Kompetisi sepakbola Belgia, di era modern khususnya, sudah sangat akrab dengan nama Anderlecht, KRC Genk, hingga Club Brugge. Akan tetapi pada musim ini, mereka semua gagal puncaki klasemen sementara, setelah terdapat satu nama yang bahkan orang-orang Belgia tidak banyak yang mengetahuinya, yaitu Royale Union Saint-Gilloise.
Royale Union Saint-Gilloise saat ini duduk di tangga pertama kompetisi teratas Belgia. Setidaknya dalam 15 laga, mereka duduk dengan raihan sebanyak 34 poin. Torehan golnya mencapai 40 angka. Sementara itu, jumlah kebobolan tak lebih dari 14. Dengan poin yang terbilang tinggi, Royale Union Saint-Gilloise sukses berjarak tujuh angka dari sang runner up Royal Antwerp.
Kehadiran Royale Union Saint-Gilloise jelas menimbulkan tanya. Pasalnya, klub ini tidak pernah sebegitu menakutkannya pada tahun-tahun sebelumnya. Bahkan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, mayoritas waktu yang mereka habiskan adalah untuk bermain di kompetisi kelas dua saja.
🥳 𝓨𝓮𝓼𝓽𝓮𝓻𝓭𝓪𝔂 𝓷𝓲𝓰𝓱𝓽 🎉 pic.twitter.com/VBBPJOtz19
— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) December 4, 2021
Sejarah Royale Union Saint Gilloise
Berdiri sejak tahun 1897, Royale Union Saint Gilloise langsung muncul sebagai raksasa sepakbola Belgia. Sebelum Perang Dunia II meletus, Royale Union Saint Gilloise sudah memenangkan gelar liga ke sebelas mereka pada tahun 1935. Lebih hebatnya lagi, dalam rentang waktu 1933 sampai 1935, mereka berhasil mencatat rekor dunia yaitu tidak pernah menelan satupun kekalahan dalam 60 pertandingan secara beruntun.
Hal itulah yang kemudian membuat para pendukung dengan bangga melabeli klub dengan sebutan “Union 60”.
Sayang seribu sayang, sejak saat itu, eksistensi klub bisa dikatakan hilang. Mereka mengalami masa kemunduran dan tak pernah terdengar lagi namanya. Union Saint Gilloise baru muncul lagi ke permukaan pada tahun 1972, ketika kasta tertinggi Belgia menjadi tempat bagi mereka untuk kembali tunjukkan kuasa.
The story of @UnionStGilloise
Royale Union Saint-Gilloise or Union SG, is a Belgian football club who were recently promoted to the Belgian Pro League from the Belgian second division. The newly promoted side are currently at the top of the table after 48 years. #unionstgillois pic.twitter.com/7p1OlFLIq6— S53 (@SharbelEC) December 6, 2021
Nahas, konsistensi mereka sangat diragukan. Klub tak mampu pertahankan kekuatan hingga mondar mandir ke jurang degradasi menjadi hal yang sangat biasa. Malah, mereka sempat juga bermain di kompetisi kelas tiga dimana hal tersebut jelas membuat nama tim perlahan menghilang.
Bangkit dan Kuasai Belgia
Setelah sekitar 48 tahun lamanya terjerembab di kasta terbawah, mujur bagi Union Saint Gilloise karena mereka kedatangan seorang yang sangat serius dan peduli untuk membangun kembali sebuah kekuatan besar.
Perjalanan hebat mereka pada musim ini dimulai dari akuisisi sekitar tiga tahun lalu, yang dilakukan oleh Tony Bloom, pemilik Brighton & Hove Albion, dan mitra bisnisnya Alex Muzio. Dalam membeli Union Saint Gilloise, Tony Bloom dan Alex Muzio mempertimbangkan sejumlah hal seperti harga yang relatif murah, memiliki basis penggemar yang cukup, serta memiliki potensi pertumbuhan yang diinginkan.
“Salah satu alasan kami tidak membeli klub di Prancis atau Italia atau Spanyol adalah karena kami ingin menang,”
“Ini bukan hanya tentang menemukan sebuah nilai, tapi juga sesuatu yang menyenangkan.” kata Muzio kepada The Independent.
🤩 Pour bien commencer le week-end ! pic.twitter.com/d1aWHagY2c
— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) December 3, 2021
Berbasis di Brussel, Union Saint Gilloise dibawa menjadi tim yang saat ini punya banyak harapan. Bloom yang memegang saham mayoritas di Brighton memilih untuk duduk di kursi belakang dan menyerahkan kepemimpinan kepada Muzio yang pada saat pengambilalihan klub baru berusia 34 tahun.
Tanpa basa-basi, mereka berdua bekerja sama untuk langsung menyuntikkan dana guna memperbaiki fasilitas latihan. Mereka percaya bila investasi di fasilitas pelatihan dianggap sebagai sesuatu yang nantinya bisa membuat para pemain berkembang dengan baik.
Selain menyuntikkan dana untuk memperbaiki fasilitas, keduanya juga jeli dalam melakukan perekrutan pemain. Dalam hal ini, Muzio menunjuk direktur olahraga yang dinilai tepat asal Irlandia Utara, Chris O’Loughlin. Sosok tersebut memiliki perjalanan karir yang cukup mengagumkan, termasuk melakoni tugas di Afrika Selatan, Australia, dan Inggris, serta pernah mengelola klub Belgia Sint-Truiden.
Kemudian untuk bagian kepala eksekutif, Muzio menunjuk Philippe Bormans. Saat ini, ketiga sosok tersebut membentuk trio pemimpin menakjubkan, dengan Muzio masih berusia 37 tahun, O’Loughlin 43 tahun dan Bormans yang baru menginjak angka 34 tahun.
Mereka berpegang teguh pada prinsip, berproses secara bertahap untuk membuahkan hasil maksimal.
Chris O’Loughlin yang ditugaskan untuk mencari bakat-bakat hebat menggunakan cara yang terbilang cermat. Dia akan lebih dulu meneliti data seorang pemain, mencari laporan secara mendalam tentang sosok yang dituju, serta mengidentifikasi kepribadian apakah sang pemain cocok dengan klub.
Chris O’Loughlin mengaku bahwa setidaknya dia akan bekerja selama 10 bulan untuk mendatangkan seorang pemain. Dia melakukan hal ini dengan cara yang serius dan terlihat tidak main-main.
“Kedengarannya agak intens tapi itu dilakukan untuk memastikan mereka (para pemain) adalah orang yang tepat,” kata Muzio.
Dengan metode tersebut, pemain yang didatangkan pun bisa menampilkan sesuatu yang diinginkan. Diantaranya sang kapten Teddy Teuma. Pemain yang kini berusia 28 tahun itu tercatat sebagai penggawa timnas Malta dan lebih sering menghabiskan waktunya di divisi bawah Liga Prancis.
🌪️ 𝑾𝒂𝒗𝒊𝒏𝒈 𝑴𝒆𝒊𝒔𝒕𝒆𝒓 🤩 pic.twitter.com/9hf6bmLFEJ
— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) November 30, 2021
Kemudian ada bek kanan Bart Nieuwkoop, pemain yang didatangkan dari klub asal Belanda Feyenoord melalui proses yang cukup berat.
Salah satu rekrutan terbaik yang dilakukan klub lainnya adalah Dante Vanzeir, penggawa 23 tahun yang didapat dari tim muda salah satu raksasa Belgia, KRC Genk. Pemain yang pada musim ini setidaknya telah memainkan 15 pertandingan itu sukses sarangkan sebanyak 10 gol dan catatkan enam assist.
Bersama dengan Chris O’Loughlin, Muzio terus merayu Dante Vanzeir untuk mau bergabung dengan Union Saint Gilloise. Muzio berkata bila Dante terus bertahan di Genk, maka kesempatannya untuk berkembang sangatlah kecil mengingat disana banyak sekali pemain hebat. Malah dia berpotensi untuk terbuang ke klub di kasta terendah.
Maka dari itu Muzio berkata kepada sang pemain untuk sebaiknya bergabung dengan Union Saint Gilloise karena tim ini memiliki ambisi besar, tempat latihan yang sangat istimewa, dan juga pelatih yang pernah menangani sang pemain, Felice Mazzu.
Benar saja, setelah bergabung dengan Union Saint Gilloise, Dante Vanzeir sukses mendapatkan caps pertamanya bersama timnas Belgia sekitar pertengahan November lalu.
Cara lain yang dilakukan tim scouting Union Saint Gilloise adalah mereka terus mengendus bakat-bakat di tim kasta terendah Eropa. Muzio yakin bila disana pasti terdapat pemain hebat yang bakatnya kurang bisa dimanfaatkan. Melalui metode ini, Union Saint Gilloise sukses mendapatkan pemain asal Inggris, Christian Burgess yang sempat tampil untuk tim Inggris, Portsmouth.
Union Saint Gilloise sangat tertarik dengan bek asal Inggris tersebut karena dianggap punya fisik kokoh, pengalaman yang cukup, dan kemampuan terbaik dalam menghalau bola. Tubuhnya yang nyaris mencapai dua meter sukses membuat pelatih terkesan hingga memberinya kesempatan sebanyak 10 kali di liga.
🙌🏼 L’Union a trouvé un accord avec les autorités locales pour ouvrir la tribune SUD face à KV Mechelen !
👉🏼 Koop vanaf nu je tickets, er zijn er 500 beschikbaar voor Unionisten die in het verleden reeds een ticket kochten.
ℹ️ https://t.co/qCyuMWVdtl
🎟️ https://t.co/XCvuOYMpno pic.twitter.com/paOWnO3G0A— Royale Union Saint-Gilloise (@UnionStGilloise) December 7, 2021
Dari Christian Burgess sendiri, dia sangat terkesan dengan visi yang ditunjukkan klub asal Belgia. Dia mengaku bahwa dalam pikirannya sama sekali tidak pernah terlintas untuk bermain dengan sebuah klub yang bisa tampil di kompetisi Liga Champions Eropa. Namun bersama Union Saint Gilloise, harapan itu datang.
“Di Inggris, bermain di Liga Champions tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Rencana ku datang ke sini adalah untuk mencapai divisi teratas dan siapa tahu, mungkin dalam beberapa tahun kedepan aku bisa beruntung dan bermain di Liga Eropa,”
“Jalan masih panjang, kami akan terus berjuang. Tetapi yang jelas tujuan kami musim ini adalah untuk tetap bertahan di liga teratas.” ucap Christian Burgess.
Dengan kumpulan pemain-pemain yang memang telah disiapkan dengan cermat, formasi 3-5-2 yang dimainkan plus adanya tekanan yang lebih agresif, Felice Mazzu mampu menciptakan keseimbangan sempurna antara menyerang dan pertahanan. Mereka juga mencetak lebih banyak gol dan lebih sedikit kebobolan dari tim lain.
Deniz Undav: Deutscher Benzema 🇩🇪
Geisteskranke Stats in der Belgischen Jupiler Pro League für Aufsteiger und Tabellenführer Royale Union Saint Gilloise:
16 Tore und 12 Assists in 17 Spielen.
DFB-Call incoming? 🤔 pic.twitter.com/3Kfvehc0du— Emanuel Staub (@emanuel_BP_) December 4, 2021
“Dalam hal filosofi sepakbola, pelatih ingin membangun permainan dari belakang dan memainkan sepakbola yang menghibur dengan tekanan tinggi. Tim penyerang yang akan mencetak gol, dan terorganisasi dengan baik pada saat bersamaan,” jelas Christian Burgess.
Ambisi Besar Tony Bloom dan Alex Muzio
Tony Bloom dan Alex Muzio memiliki ambisi besar. Kedepannya, mereka ingin memindahkan tempat latihan klub dari Antwerpen ke kawasan yang lebih dekat dengan stadion di Brussel. Meski hal tersebut tidaklah mudah mengingat sejarah yang masih terus terpahat di tempat yang lama, mereka akan melakukannya dengan sangat hati-hati guna memberi kenyamanan yang lebih baik kepada semuanya.
Setelah sekian lama klub berkubang di jerat kesengsaraan, Tony Bloom dan Alex Muzio ingin membalikkan itu semua. Mereka ingin bangkit dan merasakan kembali status sebagai penguasa liga seperti yang pernah disandang di era 1920 an.
Tony Bloom, el dueño del Brighton & Hove Albion F.C., es dueño también del club Royale Union Saint-Gilloise, de la 2da división de Bélgica. pic.twitter.com/MJ2oAQeWfQ
— Gerardo Calle-Rodrigo (@calleGerardo) January 25, 2021
Dua sosok penting itu memiliki tujuan untuk membuat Brussel tidak hanya memiliki Anderlecht sebagai tim kebanggaan, namun juga Royale Union Saint Gilloise yang akan dibawanya menuju masa depan yang lebih cerah.


