Mengenal Coverciano Sebagai Pusat Lahirnya Pelatih Berbakat Italia

spot_img

Italia memang terlalu istimewa untuk ditinggalkan. Tak hanya lokasi yang banyak dijadikan sebagai destinasi wisata, disana, juga terdapat keindahan sepakbola yang banyak membuat orang terpana. Melalui permainan sebelas lawan sebelas, Italia telah kesankan dunia setidaknya sebanyak empat kali. Empat bintang yang tersusun rapi di atas logo federasi, masih menjadi kebanggaan seluruh warga penyuka spaghetti.

Lahirnya trofi bergengsi selama ini tentu merupakan buah dari kehebatan banyaknya pemain bintang yang dimiliki Italia. Namun jangan lupakan pula peran pelatih dalam meramu permainan. Pada gelaran Piala Eropa 2020 kemarin, Roberto Mancini banyak dipuji dunia setelah berhasil membawa Italia juara Eropa, meski pada tahun 2018 negara tersebut gagal tampil di gelaran Piala Dunia.

Tangan magis Mancini berhasil merubah segalanya. Buah dari pemikirannya sukses menjadikan skuad yang sebelumnya hampa menjadi lebih berwarna. Lalu, puncak dari segalanya, dia berhasil persembahkan gelar yang selama ini diidamkan oleh seluruh penggemar Italia di seluruh dunia.

Roberto Mancini, merupakan satu dari sekian banyak pelatih hebat asal Italia yang terbentuk dari sebuah pusat pelatihan khusus bernama Coverciano.

Sejarah Coverciano dan Metode yang Digunakan

Mungkin tidak semua mengetahui Coverciano. Tidak banyak pula yang memahami bagaimana cara tempat tersebut bisa menghasilkan kumpulan allenatore berkualitas. Sama seperti Hennes Weisweiler Academy yang banyak lahirkan pelatih berbakat asal Jerman, Coverciano juga punya metode sendiri untuk menghasilkan pemimpin hebat yang berdiri di pinggir lapangan.

Terletak di Florence Italia, Coverciano merupakan buah pemikiran dari seorang bernama Luigi Ridolfi. Ridolfi, seperti yang ditulis These Football Times, merupakan sosok yang lahir dari keluarga kaya di Italia. Kecintaannya tertuju pada olahraga, khususnya sepakbola.

Sebelum resmi membentuk Coverciano, Luigi Ridolfi lebih dulu mendirikan klub bernama Fiorentina pada tahun 1926. Setahun kemudian, dia juga melebarkan sayap dengan membentuk Giglio Rosso Athletics Society. Dari tahun 1926 sampai dengan 1942, dia tercatat sebagai presiden federasi atletik Italia, untuk kemudian meneruskan karirnya di federasi sepakbola Italia dengan jabatan yang sama.

Melihat sepakbola Italia yang ingin dikembangkan, dia memiliki gagasan unik berupa membangun sebuah fasilitas yang menjadi tempat berkumpulnya pelatih-pelatih terbaik dunia untuk saling bertukar ide dan pemikiran. Bersama dengan rekannya yang bernama Dante Berretti, dua sosok tersebut sangat berharap bila Coverciano bisa menjadi rumah yang penuh dengan ide inovatif.

Coverciano sendiri mulai dibangun pada tahun 1952 dan rampung lima tahun kemudian. Lalu tepat pada tahun 1958, Coverciano baru bisa benar-benar beroperasi.

Dengan misi menciptakan juru taktik kreatif nan inovatif, para calon pelatih yang berniat menimba ilmu di sana setidaknya harus menempuh beberapa langkah untuk bisa mendapat lisensi.

Pertama, mereka akan diberi waktu selama sebulan penuh untuk belajar, membentuk metode, menyempurnakan ideologi, dan membuktikan diri layak lulus ujian dengan pembinaan yang ketat.

Setelah itu, mereka harus menempuh ujian lisan dengan berbagai topik, mulai dari pertandingan, komunikasi, dan manajemen lainnya. Namun perlu dicatat bahwa sebelum mencapai tahap tersebut, para calon pelatih harus lebih dulu mengikuti program yang diberi nama il Supercorso. Kursus tersebut dilakukan selama 900 jam dalam periode dua tahun.

Setelah semua tahapan itu selesai dilakukan, bagian terakhir yang harus dilakukan bagi para calon pelatih adalah membuat tesis. Seperti tugas akhir pada umumnya, tesis tersebut nantinya akan dipaparkan di depan penguji, dengan si calon pelatih harus bisa menjelaskan mengapa tesis tersebut akan sangat berguna di masa depan.

Ya, Coverciano memang benar-benar menuntut para calon pelatih untuk membuat tesis yang sangat informatif dan eksklusif. Tidak boleh ada pengulangan bahan di masa lalu untuk dipaparkan, karena menurut Coverciano, para pelatih harus siap untuk menghadapi tantangan di masa depan, bukan terus belajar dari strategi di masa lampau.

Renzo Ulivieri, yang merupakan mantan pelatih Parma dan Napoli, yang kini jadi instruktur serta penguji di Coverciano, menjelaskan bahwa para calon pelatih di Coverciano harus menciptakan ide-ide segar yang sedari dulu telah menjadi akar dari semangat Luigi Ridolfi.

Sedikit bercerita tentang sosok Renzo Ulivieri, dia merupakan sosok pelatih yang sudah 42 tahun berkarir dengan sebanyak 22 klub telah ditangani. Dia sudah menguasai betul pemahaman tentang bagaimana mengatasi tim yang berada di lembah degradasi, menangani pemain bintang, perselisihan, dan mengelola banyak tingkatan dalam spektrum sepak bola Italia.

Kembali pada filosofi yang dipegang di Coverciano, poin terpenting dari pelajaran yang disampaikan adalah tentang bagaimana menghadapi hari ini dan esok. Bukan membicarakan tentang keberhasilan di masa lalu.

Dengan memegang erat filosofi tersebut, maka wajar bila Coverciano tidak pernah mengeluarkan buku tentang materi kepelatihan atau semacamnya.

“Para pelatih yang datang ke tempat ini tidak diberikan buku apapun. Apa maksudnya? Jika aku menulis buku hari ini, mungkin membutuhkan waktu dua tahun untuk rampung, maka pada saat buku tersebut dapat diberikan, apa yang tertulis di buku itu sudah kadaluarsa selama dua tahun,” kata Ulivieri (via These Football Times)

Dia lalu menjelaskan, apabila dirinya mengajarkan sesuatu dari pelatih-pelatihnya dahulu, maka siswa nya akan tertinggal 50 tahun lamanya. Tegas Ulivieri, para calon pelatih harus menyiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang akan terjadi pada sepakbola 10 tahun ke depan, bukan malah mengulang strategi yang telah dianggap usang.

Namun yang perlu dicatat, hal itu dilakukan bukan untuk menghilangkan sesuatu yang sudah ada sebelumnya, namun lebih kepada memperbarui prinsip-prinsip inti soal sepak bola yang sudah sangat tua dimana itu akan selalu ada.

Fasilitas dan Lulusan Terbaik Coverciano

Sejauh ini, Coverciano sudah menjadi tempat yang sangat berkembang untuk melahirkan pelatih-pelatih berbakat asal Italia. Coverciano, yang juga merupakan salah satu kantor teknis FIGC, tempat latihan Timnas U15 sampai U19, memiliki setidaknya empat lapangan dengan tiga diantaranya menggunakan rumput alami.

Selain itu, disana juga terdapat gym yang berisikan peralatan dengan teknologi terkini di dunia. Jangan lupakan pula fasilitas penunjang seperti auditorium, conference room, medical area, restoran, bar, hotel, dan perpustakaan.

Kemudian ada fasilitas yang berhasil menarik banyak perhatian, yaitu Museo del Calcio atau museum sepakbola Italia. Resmi dibuka pada tahun 2000, museum tersebut dibagi menjadi enam ruangan. Ruangan pertama berisi kenangan tentang dua trofi Piala Dunia di era 1930 an lengkap dengan jersey asli para pemain.

Ruangan kedua dan ketiga berisi tentang memorabilia legenda dan juga perkembangan sepakbola Italia dari masa ke masa. Sementara itu, ruangan keempat, kelima, dan keenam menyajikan tentang raihan trofi Piala Eropa Italia dan tambahan dua trofi Piala Dunia.

Namun meski Museo del Calcio berhasil menarik banyak minat, fasilitas perpustakaan tetap menjadi primadona disana.

Perpustakaan bisa dikatakan menjadi fasilitas paling berharga di Coverciano. Pasalnya, disana terdapat banyak sekali tesis yang dibuat oleh banyak pelatih hebat, seperti Antonio Conte, Luciano Spalletti, Roberto Mancini, Carlo Ancelotti, sampai Fabio Capello.

Antonio Conte yang lulus pada tahun 2006 membuat tesis berjudul “Pertimbangan pada 4-3-1-2 dan Penggunaan Video yang Didaktik,”. Tesis tersebut menyoroti pro-kontra dari formasi 4-3-1-2 secara bertahan, menyerang, transisi, dan bagaimana tim harus beroperasi dengan atau tanpa bola.

Dikenal sebagai sosok yang sangat detail, tesis yang dibuatnya disebut sebagai representasi sempurna dari metodologi yang diusung.

Selanjutnya ada tesis dari Luciano Spalletti yang berjudul “Sistem Permainan 3-5-2”. Melalui karya nya itu, eks pelatih Inter Milan ingin menjelaskan bahwa skema 3-5-2 penting digunakan di era sepakbola modern, meski memang dia tak selalu menerapkan formasi tersebut.

Lalu masih ada lagi tesis buatan Carlo Ancelotti yang menjelaskan tentang bagaimana aktivitas di dalam dan luar lapangan akan mengubah permainan di masa depan, melalui karya yang berjudul “Masa Depan Sepak Bola: Lebih Dinamis”.

Satu lagi, milik Roberto Mancini pada 2011 yang mengusung tema “il Trequartista”, dimana pada karyanya itu, Mancini ingin menyampaikan pentingnya peran gelandang serang dalam sebuah permainan.

Dengan proses yang tidak mudah serta fasilitas terbaik yang menunjang, patut dinantikan lahirnya pelatih-pelatih hebat asal Italia selanjutnya ciptaan Coverciano!

Sumber referensi: Panditfootball, thesefootballtimes

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru