dan Grupo Pachuca yang terlibat rivalitas di Meksiko. Orlegi Sports adalah pemilik dari Santos Laguna dan Atlas FC, sementara Grupo Pachuca adalah pemilik dari CF Pachuca dan Club Leon.

Keduanya juga punya saham di klub Segunda Divison. Orlegi adalah pemilik Sporting de Gijon, sementara Pachuca punya 51% saham di Real Oviedo. Kedua klub tersebut terlibat rivalitas sengit dalam laga panas bertajuk Asturian Derby.

Lalu, apa keuntungan dan tantangan dari praktik Multi-Club Ownership? Mengapa praktik ini menjadi tren dan digadang-gadang jadi masa depan industri sepak bola?

Keuntungan dan Tantangan Multi-Club Ownership

Diversifikasi portofolio bisnis, menumbuhkan brand, dan mendapatkan eksposur global adalah beberapa potensi keuntungan yang ditawarkan dari model investasi Multi-Club Ownership.

Itulah kenapa kini praktik MCO makin menjamur. Dengan potensi keuntungan yang ditawarkan dari industri sepak bola, memiliki satu klub di era sekarang sepertinya tidaklah cukup.

Selain itu, dari sisi marketing, klub yang tergabung dalam MCO memiliki daya tawar dan akses yang lebih besar ke berbagai pasar karena punya kesamaan karakteristik merek, nilai, dan identitas visual. Misalnya saja kesepakatan antara Puma dengan CFG yang bernilai USD 860 juta. Termasuk Man. City, 5 klub milik CFG mendapat manfaat dari kesepakatan tersebut.

Memiliki banyak klub di berbagai negara dan benua juga merupakan salah satu upaya investasi untuk memasarkan produk secara global. Lewat berbagai klub olahraga yang mereka miliki, Red Bull sukses memasarkan produknya secara global dan meraih cuan yang lebih besar.

Lewat berbagai alasan itu tadi, tidak mengherankan jika Multi-Club Ownership makin digandrungi dan jadi masa depan industri sepak bola. Bagaimana tidak, alasan bisnis dan cuan memang jadi daya tarik terbesarnya.

Namun jangan salah. MCO juga memberi keuntungan bagi klub. Seperti yang dilakukan Udinese dan Watford yang kerap bertukar pemain. Dalam sedekade terakhir, sudah lebih dari 50 transfer yang melibatkan klub milik Keluarga Pozzo tersebut. Selain alasan kebutuhan tim, skema tersebut juga dipakai untuk mengembangkan bakat si pemain sebelum akhirnya dijual mahal.

Sistem tersebut kemudian diadopsi banyak MCO lainnya dan salah satu yang paling sukses adalah Red Bull Group. Klub terbesar mereka, RB Leipzig sudah sering mendapat manfaat dari sistem tersebut.

Tanpa susah payah menyebar scout-nya, Leipzig bisa mendapat pemain berkualitas dari klub lain yang masih berada dalam naungan Red Bull. Naby Keita, Dayot Upamecano, dan Dominik Szoboszlai adalah beberapa contohnya.

Begitu pula dengan RB Salzburg. Sejak 2012, Salzburg memanfaatkan FC Liefering yang bermain di divisi 2 sebagai tim cadangan mereka. Banyak pemain yang disekolahkan dulu di FC Liefering sebelum mentas ke tim utama Salzburg.

Salah satu contohnya adalah Karim Adeyemi. Lulusan akademi Salzburg tersebut dikirim selama beberapa musim ke FC Liefering sebelum akhirnya meledak bersama tim utama Salzburg. Di musim panas kemarin, Salzburg untung besar usai menjual Adeyemi ke Dortmund dengan harga 30 juta euro.

Maka dari itulah, tidak salah jika menyebut MCO sebagai upaya alternatif untuk mendapat pemain bertalenta. Model bisnis tersebut memudahkan tim yang berada dalam satu payung kepemilikan untuk saling berkolaborasi, sehingga membuat kerja pencari bakat menjadi lebih mudah.

Model bisnis MCO juga memberi manfaat prestasi kepada klub yang terlibat di dalamnya. Mereka yang terjun ke investasi ini tentu mempunyai modal yang sangat besar. CFG dan Red Bull bisa dikategorikan sukses, meski Manchester City belum juara UCL dan RB Leipzig baru mendapat 1 trofi DFB-Pokal.

Begitu pula dengan Toulouse FC. Di musim panas 2020, mereka diakuisisi oleh RedBird Capital Partners tak lama setelah terdegradasi ke Ligue 2. Dua tahun kemudian, investasi RedBird membuahkan hasil dengan kembalinya Toulouse ke Ligue 1.

Setelah Toulouse, RedBird membeli saham mayoritas AC Milan dari Elliott Management seharga 1,2 miliar dolar pada Juni 2022. Setahun sebelumnya, RedBird membeli saham Fenway Sports Group, pemilik dari Liverpool, sebesar 10%.

Akan tetapi, MCO juga memiliki tantangan serius. Diperlukan manajemen dan figur yang tepat untuk mengendalikan lebih dari 1 klub sepak bola, apalagi jika klub tersebut berbeda negara.

Seperti New City Capital milik pengusaha Chien Lee. Dari 7 klub yang dimiliki, sebagian besarnya bermasalah dan kesulitan bersaing. Untuk mengetahui lebih lanjut, kita akan membahasnya di konten selanjutnya.

https://youtu.be/jBM6iBxbWc8
***
Referensi: Asser 1, Asser 2, The Guardian, Tifosy, Sportcal, WFS, Football Benchmark.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru