Misi Nova Arianto Membentuk Generasi Baru Timnas Indonesia

spot_img

Terasa bergetar melihat Nova Arianto melatih Timnas Indonesia U-16. Seolah meski bukan Shin Tae-yong yang melatih, ada sosoknya di setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sebab memang, Nova yang menggembleng Timnas U-16 adalah bekas asisten Shin Tae-yong.

Bisa dibilang U-16 adalah gerbang pertama di tim nasional. Shin Tae-yong sudah menetapkan standar di level senior. Oleh karena itu, calon generasi berikutnya tak boleh dipegang sembarang orang. Dan rasanya tidak ada sosok yang lebih tepat selain Nova Arianto.

Timnas Indonesia U-16 memang belum berhasil di Piala AFF. Tapi perjalanan masih panjang. Masih ada kompetisi bergengsi seperti Piala Asia U-17 yang bisa digapai. Bagaimana Nova Arianto membentuk generasi baru Timnas Indonesia dari U-16? Berikut ulasannya.

Siapa Nova Arianto?

Bagi pencinta Timnas Indonesia, Nova Arianto bukan sosok yang asing di telinga. Walaupun jarang-jarang bermain, gini-gini Nova pernah memperkuat Timnas Indonesia. Pria yang akrab disapa Vava itu lahir di Semarang, 4 November 1979. Sejak terjun di dunia sepak bola, Vava tidak sama sekali berpikir akan menjadi pelatih.

Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Timnas Indonesia, Vava hanya ingin bermain dan bermain. Namun, angin nasib menerbangkannya ke arah sebaliknya. Kepemimpinan dan pemahaman tentang sepak bola yang mulai terlihat mengantarkan Nova ke dunia kepelatihan.

Ia pernah menjadi pelatih Madiun Putra dan Lampung Sakti. Namun, lompatan karier luar biasanya terjadi ketika bergabung staf kepelatihan Timnas Indonesia U-23 asuhan Indra Sjafri tahun 2019. Tak disangka saat Shin Tae-yong datang, Nova jadi salah satu yang masih dipercaya.

Ia pun menjadi asisten Shin Tae-yong dan terlibat dalam berbagai level: senior, U-23, maupun U-19. Empat tahun bersama Shin Tae-yong, karena pengalaman dan pemahaman mendalam tentang strategi dan manajemen tim nasional, Nova Arianto dipercaya untuk melatih Timnas Indonesia U-16.

Metode Latihan Intensitas Tinggi

Video-videonya kala menyeleksi dan melatih para pemain Timnas U-16 pada gilirannya menjadi perbincangan di media sosial. Nova dianggap mengikuti gaya Shin Tae-yong yang menerapkan latihan keras, intensitas tinggi, dan tanpa kompromi. Selama empat tahun menjadi asisten mantan pelatih Korea Selatan itu, Nova belajar banyak.

Nova Arianto dulunya adalah pemain bertahan. Namun, ia tidak mau pemain yang dilatihnya cuma mengandalkan strategi bertahan. Anak asuhnya didorong melakukan pola permainan progressive possession atau penguasaan bola yang progresif.

Maksudnya, tidak hanya penguasaan bola, tapi kombinasi untuk secepatnya cetak gol. Jika kamu menonton Timnas Indonesia U-16 di Piala AFF U-16, mereka sudah mulai menerapkan hal itu. Meski, tentu saja, belum sempurna, terutama dalam penyelesaian akhir dan pengambilan keputusan.

Kalau dicermati lagi, pola semacam ini dan latihan intensitas tinggi, jarang terlihat di tim kelompok umur. Namun, Nova ingin membiasakan itu. Sebab ia tahu betul bagaimana pola latihan di tim senior. Pun Nova ingin timnya siap bukan hanya menghadapi tim selevel Kamboja dan Laos, melainkan juga Australia hingga Jepang.

Filosofi Pass and Move

Di tim senior, Shin Tae-yong selalu meminta pemain untuk mengumpan atau bergerak, dalam bahasa kerennya pass and move. Haram hukumnya setiap pemain terlalu lama memegang bola. Menurutnya pemain tim nasional harus sering mengumpan dan setelah mengumpan lekas bergerak.

Nah, filosofi semacam ini juga dipraktekkan oleh Nova Arianto di Timnas Indonesia U-16. Lihat saja, video-video saat ia melatih. Nova selalu bilang, pemain harus cepat mengumpan dan sering bergerak. Ia juga mengajarkan bagaimana mengumpan dan menerima umpan yang baik, persis seperti Shin Tae-yong.

Di latihan, Nova juga tak segan menegur keras pemain yang tidak taat pada filosofi pass and move. Beberapa kali pemain timnas masih belum mengerti bahwa setelah umpan, mereka wajib bergerak, bukan diam saja seperti patung Pancoran.

Kejujuran dan Integritas

Dalam membentuk generasi baru Timnas Indonesia, Nova Arianto menjadikan ayahnya, Sartono Anwar role model. Sartono Anwar juga mantan pelatih. Ia pernah membawa PSIS Semarang juara Perserikatan tahun 1987. Salah satu nilai yang dipegangnya dari sang ayah adalah kejujuran. Kejujuran berkaitan dengan integritas.

Menjadi pelatih tim muda, integritasnya bisa saja tergoda, apalagi jika ada seorang tokoh yang menitipkan anaknya. Namun, Nova berusaha keras menjaga integritasnya. Bahkan ia menepis isu adanya pemain titipan di Timnas Indonesia U-16. Pemain titipan yang dimaksud sebetulnya ada di Timnas Thailand.

Suatu ketika pernah muncul kabar, CEO Farmel Isvil Football Academy dan EXCO PSSI, Eko Setyawan menitipkan anaknya, Fardan Ary ke Timnas Indonesia U-16 asuhan Nova Arianto. Akan tetapi, mengutip Bolasport, hal itu tidak benar. Toh, Fardan tidak lolos seleksi.

Putra pasangan artis kondang, Darius Sinathrya dan Donna Agnesia, Diego pernah mengikuti seleksi Timnas U-16. Namun, meski anak dari selebritis terkenal dan punya nama, Diego tidak masuk daftar 23 pemain yang dipanggil Nova Arianto untuk Piala AFF U-16 2024.

Persyaratan yang Ketat

Sama seperti Shin Tae-yong, dalam menyeleksi Timnas U-16 yang nantinya akan menjadi generasi baru Timnas Indonesia, Nova menerapkan kriteria-kriteria khusus. Salah satunya adalah soal tinggi badan. Bagi pemain yang berposisi bek, penyerang, dan kiper, wajib memiliki postur minimal 175 cm.

Persyaratan itu berkaitan dengan Timnas Indonesia U-16 yang ditargetkan lolos ke Piala Asia U-17 2025 mendatang. “Kalau ingin bermain di level Asia, tinggi badan menjadi hal yang utama,” kata Nova Arianto.

Adapun pemain yang di luar tiga posisi tersebut yang tingginya di bawah 175 cm, Nova masih menerimanya. Namun, wajib memiliki kemampuan spesial. Misalnya, kualitas melewati lawan, umpan, dan keahlian melepas tembakan. Jika kamu menonton Piala AFF U-16, ada pemain di timnya Nova yang cukup pendek.

Ia adalah Fandi Ahmad Muzaki. Tingginya cuma 168 cm. Oleh karena itu, Nova menuntutnya lebih. Kalau tidak memenuhi tuntutan, bukan tidak mungkin Fandi Ahmad akan dicoret. Namun, sepanjang Piala AFF U-16, Fandi menjadi pemain yang cukup merepotkan lini bertahan lawan lewat gocekan dan visi bermainnya.

Asupan

Setiap atlet, apa pun cabang olahraganya, perlu memperhatikan asupan makanan. Hal itu coba dibiasakan Nova Arianto di timnya. Melalui wawancaranya di Vivagoal Indonesia, Nova menerapkan berbagai aturan pola makan yang wajib ditaati oleh pemainnya.

Dalam wawancara itu, menurut Nova Arianto, setiap makanan yang dimakan siang dan malam oleh anak asuhnya, wajib mengandung tiga protein: ikan, ayam, dan daging. Ia juga membatasi betul soal gorengan.

Aturan soal makanan, asupan, dan gizi, menurut Nova, perlu dibiasakan sejak dini. Sebab di tim U-23 maupun senior begitu. Jadi, para generasi baru Timnas Indonesia ini nantinya tidak akan kaget ketika dilarang makan ini-itu saat masuk di tim senior.

Nova Arianto tidak menitikberatkan pencapaian dari segi trofi. Namun, ia bertugas untuk membentuk generasi baru Timnas Indonesia dengan membawa misi yang diusung oleh Shin Tae-yong.

Jika sudah sevisi dan semisi dengan pelatih tim senior, maka jalan pembinaan itu akan kelihatan lebih terang. Jadi, football lovers, optimiskah generasi Timnas Indonesia ke depan akan jauh lebih baik?

https://youtu.be/gZGU3RYQ9bI

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru