Menanti Kiprah Mike Maignan Gantikan Posisi Donnarumma

  • Whatsapp
Menanti Kiprah Mike Maignan Gantikan Posisi Donnarumma
Menanti Kiprah Mike Maignan Gantikan Posisi Donnarumma

Musim baru di beberapa kompetisi benua biru telah mengharu biru. Namun kompetisi Italia yang jadi salah satu tontonan paling diburu, belum mau buru-buru untuk membuka kalender baru.

Sebelum kompetisi yang mulai kembali ke pamor terbaiknya ini muncul tebarkan aksi paling mengesankan, kami akan mengajak para penikmat sekalian sedikit mundur ke momen dimana AC Milan, memiliki konflik dengan kiper andalan.

Gianluigi Donnarumma, yang kabarnya sempat guncangkan dunia sepakbola, dikagetkan dengan kinerja manajemen Milan yang memilih untuk segera melupakannya. Masalah uang dalam gaji besar yang jadi tuntutan, membuat Milan tak sudi lanjutkan kerja sama dengan pemain yang diageni pria mata duitan. Tanpa berniat membuka ulang catatan gemilang sang kiper masa depan, Milan resmi menyudahi segala gesekan.

Melalui komando legenda Paolo Maldini, Milan cepat-cepat mencari kiper pengganti, bahkan sebelum pemain yang kini jadi kiper PSG, memulai kiprah bersama timnas Italia di kompetisi tertinggi.

Dalam diri Mike Maignan, Milan resmi datangkan kiper andalan untuk musim depan. Bukan tanpa alasan, Maignan didatangkan dengan membawa banyak prestasi besar. Yang paling menggelegar? Tentu kontribusinya membawa Lille kandaskan dominasi besar klub bergelimang pemain bintang.

Dari Kiper Buangan, Jadi yang Paling Diandalkan

Dalam menjadi kiper yang sampai diinginkan Paolo Maldini untuk mengisi posisi utama di Milan, Maignan tentu telah melewati banyak hal.

Itu bermula dari kecintaannya kepada sepakbola di tahun 2000. Menyaksikan timnas Prancis tampil perkasa di benua biru, keinginan Maignan untuk menjadi seorang pemain paling diburu langsung menggebu. Usianya ketika itu baru menginjak lima tahun, namun semangatnya untuk menuntut ilmu sudah seperti pemain yang digaji ratusan ribu dollar per minggu.

Setiap hari, keinginannya hanya bermain bola. Tak ada yang lain, kecuali menghabiskan waktu dengan si kulit bundar. Bahkan, kegiatan menuntut ilmu di bangku sekolah sampai ditinggalkannya begitu saja.

“Pada satu titik, aku hampir menyerah karena muak. Tiap hari selalu sama: Aku bangun, pergi ke kelas, lalu berolahraga. Aku hanya ingin bermain sepak bola. Sekolah menghancurkan morel ku,” tegas Maignan (via The Flanker).

Melalui proses latihan yang dilewatinya bersama pelatih Romain Damiano, karakter Maignan yang terkenal keras mulai melunak. Dia mulai bisa menerima segala arahan, yang tentunya akan membawanya ke jenjang yang lebih mengesankan. Sempat jadi pemain yang terus berkeliling lapangan, pelatihnya lalu meminta Maignan untuk memilih posisi penjaga gawang.

Pria itu terus meyakinkan bocah yang sudah diselimuti banyak ambisi, bahwa posisi kiper, bisa menjadikannya sebagai pemain paling diminati.

Benar saja, tak butuh waktu lama bagi Maignan yang mulai menimba ilmu di akademi Villiers le Bel JS, untuk mendapat tawaran dari Paris Saint Germain. Dari mulai tahun 2009, hari-harinya dihabiskan dengan berlatih bersama tim yang nantinya bakal banyak datangkan pemain bintang. Maignan tentu senang. Dia jadi bisa memiliki pengalaman luar biasa ketika mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pemain yang sudah banyak kumpulkan gelar.

Sayangnya, itu semua tak seperti yang dibayangkan. Bertemu dengan para pemain bintang justru membuatnya kian sulit menembus harapan. Paris Saint Germain yang mulai diakuisisi investor asal Qatar, mulai sering disebut sebagai tim instan, yang mana mereka terus mengabaikan bakat-bakat muda didikan, meski kualitas yang dimiliki tak kalah dengan para pemain yang dianggap bakal membawa banyak kemenangan.

Maignan menjadi salah satu korban. Dia jadi pemain didikan yang dilupakan lalu dibuang. Sempat bersusah payah kesankan penggemar dengan jadi pelapis ketiga setelah Salvatore Sirigu dan Nicolas Douchez, situasi Maignan kian tak tergambarkan usai klub resmi datangkan Kevin Trapp di tahun terakhirnya mengambil keputusan.

Jadi kiper lapis keempat tentu tak memberi Maignan jaminan untuk diandalkan. Tanpa meninggalkan banyak alasan, Maignan lalu putuskan hengkang ke klub yang pada musim lalu dibawanya meraih banyak kemenangan.

Lille! Jadi klub yang tampak ingin merawat bakat yang dimiliki Maignan. Mereka melihat ada sesuatu yang istimewa dari kiper yang disingkirkan di klub bergelimang uang. Dengan dana sebesar lima juta euro sekaligus kontrak berdurasi lima tahun, disana, Maignan hanya memiliki satu saingan, yaitu Vincent Enyeama.

Memang menjadi tugas yang tidak mudah bagi Maignan untuk singkirkan eksistensi Enyeama. Terlebih, sang kiper sudah menjadi pujaan para penggemar dalam beberapa tahun lamanya. Perlu dicatat pula bahwa Enyeama merupakan kiper yang masuk ke dalam skuad juara Nigeria di gelaran Piala Afrika tahun 2013.

Di musim pertamanya, belum banyak kesempatan yang didapat Maignan. Namun itu tidak lantas membuat semangatnya padam. Maignan sabar menanti takdir yang akan membawanya menuju jalur kemenangan. Hingga tibalah saatnya, ketika dia masuk menggantikan Enyeama yang harus meninggalkan pertandingan lebih cepat karena hukuman.

Pada pertandingan melawan Rennes, Maignan yang masuk dari bangku cadangan sukses gagalkan tendangan 12 pas Paul-Georges Ntep, meski pada akhirnya gawang yang dijaga berhasil dijebol oleh pemain yang sama.

Setelah debut yang cukup mengesankan, Maignan masih diminta untuk bersabar menunggu giliran.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Marcelo Bielsa yang mulai ditugaskan untuk memberi arahan, melihat sosok Maignan sebagai kiper yang layak diandalkan. Dari situ, bersama pelatih panutan kita semua, Maignan terus diberi kesempatan. Keberanian, keterampilan, sampai kemampuan yang dimiliki Maignan disebut Bielsa sebagai yang paling ideal untuk strateginya.

Kemudian, Christophe Galtier yang datang menggantikan Bielsa kian mempertegas bakat Mike Maignan sebagai penjaga gawang andalan.

Mulai musim 2017/18, para penggemar lebih sering menyaksikan Maignan di bawah mistar. Berhasil menciptakan 30 umpan per laga dengan persentase keberhasilan sebesar 77, membuatnya mengungguli Enyeama yang ciptakan 28 umpan dengan persentase keberhasilan 59,6.

Pada musim berikutnya sebagai kiper andalan, penampilan gemilang yang dibuat juga membuat Maignan didapuk sebagai kiper terbaik Liga Prancis musim 2018/19.

Prestasi Mike Maignan dan Tantangan Bersama Milan di Musim Depan

Pada musim 2020/21 sendiri, Maignan akhirnya benar-benar mengukuhkan diri sebagai kiper andalan, usai berhasil membawa Lille meraih banyak kemenangan dan mengangkat piala kebanggaan. Menurut Opta, dia tercatat telah berhasil melewati 21 laga tanpa kebobolan. Catatan itu bahkan berhasil menempatkannya sebagai kiper terbaik diatas Ederson sampai Jan Oblak.

Catatan clean sheet tersebut membantu Lille menjadi tim dengan jumlah kemasukan paling sedikit di Liga Prancis musim lalu dengan cuma kecolongan 23 gol. Prestasi tersebut masih jauh lebih baik dari Donnarumma, yang hanya catatkan 13 clean sheet dan kebobolan sebanyak 38 gol.

Selain itu, musim lalu turut diisinya dengan catatan gemilang, ketika kehebatannya mampu membuat persentase penyelamatan sebesar 77,8. Hanya kalah dari Keylor Navas (77,9) dan Jan Oblak (79,1) yang akhirnya sukses antarkan Atletico Madrid meraih gelar juara.

Lebih lanjut, Maignan menjadi pemain yang selalu memainkan setiap menit dari yang dilakoni Lille, dalam lebih dari 100 pertandingan terakhir. “Magic Mike” yang kemudian jadi julukan yang melekat dalam dirinya, memiliki catatan yang tak boleh dilupakan, ketika dirinya berhasil menggagalkan delapan dari total 26 penalti dari kubu lawan.

Menurut the analyst, itu menjadi jumlah tertinggi ketiga di kompetisi Ligue One sejak debutnya yang terjadi pada September 2015 lalu, dengan menggagalkan tendangan penalti Paul Georges Ntep. Dengan bekal catatan yang sama sekali tak bisa diremehkan, jelas sudah bahwa Mike Maignan layak dimasukkan ke dalam daftar kiper elit Eropa.

Maignan barangkali bisa menjadi penjaga gawang yang bisa harumkan nama Prancis di Serie A. Seperti diketahui, Italia yang memang memiliki banyak sekali penjaga gawang hebat jarang mengandalkan kiper dari luar negaranya. Hanya ada tiga nama asal Prancis yang pernah meniti kiprah di persepakbolaan Italia.

Mereka adalah Anthony Basso yang terbilang gagal bersama Udinese, Sebastien Frey yang sempat tampil apik di beberapa klub Italia, serta Alban Lafont yang kiprahnya tergolong tidak terlalu mentereng.

Memang, meski berhasil catatkan banyak prestasi, tidak lantas menjadi jaminan bagi Maignan untuk memiliki performa mentereng pada musim depan. Namun setidaknya, Maignan punya potensi besar untuk menutup kebutuhan Milan akan kiper andalan.

Sumber referensi: The Flanker, The Analyst, Fandom

Pos terkait