Tahun 1985 mungkin menjadi yang paling kelam bagi sejarah sepakbola. Dari tragedi Heysel hingga kebakaran di Bradford, sampai perginya sang maestro sepakbola asal Skotlandia, Jock Stein.
Menyusul hasil imbang 1-1 Skotlandia melawan Wales di kualifikasi Piala Dunia, pria bernama Jock Stein tiba-tiba pingsan di ruang ganti. Awalnya, dia sempat sadar dan mampu menjawab pertanyaan orang-orang meski dengan terbata. Namun setelah mendapat perawatan, atau tiga puluh menit setelah pertandingan, sang juru taktik handal itu pergi untuk selama-lamanya.
Hari itu, praktis menjadi akhir dari sebuah era. Era dari seorang pemikir hebat di pinggir lapangan, plus pemberi sejarah bagi persepakbolaan Skotlandia. Setelah kematian Jock Stein, Skotlandia memang kemudian melahirkan sosok bersahaja semacam Bill Shankly hingga Alex Ferguson. Akan tetapi, semua percaya kalau tidak akan ada yang pernah menggantikan Jock Stein sebagai pribadi yang begitu luar biasa dalam dunia sepakbola.
Kehidupan Stein dimulai di sebuah lingkungan bernama Burnbank yang begitu sederhana. Wilayah itu terletak dua setengah mil dari selatan Hamilton. Dia lahir pada tahun 1922, atau empat tahun setelah berakhirnya perang dunia pertama.
Sebagai seorang putra penambang, kehidupan Jock Stein tergolong biasa saja. Dia sama sekali tidak terlihat akan menjadi sosok sempurna dalam dunia sepakbola. Setiap pagi dia pergi ke sekolah untuk kemudian pulang di siang hari dan membantu orang tuanya. Hal tersebut terjadi selama setidaknya lima belas tahun.
Sampai pada suatu hari, dia tertarik dengan permainan sepakbola. Pada tahun 1940, Stein bergabung dengan akademi Blantyre victoria. Dia lalu mendapat kontrak profesional pertamanya sebagai pemain bersama Albion Rovers pada 1942, sembari bekerja paruh waktu sebagai penambang.
Dia yang memang serius menggeluti dunia sepakbola telah mencatatkan sebanyak 200 pertandingan di liga untuk Albion Rovers. Selama delapan tahun berkarir di sana, dia lalu memutuskan pindah ke klub Wales, Llanelli Town, pada musim 1950/51, sebelum akhirnya pindah ke Celtic pada musim 1951/52.
Di Celtic, dia seperti mendapatkan kebahagiaan yang berbeda. Padahal, sebelum gabung ke klub tersebut, dia sempat mengalami masa yang tidak mengenakkan.
Ketika masih tercatat sebagai pemain Albion Rovers, Stein sempat mengalami perampokan di rumahnya hingga gagal membahagiakan sang istri. Saat itu, dia berpikir apakah sepakbola akan memberi kebahagiaan nantinya bila ia terus bertahan. Dari situlah, ketika tawaran Celtic datang, dia merasa seperti dibutuhkan.
Dia bahagia dan kembali melanjutkan karir sebagai seorang pesepakbola.
Hanya dua belas bulan setelah ia resmi menandatangani kontrak dengan raksasa Skotlandia, Stein langsung dihadiahi ban kapten. Dia dianggap sebagai sosok luar biasa yang setiap perkataannya akan didengar oleh para rekan setimnya.
Stein mengalami banyak perubahan di Celtic. Dia menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab hingga mampu memberikan gelar liga pertama untuk klub tersebut pada tahun 1954. Trofi itu jelas menjadi yang paling bersejarah bagi Celtic mengingat mereka sejak saat itu mulai dikenal sebagai salah satu kekuatan terbesar sepakbola Skotlandia setelah Rangers.
Namun sayang, karir sepakbolanya tak mampu bertahan lama. Masalah cedera menjadi penyebabnya. Dia mengalami cedera parah sampai harus menjalani operasi untuk memulihkan kondisi. Pada tahun 1956, karir Stein sebagai seorang pesepakbola mulai pudar. Dia seperti kehilangan gairah. Apalagi, kesempatan yang diberikan pelatih tak sesering dulu seperti saat ia masih menjadi andalan.
Pada akhirnya, ia memutuskan untuk pensiun.Namun, Stein tak serta merta meninggalkan dunia sepakbola dan Celtic khususnya. Ia mencintai klub tersebut dan bersedia menjadi pelatih tim muda disana.
Ketika itu, ia tertantang untuk membungkam omongan media yang kerap meremehkannya. Saat itu, melatih dipikirnya sebagai satu-satunya cara untuk bisa kesankan banyak orang. Dalam perjalanannya sebagai seorang pelatih, pasca resmi menjadi pelatih tim muda Celtic, ia pindah untuk menangani Dunfermline Athletic dan mengantarkan tim tersebut meraih Scottish Cup pada 1961 usai menundukkan Celtic 2-0 pada babak final.
Sebuah catatan yang terbilang brilian itu pada akhirnya membuatnya pindah ke Dunfermline sampai ke Hibernian.
Sampai pada akhirnya, tepat pada tahun 1965, takdir mempertemukannya kembali dengan Celtic. Disinilah, karirnya melonjak tajam hingga ia dijuluki sebagai pelatih terhebat sepanjang masa asal Skotlandia.
Perlu diketahui, sebelum resmi menjabat sebagai pelatih Celtic, nama Stein begitu diagungkan di Inggris. Dia mendapat banyak tawaran termasuk dari Wolverhampton hingga Newcastle. Namun, hatinya yang sudah terlanjur cinta kepada Celtic membuatnya tak memikirkan apapun selain kembali ke pelukan klub yang pernah memberinya kejayaan.
Pada pertandingan pertama melatih klub yang bermarkas di Celtic Park, Jock Stein berhasil membawa klub menang dengan skor 6-0 untuk kemudian diikuti oleh dua kekalahan, termasuk kekalahan 4-2 dari mantan klub Hibernian. Catatan itu membuat para penggemar tak banyak menaruh harap pada sosok Stein. Namun pada akhirnya, sang pelatih berhasil membuktikan diri sebagai yang terbaik, dengan mempersembahkan Piala Skotlandia pertama sejak 1954.
Dua musim berikutnya, Celtic dibawa Stein menjuarai gelar liga, yang mana itu sudah terjadi sejak lebih dari sepuluh tahun sebelumnya.
Total 10 trofi liga, delapan trofi Scottish Cup, dan enam trofi Piala Liga Skotlandia menjadi capaian-capaian Stein selama menangani klub yang bermarkas Celtic Park dalam rentang waktu 1965 sampai 1978.
Dari sekian banyak piala yang dipersembahkan, trofi Liga Champions Eropa tentu menjadi yang paling diingat oleh para penggemar. Kejadian tersebut terjadi pada musim 1966/67 dimana The Hoops berhasil mengandaskan perlawanan Inter Milan yang saat itu adalah juara bertahan, di National Stadium, Lisbon.
Padahal di partai final, Celtic menjadi tim yang tidak diunggulkan. Wajar saja karena di partai puncak mereka bertemu Inter Milan asuhan Helenio Herrera yang terkenal akan konsep catenaccionya. Di sana juga bercokol pemain-pemain besar macam Giacinto Facchetti, Armando Picchi dan Sandro Mazzola.
Akan tetapi, dengan pola permainan menyerang, dia berhasil membawa anak asuhnya menembus lini pertahanan Inter yang terkenal begitu kuat.
Sempat tertinggal melalui penalti Mazzola, Celtic mencetak dua gol kemenangan melalui Tommy Gemmell dan Stevie Chalmers. Penampilan atraktif skuad asuhan Stein tersebut membuat mereka dijuluki The Lisbon Lions.
Di musim tersebut, selain menjuarai gelar Liga Champions Eropa, Jock Stein juga berhasil membawa Celtic menggondol piala Liga Skotlandia, piala Skotlandia, hingga trofi Liga itu sendiri. Dalam tiga musim beruntun, mereka bahkan mengakhiri liga dengan membuat lebih dari 100 gol.
13 tahun bertahan di Celtic, Jock Stein akhirnya mundur setelah klub resmi menunjuk sosok Billy McNeill. Ia pun pindah ke Leeds United sebelum akhirnya menangani timnas Skotlandia. Pada tahun 1970, Jock Stein sebenarnya sempat ditawari untuk melatih Manchester United namun ia menolak.
Pada akhirnya, dirinya pun menyebut kalau menolak Manchester United sebagai penyesalan terbesarnya.
Pasca kematiannya di tengah tugas melatih timnas Skotlandia, nama Jock Stein diabadikan dalam Scottish Sports Hall of Fame dan Scottish Football Hall of Fame berkat capaian-capaian yang ia raih sebagai manajer. Sebagai bentuk penghormatan, tribun barat Celtic Park pun dinamai Jock Stein Stand.
Selain itu pada Maret 2011, patung Stein juga berdiri tegak di luar kandang Celtic Park dengan menggenggam trofi Si Kuping Besar.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=2Rt0UOnrzQE[/embedyt]
Sumber referensi: Punditfeed


