Mengenang ‘Keajaiban Dari Milan’ Saat Schalke 04 Menghabisi Juara Bertahan UCL Inter Milan

spot_img

Semua sepakat bahwa klub asal Italia, Inter Milan merupakan salah satu klub terbaik di Eropa. Pada masanya, Inter pernah menjadi tim terkuat di Italia bahkan dunia. Musim 2009/10 bisa dikatakan sebagai musim terbaik kesebelasan yang bermarkas di Giuseppe Meazza tersebut. Betapa tidak, pada musim itu, Inter sukses merengkuh treble winners dibawah asuhan Jose Mourinho sebagai juru taktik.

Raihan treble winners Inter jadi yang pertama dalam sejarah berdirinya klub tersebut. Bahkan, mereka menjadi satu-satunya tim Italia yang berhasil merengkuh treble. Pada musim itu, selain menjuarai Liga Italia Serie A dan Coppa Italia, Inter juga melengkapi musim terbaik mereka dengan menggondol trofi Liga Champions setelah di final menaklukkan Bayern Munchen 2-0 lewat dua gol Diego Milito.

Perjalanan Inter untuk merebut mahkota tertinggi kompetisi antarklub eropa itu terbilang luar biasa. Buktinya, Klub sekaliber Barcelona yang saat itu sedang dalam masa jayanya mereka singkirkan di fase semifinal. Namun, roda kehidupan akan terus berputar, tidak selamanya orang akan berada diatas, terkadang harus merasakan pahitnya berada di bawah. Begitu pula dengan apa yang terjadi pada Inter Milan.

Setelah meraih kesuksesan luar biasa dengan merebut trofi Liga Champions di musim 2009/10, Inter Milan gagal mempertahankannya pada musim berikutnya. Bahkan, sang jawara bertahan harus mengakhiri musim Liga Champions 2010/11 secara tragis.

Kala itu Inter Milan yang masih diperkuat sejumlah nama yang dimusim sebelumnya turut mengantarkan raih trofi Liga Champions harus menyerah di tangan wakil Jerman, Schalke 04 (Syalke Nul Vier). Tak tanggung-tanggung, La Beneamata dihabisi Schalke dengan skor telak di perempat final.

Musim itu, di Liga Champions 2010/11, Inter Milan terjun sebagai sang juara bertahan turnamen. Mereka ditempatkan di grup A bersama Tottenham Hotspurs, Twente dan Werder Bremen. Sementara, di fase awal Liga Champions, Schalke mungkin cukup ‘beruntung’ karena masuk di grup yang tidak berat. Mereka bersaing dengan tim-tim yang relatif setara dengan mereka: Lyon, Benfica, dan Hapoel Tel Aviv.

Setelah melewati fase grup yang cukup rumit, Kedua tim memastikan diri melaju ke perdelapan final atau babak 16 besar. Tim asal Jerman keluar sebagai juara grup dengan perolehan poin 13, sedangkan Inter harus puas berada di posisi runner up grup dengan 10 poin.

Di perdelapan final, Schalke berhasil menang agregat 4-2 atas Valencia dan sekaligus memesan tiket ke babak perempat final. Lawan mereka adalah Inter Milan yang mengandaskan perlawanan Bayern Munchen pada babak 16 besar.

Di fase inilah, cerita memilukan bagi kubu I Nerazzurri itu terjadi. Petaka menghampiri Inter tatkala menjamu Schalke di Giuseppe Meazza dalam leg pertama perempat final. Di depan publik sendiri, mereka dipermalukan dengan skor 2-5.

Schalke pada musim itu memang tampil cukup dominan. Sempat berganti pelatih di tengah musim dari Felix Magath ke tangan Ralf Rangnick, Schalke tampil istimewa di kancah eropa, serta mereka menjuarai turnamen DFB Pokal. Deretan nama beken mereka datangkan di awal musim. Raul Gonzalez, Klaas Jan Huntelaar dan Christoph Metzelder hadir untuk melengkapi skuad tim yang berdiri pada tahun 1904 tersebut.

Pada laga di Giuseppe Meazza, awalnya jalan Inter menuju Semifinal seakan terbuka lebar ketika Dejan Stankovic merobek gawang Manuel Neuer ketika laga baru berjalan 26 detik. Gol tersebut terbilang spektakuler, bermula dari umpan jarak jauh Esteban Cambiasso ke jantung pertahanan Schalke. Diego Milito mencoba menguasai bola di depan kotak penalti.

Akan tetapi, usaha Milito digagalkan Neuer yang keluar dari sarangnya untuk memotong bola dengan menanduk bola ke tengah lapangan. Bola hasil sundulan Neuer melambung ke tengah lapangan mendekati Stankovic. Tanpa pikir panjang, gelandang asal Serbia tersebut melepaskan tembakan voli sebelum bola menyentuh tanah. Bola pun menerobos masuk ke gawang yang terlanjur kosong.

Namun 16 menit kemudian, Joel Matip mampu menyamakan kedudukan untuk Schalke seusai memanfaatkan kemelut di depan gawang. Striker Inter, Diego Milito kemudian mengembalikan keunggulan buat timnya melalui sundulan di menit ke-32. Namun Schalke berhasil menyamakan skor menjelang turun minum berkat gol yang dibukukan oleh striker Brazil, Edu.

Di awal babak kedua Inter tampil lebih menggigit dan nyaris menambah pundi-pundi golnya. Cuma sayang tendangan Milito melebar ke pinggir gawang dan usaha striker Kamerun, Samuel Eto’o gagal di tangan Manuel Neuer.

Namun tidak lama berselang kecerobohan pemain-pemain belakang tim tuan rumah berakibat fatal. Di menit ke-53, striker Spanyol Raul sukses mengelabui Cristian Chivu dan merobek gawang Julio Cesar untuk mengubah keunggulan menjadi 3-2 untuk Schalke.

Pada menit ke 57, Gol bunuh diri dari Andrea Ranocchia membuat Inter semakin tertinggal 2-4. Awalnya Ranocchia berniat menghalau umpan Jose Manuel Jurado, tetapi bola malah berbelok ke gawang sendiri.
Alih-alih memangkas selisih skor, Inter justru kembali jebol oleh Edu pada menit ke-75. Edu melepas tendangan keras yang tidak mampu lagi ditahan oleh Julio Cesar. Skor 5-2 untuk Schalke pun bertahan hingga akhir pertandingan.

“Keajaiban dari Milan” begitulah media-media Jerman menanggapi kemenangan sensasional Schalke atas juara bertahan Liga Champions tersebut.

Pelatih Schalke 04, Ralf Rangnick, mengklaim keberhasilan timnya menghancurkan Inter Milan di Liga Champions terjadi berkat andil AC Milan. Rupanya, tiga hari sebelum laga, Rangnick berhasil menemukan kelemahan yang dimiliki Javier Zanetti dan kawan-kawan.

“Saya menonton derby Milan sendirian. Saya mengerti bahwa Inter tidak menekan sama sekali di lini tengah dan mereka meninggalkan ruang besar di belakang,”.

“Mereka rentan terhadap lawan cepat seperti Alexandre Pato dan pemain-pemain yang mampu mengambil inisiatif serangan seperti yang dimiliki Milan. Saya meminta pemain saya untuk memberikan segalanya dan menyerang setiap bola,” ungkap Rangnick kala itu (Dikutip Goal).

Setelah menang 5-2 di leg pertama, Schalke kembali menunjukkan keperkasaan di hadapan pendukung sendiri. The Royal Blues memaksa Inter yang pada saat itu dilatih Leonardo pulang dengan kepala tertunduk setelah menang 2-1. Dua gol Schalke diciptakan oleh Raul Gonzalez dan Benedikt Howedes, sementara satu gol Inter dicetak Thiago Motta.

Berkat kemenangan agregat 7-3 tersebut, Klub yang juga berjuluk Die Knappen, atau ‘Para Buruh Tambang’, itu pun mengukir sejarah membanggakan, yakni untuk kali pertama menembus semifinal turnamen kasta tertinggi di Eropa.

Sayangnya, langkah bersejarah Schalke, klub yang di musim sebelumnya menjadi runner up Bundesliga itu harus tertahan Manchester United di semifinal. Mereka menyerah dari Setan Merah yang masih ditukangi oleh Sir Alex Ferguson.

Raul Gonzalez dkk tak berkutik pada dua leg dan akhirnya mereka pun harus mengubur impian ke final pertama kalinya, setelah kalah agregat total 1-6. Meski demikian, dengan mencapai ke semifinal, itu sudah menjadi prestasi luar biasa bagi the Royal Blues. Akan tetapi, perjalanan manis Schalke di Liga Champions serta menjadi juara di DFB Pokal tidak mereka imbangi di kompetisi Bundesliga. Schalke di musim tersebut harus puas bertengger di posisi ke 14 dari 18 tim peserta.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru