Setelah berminggu-minggu cuma rumor. Cuma negosiasi tanpa henti. Fabrizio Romano akhirnya mengeluarkan mantra yang sangat dinanti-nantikan oleh jutaan fans Manchester United. Bahwa Setan Merah telah sepakat dengan Brentford untuk transfer Bryan Mbeumo.
Dalam sebuah langkah ambisius, United menyepakati kesepakatan transfer senilai 75,1 juta euro, dengan potensi tambahan 6,9 juta euro dalam bentuk add-ons. Ini sebuah investasi besar untuk seorang pemain yang diyakini mampu membawa dimensi baru dalam permainan skuad Rúben Amorim.
Tapi, bukan Setan Merah namanya kalau nggak mendapat sentimen buruk dan kritikan pedas. Dari mulai fans sebelah, media, sampai pengamat sepakbola yang sedang cari panggung, semua muncul ketika kesepakatan ini terjadi. Motifnya sama. Kemahalan katanya. Tapi apa benar kalau transfer Mbeumo terlalu mahal?
Daftar Isi
Kemahalan!
Salah satu media besar yang senada dengan pernyataan itu adalah Goal. Media yang satu ini mengkritisi betul transfer Bryan Mbeumo dari Brentford ke Manchester United. Goal menyebutnya sebagai contoh klasik dari “pemain yang tepat dengan harga yang salah”. Mereka mengatakan, meskipun Mbeumo adalah pemain sayap yang dinamis dan cocok dengan sistem Rúben Amorim, biaya transfer yang bisa mencapai 82 juta euro terlalu tinggi.
Goal menekankan bahwa meskipun Mbeumo memiliki atribut teknis dan taktis yang sesuai dengan kebutuhan United, performanya di Brentford belum mencerminkan nilai transfer sebesar itu. Beberapa pengamat merasa United seolah terpaksa membayar mahal karena kurangnya opsi di pasar dan kebutuhan mendesak klub. Istilah kerennya sih panic buying.
Beberapa pengamat sepakbola bahkan mengorek trauma masa lalu Manchester United soal pemain mahal. Mereka mengingatkan geliat transfer United di masa lalu yang selalu berakhir buruk jika pemain yang dibeli itu harganya mahal. Contohnya saja seperti Antony. Dibeli dengan harga 95 juta euro dari Ajax, El Gasing lebih sibuk nyiapin selebrasi ketimbang nyetak gol itu sendiri.
Tradisi ini tuh entah dari kapan. Tapi kalau dilihat-lihat, memang begitu adanya. Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, ada Jadon Sancho yang didatangkan dengan mahar 85 juta euro pada tahun 2021. Tapi gimana hasilnya? Cuma jadi investasi bodong. Pemainnya pun problematik.
Performa Musim Lalu
Sebetulnya, niat para pengamat dan media-media yang mengkritik transfer Bryan Mbeumo ke Manchester United itu baik. Mengingatkan. Karena MU kerap blunder soal transfer. Namun, di poin ini, rasanya agak berlebihan jika menyebut transfer Mbeumo kemahalan. Seperti Tom Lembong di persidangan kasus korupsi kemarin, MU punya banyak fakta yang dapat menampik tuduhan itu.
Salah satu yang mesti jadi pertimbangan adalah performanya musim lalu. Di Premier League 2024/25, Mbeumo mengemas 20 gol. Ia jadi pencetak gol Premier League terbanyak bagi Brentford. Dirinya unggul satu gol dari rekan satu timnya, Yoane Wissa yang mencetak 19 gol di Premier League.
Performa ini jadi yang terbaik bagi Mbeumo selama membela Brentford. Sebelumnya, Mbeumo belum pernah mencetak lebih dari 10 gol di Premier League. Mentok cuma sembilan. Itu dicatatkan pada musim 2022/23 dan 2023/24. Pemain bisa disebut baik atau buruk memang tidak hanya dilihat dari jumlah golnya. Tapi, kalian harus ingat. Kemampuan mencetak gol lah yang membuat sebuah tim bisa memenangkan laga.
EPL proven
Dengan performa demikian, Bryan Mbeumo layak menyandang status “EPL Proven”. Status yang juga jadi syarat utama Manchester United dalam mencari pemain baru di musim panas kali ini. Mbeumo sama halnya dengan Matheus Cunha. Pemain yang sudah lolos uji coba di kerasnya Premier League.
Meski baru sekali mencatatkan dua digit gol, Mbeumo tetap memberikan kontribusi yang berdampak positif selama tiga musim sebelumnya. Menurut catatan Transfermarkt, Mbeumo konsisten terlibat dalam lebih dari sepuluh gol Brentford setiap musimnya (goal dan assist). Karena tugasnya bukan hanya mencetak gol, tapi juga memberikan umpan matang pada rekan-rekannya.
