Sepertinya tak ada tim promosi yang punya target setinggi AC Monza. Bayangkan saja, meski berstatus sebagai tim promosi di Serie A, AC Monza langsung bermimpi untuk meraih scudetto dan menjadi juara Liga Champions.
Seperti yang kita tahu, AC Monza baru saja naik kasta ke Serie A usai menang dramatis dengan skor agregat 6-4 atas Pisa di final playoff. Sejak berdiri pada 1912, ini adalah kali pertama Monza mendapat promosi ke Serie A. Sebuah prestasi yang mengakhiri penantian panjang selama 110 tahun.
Keberhasilan Monza menembus Serie A tak lepas dari andil besar Silvio Berlusconi. Bersama Adriano Galliani, keduanya membangun kekuatan baru Biancorossi sejak mengakuisisi klub tersebut pada 2018 silam.
Mantan presiden tersukses AC Milan itulah yang kemudian memasang target tinggi untuk AC Monza. Tak main-main, Berlusconi langsung berambisi memenangkan scudetto dan Liga Champions.
“Berada di Serie A, kami harus memenangkan Scudetto dan pergi ke Liga Champions dan memenangkannya juga. Saya terbiasa menang sepanjang waktu, jadi mari kita lihat,” kata Berlusconi dikutip dari Football Italia.
“Since 1912, Monza has never been in Serie A, this is marvelous. I’m used to winning, now that we’re here we need to win the Scudetto, make Champions League & win that too”
Silvio Berlusconi pic.twitter.com/lckLlWXZJu
— Italian Football TV (@IFTVofficial) May 29, 2022
Daftar Isi
Transfer Ambisius AC Monza Demi Scudetto dan Liga Champions
Silvio Berlusconi sepertinya tak main-main dengan ucapannya. Selepas memastikan tempat di Serie A, AC Monza langsung belanja besar-besaran di bursa transfer. Semua lini mereka rombak, menunjukkan betapa ambisiusnya target Biancorossi di musim pertamanya di Serie A.
Menurut perhitungan transfermarkt, Monza menghabiskan dana sebesar 23,9 juta euro untuk belanja pemain baru di bursa transfer musim panas. Strategi transfer Monza cukup ambisius. Pasalnya, dana tersebut dipakai untuk mendatangkan 23 pemain baru.
Sebagain besar dari pemain baru yang didatangkan Monza adalah para pemain lokal Italia yang memiliki pengalaman di Serie A. Beberapa di antaranya adalah Andrea Ranocchia, Armando Izzo, Gianluca Caprari, Andrea Petagna, Stefano Sensi, dan Matteo Pessina.
Monza are having a superb transfer window so far 🤯 pic.twitter.com/IOmYLWxTbo
— Jalex (@JalexPrime) July 6, 2022
Dari 23 pemain anyar yang Monza datangkan, hanya ada 4 pemain yang berpaspor non-Italia. Mereka adalah Pablo Mari, Marlon, Valentin Antov, dan Warren Bondo. Selain itu, Monza juga mendatangkan beberapa pemain muda potensial, seperti Nicolo Rovella, Fillippo Ranocchia, hingga Samuele Birindelli.
Berbeda dengan skuad yang dirombak total, sang pelatih kepala Giovanni Stroppa dan jajarannya yang sukses mengantar Biancorossi promosi ke Serie A tetap dipertahankan. Formula tersebut mirip dengan apa yang dilakukan Monza di musim sebelumnya dimana Stroppa dibekali skuad yang gemuk dan dalam.
Akan tetapi, itu adalah sebuah keputusan berani yang diambil Silvio Berlusconi. Stroppa bisa dibilang sebagai pelatih spesialis promosi. Sebelum bersama Monza, ia pernah mengantar Crotone promosi ke Serie A di tahun 2020. Namun, kehebatan Stroppa belum terbukti di Serie A.
Dua musim menangani klub Serie A, Giovanni Stroppa punya catatan sangat buruk. Di bulan Maret 2021 kemarin, Stroppa dipecat Crotone setelah dalam 24 pertandingan gagal mengangkat tim yang ia asuh beranjak dari dasar klasemen. Sementara di tahun 2012 lalu, ia mundur dari kursi pelatih Pescara tak lama setelah Pescara terjerembab di zona degradasi.
Target Ambisius AC Monza Diruntuhkan Realitas!
Benar saja, catatan buruk Stroppa di Serie A kembali terulang dengan Monza. Bincorossi memulai awal musim ini dengan rentetan hasil buruk.
Tak satupun poin berhasil Monza dapatkan di sepanjang bulan Agustus kemarin. Bahkan di 5 giornata pertama musim ini, Matteo Pessina dan kolega selalu menelan kekalahan. Torino, Napoli, Udinese, Roma, dan Atalanta saling bergantian mempecundangi Monza.
Tim asuhan Giovanni Stroppa baru meraih poin pertama mereka di Serie A kala menahan imbang sesama tim promosi Lecce, 1-1 di giornata ke-6. Sayangnya, hasil tersebut tak mampu menangkat posisi Monza dari dasar klasemen.
Hasil imbang tersebut juga tak mampu mempertahankan Giovanni Stroppa dari kursi pelatih AC Monza. Setelah dikritik habis secara terbuka oleh Silvio Berlusconi, pada 13 September kemarin, Giovanni Stroppa resmi dipecat!
AC Monza comunica di aver sollevato Giovanni Stroppa dall’incarico di allenatore della Prima Squadra.
Il Club ringrazia il tecnico per il percorso compiuto insieme, culminato con la conquista di una storica promozione in Serie A, augurandogli i migliori successi per il futuro. pic.twitter.com/JNggNcLgDZ— AC Monza (@ACMonza) September 13, 2022
Berambisi meraih scudetto, AC Monza justru mendekam di dasar klasemen setelah menjalani 6 pertandingan. Hanya dalam sekejap, target ambisius Monza langsung diruntuhkan realitas. 5 kekalahan beruntun, hanya mencetak 3 gol, dan kebobolan 11 gol membuat Monza untuk sementara terhitung sebagai tim terburuk di Serie A.
Evaluasi Untuk AC Monza dan Target Mereka yang Terlalu Ambisius
Selepas memecat Giovanni Stroppa, perubahan dilakukan AC Monza dengan menunjuk Raffaele Palladino sebagai pelatih anyar mereka. Sebelumnya, mantan pemain Juventus dan Parma tersebut merupakan pelatih tim U-15 dan U-19 AC Monza.
Di bawah asuhan Palladino, Monza berhasil meraih kemenangan bersejarah mereka di Serie A. Tak tanggung-tanggung, Biancorossi meraih 3 poin pertama mereka di Serie A dengan mengandaskan penguasa Liga Italia, Juventus. Gol tunggal Christian Gytkjaer di menit ke-74 sukses membuat publik Stadio Brianteo bergemuruh.
Kehadiran Palladino telah sukses memberi secercah harapan kepada para pendukung Monza. Palladino mengadaptasi formasi 3-5-2 yang digunakan Stroppa menjadi 3-4-2-1. Ia juga memindahkan Matteo Pessina ke sisi sayap dan menempatkan Dany Mota di belakang striker.
Palladino juga mengubah posisi Patrick Ciurria dari seorang winger menjadi wing back kanan. Tujuannya adalah untuk bermain dengan garis tinggi dan menciptakan agresivitas di sisi sayap. Sebuah perubahan taktik yang berbuah kemenangan penting atas Juventus.
It was a big day for @ACMonza and their fans, look how much they loved it 😍#MonzaJuve pic.twitter.com/jBp1HdGRcG
— Lega Serie A (@SerieA_EN) September 19, 2022
Namun, Biancorossi tak boleh jumawa. Juventus memang tengah bermasalah dengan taktik Massimiliano Allegri. Selain itu, di awal musim ini, beberapa tim yang sukses mencuri poin dari pertandingan melawan Juve mengalami kekalahan di giornata berikutnya.
Yang pertama ada Sampdoria. Setelah menahan imbang Juve, Sampdoria kalah 4-0 dari Salernitana. Berikutnya ada Fiorentina yang dikalahkan Bologna 2-1 di giornata keenam setelah bermain imbang 1-1 di giornata kelima. Terakhir ada Salernitana yang kalah dari Lecce setelah di giornata keenam sukses mencuri 1 poin dari Juve.
Namun, terlepas dari itu, yang jauh lebih penting untuk dijadikan bahan evaluasi untuk AC Monza adalah pembelian pemain anyar mereka di bursa transfer kemarin. Pasalnya, sebagian besar pemain baru yang datang kontribusinya masih sangat minim.
Dua striker baru yang didatangkan Monza di awal musim ini malah masih mandul. Gianluca Caprari misalnya. Didatangkan dari Hellas Verona karena segudang pengalamannya di Serie A, Caprari sejauh ini belum banyak berkontribusi untuk Monza. Striker 29 tahun itu tercatat baru menyumbang 1 asis dalam 7 penampilan.
Begitu pula dengan Andrea Petagna. Striker 27 tahun itu belum menyumbang gol maupun asis dalam 5 penampilannya. Mantan striker Napoli dan AC Milan itu kini malah tengah menepi karena cedera otot.
Sumbangan gol justru datang dari dua gelandang tengah anyar mereka, yakni Stefano Sensi dan Andrea Colpani yang sama-sama sudah mencetak 1 gol. Matteo Pessina yang didaulat jadi kapten baru Monza juga belum memberi kontribusi gol maupun asis dalam 5 penampilannya.
Terbaru, Andrea Ranocchia, bek veteran yang sebetulnya diplot menjadi pemimpin di lini belakang malah memutus kontraknya dengan Biancorossi. Mantan bek Inter Milan yang tengah berkutat dengan cedera patah tulang fibula itu juga baru saja memutuskan gantung sepatu.
Andrea Ranocchia and Monza have decided to amicably part ways.
This is due to the player’s injury, which will take up most of the season to heal.
Get well soon, Andrea ♥️ https://t.co/TktcMrvEAc
— Italian Football TV (@IFTVofficial) September 21, 2022
Ini membuktikan kalau sebagian besar pemain baru yang didatangkan Adriano Galliani belum terbukti sebagai pembelian yang tepat. Dihuni banyak muka-muka baru, Monza yang saat ini duduk di peringkat 18 masih terhitung sebagai salah tim terburuk di Serie A musim ini.
Dari 7 giornata, Monza baru menghasilkan 4 gol dan sudah kebobolan 14 gol. Catatan tersebut adalah yang terburuk di antara kontestan Serie A lainnya.
Di masa lalu, skill pengamatan dan negosiasi Adriano Galliani mungkin jadi yang terbaik di Italia atau bahkan dunia. Namun, sepak bola telah jauh berkembang. Jika hanya mengandalkan intuisi belaka, cepat atau lambat mereka akan dikalahkan dengan mudah oleh tim lain yang dibekali para analis andal serta jaringan scouting yang luas.
Ini yang harusnya dilakukan Monza jika ingin bertransformasi menjadi tim juara. Jika Berlusconi dan Galliani maish berpegang teguh dengan kesuksesan di masa lalu, jangan harap mereka bisa membawa Monza terbang lebih tinggi.
Target Realistis AC Monza
Saat ini, AC Monza yang ditargetkan Silvio Berlusconi untuk segera meraih scudetto dan bermain di Liga Champions posisinya justru lebih dekat dengan jurang degradasi. Berlusconi dan Galliani harus sadar diri kalau tim yang saat ini mereka bangun adalah AC Monza, tim yang belum punya DNA juara dan baru pertama kali merasakan kasta tertinggi dalam sejarah mereka.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Raffaele Palladino, Monza juga harus sadar kalau pelatih kepala mereka masih muda dan tak memiliki pengalaman melatih di level tertinggi. Palladino saat ini masih berusia 38 tahun dan ini adalah musim debutnya melatih tim utama. Jika memutuskan untuk berjalan bersama Palladino, Monza harus lebih bersabar.
Pada intinya, AC Monza dan khususnya Silvio Berlusconi harus mawas diri. Hasil di awal musim 2022/2023 ini harusnya sudah cukup untuk menyadarkan para petinggi Monza untuk menurunkan target mereka. Alih-alih meraih scudetto, bertahan di Serie A adalah target realisitis bagi Biancorossi.
https://youtu.be/L1rgxk6a3FM
***
Referensi: Transfermarkt, Football Italia, The Analyst, Football Italia, Goal, The Guardian, Transfermarkt.


