Bienvenidos Qatar 2022, para jagoan dari benua Amerika Selatan siap bertempur demi membawa kejayaan Zona Conmebol. Berlimpahnya talenta dari benua tersebut tak dipungkiri selalu menjadi warna tersendiri di hajatan akbar empat tahunan itu.
Tahun ini, Brazil, Argentina, Ekuador, dan Uruguay yang akan menjadi gacoan. Brazil dan Argentina dijagokan menjadi favorit juara. Sementara Uruguay dan Ekuador diharapkan mampu menjadi kejutan. Lantas, seberapa jauh kekuatan mereka di Qatar nanti?
Ecuador and Uruguay have booked their places at the 2022 World Cup 🎆
They have joined Brazil and Argentina from the South American continent 🤝 pic.twitter.com/Z7P5IVRL4f
— Football Zone (@ftblzone_) March 25, 2022
Daftar Isi
Ambisi Kembali Merebut Piala Dunia Di Benua Asia
Ambisi para kontestan dari Amerika Selatan tentu jelas, yakni mengembalikan kejayaan wakil-wakil mereka seperti apa yang terjadi di tahun 2002. Kita tahu, Piala Dunia yang diselenggarakan pertama kalinya di Benua Asia tersebut, menjadi milik Brazil.
20 years since @LulaOficial won his first presidential election in Brazil. It was also the last time @CBF_Futebol won the @FIFAWorldCup (2002).
Is Lula’s victory the lucky charm #Brazil need to claim their 6th world title? #Qatar2022 #Brazilelections https://t.co/f68lPIAzmP pic.twitter.com/RM6nAjW6z5— ndamis (@ndamis_) October 31, 2022
Ketika itu Amerika Selatan mengirimkan lima wakilnya yakni Brazil, Argentina, Uruguay, Paraguay dan Ekuador. Namun, beberapa berguguran di fase awal dan hanya menyisakan Brazil yang melaju jauh dan akhirnya meraih mahkota dunia.
Memori indah wakil Amerika Selatan yang direpresentasikan oleh Brazil tersebut, membawa semangat dan motivasi tersendiri bagi wakil Amerika Selatan di Qatar nanti. Terutama Brazil dan Argentina yang di atas kertas kekuatannya mampu dan layak diunggulkan untuk merampas gelar dari wakil-wakil Eropa.
Tepat Dua Dekade Tanpa Mahkota Juara
Maklum, sejak Piala Dunia 2002, para wakil Amerika Selatan tak lagi keliatan tajinya. Tak ada satu pun yang meraih gelar juara. Paling mentok Argentina yang jadi finalis tahun 2014, sebelum kandas dari wakil Eropa, Jerman.
#Final – Alemania 🇩🇪- Argentina (2014) #Bandalos en el camino a #Qatar2022 pic.twitter.com/Ph1U6VaOau
— Bandalos (@BandalosSC) November 5, 2022
Tepat sudah 20 tahun lamanya wakil dari Amerika Selatan tak mampu menjadi juara dunia. Kalau melihat dari segi kekuatan, baik Brazil maupun Argentina tentu selalu jadi yang terbaik. Bahkan Brazil maupun Argentina tiap hajatannya selalu diunggulkan menjadi favorit juara.
Namun pada kenyataanya, para wakil Amerika Selatan ini malah melempem. Bukan hanya Brazil dan Argentina, tim-tim lain yang pernah menjadi wakil Amerika Selatan di Piala Dunia seperti Paraguay, Kolombia, Chile maupun Ekuador tak mampu berbicara lebih. Selain dua negara kuat itu, terakhir hanya Uruguay yang bisa tembus ke semifinal di Piala Dunia 2010.
#OTD in 2010 – Uruguay 🇺🇾 lost 3-2 to Netherlands 🇳🇱 in Cape Town for the #FIFA World Cup semi final pic.twitter.com/NynghBNHfR
— Uruguay Football ENG (@UruguayFootENG) July 6, 2021
Perkembangan Para Pelatih Amerika Latin
Kerinduan 20 tahun lamanya wakil Amerika Selatan terhadap indahnya gelar juara dunia bukan tanpa sebab. Selain performa tim yang melempem di tengah kompetisi, juga peran pelatih asal Amerika Selatan yang dipertanyakan.
Karena terbukti, terakhir kali pelatih Amerika Selatan yang bisa merengkuh gelar juara dunia adalah Luiz Felipe Scolari di Piala Dunia 2002.
#MundialDeTaquito 🏆🇶🇦
🧠La inteligencia detrás de los jugadores campeones del mundo.👔Los últimos 5 entrenadores que ganaron un Mundial!
-2002-
🇧🇷Luiz Felipe Scolari🏆27 títulos. pic.twitter.com/8Tq33c4wWP
— De Taquito (@De_Taquitoo) November 7, 2022
Yang mendekati Scolari mungkin ada Alejandro Sabella, pelatih Argentina yang membawa Argentina menjadi runner up di Piala Dunia 2014. Juga ada Oscar Tabarez yang membawa Uruguay menjadi semifinalis di Piala Dunia 2010.
Happy birthday to the late Alejandro Sabella. He won the Copa Libertadores with Estudiantes and coached the Argentina national team to the final of the 2014 World Cup. Class personified. pic.twitter.com/BqbsPUUKSh
— Roy Nemer (@RoyNemer) November 5, 2022
Selebihnya, deretan para pelatih macam Dunga, Sampaoli, sampai Maradona pun tak mampu berbuat banyak di Piala Dunia. Artinya, kualitas para pelatih Amerika Selatan ini masih kalah jauh dibanding Eropa. Bagaimanapun sepakbola Eropa lebih maju secara teknik dan taktik. Hasilnya juga terbukti. Empat edisi terakhir Piala Dunia selalu dimenangkan wakil Eropa dan pelatih dari Eropa.
Namun kini, para pelatih Amerika Selatan telah banyak berubah. Pelatih macam Tite di Brazil, Scaloni di Argentina, Diego Alonso di Uruguay maupun Gustavo Alfaro di Ekuador, telah menunjukan bahwa sepakbola Amerika Selatan kini telah banyak berubah dari segi taktik. Tak hanya grusa-grusu dan mengandalkan skill individu saja dalam memainkan sepakbola, namun juga peka terhadap taktik dan sistem permainan.
Peta kekuatan Brasil, Ekuador, Uruguay, Dan Argentina
Brazil kini mengandalkan pola teamwork dengan kestabilan tim dalam menyerang maupun bertahan. Materinya dari kiper, bek tengah, gelandang tengah, striker juga sangat kuat dan melimpah. Namun yang jadi catatan, Brazil tahun ini kurang kuat di sektor bek kanan dan bek kiri. Stok regenerasi bek sayap mereka mandek. Itu akan menjadi salah satu titik lemah Brazil.
Brazil coach Tite is set to announce on Monday his 26-man World Cup squad with elements of uncertainty that could be key for the five-times champions at the tournament in Qatar starting on Nov. 20. https://t.co/0PUJjVhc67
— Reuters Sports (@ReutersSports) November 6, 2022
Dari Argentina, materi Scaloni pun lebih bervariasi. Pola permainan teamwork Scaloni juga sudah terbukti secara hasil. Argentina belum terkalahkan ketika dipegangnya. Tinggal secanggih apa Scaloni ini dapat mengelola potensi besar seorang Messi di Qatar nanti. Terlebih ini adalah edisi terakhir Piala Dunia bagi La Pulga.
🇦🇷 Lionel Scaloni: “Messi’s word has more value than any other’s.” @Liberotyc pic.twitter.com/tr1cbW0LWJ
— All About Argentina 🛎🇦🇷 (@AlbicelesteTalk) November 3, 2022
Sementara itu, Uruguay juga mencatatkan performa menanjak usai memecat Tabarez dan menunjuk Diego Alonso. Pelatih muda inilah yang mengantarkan La Celeste lolos dari lubang jarum kualifikasi Piala Dunia.
💬 “Es el orgullo más grande que puede tener un entrenador” Diego Alonso
📌 Preguntas de la gente a través de @PedidosYa#ElEquipoQueNosUne pic.twitter.com/cXiI55iPou
— Selección Uruguaya (@Uruguay) November 5, 2022
Duo Valverde dan Bentancur akan menjadi andalan di tengah. Sementara itu Lord Nunez dan para senior macam Suarez maupun Cavani mungkin masih akan menjadi andalan mereka di lini depan.
Sedangkan Ekuador di bawah pelatih baru mereka Gustavo Alfaro tak disangka mampu lolos ke Piala Dunia sebagai peringkat empat di kualifikasi Piala Dunia Zona Conmebol. La Tri mampu menyingkirkan negara-negara seperti Chili, Paraguay, Peru maupun Kolombia.
🇪🇨 #Ecuador, con Gustavo Alfaro al mando, es uno de los combinados que cuenta con un estratega no nacido en ese país.
Te contamos cuáles son los otros ocho equipos 👉 https://t.co/yH9hl3CFDg pic.twitter.com/vOq9R9PL73
— Ecuavisa Noticias (@EcuavisaInforma) November 1, 2022
Meskipun dengan materi skuad yang tak mentereng, Ekuador secara semangat teamwork juga patut diperhitungkan. Duo Brighton yang performanya masih meningkat, Caicedo dan Estupinan akan menjadi andalan Ekuador di Qatar nanti.
Bisakah Ekuador dan Uruguay Hasilkan Kejutan?
Namun apakah Ekuador dan Uruguay mampu mengejutkan di Qatar nanti? Perjalanan Ekuador akan sangat ditentukan seberapa besar kemampuan mereka adu kuat melawan Senegal dan tuan rumah Qatar di partai pembuka.
Mendapat poin atas keduanya menjadi kunci mereka melaju, paling tidak untuk mendampingi Belanda. Ekuador tentu ingin mengulangi kisah sukses mereka di Piala Dunia 2006 silam, ketika mampu melaju ke babak 16 besar.
Group A: Ecuador’s greatest World Cup team was surely the 2006 side that contained Ivan Hurtado and a young Antonio Valencia. Finishing second in their group to hosts Germany, they exited in the RO16 to a David Beckham free kick. An impressive tournament overall! #ECU #WorldCup pic.twitter.com/NgPcDeFbaQ
— World Cup Throwback (@WCThrowback) November 4, 2022
Sementara Uruguay, diharapkan dengan skuad dan pelatih barunya mampu mengulangi kejutan di 2010 Afrika Selatan. Kunci mereka untuk lolos adalah memenangkan pertandingan atas Ghana dan Korea Selatan. Syukur-syukur bisa mengusik Portugal yang sedang loyo dan bisa mengincar posisi juara grup.
#OTD in 2010- Uruguay 🇺🇾 lost 3-2 to the Netherlands 🇳🇱 for the #FIFA World Cup semi-final.
⚽️ Van Bronckhorst [Net 18], Forlan [Uru 41], Sneijder [Net 70], Robben [Net 73], M. Pereira [Uru 91] pic.twitter.com/J6ht2N6BEG
— Uruguay Football ENG (@UruguayFootENG) July 6, 2020
Brazil dan Argentina Bertemu Di Semifinal?
Lantas bagaimana dengan Brazil dan Argentina? Mereka tentu di atas kertas sama-sama diprediksi akan mudah melaju dari masing-masing grupnya untuk menjadi juara grup.
Namun celakanya, final harapan masyarakat Amerika Selatan, Brazil vs Argentina tak akan bisa terwujud apabila keduanya menjadi juara grup. Kalau dilihat dari bagan, bila keduannya terus melaju, mereka sudah akan saling bentrok di babak semifinal.
🚨 What’s That One Thing that you will Find Common in almost everyone’s 2022 FIFA World Cup Predictions?
Argentina Vs Brazil in The 2022 Fifa World Cup Semifinal 🤯🇧🇷🇦🇷
And actually The Chances of This Game Happening is way too much than any other fixture. 😳 pic.twitter.com/P3l7NCmAnu
— AZR (@AzrOrganization) November 5, 2022
Tak penting siapa pun nantinya yang akan mencapai partai puncak. Yang terpenting adalah ini saat yang tepat bagi wakil Amerika Selatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa benua mereka bisa mengalahkan dominasi 20 tahun wakil Benua Eropa. Cerita indah wakil Amerika Selatan di benua Asia 20 tahun yang lalu, kini menjadi mimpi dan modal semangat masyarakat Amerika Selatan untuk bisa diwujudkan kembali di Qatar nanti.
https://youtu.be/t-mN5cz-YyQ


