Bukan rahasia lagi kalau Premier League adalah liga terpopuler sedunia. Selain tentu saja, persaingannya konon adalah yang paling ketat. Gampangnya, tidak ada satu klub yang mendominasi lebih dari lima musim secara berturut-turut sejak mulai bergulir tahun 1992.
Karena itulah, klub apa pun bisa meraih gelar juara. Tak peduli ia yang baru promosi seperti Leicester City, atau klub yang sudah hebat macam Liverpool. Begitu pula soal kekalahan dan kemenangan.
Kemarin saja, Manchester City yang calon kuat juara Premier League mampu tertunduk lesu di hadapan Tottenham Hotspur, tim yang lebih pantas kalah daripada menang. Hal semacam itu yang bikin Premier League makin menarik untuk ditonton.
Namun, selain soal persaingan, tentu ada hal yang membuat Premier League jadi liga terpopuler sedunia. Hmmm.. kira-kira mengapa Premier League sering disebut-sebut sebagai liga terpopuler sedunia, ya?
Daftar Isi
Waktu
Kunci dari popularitas adalah massa atau penonton. Apa pun yang menarik animo banyak orang sudah pasti bakal populer. Tapi, sebelum itu kita harus pahami dulu mengapa seseorang bisa tertarik pada satu hal.
Nah, untuk soal itu, kita akan menaruh Premier League sebagai sebuah suguhan. Entah di layar kaca maupun di layanan streaming. Sebagai suatu suguhan, tentu tidak semua orang akan mengorbankan waktu bekerja untuk menonton Premier League.
Maka pemilihan waktu yang tepat adalah kuncinya. Jika sinetron punya prime time, Premier League juga sudah mengatur jadwalnya biar kapabel dengan penikmat sepak bola, khususnya di luar Benua Biru.
Satu hal yang tak dimiliki liga-liga lain adalah pertandingan sepak bola Inggris berlangsung menggunakan waktu Greenwich Mean Time (GMT). Dan GMT adalah zona waktu yang paling sempurna untuk penyiaran skala global.
It’s Matchday! And it’s time for revenge this afternoon after the opening day of the season defeat as Arsenal host Brentford in what is a must win game for the Gunners…
⚽️ Arsenal v Brentford
🏟 Emirates Stadium
⏰ 15:00 GMT kick-off
🏆 Premier League pic.twitter.com/7TSmnJG2kw— now.arsenal (@now_arsenaI) February 19, 2022
Jadi, seumpama satu pertandingan Premier League berlangsung pukul 3 sore GMT, itu artinya penikmat sepak bola yang tinggal di Benua Asia bisa menontonnya pukul 10 malam. Jam segitu, warga di Asia notabene sudah berada di rumah.
Sementara, di jam yang sama warga Amerika Utara bisa menonton Premier League sembari menikmati kopi di pagi hari, atau sebelum berangkat kerja. Karena pemilihan waktu ini pula Premier League mampu menarik 4,76 miliar penonton di seluruh dunia, atau ya… lebih dari separuh jumlah populasi di dunia.
Karena pemilihan waktu, pendapatan yang diperoleh Premier League dari penyiaran juga bikin semua orang terbelalak. Pada musim 2018/19 saja, Premier League sudah mendapatkan keuntungan dari siaran internasional sebesar 6 miliar dollar atau sekitar Rp 85,9 triliun. Pendapatan itu mendekati 10 kali lipat lebih banyak dari Bundesliga.
Investor
Karena menarik banyak penonton di seluruh dunia, Premier League juga menarik para cukong untuk berinvestasi. Maka wajar kalau investor-investor kelas kakap berduyun-duyun datang ke Premier League untuk mengambil hak klub-klub di Premier League.
Misalnya, Sheikh Mansour yang mengakuisisi Manchester City. Roman Abramovich dengan gurita bisnisnya mengakuisisi Chelsea. Mantan penjudi, Matthew Benham yang mengakuisisi Brentford. Dan tentu saja, Pangeran Arab yang turut mengakuisisi Newcastle United.
Taipan ini bukan cuma mereka yang menguasai klub-klub di Premier League, tapi juga Premier League itu sendiri. Banyak industri penyiaran dan periklanan yang berinvestasi pada Premier League.
DStv channel, SuperSport is the world’s second biggest broadcaster of the Premier League after Sky Sports.
In 2016, MultiChoice paid $438 million for the rights to broadcast the Premier League in Sub-Saharan Africa from 2016 to 2019 & extended the deal until 2022 in April 2017. pic.twitter.com/oj7LLN3di6
— David O Aderinokun (@daderinokun) February 27, 2021
Mereka tidak ragu untuk mengambil hak siar dan sponsorship, sebab keuntungannya bisa berlipat-lipat. Makin banyak industri penyiaran mengambil hak siar, makin banyak sponsor, maka popularitas makin mudah diraih.
Mau tahu berapa pendapatan penyiarannya? Yup, untuk periode 2022-2025 saja, jumlah pendapatan penyiaran Premier League mencapai 10 miliar poundsterling. Atau kalau dirupiahkan kira-kira Rp 194,1 triliun rupiah.
Atmosfer Pendukung
Selain yang bertalian dengan finansial, Premier League terkenal karena atmosfer pendukung yang begitu memanas. Bahkan tak jarang hooligan dari Inggris inilah yang mempengaruhi keberadaan hooligan di negara-negara lain.
Premier League masyhur sebagai liga yang menghadirkan ribuan penonton ke stadion. Jumlah rata-rata kehadiran pada pertandingan Premier League di stadion mampu menembus angka 38 ribu pasang mata.
Satu-satunya liga yang mampu menandingi Premier League hanyalah Bundesliga, yang pernah mencatatkan rata-rata kehadiran mencapai 42.700 penonton. Sementara itu, di liga lain misalnya La Liga jumlah rata-rata penonton di tribun hanya 14 ribuan.
Morning, Reds 😄
Still buzzing from that incredible Anfield atmosphere 😍 pic.twitter.com/4uTtyRRQEN
— Liverpool FC (@LFC) September 17, 2021
Bertabur Pemain Bintang
Pertanyaannya, mengapa begitu banyak orang ingin menyaksikan Premier League? Jawabannya sederhana, karena banyak pemain bintang. Dari masa ke masa, Premier League bahkan menjadi tempat lahirnya para bintang lapangan hijau.
Sebut saja Cristiano Ronaldo, yang meskipun sudah berumur, tapi kharismanya masih sulit terbantahkan. Lalu, nama-nama seperti Romelu Lukaku, Mohamed Salah, Roberto Firmino, Kevin De Bruyne, Harry Kane, dan masih banyak lagi yang kini masih bermain turut membuat Premier League makin populer.
Mau yang agak jadul? Tentu kita bisa menyebut nama kaliber Steven Gerrard, Frank Lampard, Dimitar Berbatov, Didier Drogba, Thierry Henry, Dennis Bergkamp, Edwin Van Der Sar, David Beckham, dan silakan menyebutkan sendiri.
Gudangnya Manajer Top
Selain pemain-pemain bintang, Premier League juga gudang para manajer top. Dari dulu sampai hari ini, Premier League seperti tidak pernah kehabisan stok manajer dengan nama besar. Terlebih hari ini.
Semua manajer top di dunia ngumpul di Premier League. Thomas Tuchel yang sukses di Dortmund kini melatih Chelsea. Senior Tuchel, Jurgen Klopp lebih dulu merapat ke Liverpool. Brendan Rodgers yang menukangi Leicester City.
Pep Guardiola, sang juru taktik paling dicintai publik Camp Nou yang merapat ke Manchester City. Lalu Antonio Conte yang direkrut Tottenham Hotspur. Dan Manchester United yang mengangkut bapak gegenpressing, Ralf Rangnick.
Antonio Conte has joined Tottenham.
This is not a drill. It has actually happened. pic.twitter.com/xUMU7P5r0U
— FootballFunnys (@FootballFunnnys) November 2, 2021
Tentu kamu tidak perlu bertanya yang nggak ada. Yang pasti, keberadaan manajer-manajer top inilah yang membuat banyak orang tertarik pada Premier League. Setidaknya, tak sedikit manusia yang pengin melihat bagaimana misalnya, seorang ahli gegenpressing melatih klub yang kini semrawut dan kehilangan filosofi permainannya.
Integritas
Sampai di sini apa yang membuat Premier League lebih populer ketimbang BRI Liga 1, selain faktor-faktor sebelumnya? Benar sekali, integritas. Terlepas dari keputusan wasit yang kontroversial, di Premier League minim sekali muncul skandal pengaturan skor.
Itu artinya, Premier League bisa lebih dipercaya sebagai liga sepak bola yang menjunjung nilai kejujuran. Buktinya kita kesulitan untuk memprediksi hasil setiap pertandingan Premier League.
Hal itu berbeda dengan BRI Liga 1, atau Serie A. Di kasta tertinggi Italia itu pernah muncul skandal yang mencoreng sepak bola Negeri Pizza. Orang mengenalnya calciopoli. Skandal yang menyeret klub seperti Juventus, AC Milan, Lazio, dan Fiorentina.
Nah, Premier League punya aturan ketat untuk menghindari itu. Bahkan, terkait akuisisi pun tidak bisa diakali, karena FA sudah menerbitkan aturan yang ketat. Namun, bukan berarti Premier League bersih dari segala jenis skandal, termasuk tentu saja pelecehan seksual.
Menggelar Pra-musim di Negara Lain
Selain karena masifnya tayangan internasional dan atmosfer pendukung di tribun, Premier League makin populer karena klub-klubnya banyak menggelar pertandingan pra-musim di negara-negara lain.
Cerdiknya, klub-klub itu memilih negara selain yang memiliki basis penggemar berlimpah juga negara asal pemain-pemainnya. Ambil contoh di Benua Asia. Pemain dari Jepang dan Korea Selatan sudah cukup sering menghiasi klub-klub Premier League. Maka, banyak klub-klub Premier League yang menggelar tur pra-musim di negara-negara tersebut.
Sumber referensi: soccerprime.com, sportmob.com, bleacherreport.com, dailymail.co.uk


