Akademi Ajax Amsterdam sarat akan bakat-bakat berkualitas. Tempo dulu, kita mengenal nama Johan Cruyff, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, sampai Patrick Kluivert.
Mereka semua adalah produk dari akademi Ajax Amsterdam yang bernama De Toekomst. Penamaan De Toekomst tak sembarang dibuat. Nama itu memiliki arti The Future atau dalam bahasa Indonesia adalah Masa Depan.
Daftar Isi
Cara Mendapatkan Berbakat, Budaya, Hingga Metode Latihan yang Digunakan
Tentang para pemain berbakat yang ditelurkan, bagaimana cara Ajax Amsterdam bisa mendapatkannya?
Setiap tahunnya, Ajax Amsterdam selalu menggelar Talent Days, dimana anak-anak berusia 8 sampai 12 tahun akan diseleksi untuk bisa masuk ke akademi. Kemudian, Ajax juga bergerak untuk bisa mendapatkan pemain berbakat di luar akademi.
Disini, mereka telah menyiapkan sebanyak delapan pemandu bakat. Empat pemandu bakat beroperasi di Belanda untuk mencari pemain yang bisa menembus skuad utama, sementara empat pemandu lainnya disebar ke luar Belanda untuk mencari pemain muda potensial.
Namun kedelapan pemandu bakat ini tidak bekerja sendirian. Mereka memiliki setidaknya 90 relawan di berbagai negara untuk memberikan laporan pemain yang dinilai bisa diangkut ke tempat latihan.
Sebanyak sembilan puluh orang relawan yang disiapkan sendiri tidak dipilih secara sembarangan. Mereka sudah dibekali dan paham betul dengan filosofi yang dimiliki Ajax, yaitu mengembangkan bakat-bakat muda dari akademi untuk sukses di Eredivisie maupun di Eropa.
Training @ Ajax Academy⚽ pic.twitter.com/Vv5Nb7j4qn
— Muharrem Öztürk (@ozzionline) October 25, 2021
Selain itu, dalam mendapat pemain berkelas, Ajax juga melebarkan sayap dengan membentuk klub satelit seperti Ajax America yang berada di Amerika Serikat, meski klub tersebut telah dinyatakan bangkrut. Kemudian ada Ajax Cape Town yang berdiri di Afrika Selatan. Lalu masih ada lagi Ajax Hellas Youth Academy, di Cofu Yunani, yang merupakan akademi pertama di luar Belanda yang berdiri pada tahun 2011 silam.
Dikatakan, pemantauan para pemain berbakat dilakukan dalam waktu beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun sebelum para pemain diundang untuk bergabung dengan akademi klub. Ajax pun akan menyimpan dokumen secara rinci dari masing-masing pemain tersebut sejak dari awal sampai mereka gabung dengan akademi.
Setelah semua pemain yang dikumpulkan bisa mulai dibina di akademi, mereka tidak akan dibiarkan untuk tidak disiplin. Budaya serta sistem yang diberlakukan sangat ketat guna membentuk calon bintang yang paham akan warisan bersejarah Ajax Amsterdam.
Kita semua tahu bila Ajax Amsterdam menggunakan sistem permainan yang sangat melekat yaitu total football. Gaya permainan ini mengusung umpan cepat dan juga transisi menyerang cepat. Selain itu, para pemain juga dituntut untuk terus bergerak dengan mencari ruang kosong.
Melalui kurikulum dan filosofi School van de Toemkost yang telah disempurnakan oleh Rinus Michels, sejak usia dini para pemain yang masuk ke akademi Ajax akan diperkenalkan dengan dua bentuk pola dasar 4-3-3, yakni 2-3-5 dan 4-2-3-1 ultra offensif. Penjaga gawang akan dibiasakan menjadi sweeper dengan memberi operan pada bek tengah atau bek kanan, yang dari situ akan diteruskan ke pemain gelandang atau pemain sayap.
Sementara itu, penyerang akan ditugaskan untuk terus bergerak guna merusak konsentrasi lawan.
Ketika dalam skema yang diajarkan mereka kehilangan bola di tengah permainan, maka para pemain akan diminta untuk merebut kembali bola dalam waktu tiga detik saja. Bila bola gagal direbut kembali dan lawan berhasil mencetak gol, sistem ini akan terus diulang sampai berhasil.
Menurut Ajax Online Academy, setidaknya ada empat hal yang kemudian menjadi model kepelatihan di akademi mereka. Diantaranya Technique, Insight, Personality and Speed, atau yang biasa dikenal dengan TIPS. Dalam setiap sesi latihannya, akademi Ajax juga selalu meletakkan delapan komponen penting dalam sepakbola, yaitu latihan koordinasi, menendang, mengumpan dan lemparan ke dalam, pergerakan untuk mengecoh lawan, sundulan, penyelesaian akhir, penempatan bermain, dan permainan kecil agar tidak jenuh.
Penggabungan antara metode TIPS dan delapan komponen penting dalam sepakbola itu kemudian sering disebut sebagai salah satu rahasia sukses akademi Ajax.
Very interesting piece from Dennis Bergkamp about the Ajax academy… Does it make you think about how we develop young rugby players? pic.twitter.com/tVfLKus1d3
— Richie Murphy (@RichieMurphy100) January 19, 2021
Selain para pemain fokus mengembangkan kualitas permainan, budaya kompetisi juga diterapkan disini. Dengan begitu, mereka akan terus tunjukkan kualitas terbaik demi mendapat kesempatan tampil di tim utama. Di sisi lain, pemain yang dinilai kurang memiliki kualitas akan tersisih. Melalui budaya semacam ini, para pemain diharapkan memiliki mental pemenang dalam setiap aksi yang ditampilkan.
Pemain Bintang yang Dihasilkan
Dengan berbagai hal yang diterapkan di akademi mereka, Ajax berhasil menelurkan banyak sekali pemain hebat. Di era 90 an, setidaknya setelah Belanda sukses meraih gelar Piala Eropa 1988 bersama pemain didikan Ajax seperti Marco van Basten, de Boer bersaudara, sampai Frank Rijkaard, kita sempat menyaksikan ketika Ajax berhasil menjuarai kompetisi Liga Champions Eropa tahun 1995 dengan pemain mudanya. Diantaranya Edwin van der Sar, Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, sampai Edgar Davids.
Di era milenium baru, kita juga disuguhkan dengan pemain hebat layaknya Toby Alderweireld, Ryan Babel, Daley Blind, John Heitinga, Nigel de Jong, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Thomas Vermaelen sampai Jan Vertonghen.
Sementara itu, dalam kurun waktu sepuluh tahun ke belakang, Christian Eriksen, Donny van de Beek, Matthijs de Ligt, sampai Justin Kluivert, sangat mendominasi.
Di era sekarang ini saja, dengan kombinasi pemain berpengalaman, Ajax juga masih terus telurkan nama hebat. Beberapa dari mereka yang saat ini masih berkarir untuk tim tercinta adalah Daley Blind, Ryan Gravenberch, Davy Klaassen, Noussair Mazraoui, Devyne Rensch, Maarten Stekelenburg dan Jurriën Timber.
Ryan Gravenberch:
🐣joined Ajax academy at the age of 8
✅55 games, 9 goals & 7 assists for Ajax
🇳🇱3 caps for Netherlands NT
👶youngest ever Ajax player to play in the Eredivisie
🥇Abdelhak Nouri Trofee
🏆Eredivisie
🏆🏆Dutch Cup
🏆Euro U-1718 years of age. Top talent. ❌❌❌ pic.twitter.com/fKx7NDPN8i
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) April 19, 2021
Model Bisnis De Godenzonen
Satu hal yang perlu dicatat, tentang mengapa kemudian Ajax selalu berhasil menciptakan pemain berbakat setiap tahunnya, itu karena mereka memang ingin mengeluarkan sebuah “produk berkualitas” untuk bisa dijual. Ya, dua legenda sepakbola Belanda, Marc Overmars dan Edwin van der Sar, yang kini menjabat Direktur Sepakbola dan CEO Ajax mengakui hal itu. Bahwa pada akhirnya, Ajax menciptakan pemain berbakat untuk diboyong klub lain.
“Marc dan aku pernah jadi pemain,”
“Pada titik tertentu kami meninggalkan sarang untuk tantangan lain dan kami tahu itu pasti terjadi. Itu tidak akan jadi masalah selama mereka [pemain muda Ajax] bermain dua, tiga, atau empat tahun untuk klub, menjuarai liga dan memainkan sepakbola hebat. Setelah itu mereka boleh pergi.” kata Van der Sar pada Guardian.
Dalam setidaknya sepuluh tahun terakhir Ajax sudah meraup sebanyak 501,98 juta euro atau setara 8,1 triliun rupiah dari penjualan para pemain yang menuntut ilmu disana. Mereka unggul jauh dari FC Barcelona yang “hanya” meraup 112,7 juta euro atau sekitar 1,83 triliun rupiah dari pemain jebolan akademi La Masia, dimana sejak kepergian Pep Guardiola el Barca memang terlihat jarang menelurkan pemain muda.
Selain bisnis penjualan pemain, Ajax juga berhasil melebarkan sayap terkait kerjasama dengan klub-klub lain. Dengan sistem kerjasama sister club, Ajax mampu membangun jejaring bisnis dengan klub-klub di berbagai penjuru dunia.
“Dalam 25 tahun terakhir, banyak klub yang mempelajari soal akademi sepak bola kami. Kini, apabila sebuah klub ingin meningkatkan akademi sepak bola mereka, maka kami bisa menawarkan kesepakatan dengan mereka,”
“Kami bisa membagi metode kepelatihan dan infrastruktur kepelatihan kami,” kata Menno Geelen, Direktur Komersial Ajax Amsterdam.
Ajax terus melakukan inovasi dalam memberikan metode latihan untuk menghasilkan pemain berkualitas. Mereka akan memikirkan desain kaos berbeda untuk pemain saat berlatih dan bertanding. Kemudian, kebutuhan nutrisi pemain juga diperhatikan oleh Ajax. Bahkan, bentuk dari keseriusan mereka dalam membangun bisnis ini, klub asal Belanda tersebut sampai mendatangkan pelatih yang diambil langsung dari Ajax Amsterdam untuk melakukan pendampingan dalam metode pelatihan pemain muda.
Dengan model bisnis semacam itu, pada 2017 silam Ajax sukses menjalin kerja sama dengan klub asal Cina, Guangzhou R&F, dalam mengelola akademi sepak bola mereka. Malah sampai saat ini, sudah ada 50 klub yang tersebar di Afrika Selatan, Australia, Jepang, hingga Amerika Serikat, yang tertarik untuk menjalin kerjasama.
Edwin van der Sar visits China to open Ajax academy at Guangzhou R&Fhttps://t.co/VoIiQbirhm pic.twitter.com/LGDngxW4ZD
— Smilescomedylaugh (@Kelyon8) November 28, 2017
Bersama Guangzhou R&F, Ajax dilaporkan mendapat pundi-pundi sebesar 10 juta euro per tahun atau setara 165 miliar rupiah. Sementara dengan klub lain, nilai kontraknya bervariasi, mulai dari lima hingga enam juta euro per tahun.
Aliran Dana Menuju Pengambangan Fasilitas
Uniknya, ketika Ajax banyak mendapatkan keuntungan dari penjualan pemain atau bisnis lain yang dikembangkan, pundi-pundi yang didapat tidak melulu disalurkan ke pembelian pemain berkelas, namun kebanyakan malah dialirkan pada pengembangan infrastruktur klub dan akademi.
Sebagai contoh, pada 2015 silam meski akademi mereka sudah dikenal sebagai yang terbaik, Ajax masih meluncurkan School van de Toekomst atau “Sekolah untuk Masa Depan”. School van de Toekomst sendiri merupakan sekolah konvensional yang kurikulumnya dipadukan dengan kurikulum olahraga dan sepakbola.
Die Amsterdammers berharap, para pemain tidak hanya meningkatkan skil bermain bola saja namun juga berfokus pada standar pendidikan.
Another great session with u17 and 19 AJAX Academy. Unbelievable facility and program. @genadidas_intl @JBMarineSC thank you Generation Adidas and JB Marine SC pic.twitter.com/tvTx5f2Hid
— Pat Mann (@PMann1117) August 17, 2018
Saat ini, De Toekomst sendiri juga sedang berada dalam masa renovasi dan penambahan fasilitas sampai tahun 2022. Tahun depan, akademi Ajax diharapkan memiliki fasilitas seperti, 13 lapangan, 3 lapangan kecil untuk kiper, 1 Cruyff Court, 1 powerhill, 1 beach field, dan satu mini play area.
Kemudian, masih ada lagi tambahan berupa 1 lapangan untuk pemain U8 sampai U10, 1 MiCoach performance center, 1 mini stadium, serta fasilitas lain seperti ruang penyimpanan, area untuk riset, dan taman.
Sumber referensi: Registaco, Panditfootball, Republika, Viva goal, Sportskeeda


