Dalam percaturan sepakbola kawasan Amerika Latin, Brasil dan Argentina jelas menjadi kekuatan utama. Tak bisa disangkal memang, pasalnya kedua negara terbesar di wilayah tersebut sudah membuktikan diri dengan berbagai torehan prestasi.
Di ajang Piala Dunia, tim samba telah mengantongi lima gelar, sedangkan tim tango sendiri hanya menyandang dua gelar. Kemudian pada turnamen Copa America, jika ditotal Brasil dan Argentina sudah mengumpulkan sebanyak 23 trofi. Dengan rincian Argentina 14 dan Brasil 9.
Namun, jangan anggap remeh negara-negara lainnya, Chile misalnya. Negara yang bertetangga dekat dengan Argentina ini memang tak punya trofi sebanyak Brasil atau Argentina. Meski begitu, tim berjuluk La Roja itu pernah membuat sejarah di mata dunia.
Pada turnamen piala dunia, prestasi terbaik Chile hanyalah menempati peringkat ketiga, itupun terjadi saat mereka menjadi tuan rumah pada gelaran tahun 1962. Sementara pada ajang antar negara di Amerika Latin, Chile baru mempunyai dua piala.
Di setiap generasinya, Chile memang pernah dianugerahi beberapa talenta emas. Sebut saja Marcelo Salas dan Ivan Zamorano pada era 90-an. Kedua striker top Chile ini pernah berkarir bersama klub-klub elit eropa. Salas pernah berseragam Lazio dan Juventus, sedangkan Zamorano pernah merumput di Sevilla, Madrid dan Inter. Kedua pemain ini juga menjadi aktor utama Chile saat menembus 16 besar piala dunia 1998, di mana Salas mencetak 4 gol di ajang tersebut.
Setelah generasi Salas dan Zamorano berakhir, Chile tak kehabisan talenta emas. Tepat satu dekade setelahnya, atau pada era 2010 keatas, Chile punya skuad yang sangat mumpuni. Dengan skuad yang mereka miliki, Chile sukses menjuarai Copa America sebanyak dua kali secara beruntun.
Pertama, mereka juara Copa America 2015 yang digelar di kandang sendiri dan kedua pada tahun 2016 di Amerika Serikat. Uniknya, pada dua partai puncak tersebut, mereka mengalahkan Argentina, tim yang dibintangi si manusia planet, Lionel Messi.
Copa America 2015 menjadi tonggak 99 tahun ajang antarnegara paling bergengsi di Amerika Selatan sejak pertama kali digelar pada tahun 1916. Sungguh sebuah ironi ketika Jorge Sampaoli, yang berasal dari Argentina, harus mengarsiteki timnas Chile yang mengalahkan timnas negaranya sendiri di final.
Dalam perjalanannya menuju tangga juara, Chile tak pernah sekalipun menelan kekalahan. Langkah mereka dimulai ketika melibas Ekuador 2-0 di partai pembuka. Lalu sempat bermain imbang 3-3 melawan Mexico, La Roja kemudian mengamuk di partai ketiga berkat kemenangan 5-0 atas Bolivia.
Di perempat final, Chile dipertemukan dengan sang raja turnamen, Uruguay. Sekedar informasi bahwa Uruguay merupakan pemilik gelar terbanyak Copa America dengan raihan 15 trofi. Namun, bukan Chile namanya jika tak bisa mengatasi hadangan Luis Suarez dan tim. Bertanding di stadion Nasional, Santiago, gol semata wayang Mauricio Isla di menit ke 80 sukses antar Chile ke babak selanjutnya.
Di fase semifinal, Chile lalu mengalahkan Peru 2-1 lewat gol yang diborong sang striker Eduardo Vargas. Di Final, Mereka lalu dipertemukan dengan Argentina yang di semifinal mengalahkan Paraguay dengan skor mencolok 6-1.
Keberhasilan Chile melaju ke partai penentuan terbilang cukup wajar. Pasalnya, di bawah bimbingan Jorge Sampaoli, Chile menjelma menjadi tim dengan permainan yang luar biasa di turnamen tersebut. Berbekal para pemain berkualitas dari berbagai lini mulai dari kiper Claudio Bravo, bek sayap Mauricio Isla, gelandang Arturo Vidal, pengatur serangan Jorge Valdivia, hingga Eduardo Vargas sebagai juru gedor, Chile tampil sangat mempesona.
Sampaoli sepertinya mendapatkan pengaruh dari pendahulunya, yakni Marcelo Bielsa. Kemenangan demi kemenangan yang mereka dapatkan itu diperoleh dari skema permainan atraktif yang memaksa setiap lawan harus banyak memfokuskan diri dalam menjaga sektor pertahanannya. Produktivitas Chile dalam mencetak gol selama gelaran ini juga terbilang luar biasa. Tercatat ada 13 gol yang sudah dibukukan dan ini menjadi produktifitas gol terbanyak dari seluruh kontestan lainnya.
Di babak final, seperti yang sudah disinggung di awal, Chile menjadi pemenang. Setelah bermain imbang 0-0 dalam 120 menit melawan Argentina, Chile menang 4-1 lewat drama adu penalti. Alexis Sanchez, sebagai eksekutor terakhir memastikan kemenangan Chile setelah sepakan panenkanya tak mampu dibendung kiper Argentina, Sergio Romero.
Gelar juara Chile semakin lengkap, karena sang kapten, Claudio Bravo terpilih sebagai kiper terbaik turnamen, dan Eduardo Vargas menjadi top skor turnamen setelah membuat empat gol. Gelar juara itu menjadi yang pertama bagi Chile sejak Copa America digelar 99 tahun silam. Sebelumnya mereka hanya mampu menjadi runner up di ajang Copa America 1955, 1956, 1979, dan 1987. Untuk alasan itu saja, Claudio Bravo cs. layak disebut sebagai generasi emas terbaik yang pernah dimiliki Chile.
Pada perhelatan yang sama di tahun berikutnya yang digelar di Amerika Serikat, Chile kembali menjadi raja. Turnamen ini diberi nama Copa America Centenario karena untuk memperingati 100 tahun berdirinya turnamen tersebut.
Chile datang ke negeri paman sam untuk berlaga di Copa America Centenario berstatus bukan unggulan pertama. Meski berpredikat juara bertahan, La Roja diyakini tak mampu mempertahankan gelar yang telah diraih pada tahun sebelumnya.
Terlebih, Chile telah berganti pelatih. Jorge Sampaoli mundur dan diganti oleh Juan Antonio Pizzi. Juru racik berdarah Argentina tersebut bakal sulit menyamai pencapaian Sampaoli. Argentina dan Brasil merupakan tim yang diunggulkan dapat merengkuh trofi. Tapi, Chile berhasil menepis keraguan tersebut. Mereka mampu melaju ke final dan akhirnya juara.
Chile sebenarnya tampil tak meyakinkan di awal. Pada laga pertama fase grup, mereka kalah 1-2 dari Argentina. Pada laga kedua, Chile memang menang 2-1 atas Bolivia. Tapi, mereka meraihnya secara kontroversial setelah diberi penalti pada injury time babak kedua.
Langkah gagah Chile baru dimulai pada laga ketiga fase grup usai menang 4-2 atas Panama. Di perempat final, tim besutan Antonio Pizzi menunjukkan kelasnya. Meksiko dihajar dengan skor sangat telak 7-0, di mana Eduardo Vargas menyumbangkan empat gol. Hasil tersebut tentu cukup mengejutkan mengingat Meksiko juga salah satu tim kuat. Laju Chile tak terbendung setelah di semifinal menyingkirkan tim kuat lain, Kolombia. Meski begitu, mereka tetap dipandang sebelah mata mengingat Argentina tengah on fire, terutama Lionel Messi.
Tapi, Chile kembali menunjukkan permainan mereka yang agresif dan tak kenal takut. Meski sempat kehilangan Marcelo Diaz karena kartu merah, mereka tak panik dan tetap memberikan perlawanan kuat pada La Albiceleste.
Berbekal semangat pantang menyerah, Chile pun bisa membawa pulang piala berlapis emas yang khusus dibuat untuk Copa America Centenario, setelah melewati adu penalti, di mana Chile memaksa tim tango menyerah dengan skor 4-2.
Chile, sang anak bawang, kini telah menjadi raja Amerika. Gelandang Arturo Vidal menyebut Chile telah melahirkan generasi emas. Dua gelar juara Copa America secara berurutan merupakan bukti sahih.
“Ini adalah generasi Chile terbaik. Timnas kami tak memiliki celah. Kami akan terus membawa Chile tampil sebaik mungkin,”
“Argentina memang tim yang sangat bagus dan dipenuhi banyak pemain bintang. Tapi, yang terpenting kami adalah pemenang dan ini target yang kami tetapkan”. Ucap Vidal.