Konsistensi juga jadi perhatian Amorim dalam memilih pemain EPL Proven. Mbeumo memenuhi kriteria itu. Menurut Fotmob, musim lalu Mbeumo memiliki rata-rata rating performa di angka 7,57. Rating tersebut membuat Mbeumo berada di urutan keempat sebagai pemain dengan rata-rata rating tertinggi di Premier League musim 2024/25. Di bawah Salah, Palmer, dan Bruno.
Gaya Bermain
Alasan lain mengapa transfer ini tidak kemahalan adalah kecocokan gaya bermain dengan apa yang diinginkan oleh Ruben Amorim. Pemain asal Kamerun itu dinilai akan sangat cocok dengan skema permainan Manchester United, terutama jika sang pelatih tetap menerapkan sistem andalannya, yakni 3-4-2-1.
Dalam formasi ini, Mbeumo bisa menempati posisi ideal sebagai salah satu gelandang serang di belakang striker utama. Di sini, nantinya ia akan berduet dengan pemain anyar MU yang lain, Matheus Cunha. Sedangkan Bruno Fernandes kemungkinan akan ditarik ke belakang menemani gelandang bertahan.
Peran nomor 10 itu memungkinkan Mbeumo untuk memaksimalkan kaki kirinya guna melancarkan cut-inside dan melepas tembakan. Ruben Amorim sendiri menyukai Mbeumo karena efisien dan mampu bekerja keras dalam fase transisi. Dua atribut yang secara alami sudah dimiliki Mbeumo.
Nah, soal kerja keras, Mbeumo ini sudah tak bisa diragukan lagi. Menurut Opta, secara total, sosok yang rambutnya justru tumbuh ke bawah ini menempuh jarak sekitar 387,6 km. Hanya kalah dari Bruno Guimaraes dengan 421 km dan Daniel Munoz yang berlari sepanjang 389,6 km musim lalu.
Mbeumo juga handal dalam urusan merebut bola di area lawan. Masih dari Opta, Mbeumo tercatat 32 kali memenangkan penguasaan bola di sepertiga area permainan lawan. Dalam sistem Amorim yang menuntut koordinasi pressing ketat dan counter cepat setelah merebut bola, Mbeumo bisa menjadi outlet utama yang langsung mengancam ke gawang lawan.
Tak cuma itu, Bryan Mbeumo juga sangat fleksibel secara posisi. Selama berseragam Brentford, ia bisa bermain sebagai winger kanan, winger kiri, striker, bahkan sesekali menjadi gelandang. Kemampuan yang memudahkan Amorim untuk menyesuaikan skema permainannya. Kapan lagi kan dapet pemain 4 in 1 gini?
Ketimbang yang Lain
Transfer Bryan Mbeumo ke Manchester United akan lebih terlihat masuk akal lagi jika kalian mau melek dengan geliat transfer klub-klub papan atas Premier League yang lain. Arsenal misalnya. Meriam London mau mengeluarkan dana sekitar 55,4 juta euro hanya untuk mendatangkan Noni Madueke. Pemain yang digadang-gadang bakal jadi pelapis Bukayo Saka.
Padahal Madueke di musim lalu tak mentereng. Ia memang jadi pilihan utama di skuad Enzo Maresca. Namun, kontribusinya minim. Ia hanya mencetak tujuh gol dan empat assist di Premier League. Spurs lebih parah. Mereka menggelontorkan dana sekitar 63 juta euro hanya untuk Mohammed Kudus.
Pria berkebangsaan Ghana ini memang pemain underrated. Tapi, performanya bersama West Ham United musim 2024/25 tidak meyakinkan. Doi cuma cetak lima gol. Itu angka yang harusnya bikin Kudus minder lantaran rekan setimnya, Tomas Soucek mampu mencetak sembilan gol meski berposisi sebagai gelandang.
Dibandingkan dengan Masa Lalu
“Loh, kan tidak apple to apple. MU kan kebiasaan datangkan pemain dengan harga nggak ngotak?” Bla, bla, blaaa. Masih kurang bukti? Mari kita bandingkan dengan transfer United sebelumnya. Tolok ukurnya sama, yakni gol. MU menebus Rasmus Hojlund dengan harga 77 juta euro. Padahal cuma cetak 9 gol di Serie A musim 2022/23.
Di posisi sayap, mari kita bandingkan dengan Antony. Didatangkan dengan mahar 95 juta euro, Antony sebelumnya cuma cetak 8 gol di Eredivisie musim 2021/22. Statusnya pun sama kayak Hojlund. Bukan EPL Proven. Jadi wajar disebut kemahalan. Nah kalau Mbeumo kan beda. Doi cetak 20 gol di Premier League. Cuma selisih dua gol sama Erling Haaland.
Memang, gol bukan satu-satunya indikator untuk menyebut pemain itu bagus atau bapuk. Tapi, kemampuan mencetak gol sekali lagi, sangat penting. Karena agresivitas gol lah yang membuat sebuah tim menang. Bukan cuma unggul dalam penguasaan bola, apalagi sampai minta bantuan hakim. Hakim garis maksudnya.
Sumber: BBC, Goal, The Analyst, United in Focus


