Piala FA tak hanya sekadar kompetisi tertua di dunia. Namun lebih dari itu. Kompetisi domestik di Inggris yang satu ini jugalah salah satu kompetisi yang sarat gengsi. Bahkan bisa dikatakan Piala FA derajatnya hanya kalah dari Premier League.
Maka, wajar saja ketika final Piala FA digelar, satu stadion bakal nyaris terisi penuh. Beberapa laporan menyebut bahwa kehadiran resmi di final Piala FA, misalnya tahun 2017 mencapai 89 ribu lebih orang.
Karena alasan itu, federasi sepak bola Inggris atau FA tidak akan menyia-nyiakannya betul. Mereka pada akhirnya memilih Stadion Wembley sebagai venue pertandingan final. Yang kemudian pada abad ke-21, Stadion Wembley di London ini juga menjadi venue partai semifinal.
Kendati kerap menuai penolakan, FA kerap kali tetap ngotot agar semifinal dan final Piala FA digelar di Wembley. Mengapa semifinal dan final Piala FA selalu di Wembley? Mengapa tidak di stadion lain, misalnya London Stadium yang jelas-jelas mengambil nama ibukota Inggris?
Daftar Isi
Awal Mula
Sebetulnya jika kita menarik garis waktu ke belakang, final Piala FA tidak ujug-ujug digelar di Wembley. Sebab Piala FA sesungguhnya lahir lebih dulu daripada Wembley Stadium. Final Piala FA sendiri kali pertama terselenggara pada tahun 1872.
Ketika itu Wembley belum berdiri. Lalu, di mana tempatnya? Stadion Kennington Oval menjadi venue pertama final Piala FA yang saat itu mempertemukan Wanderers dan Royal Engineers. Final Piala FA sempat pindah ke Lillie Bridge pada tahun 1873.
16 March 1872. Wanderers FC beat the Royal Engineers 1–0 in first English FA Cup Final at Kennington Oval in London before a largely middle-class crowd of 2,000 spectators who had each paid a shilling to watch (featured is the only known photo of the team, taken in 1863). pic.twitter.com/3z0FwtAl4F
— Prof Frank McDonough (@FXMC1957) March 16, 2021
Namun, setelah tahun 1873, Kennington Oval kembali menjadi venue final paling tidak sampai tahun 1892. Akan tetapi, dua tahun setelahnya, pada tahun 1893 dan 1894 venue final Piala FA berpindah lagi ke Fallowfield Stadium di Manchester dan Goodison Park di Liverpool.
Tahun 1895 final Piala FA kembali ke London dan diadakan di markasnya Crystal Palace. Perang dunia pertama pun pecah dan setelah perang itu final Piala FA digelar di Stamford Bridge. Nah, pada tahun 1923 Stadion Wembley di London selesai pengerjaan dan mulai dibuka pada 24 April 1923.
Hanya berselang empat hari setelah pembukaan itu, Stadion Wembley langsung menjadi venue final Piala FA tahun 1923. Final yang mempertemukan West Ham dan Bolton Wanderers itu kabarnya dihadiri 126 ribu orang . Namun laporan lain menyebut jumlah penonton yang hadir mencapai 300 ribuan.
The 1923 FA Cup Final:
Official crowd: 126,000
Police estimate: 300,000The first football match played at Wembley 🏟 pic.twitter.com/H7ACzWrmrE
— ESPN FC (@ESPNFC) May 15, 2021
Hal itu berbeda dengan semifinal Piala FA. Federasi sepak bola Inggris baru mengeluarkan keputusan untuk menggelar semifinal Piala FA di Wembley pada tahun 2003. Namun baru terlaksana pada musim 2007/08.
Semifinal Piala FA musim 2007/08 menjadi yang pertama kali digelar di Stadion Wembley. Yang kebetulan pada saat itu Wembley sudah direnovasi. Pertandingan pertama semifinal di Wembley tersebut mempertemukan Portsmouth vs West Bromwich dan Cardiff City vs Barnsley pada Bulan April 2008.
Portsmouth fans at Wembley for the 2008 semi finals of the fa Cup against West Brom #PUP #PompeyFC pic.twitter.com/NcBDpUBhcc
— AwayDaysBible (@Awaydaysbible_) February 8, 2018
Sebelum menggelarnya di Wembley, semifinal Piala FA berlangsung di berbagai venue. Seperti di Old Trafford Manchester, Stadion Millennium Cardiff, sampai di Villa Park. Jadi kenapa kok sampai sekarang justru berlangsung di Wembley Stadium?
Ihwal Tradisi
Perkaranya adalah semifinal dan final Piala FA yang berlangsung di Wembley bukan sekadar pemilihan venue. Hanya saja, ini menyangkut tradisi di Inggris. Yup, benar sekali, sepak bola memang lekat dengan Inggris. Pernah dengar istilah bahwa Inggris adalah “Home of Football”?
Nah, sebenarnya “Home of Football” itu merujuk pada Wembley Stadium. Sejak berdiri pada tahun 1923, Wembley dianggap sebagai “Home of Football”. Wembley sudah menjadi tempat sakral nan keramat yang dipandang sebagai pencapaian tertinggi sepak bola.
Wembley punya nuansa spiritual tersendiri bagi para penggemar sepak bola di Inggris. Apalagi di sana berdiri kokoh patung Bobby Moore. Ia adalah kapten Timnas Inggris yang turut membawa The Three Lions juara Piala Dunia 1966. Sebab itu para kaum tradisionalis akan menolak jika final atau semifinal Piala FA tak digelar di Wembley.
Bobby Moore’s statue overlooks Olympic Way outside Wembley. Today would have been his 73rd birthday #legend pic.twitter.com/ecJ91BSvAE
— England Football (@EnglandFootball) April 12, 2014
Alasan Finansial
Terlepas dari tradisi yang tentu saja konservatif, sesungguhnya Wembley menjadi venue tetap semifinal dan final Piala FA karena berkaitan dengan finansial. Siapa yang tahu, bahwa untuk membangun stadion semegah Wembley, FA mengeluarkan uang tak sedikit.
Setidaknya, pembangunan Stadion Wembley menelan biaya sekitar 789 juta poundsterling atau Rp14,9 triliun kurs sekarang. FA tentu saja tidak mau stadion yang menelan biaya banyak itu tak mendatangkan apa pun untuk federasi.
Wembley Stadium
Opening: 2007
Owner: @FA
Capacity: 90,000
Location: Wembley, London, England
Construction cost: £789 million
Architect: HOK Sport#TOTJUV #ChampionsLeague pic.twitter.com/QRqmFsx0VU— The World Stadium (@World_Stadiium) March 7, 2018
Maka dari itu, federasi sepak bola Inggris menggelar final dan semifinal Piala FA di Wembley Stadium. Dengan kapasitas 90 ribu kursi, Wembley bakal mendatangkan banyak keuntungan ke rekening federasi. Minimal dari penjualan tiket.
Tak bisa ditampik bahwa Wembley menjadi stadion yang paling banyak mendatangkan keuntungan ke FA. Juru bicara FA ketika penetapan semifinal Piala FA di Wembley, Nick Barron mengatakan bahwa semifinal digelar di Wembley karena “kebutuhan finansial”.
Apakah Tidak Ada Penolakan?
Wembley yang terpilih sebagai venue final dan semifinal Piala FA tentu mendatangkan penolakan. Apalagi bagi klub yang basisnya bukan di London. Otomatis klub-klub yang bukan dari London akan menempuh jarak yang jauh untuk melakoni laga semifinal dan final Piala FA.
Ide untuk mengembalikan semifinal seperti sedia kala, yang mana bukan di London tetapi sesuai regional klub yang bertanding pun mencuat tahun 2018. Mantan Kepala Eksekutif Aston Villa, Keith Wyness berpendapat bahwa dirinya akan senang sekali jika semifinal Piala FA dimainkan di Villa Park.
Di lain sisi, baru-baru ini klub yang bertarung di semifinal Piala FA juga meminta agar semifinal tidak di Wembley. Misalnya, para pendukung Liverpool dan Manchester City seperti laporan The Week, mengaku keberatan jika semifinal Piala FA 2022 berlangsung di Wembley.
Pasalnya, pada tanggal 15-18 April 2022 tidak ada kereta dari Livepool maupun Manchester yang menuju ke London. Sebab pada rentang waktu tersebut ada pengerjaan engineering.
Kelompok penggemar Livepool yang tergabung dalam Spirit of Shankly membuat pernyataan atas nama pendukung. Mereka menyatakan agar FA mempertimbangkan untuk tidak menggelar semifinal Piala FA di Wembley. Namun, mereka tidak menyebut bahwa hal itu juga berlaku untuk final.
Wembley Semi-Final Travel Chaos. Zero consideration has been given to fans travelling to our FA Cup semi-final with Manchester City. #ChangeTheVenue
Link: https://t.co/bOUufdtANb@WeAre1894 @LFC @ManCity @EmiratesFACup @wembleystadium pic.twitter.com/1XJ6OzMHmA— Spirit of Shankly (@spiritofshankly) March 21, 2022
Final dan semifinal Piala FA di Wembley memang sudah menjadi semacam tradisi. Namun jika ada satu dan lain hal, maka boleh-boleh saja tradisi itu tidak dilakukan. Toh, jika kasusnya seperti Piala FA 2022, FA sendiri justru mungkin tidak akan mendapat keuntungan. Apalagi andai pendukung suatu klub tak bisa datang ke Wembley.
Sumber referensi: bbc.co.uk, goal.com, sportingnews.com, nytimes.com


